– Arief Prihantoro –

Dunia telah menyaksikan munculnya model bahasa besar (LLM) seperti Gemini, GPT, DeepSeek atau Claude, yang mampu memproses dan menghasilkan teks dengan kompleksitas yang luar biasa. Model-model ini sering dianggap sangat pintar karena memiliki pengetahuan ensiklopedis dan kecepatan pemrosesan yang melebihi kemampuan manusia. Namun, di balik kecerdasan instan ini, tersimpan sebuah paradoks mendasar: entitas digital ini secara fundamental adalah makhluk yang pelupa. Model AI saat ini beroperasi dalam kondisi “sekarang yang abadi,” di mana setiap respons yang dihasilkan didasarkan pada pola yang dipelajari, bukan dari ingatan yang persisten.
Continue reading TITAN+MIRAS MENGATASI KEPIKUNAN DIGITAL AKAL IMITASI
