Déjà Vu ALGORITMIK

-Arief Prihantoro-

Trauma Kolektif, Sinkronisitas, Quaternio dan Dunia yang Terus Mengulang Sejarah

Kita hidup dalam perasaan ganjil bahwa sejarah terus berulang, tetapi bukan sebagai pengulangan yang sama persis—melainkan sebagai gema. Krisis datang, reda, lalu kembali dengan wajah baru. Peristiwa 1965, Malari 1974, Reformasi 1998, pandemi Flu Spanyol 1919, pandemi COVID-19 2019, hingga polarisasi politik hari ini menghadirkan sensasi yang akrab: seolah kita pernah berada di sini sebelumnya. Inilah déjà vu kolektif, tetapi kini ia tidak lagi lahir semata dari ingatan manusia. Ia diproduksi, dipercepat, dan dikelola oleh algoritma.

Saat ini kita hidup di zaman ketika hampir semua hal diukur, dihitung, dan diprediksi. Dari rekomendasi film, skor kredit, peluang diterima kerja, hingga siapa yang dianggap berisiko oleh negara—semuanya kini bergantung pada data dan algoritma. Di permukaan, dunia ini tampak semakin rasional dan efisien. Namun di balik ketertiban digital itu, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan: mengapa hidup terasa semakin terfragmentasi dan kehilangan arah?

Continue reading Déjà Vu ALGORITMIK

Roberto Escobar, Sang Dark Accountant

Arief Prihantoro

Pada musim panas 1991, di pinggiran Medellín-Kolombia yang gersang, seorang pria berjanggut tebal dengan pengaturan hitam sederhana berjongkok di depan sebuah lubang galian. Tangannya memegang tumpukan uang kertas yang sudah usang. Ia mengangkat tangan kiri yang berisi uang tunai, lalu tanpa aba-aba melemparkan tas plastik hitam penuh uang tunai ke dalam lembah kering di hadapannya. Pria itu adalah Roberto Escobar, akuntan dan kakak kandung Pablo Escobar, raja kartel Medellín yang waktu itu menguasai sekitar 80% pasokan kokain ke Amerika Serikat dengan kekayaan ditaksir mencapai $3 miliar . Adegan ini, seperti yang diceritakan Roberto sendiri dalam wawancara panjang dengan The New Yorker , menggambarkan betapa berlimpahnya uang kartel sampai-sampai harus disimpan secara primitif: ditanam di ladang atau dititipkan ke petani agar aman. Gambaran ini gerbang pemahaman kita akan “uang tanpa bentuk” dalam ekonomi kriminal Kartel Medellín, sekaligus simbol betapa negaranya memancarkan kekuatan bayangan yang diciptakan oleh narkotrafik.

Continue reading Roberto Escobar, Sang Dark Accountant

THE INSIDE STORY OF MONEY LAUNDERING

Arief Prihantoro

Buku Evil Money menjelaskan bagaimana uang haram kreasi kartel narkoba dan teroris menjadi “ekonomi bawah tanah” global yang menghancurkan demokrasi. Dr. Rachel Ehrenfeld menyebut pencucian uang sebagai “ekonomi bawah tanah se-dunia” yang menghubungkan kartel narkoba, teroris, bahkan pemerintah dan bisnis sah, dan mengancam merusak demokrasi hingga terbentuknya “narcocracy” – pemerintahan di bawah kekuasaan uang kotor. Melalui studi kasus di Bahama, Los Angeles, Swiss, lembaga perbankan dunia, hingga Amerika Serikat, buku ini memperlihatkan bagaimana korupsi uang narkotik menembus perbankan dan institusi kenegaraan.

Continue reading THE INSIDE STORY OF MONEY LAUNDERING

NEGARA MEMFASILITASI KEJAHATAN, DARI KARTEL CALI HINGGA OLIGARKI MODERN

Arief Prihantoro

Siang itu tidak diawali dengan cuaca buruk. Restoran ramai, percakapan mengalir, dan kehidupan terasa normal, setidaknya bagi siapa pun yang tidak mengenal dunia di balik meja itu. Namun dalam hitungan detik, suara nyaris tanpa gema mengakhiri semuanya. Peluru berperedam suara menembus tubuh, kursi terjungkal, dan darah mengalir di lantai. William Rodríguez Abadía, putra dari lingkar inti Kartel Cali, kehadiran di antara jasad sahabat-sahabatnya. Ia nyaris selamat, secara kebetulan. Dan justru dari peristiwa itulah kisah ini menemukan maknanya.

