Era Teknologi Penyimpanan 5 Dimensi

Arief Prihantoro



Perkembangan teknologi penyimpanan data menghadapi tekanan dari pertumbuhan eksponensial data global, khususnya akibat kemajuan kecerdasan buatan dan komputasi skala besar. Teknologi 5D data storage berbasis nanostructured glass menawarkan kapasitas tinggi, ketahanan ekstrem, dan sifat immutable yang unik. Teknologi ini dikembangkan oleh peneliti seperti Prof. Peter Kazansky dari University of Southampton dan juga dikembangkan lebih lanjut oleh perusahaan-perusahaan baru seperti SPhotonix yang membuat 5D memory crystals siap untuk penggunaan data center.

Pertanyaan kritis: apakah teknologi tersebut realistis menjadi standar global atau lebih tepat dikategorikan sebagai teknologi arsip khusus (niche archival)?

Continue reading Era Teknologi Penyimpanan 5 Dimensi

Mengeksploitasi AI Visual Melalui Kerentanan Ilusi Optik AI

“Jika dulu malware menyerang sistem, hari ini ia bisa tertanam di dalam ‘cara sistem melihat’ dunia. Termasuk melihat kita”

Bayangkan sebuah prosesor modern—seperti pada kasus Spectre dan Meltdown—yang begitu cepat hingga tidak lagi menunggu kepastian. Ia tidak hanya mengeksekusi instruksi secara berurutan, tetapi juga menggunakan teknik seperti speculative execution dan out-of-order execution. Artinya, prosesor akan menebak jalur eksekusi yang kemungkinan besar akan terjadi, lalu menjalankannya terlebih dahulu sebelum hasilnya benar-benar dikonfirmasi.

Secara teknis, proses ini melibatkan komponen seperti branch predictor yang terus dilatih berdasarkan pola eksekusi sebelumnya.

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan branch predictor seperti satpam yang belajar dari kebiasaan tamu. Jika selama berhari-hari ia melihat orang dengan kartu tertentu selalu boleh masuk ke sebuah ruangan, ia akan mulai membuka pintu lebih cepat—bahkan sebelum memeriksa kartu secara menyeluruh.

Di sinilah penyerang “melatih” CPU.

Continue reading Mengeksploitasi AI Visual Melalui Kerentanan Ilusi Optik AI

Kualitas Percakapan Internet di Era Scroll Tiada Henti

April 2026


Abstrak

Internet hari ini beroperasi di bawah pola seragam: maksimalkan perhatian, kumpulkan data, produksi konten tanpa henti. Artikel ini memetakan dua respons yang muncul secara bersamaan terhadap pola tersebut. Pertama, respons dari ekosistem konten bermutu: kreator dan platform yang secara sengaja membangun mekanisme komitmen sebagai pengganti metrik viral, meliputi Veritasium, 3Blue1Brown, Kurzgesagt, Khan Academy, Nebula, dan Substack. Kedua, respons dari negara, berupa gelombang kebijakan yang melarang atau membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun ke platform media sosial, dipimpin Australia pada Desember 2025 dan diikuti oleh sejumlah negara Eropa serta belasan negara bagian Amerika Serikat. Artikel ini berargumen bahwa kedua respons ini, meski berbeda instrumen, sama-sama mengakui satu diagnosis: platform yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan dangkal tidak netral terhadap kualitas konten dan tidak aman bagi pengguna yang belum matang secara kognitif dan emosional.


Continue reading Kualitas Percakapan Internet di Era Scroll Tiada Henti

Lautan Entropi Konten Internet

Saat ini berbagai macam data, entah fakta entah fiksi, tumpah ruah memasuki otak kita terutama melalui layar dan speaker komputer dalam bentuk desktop, laptop, tablet dan terutama martphone. Bagaimana menyikapi pesan, berita, artikel, foto, video yang terus mengguyur otak kita? Bagaimana menyaringnya? Bagaimana mengambil manfaatnya?

