Refleksi Etis atas Kontras Budaya dan Kebijakan Publik
-Arief Prihantoro-

Gambar yang beredar itu sederhana namun menghentak kesadaran. Di bagian atas, tersaji hidangan lengkap: nasi tumpeng, ingkung ayam utuh, aneka lauk, buah-buahan, jajanan pasar, dan air putih yang ditata rapi di atas daun pisang. Teksnya berbunyi: “Untuk Roh Leluhur.” Di bagian bawah, tampak satu paket makanan sederhana: sebutir telur, sebatang pisang, sebungkus kecil sereal instan, dan sedikit kurma dalam plastik. Teksnya berbunyi: “Untuk generasi penerus bangsa.”
Kontras visual itu bukan sekadar perbandingan menu. Ia adalah kritik sosial. Ia mempertanyakan: mengapa untuk yang tak lagi hidup kita bisa menyajikan yang terbaik, sementara untuk anak-anak—yang akan menentukan masa depan bangsa—kita cukupkan dengan yang minimal? Pertanyaan ini menyentuh wilayah budaya, moralitas, ekonomi politik, bahkan cara kita memaknai kata “pemberian”.
Continue reading Sajen, Ingkung, dan Martabat Pemberian MBG








