SAINS, IDEOLOGI, DAN FANATISME EPISTEMIK: PELAJARAN DARI SEJARAH UNI SOVIET

– Arief Prihantoro –

Ketika Sains Disamakan dengan Ideologi

Salah satu ironi terbesar dalam komunikasi publik adalah bahwa semakin banyak informasi tersedia, semakin mudah pula manusia membangun keyakinan yang keliru. Penyebabnya bukan semata-mata karena informasi yang beredar tidak benar, melainkan karena fakta-fakta yang benar sering kali disusun ke dalam hubungan logis yang terlalu sederhana. Akibatnya, representasi yang terbentuk tampak masuk akal, padahal telah kehilangan sebagian konteks yang justru menentukan makna keseluruhan peristiwa. Dalam banyak kasus, misinformasi tidak lahir karena ketiadaan evidence, melainkan karena cara evidence tersebut dihubungkan menjadi suatu kesimpulan. Persoalan utama bukan terletak pada data historis yang digunakan, melainkan pada kualitas inferensi yang menghubungkan data-data tersebut menjadi suatu representasi.

Fenomena semacam ini semakin mudah dijumpai pada era komunikasi digital. Arus informasi yang sangat cepat mendorong berbagai persoalan yang kompleks untuk disederhanakan menjadi narasi yang ringkas, mudah dipahami, dan mudah dibagikan. Penyederhanaan semacam itu pada dasarnya merupakan konsekuensi yang hampir tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi. Tidak mungkin seluruh kompleksitas suatu peristiwa sejarah dipindahkan secara utuh ke dalam sebuah artikel, unggahan media sosial, ataupun percakapan sehari-hari. Persoalan mulai muncul ketika yang mengalami penyederhanaan bukan lagi cara penyampaiannya, melainkan struktur penalarannya. Hubungan antarperistiwa yang semula kaya nuansa dipersempit menjadi hubungan sebab-akibat yang linear, sementara konsep-konsep yang sesungguhnya memiliki ruang lingkup berbeda diperlakukan seolah-olah identik. Pada titik inilah sejarah perlahan kehilangan kompleksitasnya dan berubah menjadi narasi yang lebih mencerminkan preferensi pembacanya daripada keseluruhan fakta yang tersedia.

Salah satu contoh yang cukup menarik dapat dijumpai dalam cara sebagian masyarakat membaca sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Uni Soviet. Tidak sedikit pembahasan yang menyimpulkan bahwa Uni Soviet menjadikan sains sebagai ideologi negara. Kesimpulan tersebut biasanya dibangun melalui sejumlah fakta yang memang tidak dapat dipungkiri. Uni Soviet memberikan investasi yang sangat besar terhadap pendidikan dan penelitian. Negara tersebut melahirkan banyak ilmuwan kelas dunia dalam bidang matematika, fisika, kimia, teknik, maupun teknologi antariksa. Berbagai pencapaian tersebut merupakan bagian penting dari sejarah sains abad ke-20 dan menjadi fondasi bagi banyak perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Seluruh fakta tersebut merupakan bagian dari sejarah yang terdokumentasi dengan baik dan tidak menjadi pokok perdebatan dalam tulisan ini. Persoalan mulai muncul ketika fakta-fakta tersebut diperlakukan sebagai dasar yang dianggap cukup untuk menarik kesimpulan yang jauh lebih luas, yaitu bahwa sains telah menjadi ideologi negara. Tidak sedikit pembahasan yang secara implisit menyamakan kemajuan sains dengan materialisme, kemudian menyamakan materialisme dengan ideologi negara. Dari rangkaian penyamaan tersebut lahirlah suatu representasi yang tampak logis, tetapi sesungguhnya dibangun melalui beberapa lompatan konseptual yang jarang disadari.