Dulu, bersama mas Budi Rahardjo dan satu lagi berinitia HKU (kalau tidak salah singkatan dari Hendarmaji K Utomo), mengembangkan platform komunikasi sosial dengan nama Negeri Isnet (NI) menggunakan teknologi MUD yang waktu itu banyak dipakai untuk membuat RPG (role playing game). Platform itu kami rancang dengan strukturi ulang dari game oriented menjadi ruang interaksi sosial: ada ruang diskusi, papan pengumuman, arsip percakapan, bahkan perpustakaan kecil untuk menyimpan referensi.

Berbeda dengan sistem game on-line pada umumnya, NI menuntut pengguna untuk join dengan identitas nyata. Waktu itu proses otentikasinya sederhana saja, pengguna baru bisa mendaftar dengan rekomendasi minimal 2 pengguna lama. Cara ini mengikuti model membership mailing-list is-lam@isnet.org (milis ini sempat berganti-ganti domain sampai Isnet punya server dan domain sendiri meskipun waktu itu koneksi internetnya nebeng di kampusnya mas Budi Rahardjo).

Continue reading Lautan Entropi Konten Internet

Kompleksitas Aliran dalam Psikologi: Antara Kekayaan Teori dan Fragmentasi Keilmuan

Saya sering berdiskusi dengan Atikah Prastowo (anak saya, Master Psikologi yang sekarang berprofesi sebagai psikolog). Bagi saya sangat menarik karena, Atikah bilang aliran-aliran psikologi itu belum mapan dan para psikolog cenderung mengikuti aliran tertentu dan enggan beralih ke aliran lain. Ini mengingatkan saya pada madzab-madzab agama Islam. Pengikut madzab tertentu cenderung bertahan di madzhabnya dan tidak tertarik untuk mempelajari madzab lain di bawah payung ujar-ujar “perbedaan adalah rahmat.” Butir-butir diskusi dengan Atikah tentang hal ini saya kumpulkan dan uploadkan ke ChatGPT untuk dirangkai sebagai artikel. Ini hasilnya.

Continue reading Kompleksitas Aliran dalam Psikologi: Antara Kekayaan Teori dan Fragmentasi Keilmuan

Membangun Keuntungan Bersama di Internet

[artikel ini saya tulis 10 tahun lalu di Facebook]
Jaringan komunikasi data Internet membuka peluang bisnis besar dengan harga eceran yang sangat kecil. Ciri bisnis sistem digital adalah melibatkan ongkos pengembangan yang besar namun ketika sudah siap dipasarkan ongkos produksinya (penggandaan materi) mendekati nol. Ini bisa terjadi karena sebagian besar biaya produksi diserap dalam bentuk pembiayaan infrastruktur (sarana/prasarana).

Kita tidak bayar satu sen pun untuk mengirimkan surat elektronik ke saudara yang berada nun jauh di negeri orang. Namun untuk bisa mengirimkan email itu kita harus memiliki perangkat komputer (atau smartphone), bayar kwh listrik dan biaya langgaran koneksi Internet.

Continue reading Membangun Keuntungan Bersama di Internet

Sajen, Ingkung, dan Martabat Pemberian MBG

Refleksi Etis atas Kontras Budaya dan Kebijakan Publik

-Arief Prihantoro-

Gambar yang beredar itu sederhana namun menghentak kesadaran. Di bagian atas, tersaji hidangan lengkap: nasi tumpeng, ingkung ayam utuh, aneka lauk, buah-buahan, jajanan pasar, dan air putih yang ditata rapi di atas daun pisang. Teksnya berbunyi: “Untuk Roh Leluhur.” Di bagian bawah, tampak satu paket makanan sederhana: sebutir telur, sebatang pisang, sebungkus kecil sereal instan, dan sedikit kurma dalam plastik. Teksnya berbunyi: “Untuk generasi penerus bangsa.”

Kontras visual itu bukan sekadar perbandingan menu. Ia adalah kritik sosial. Ia mempertanyakan: mengapa untuk yang tak lagi hidup kita bisa menyajikan yang terbaik, sementara untuk anak-anak—yang akan menentukan masa depan bangsa—kita cukupkan dengan yang minimal? Pertanyaan ini menyentuh wilayah budaya, moralitas, ekonomi politik, bahkan cara kita memaknai kata “pemberian”.

