
Penulis fiksi Joanna Maciejewska pernah posting pesan X yang ringkas tapi dalam tentang arah pengembangan AI: dia ingin AI mengerjakan londre dan cuci piring supaya dia punya waktu untuk berkarya dan menulis, bukan sebaliknya, AI yang mengambil alih kerja berkarya dan menulis sementara dia tetap harus ncuci piring sendiri. Ini seperti lelucon rumah tangga biasa, tapi kalau dipikir-pikir ada diagnosis yang dalam soal bagaimana arah pengambangan otomasi. Dalam praktek, pengembangan itu bukan oleh apa yang paling ingin dibebaskan manusia dari beban hidupnya, melainkan oleh apa yang secara komputasional paling mudah untuk dikerjakan lebih dulu.
Kerja simbolik dan kreatif, yang selama ini dianggap puncak kemampuan manusia, ternyata jauh lebih mudah diformalkan lewat data teks dan gambar yang melimpah, sementara pekerjaan fisik yang dianggap remeh justru membutuhkan koordinasi syaraf motorik dalam dunia nyata yang jauh lebih sulit direplikasi. Arah yang terbalik dari harapan Maciejewska ini memunculkan pertanyaan kemajuan macam apa yang diharapkan dari pengembangan robotika dan ai?.
Continue reading Ketika Kemajuan Umat Manusia Ditentukan Oleh Algoritma