Pertanyaan yang perlu diajukan kemudian bukanlah apakah Uni Soviet berhasil membangun tradisi sains yang kuat. Sejarah telah memberikan jawaban yang sangat jelas mengenai hal tersebut. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah keberhasilan ilmiah tersebut dengan sendirinya membuktikan bahwa sains telah menjadi ideologi negara. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu perlu dibedakan tiga konsep yang sering kali diperlakukan seolah-olah identik, yaitu sains, materialisme, dan ideologi.

Sains merupakan metode sistematis untuk membangun pengetahuan melalui observasi, eksperimen, pengujian empiris, serta mekanisme koreksi yang berlangsung secara terbuka. Materialisme merupakan posisi filsafat mengenai hakikat realitas. Adapun ideologi adalah seperangkat gagasan normatif yang digunakan untuk mengarahkan kehidupan politik dan sosial suatu masyarakat. Ketiganya memang dapat saling memengaruhi dalam sejarah pemikiran manusia, tetapi masing-masing memiliki fungsi, ruang lingkup, dan mekanisme legitimasi yang berbeda. Mengaburkan perbedaan tersebut akan menghasilkan pembacaan sejarah yang tampak konsisten, tetapi kehilangan ketepatan analitis yang diperlukan untuk memahami hubungan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan.

Di sinilah sejarah Uni Soviet menjadi sangat menarik. Apabila sains benar-benar identik dengan ideologi negara, maka perkembangan setiap cabang ilmu semestinya mengikuti mekanisme internal ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu mekanisme yang menempatkan evidence, kritik akademik, dan proses koreksi ilmiah sebagai dasar utama dalam menentukan validitas suatu teori. Namun, apabila sejarah justru memperlihatkan bahwa pada periode tertentu negara menentukan teori mana yang dianggap benar, penelitian mana yang layak didukung, bahkan ilmuwan mana yang memperoleh legitimasi untuk berbicara, maka hubungan antara sains dan ideologi ternyata jauh lebih kompleks daripada yang sering dibayangkan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi besarnya kontribusi Uni Soviet terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya, justru karena kontribusi tersebut sangat besar, sejarahnya perlu dipahami secara utuh. Menghargai pencapaian suatu peradaban tidak berarti menutup mata terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di dalamnya. Demikian pula, mengkritik kebijakan ilmiah yang keliru tidak berarti menafikan seluruh prestasinya. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah Uni Soviet menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar—sejarah telah menjawabnya dengan sangat jelas—melainkan apakah keberhasilan tersebut benar-benar menunjukkan bahwa negara tidak pernah mengintervensi mekanisme perkembangan ilmu pengetahuan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu kembali membaca beberapa episode penting dalam sejarah sains Uni Soviet yang justru memperlihatkan paradoks yang sering luput dari pembahasan.

Paradoks Uni Soviet: Negara yang Memajukan Sains Sekaligus Menekan Sains

Sulit membicarakan sejarah ilmu pengetahuan abad kedua puluh tanpa menempatkan Uni Soviet sebagai salah satu aktor utamanya. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, negara tersebut berhasil membangun ekosistem pendidikan dan penelitian yang mampu menghasilkan banyak ilmuwan kelas dunia. Berbagai pencapaian dalam bidang matematika, fisika, teknik, hingga teknologi antariksa menunjukkan bahwa investasi besar negara terhadap ilmu pengetahuan bukan sekadar slogan politik, melainkan benar-benar menghasilkan kemajuan yang dapat diukur. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila Uni Soviet sering dipandang sebagai salah satu kekuatan ilmiah terbesar pada masanya.

Pengakuan terhadap keberhasilan tersebut merupakan titik awal yang penting, sebab tanpa pengakuan itu kita justru akan gagal memahami paradoks yang menjadi pokok pembahasan tulisan ini. Persoalannya bukan apakah Uni Soviet berhasil memajukan sains. Jawaban atas pertanyaan tersebut sudah sangat jelas. Persoalan yang jauh lebih menarik adalah mengapa negara yang demikian besar investasinya terhadap ilmu pengetahuan justru pernah mengalami periode ketika beberapa cabang ilmu tidak lagi berkembang melalui mekanisme ilmiah, melainkan melalui keputusan politik. Dengan kata lain, pertanyaannya bukan mengenai tingkat kemajuan sains, melainkan mengenai siapa yang pada akhirnya berhak menentukan apa yang disebut sebagai kebenaran ilmiah.