Continue reading NEGARA MEMFASILITASI KEJAHATAN, DARI KARTEL CALI HINGGA OLIGARKI MODERN

STATE ENABLED CRIME & KLEPTOKRASI

Arief Prihantoro



Istilah state-enabled crime sering disalahpahami seolah hanya berarti kejahatan yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan. Padahal, maknanya jauh lebih luas dan lebih halus. State-enabled crime merujuk pada kejahatan yang bisa terjadi, bertahan, dan lolos dari sanksi bukan karena negara absen, melainkan karena negara, melalui hukum, institusi, dan prosedurnya, ikut memungkinkan atau menormalisasikan. Pejabat negara bisa saja terlibat langsung, tetapi sering kali pelaku utamanya justru aktor non-negara yang bergerak rapi di balik izin resmi, audit formal, dan penegakan hukum yang tampak berjalan. Dalam situasi semacam ini, kejahatan tidak masuk lewat jendela seperti pencurian biasa, melainkan melalui pintu depan dengan kunci resmi: sah secara prosedur, bersih di atas kertas, dan nyaris tak tersentuh hukum. Di titik inilah negara beralih fungsi, bukan lagi sebagai penjaga keadilan, melainkan sebagai prasyarat struktural yang membuat kejahatan terlihat legal dan karena itu sulit dikenali.

Continue reading STATE ENABLED CRIME & KLEPTOKRASI

𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗨𝗔𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗦𝗨𝗞 𝗣𝗔𝗕𝗟𝗢 𝗘𝗦𝗖𝗢𝗕𝗔𝗥 𝗛𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔 𝗖𝗥𝗬𝗣𝗧𝗢 𝗠𝗜𝗫𝗘𝗥

-𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗗𝗶𝗮𝗺-𝗗𝗶𝗮𝗺 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗠𝗲𝘀𝗶𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗰𝘂𝗰𝗶 𝗞𝗲𝗷𝗮𝗵𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗚𝗹𝗼𝗯𝗮𝗹-

(𝘙𝑒𝘴𝑢𝘮𝑒 𝑏𝘶𝑘𝘶: 𝑅𝘪𝑛𝘴𝑒𝘥: 𝐹𝘳𝑜𝘮 𝘊𝑎𝘳𝑡𝘦𝑙𝘴 𝘵𝑜 𝐶𝘳𝑦𝘱𝑡𝘰 – 𝘏𝑜𝘸 𝘵ℎ𝘦 𝘛𝑒𝘤ℎ 𝐼𝘯𝑑𝘶𝑠𝘵𝑟𝘺 𝘞𝑎𝘴ℎ𝘦𝑠 𝑀𝘰𝑛𝘦𝑦 𝑓𝘰𝑟 𝑡𝘩𝑒 𝑊𝘰𝑟𝘭𝑑’𝑠 𝐷𝘦𝑎𝘥𝑙𝘪𝑒𝘴𝑡 𝐶𝘳𝑜𝘰𝑘𝘴 𝘬𝑎𝘳𝑦𝘢 𝘎𝑒𝘰𝑓𝘧 𝘞ℎ𝘪𝑡𝘦)

Ada satu masalah yang jarang dibicarakan ketika orang membayangkan kehidupan kriminal kelas atas: terlalu banyak uang. Bukan uang yang rapi di rekening bank, bukan pula kekayaan yang tercatat dalam laporan pajak, melainkan tumpukan uang tunai kotor yang tidak bisa digunakan tanpa menimbulkan pertanyaan. Di awal cerita Rinsed dimulai. Geoff White membuka bukunya dengan paradoks sederhana namun brutal: kejahatan besar tidak runtuh karena kekurangan uang, melainkan karena tidak tahu bagaimana bersembunyinya.

Continue reading 𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗨𝗔𝗡𝗚 𝗕𝗨𝗦𝗨𝗞 𝗣𝗔𝗕𝗟𝗢 𝗘𝗦𝗖𝗢𝗕𝗔𝗥 𝗛𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔 𝗖𝗥𝗬𝗣𝗧𝗢 𝗠𝗜𝗫𝗘𝗥

NEGARA SEBAGAI ENABLER PENCUCIAN UANG HARAM

Arief Prihantoro

KETIKA PARA MALING MENJADI TUAN BESAR

Kisah pencucian uang modern kerap dipahami sebagai persoalan teknis perbankan, laporan transaksi mencurigakan, atau perdebatan hukum di ruang sidang. Namun jika ditelusuri lebih dalam, akarnya justru tumbuh dari sejarah sosial dan politik yang jauh lebih gelap. Ia lahir bukan dari meja regulator, melainkan dari lorong-lorong kekuasaan informal, ketika negara belum memiliki kapasitas—atau kemauan—untuk mengendalikan uang yang mengalir dari kejahatan. Dari sanalah praktik pencucian uang berkembang, beradaptasi, dan pada titik tertentu, bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: praktik yang memperoleh legitimasi melalui negara itu sendiri.

Pada awal abad ke-20, ketika Amerika Serikat memberlakukan Prohibition, larangan alkohol justru menciptakan pasar ilegal berskala raksasa. Permintaan tidak pernah benar-benar hilang; yang berubah hanyalah jalurnya. Dalam konteks inilah figur seperti Al Capone muncul, bukan sekadar sebagai penjahat brutal, tetapi sebagai pengusaha kriminal yang memahami satu hal mendasar: uang hasil kejahatan hanya berguna jika dapat digunakan tanpa menimbulkan kecurigaan. Capone dan jaringan kriminal seangkatannya menghadapi problem klasik, yakni bagaimana menjelaskan sumber kekayaan di tengah meningkatnya pengawasan negara.