Continue reading Sajen, Ingkung, dan Martabat Pemberian MBG

Rukyat, Hisab, Imkan Rukyat, Wujudul Hilal, dan Kalender Hijriah Global Tunggal

Jadi begini.
Pada mulanya, semua melihat bulan dengan mata telanjang untuk menentukan awal bulan berikutnya.

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (idul fitri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban 30 hari” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian berkembang ilmu falak yang bisa memprediksi secara akurat kapan bulan mulai bisa terlihat di akhir penanggalan bulan. Dengan ilmu falak, kita tidak perlu melihat hilal (rukyatul hilal) secara langsung bahkan tidak perlu lagi memikirkan apakan hilal akan tertutup awan atau tidak. Perdebatan mulai muncul apakah kita boleh menetapkan awal bulan berdasarkan perhitungan akurat (hisab) dari posisi bulan saat magrib di akhir bulan sebelumnya?

Continue reading Rukyat, Hisab, Imkan Rukyat, Wujudul Hilal, dan Kalender Hijriah Global Tunggal

PERUSAHAAN PREDATOR ANAK: Jeffrey Epstein, Donatur Politik, Riset dan Akademik

– Arief Prihantoro –

Arsitektur Gelap Kekuasaan: Jeffrey Epstein dan Perusahaan Kriminal Transnasional Deep State

Kasus Jeffrey Epstein sering kali direduksi oleh narasi media arus utama menjadi sekadar kisah tentang seorang predator seksual tunggal yang memiliki kekayaan melimpah dengan selera bejat. Namun, jika kita menggali lebih dalam melampaui permukaan sensasionalitas tersebut, akan muncul sebuah struktur yang jauh lebih mengerikan: tentang bagaimana sistem kekuasaan global dapat dimanipulasi, dibeli, dan dikompromikan oleh satu individu yang memahami retakan di dalam institusi elit kita. Sebuah arsitektur kekuasaan gelap yang menggabungkan elemen keuangan global, sains tingkat tinggi, jaringan intelijen internasional, praktik okultisme sistemik dan perdagangan anak transnasional. Jeffrey Epstein bukan sekadar individu kriminal; ia adalah sebuah “simpul” atau nexus dalam infrastruktur kontrol politik yang menggunakan eksploitasi manusia sebagai mata uang utamanya.

Continue reading PERUSAHAAN PREDATOR ANAK: Jeffrey Epstein, Donatur Politik, Riset dan Akademik

Déjà Vu ALGORITMIK

-Arief Prihantoro-

Trauma Kolektif, Sinkronisitas, Quaternio dan Dunia yang Terus Mengulang Sejarah

Kita hidup dalam perasaan ganjil bahwa sejarah terus berulang, tetapi bukan sebagai pengulangan yang sama persis—melainkan sebagai gema. Krisis datang, reda, lalu kembali dengan wajah baru. Peristiwa 1965, Malari 1974, Reformasi 1998, pandemi Flu Spanyol 1919, pandemi COVID-19 2019, hingga polarisasi politik hari ini menghadirkan sensasi yang akrab: seolah kita pernah berada di sini sebelumnya. Inilah déjà vu kolektif, tetapi kini ia tidak lagi lahir semata dari ingatan manusia. Ia diproduksi, dipercepat, dan dikelola oleh algoritma.

Saat ini kita hidup di zaman ketika hampir semua hal diukur, dihitung, dan diprediksi. Dari rekomendasi film, skor kredit, peluang diterima kerja, hingga siapa yang dianggap berisiko oleh negara—semuanya kini bergantung pada data dan algoritma. Di permukaan, dunia ini tampak semakin rasional dan efisien. Namun di balik ketertiban digital itu, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan: mengapa hidup terasa semakin terfragmentasi dan kehilangan arah?

Continue reading Déjà Vu ALGORITMIK