Paradoks tersebut mulai tampak pada dekade 1930-an hingga 1950-an melalui sebuah episode yang kemudian dikenal sebagai Lysenkoisme. Peristiwa ini sering dipahami sekadar sebagai kemenangan Trofim Lysenko atas genetika modern. Padahal, persoalan yang sesungguhnya jauh lebih mendasar. Yang sedang dipertarungkan bukan hanya dua teori mengenai pewarisan sifat, melainkan dua mekanisme yang berbeda dalam menentukan kebenaran. Dalam tradisi ilmiah, suatu teori memperoleh legitimasi melalui observasi, eksperimen, kritik sejawat, serta kemampuan menjelaskan fenomena empiris secara lebih baik dibandingkan teori alternatif. Sebaliknya, dalam sistem politik, legitimasi sering kali ditentukan oleh kesesuaiannya dengan orientasi ideologi dan arah kebijakan negara. Lysenkoisme menjadi penting dalam sejarah bukan semata-mata karena teori yang diperdebatkan, tetapi karena batas antara kedua mekanisme tersebut mulai kabur.

Trofim Lysenko mengembangkan gagasan bahwa sifat-sifat yang diperoleh suatu organisme selama hidupnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Pandangan tersebut bertentangan dengan genetika modern yang pada saat itu telah berkembang berdasarkan penelitian Gregor Mendel, Thomas Hunt Morgan, dan para ahli genetika lainnya. Dalam komunitas ilmiah internasional, perbedaan semacam itu pada dasarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Sejarah sains dipenuhi oleh teori-teori yang saling bersaing sebelum akhirnya salah satunya memperoleh dukungan empiris yang lebih kuat. Perdebatan merupakan bagian yang wajar dari perkembangan ilmu pengetahuan. Yang membuat Lysenkoisme berbeda adalah karena perdebatan tersebut tidak lagi berhenti di laboratorium atau forum akademik, melainkan berpindah ke ruang kebijakan negara.

Perubahan mekanisme inilah yang kemudian membawa konsekuensi yang jauh lebih serius daripada sekadar kalah atau menangnya sebuah teori ilmiah. Ketika negara mulai memberikan legitimasi politik kepada salah satu teori, maka perbedaan pendapat ilmiah secara perlahan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari proses koreksi ilmiah, melainkan sebagai bentuk penyimpangan terhadap kebijakan resmi. Pada titik inilah komunitas ilmiah kehilangan sebagian otonominya. Yang menentukan arah perkembangan ilmu bukan lagi akumulasi evidence, tetapi keputusan yang memperoleh otoritas politik.

Korban paling dikenal dari perubahan mekanisme tersebut adalah Nikolai Ivanovich Vavilov, salah satu ahli genetika terbesar pada abad kedua puluh. Vavilov dikenal luas melalui penelitiannya mengenai pusat-pusat asal tanaman budidaya (centers of origin of cultivated plants) dan pengumpulan plasma nutfah dari berbagai belahan dunia, yang hingga kini menjadi fondasi penting bagi ilmu genetika dan pemuliaan tanaman. Pertanyaan yang menarik bukanlah mengapa Vavilov berbeda pendapat dengan Lysenko. Perbedaan semacam itu merupakan bagian yang lazim dalam tradisi ilmiah. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah mengapa perbedaan ilmiah tersebut berakhir di ruang tahanan, bukan di ruang seminar atau jurnal ilmiah.