Continue reading NEGARA SEBAGAI ENABLER PENCUCIAN UANG HARAM

Dari Moskow, Caracas Hingga ke Jakarta: Risiko Pencucian Uang Gelap

– Arief Prihantoro –

A True Story of Money Laundering, Murder and Surviving Vladimir Putin’s Wrath

Bill Browder memulai kisahnya sebagai investor yang sukses di Rusia pada era pasca-Soviet, namun buku ini dengan cepat berubah menjadi catatan balas dendam intelektual: sebuah upaya sistematis untuk mengungkap korupsi negara yang berakhir pada pembunuhan pengacaranya, Sergei Magnitsky. Browder menarasikan bagaimana hubungan bisnis yang awalnya menguntungkan berubah menjadi perang hukum dan politik setelah Magnitsky menemukan bukti penipuan pajak besar-besaran yang melibatkan pejabat dan jaringan kriminal terafiliasi negara di Rusia paska runtuhnya Uni Soviet.

Gaya penceritaan Browder mengalir seperti laporan lapangan: ia menggabungkan memori pribadi, dokumen hukum, dan parkir internasional untuk menelusuri jejak uang. Buku ini diterbitkan pada tahun 2022 dan memuat kisah yang dihapus pada peristiwa dekade sebelumnya, mencerminkan sketsa korupsi lokal dengan mekanisme perbankan global yang memungkinkan pencucian uang melintasi batas. Browder tidak hanya menceritakan peristiwa; ia juga menjelaskan teknik yang dipakai pelaku, pembuatan perusahaan cangkang, transfer antar rekening di pengakuan lepas pantai, dan pemanfaatan izin regulasi perbankan, yang menghasilkan uang hasil penipuan bisa “dibekukan” jika ada bukti yang cukup.

Continue reading Dari Moskow, Caracas Hingga ke Jakarta: Risiko Pencucian Uang Gelap

Geometri Sebagai Bahasa Primordial dan Fondasi Peradaban Transendental Manusia

– Arief Prihantoro –

Geometri sering kali dipandang secara reduktif sebagai sekadar cabang matematika yang mempelajari titik, garis, dan bidang dalam ruang hampa. Namun penelusuran mendalam terhadap sejarah intelektual manusia mengungkapkan bahwa geometri adalah “bahasa purba” yang digunakan oleh alam semesta untuk mengorganisir energi menjadi materi, dan oleh manusia untuk menerjemahkan keinginan kreatif mereka menjadi realitas fisik yang stabil. Sejak awal peradaban di Mesir Kuno hingga era komputasi, geometri telah menjadi jembatan antara abstraksi transendental dan manifestasi mekanis. Fenomena ini tidak hanya terlihat pada kemegahan struktur monumen kuno seperti Candi Borobudur, tetapi juga pada kecanggihan mesin pembakaran internal seperti mesin rotary Wankel milik Mazda, yang membuktikan bahwa matematika bukan sekedar teori, melainkan substansi dari mesin itu sendiri.

Sebetulnya tulisan sejenis sudah pernah saya posting di salah satu grup alumni beberapa tahun yang lalu, namun saya mencari arsipnya belum ketemu, maka saya tulis ulang dengan sedikit perspektif yang berbeda.

Continue reading Geometri Sebagai Bahasa Primordial dan Fondasi Peradaban Transendental Manusia

Gestalt dan Pola Persepsi Pada Manusia serta Akal Imitasi

– Arief Prihantoro –

Coba perhatikan gambar di atas. Kita bisa menafsirkan gambar tersebut sebagai gambar seorang lelaki berkumis dan berjenggot lebat dengan mata sedang melirik ke kanan. Namun orang lain dapat menafsirkan bahwa gambar diatas adalah gambar seorang wanita bertopi yang sedang duduk di atas rumput, dengan posisi membelakangi kita dan sedang memandangi rumah di depan dia, yg terletak jauh dari pandangan mata. Dua orang yang berbeda bisa memiliki persepsi yang berbeda saat memandang sebuah gambar yang sama.

Dalam contoh kehidupan sehari-hari, bayangkan Anda mencari teman lama di tengah kerumunan, otak kita segera memisahkan wajahnya dari lautan wajah lain. Kita cenderung melihat titik-titik yang berdekatan sebagai satu kesatuan, atau “mengisi” garis tak lengkap menjadi gambar utuh. Prinsip-prinsip ini “menyelubungi hampir seluruh pengalaman persepsi” kita dan menentukan objek serta bagian yang kita lihat dalam lingkungan. Itulah tugas dasar prinsip Gestalt dalam psikologi: otak mengelompokkan elemen visual menjadi bentuk bermakna.

Teori Gestalt muncul dari satu gagasan revolusioner: manusia memahami dunia sebagai pola yang bermakna, bukan sebagai serpihan sensasi. Gagasan ini terus relevan, dari psikologi klasik, sistem komunikasi hingga AI dan etika teknologi modern.

Continue reading Gestalt dan Pola Persepsi Pada Manusia serta Akal Imitasi