-Arief Prihantoro-
Trauma Kolektif, Sinkronisitas, Quaternio dan Dunia yang Terus Mengulang Sejarah
Kita hidup dalam perasaan ganjil bahwa sejarah terus berulang, tetapi bukan sebagai pengulangan yang sama persis—melainkan sebagai gema. Krisis datang, reda, lalu kembali dengan wajah baru. Peristiwa 1965, Malari 1974, Reformasi 1998, pandemi Flu Spanyol 1919, pandemi COVID-19 2019, hingga polarisasi politik hari ini menghadirkan sensasi yang akrab: seolah kita pernah berada di sini sebelumnya. Inilah déjà vu kolektif, tetapi kini ia tidak lagi lahir semata dari ingatan manusia. Ia diproduksi, dipercepat, dan dikelola oleh algoritma.

Saat ini kita hidup di zaman ketika hampir semua hal diukur, dihitung, dan diprediksi. Dari rekomendasi film, skor kredit, peluang diterima kerja, hingga siapa yang dianggap berisiko oleh negara—semuanya kini bergantung pada data dan algoritma. Di permukaan, dunia ini tampak semakin rasional dan efisien. Namun di balik ketertiban digital itu, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan: mengapa hidup terasa semakin terfragmentasi dan kehilangan arah?
Continue reading Déjà Vu ALGORITMIK