Vavilov ditangkap pada tahun 1940 setelah tetap mempertahankan pendekatan genetika modern yang bertentangan dengan kebijakan ilmiah yang saat itu memperoleh dukungan negara. Ia dijatuhi hukuman penjara dan meninggal akibat kelaparan pada tahun 1943. Tragedi tersebut tidak hanya mengakhiri kehidupan seorang ilmuwan besar, tetapi juga menjadi simbol bagaimana mekanisme produksi pengetahuan dapat berubah ketika otoritas politik mulai mengambil alih fungsi yang semestinya dijalankan oleh komunitas ilmiah. Dalam konteks inilah Lysenkoisme tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai sejarah genetika, melainkan sebagai sejarah mengenai perubahan mekanisme legitimasi pengetahuan.

Kasus ini sering dibandingkan dengan Scopes Trial di Amerika Serikat pada tahun 1925, ketika seorang guru diadili karena mengajarkan teori evolusi. Perbandingan tersebut memang menarik, tetapi perlu dilakukan secara proporsional. Scopes Trial berlangsung di satu negara bagian, melibatkan satu guru, dan terjadi dalam sistem yang masih menyediakan ruang bagi pembelaan hukum, liputan media, serta perdebatan publik. Sebaliknya, Lysenkoisme berlangsung selama bertahun-tahun, memengaruhi keseluruhan arah penelitian genetika di Uni Soviet, mengubah kebijakan ilmiah nasional, serta berdampak terhadap banyak ilmuwan dan institusi penelitian. Perbandingan ini bukan dimaksudkan untuk menentukan tragedi mana yang lebih besar, melainkan untuk menunjukkan bahwa sejarah intervensi terhadap ilmu pengetahuan memiliki bentuk dan skala yang sangat beragam. Menyederhanakannya ke dalam dikotomi “satu negara pro-sains, negara lain anti-sains” justru menghilangkan kompleksitas sejarah yang ingin kita pahami.

Kasus Lysenko dan Vavilov pada akhirnya memperlihatkan satu pelajaran yang jauh melampaui sejarah genetika itu sendiri. Persoalan utamanya bukanlah benar atau salahnya suatu teori ilmiah, sebab teori memang dapat berubah seiring bertambahnya evidence. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah mekanisme yang menentukan bagaimana suatu teori dinyatakan benar. Ketika proses tersebut tidak lagi sepenuhnya berada di tangan mekanisme koreksi ilmiah, melainkan mulai ditentukan oleh legitimasi politik, maka yang berubah bukan hanya arah suatu disiplin ilmu, tetapi juga cara suatu masyarakat memproduksi pengetahuan. Di sinilah paradoks Uni Soviet menjadi terlihat dengan jelas: negara yang berhasil membangun salah satu tradisi ilmiah terbesar dalam sejarah modern ternyata juga pernah mengalami periode ketika mekanisme ilmiah itu sendiri kehilangan sebagian otonominya.

Saya setuju. Saya akan memperlakukan Bagian III sebagai titik balik artikel ini. Di sinilah pembaca berhenti melihat Lysenko sebagai sebuah tragedi yang berdiri sendiri, lalu mulai menyadari bahwa terdapat suatu pola. Saya juga akan mengurangi nuansa “kuliah sejarah” dan memperkuat nuansa “esai epistemologi”, sesuai karakter Socioinformatics.

Ketika Negara Menentukan Teori yang Benar

Seandainya Lysenkoisme merupakan satu-satunya episode dalam sejarah ilmu pengetahuan Uni Soviet, mungkin peristiwa tersebut masih dapat dipahami sebagai sebuah penyimpangan yang bersifat insidental. Sejarah setiap bangsa memang mengenal kebijakan yang kemudian terbukti keliru, dan tidak setiap kesalahan harus dipandang sebagai cerminan dari keseluruhan sistem. Namun, persoalannya menjadi jauh lebih menarik ketika mekanisme yang serupa ternyata muncul kembali pada disiplin ilmu yang sama sekali berbeda. Pada titik inilah perhatian kita perlu bergeser. Yang sedang dibahas bukan lagi genetika sebagai suatu cabang ilmu, melainkan bagaimana suatu masyarakat menentukan siapa yang berhak mendefinisikan kebenaran ilmiah.

Pola tersebut kembali terlihat dalam sejarah awal perkembangan sibernetika (cybernetics) di Uni Soviet. Ketika Norbert Wiener memperkenalkan sibernetika pada akhir dekade 1940-an sebagai ilmu mengenai komunikasi dan pengendalian (control) pada makhluk hidup maupun mesin, disiplin ilmu ini segera menarik perhatian komunitas ilmiah internasional. Namun, pada awal dekade 1950-an, sebagian kalangan ideolog Soviet justru mengategorikannya sebagai bourgeois pseudoscience—ilmu semu yang dianggap lahir dari cara berpikir kapitalistik. Penilaian tersebut menyebabkan perkembangan sibernetika di Uni Soviet sempat mengalami hambatan, bukan karena ditemukan bukti ilmiah yang membantah teori-teorinya, melainkan karena disiplin ilmu tersebut dipandang tidak sejalan dengan orientasi ideologi yang sedang berlaku.

Ironisnya, penilaian tersebut kemudian berubah secara drastis hanya dalam beberapa tahun berikutnya. Setelah memasuki era pasca-Stalin, sibernetika justru direhabilitasi dan berkembang menjadi salah satu bidang strategis yang memperoleh dukungan luas dari negara. Penelitian mengenai sistem kendali, komputasi, otomatisasi, kecerdasan buatan awal, hingga teori sistem berkembang pesat dan menjadi bagian penting dari kemajuan teknologi Uni Soviet. Yang berubah tentu bukan hukum-hukum sibernetika itu sendiri. Yang berubah adalah cara negara memandang disiplin ilmu tersebut. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa legitimasi politik dan legitimasi ilmiah merupakan dua mekanisme yang berbeda. Ketika keduanya saling bertumpang tindih, status suatu disiplin ilmu dapat berubah bukan karena bertambah atau berkurangnya evidence, melainkan karena berubahnya otoritas yang memberikan legitimasi.

Pola yang tidak jauh berbeda juga muncul dalam bidang linguistik melalui apa yang dikenal sebagai Marrisme. Selama beberapa dekade, teori linguistik yang dikembangkan oleh Nikolai Marr memperoleh posisi yang sangat dominan di lingkungan akademik Uni Soviet karena dianggap sejalan dengan interpretasi resmi terhadap perkembangan masyarakat. Akibatnya, berbagai pendekatan linguistik lain mengalami kesulitan berkembang secara bebas. Namun yang membuat episode ini menarik bukan semata-mata dominasi Marrisme, melainkan bagaimana dominasi tersebut berakhir.

Pada tahun 1950, Joseph Stalin menerbitkan esai Marxism and Problems of Linguistics yang secara terbuka mengkritik teori Marr. Setelah itu, Marrisme secara bertahap kehilangan kedudukannya sebagai doktrin resmi. Peristiwa ini menghadirkan ironi yang sangat menarik dalam sejarah ilmu pengetahuan. Perubahan besar dalam teori linguistik tidak diawali oleh kongres ilmiah internasional, bukan pula oleh akumulasi publikasi akademik yang mengubah konsensus komunitas ilmiah, melainkan oleh sebuah esai yang ditulis oleh kepala negara. Dengan kata lain, yang berubah terlebih dahulu bukanlah konsensus ilmiahnya, tetapi legitimasi politiknya.

Ketiga episode tersebut tentu memiliki konteks historis yang berbeda. Lysenkoisme terjadi dalam genetika, penolakan awal terhadap sibernetika berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan teori sistem, sedangkan Marrisme berlangsung dalam ranah linguistik. Menyamakan ketiganya secara sederhana tentu merupakan kekeliruan. Namun, apabila ketiga peristiwa tersebut dibaca dalam satu kerangka sejarah yang sama, muncul pola yang sulit diabaikan. Yang menghubungkan ketiganya bukanlah objek kajiannya, melainkan mekanisme yang menentukan bagaimana suatu teori memperoleh atau kehilangan legitimasi. Pada beberapa periode, negara tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyedia sumber daya bagi penelitian, tetapi juga mulai memasuki wilayah yang secara tradisional menjadi ruang kerja komunitas ilmiah, yaitu menentukan teori mana yang dianggap sah, disiplin ilmu mana yang layak dikembangkan, bahkan pada kondisi tertentu siapa yang memiliki otoritas untuk mendefinisikan kebenaran ilmiah.

Pelajaran yang dapat diambil dari rangkaian peristiwa tersebut bukanlah bahwa Uni Soviet merupakan negara yang anti-sains. Kesimpulan semacam itu justru akan mengulangi bentuk penyederhanaan sejarah yang sejak awal berusaha kita hindari. Fakta menunjukkan bahwa Uni Soviet memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan matematika, fisika, teknologi antariksa, energi nuklir, dan berbagai bidang ilmu lainnya. Akan tetapi, fakta yang sama juga menunjukkan bahwa dukungan negara terhadap sains tidak selalu identik dengan penghormatan terhadap mekanisme sains. Sebuah negara dapat menjadi sponsor terbesar penelitian sekaligus, pada saat tertentu, menjadi aktor yang menentukan teori mana yang memperoleh legitimasi. Kedua kenyataan tersebut tidak saling bertentangan; justru keduanya merupakan bagian dari kompleksitas sejarah yang harus dipahami secara utuh.

Di sinilah letak pelajaran yang sesungguhnya. Persoalan utama ternyata bukan terletak pada benar atau salahnya suatu teori tertentu, melainkan pada mekanisme yang digunakan untuk menentukan kebenaran itu sendiri. Selama mekanisme koreksi ilmiah tetap berjalan secara terbuka, suatu teori dapat diperdebatkan, diuji, bahkan digantikan oleh teori yang lebih baik seiring berkembangnya evidence. Namun ketika proses tersebut mulai bergantung pada legitimasi politik, yang dipertaruhkan bukan lagi nasib satu disiplin ilmu, melainkan integritas mekanisme produksi pengetahuan itu sendiri. Dari sudut pandang inilah Lysenkoisme, sejarah awal sibernetika, dan Marrisme bukan lagi tiga kisah yang berdiri sendiri, melainkan tiga jendela yang memperlihatkan persoalan yang sama dari sudut yang berbeda.

Ketika Sejarah Disederhanakan Menjadi Representasi

Sampai pada titik ini, rangkaian peristiwa yang telah dibahas memperlihatkan bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Uni Soviet jauh lebih kompleks daripada sekadar narasi bahwa negara tersebut “pro-sains” atau “anti-sains”. Kedua label tersebut sama-sama mengandung sebagian kebenaran, tetapi keduanya juga sama-sama gagal menjelaskan keseluruhan kenyataan. Uni Soviet memang berhasil membangun salah satu tradisi ilmiah paling produktif pada abad kedua puluh. Pada saat yang sama, sejarah juga menunjukkan bahwa beberapa cabang ilmu pernah mengalami intervensi politik yang mengganggu mekanisme koreksi ilmiah. Kedua fakta tersebut tidak saling meniadakan. Justru keduanya merupakan bagian dari sejarah yang sama.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apa yang sebenarnya terjadi dalam sejarah Uni Soviet, melainkan bagaimana sejarah tersebut dipahami dan direpresentasikan di ruang publik. Dalam praktik komunikasi sehari-hari, masyarakat tidak pernah berhadapan langsung dengan peristiwa sejarah itu sendiri. Yang beredar melalui buku, artikel, media sosial, video, maupun diskusi publik bukanlah masa lalu sebagai realitas empiris, melainkan representasi simbolik mengenai masa lalu tersebut. Setiap representasi merupakan hasil dari proses seleksi fakta, penyusunan hubungan antarperistiwa, serta penafsiran yang dilakukan oleh pihak yang mengomunikasikannya.

Di sinilah persoalan epistemologis mulai muncul. Semakin kompleks suatu peristiwa sejarah, semakin besar pula kebutuhan untuk menyederhanakannya agar dapat dikomunikasikan. Penyederhanaan itu sendiri bukanlah sesuatu yang keliru. Tidak ada artikel, buku, maupun percakapan yang mampu memindahkan seluruh kompleksitas sejarah secara utuh kepada pembacanya. Persoalan mulai muncul ketika yang mengalami penyederhanaan bukan hanya cara penyampaiannya, tetapi juga struktur inferensi yang menghubungkan berbagai fakta tersebut. Pada titik inilah representasi mulai kehilangan sebagian konteks yang justru menentukan makna keseluruhan peristiwa.

Dalam psikologi kognitif, salah satu mekanisme yang berperan dalam proses tersebut dikenal sebagai confirmation bias. Confirmation bias adalah kecenderungan seseorang untuk lebih mudah menerima, mengingat, dan mencari informasi yang mendukung keyakinan yang telah dimilikinya, sementara informasi yang bertentangan cenderung diabaikan, diperlakukan sebagai pengecualian, atau dianggap kurang relevan. Yang menarik, bias ini tidak selalu muncul karena seseorang berniat memanipulasi fakta. Justru orang yang mengalami confirmation bias sering kali merasa sedang bersikap objektif karena fakta-fakta yang digunakannya memang benar. Persoalannya terletak pada proses seleksi evidence. Ketika sebagian fakta dipilih sementara fakta lain yang sama pentingnya tidak lagi ikut dipertimbangkan, representasi yang terbentuk dapat terlihat sangat meyakinkan meskipun tidak lagi mencerminkan keseluruhan struktur peristiwanya.

Namun, dari perspektif sosioinformatika, persoalan tersebut tidak berhenti pada bagaimana individu memilih informasi. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah representasi tersebut dikomunikasikan. Setiap komunikasi tidak sekadar memindahkan informasi dari pengirim kepada penerima. Komunikasi juga mengubah cara penerima memahami realitas. Dengan kata lain, setiap komunikasi berpotensi mengubah epistemic state, yaitu keadaan pengetahuan, keyakinan, serta struktur representasi yang dimiliki seseorang pada suatu waktu.

Epistemic state bukanlah sesuatu yang bersifat tetap. Ia terus berubah setiap kali seseorang menerima informasi baru, melakukan interpretasi, membandingkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki, lalu membangun representasi baru mengenai realitas. Karena itu, membaca sebuah artikel sejarah sesungguhnya bukan sekadar memperoleh informasi tentang masa lalu. Yang sesungguhnya terjadi adalah perubahan pada cara seseorang merepresentasikan masa lalu tersebut di dalam struktur pengetahuannya.

Perubahan tersebut kemudian menghasilkan konsekuensi yang jauh lebih luas. Epistemic state yang telah berubah akan memengaruhi bagaimana seseorang memilih evidence berikutnya, bagaimana ia menafsirkan informasi baru, serta bagaimana ia membangun narasi ketika berkomunikasi dengan orang lain. Narasi tersebut selanjutnya diterima oleh individu lain, mengubah epistemic state mereka, kemudian direproduksi kembali dalam komunikasi berikutnya. Terbentuklah suatu proses umpan balik (feedback) yang berlangsung terus-menerus. Dengan demikian, komunikasi bukan hanya menyebarkan informasi, tetapi juga secara perlahan mengubah distribusi pengetahuan pada tingkat populasi.

Dari sudut pandang ini, misinformasi tidak selalu diawali oleh data yang sepenuhnya salah. Misinformasi juga dapat muncul ketika representasi simbolik yang terus direproduksi melalui komunikasi dibangun di atas inferensi yang terlalu sederhana. Fakta bahwa Uni Soviet menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar merupakan evidence yang benar. Fakta bahwa negara tersebut pernah menekan genetika modern, sempat menolak sibernetika, serta menjadikan Marrisme sebagai doktrin resmi juga merupakan evidence yang benar. Persoalannya bukan pada fakta-fakta tersebut, melainkan pada bagaimana hubungan antar-fakta dibangun menjadi suatu representasi. Ketika hanya sebagian evidence dipilih untuk memperkuat keyakinan tertentu, sementara evidence lain yang sama pentingnya diabaikan, maka komunikasi secara perlahan akan menghasilkan epistemic state yang semakin menjauh dari kompleksitas sejarah yang sebenarnya.

Proses tersebut dapat berlangsung ke dua arah yang sama-sama keliru. Menggunakan keberhasilan program antariksa Soviet sebagai bukti bahwa negara tersebut selalu menghormati mekanisme sains merupakan bentuk penyederhanaan. Sebaliknya, menggunakan Lysenkoisme sebagai bukti bahwa Uni Soviet adalah negara yang anti-sains juga merupakan penyederhanaan yang tidak kalah problematis. Kedua posisi tersebut memilih evidence yang berbeda, tetapi sama-sama menghasilkan inferensi yang terlalu luas. Dengan demikian, persoalan utamanya bukan terletak pada posisi politik seseorang terhadap Uni Soviet, melainkan pada kualitas inferensi yang menghubungkan evidence menjadi representasi.

Sejarah tidak disusun untuk menyediakan objek yang harus dipuja ataupun dibenci. Fungsi sejarah adalah memperluas kemampuan kita memahami bagaimana manusia, institusi, dan peradaban mengambil keputusan, melakukan kesalahan, memperbaiki kesalahan, serta membangun pengetahuan. Ketika sejarah diperlakukan sebagai instrumen pembenaran identitas, komunikasi tidak lagi berfungsi memperkaya epistemic state masyarakat, melainkan hanya mereproduksi representasi yang telah dipercaya sebelumnya. Pada titik itulah proses belajar mulai berhenti, sementara ruang bagi fanatisme perlahan mulai terbentuk.

Integritas Epistemik: Pelajaran yang Sesungguhnya

Sampai pada titik ini, pembahasan mengenai sejarah Uni Soviet sesungguhnya telah membawa kita pada suatu persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar benar atau salahnya suatu kebijakan negara terhadap sains. Kasus Lysenkoisme, Marrisme, maupun sejarah awal perkembangan sibernetika bukan sekadar rangkaian peristiwa historis, melainkan jendela untuk memahami bagaimana pengetahuan dibangun, dipertahankan, dan pada saat tertentu justru mengalami distorsi. Oleh karena itu, pelajaran terbesar dari sejarah tersebut bukanlah mengenai Uni Soviet itu sendiri, melainkan mengenai kualitas mekanisme yang digunakan manusia dalam membangun pengetahuannya.

Sampai pada titik ini pula menjadi semakin jelas bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Uni Soviet jauh lebih kompleks daripada sekadar narasi bahwa negara tersebut “pro-sains” atau “anti-sains”. Kedua label tersebut memang mengandung sebagian evidence, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan realitas. Uni Soviet berhasil membangun salah satu tradisi ilmiah paling produktif pada abad kedua puluh. Pada saat yang sama, sejarah juga menunjukkan bahwa pada periode tertentu beberapa cabang ilmu mengalami intervensi politik yang mengganggu mekanisme koreksi ilmiah. Kedua kenyataan tersebut tidak saling meniadakan, melainkan membentuk satu kesatuan sejarah yang hanya dapat dipahami apabila dibaca secara utuh.

Pelajaran semacam ini tidak hanya berlaku bagi Uni Soviet. Setiap peradaban memiliki keberhasilannya sendiri sekaligus keterbatasannya sendiri. Amerika Serikat pernah mengalami Scopes Trial, Tiongkok mengalami Cultural Revolution, sementara banyak negara lain juga memiliki episode ketika agama, politik, ekonomi, maupun kepentingan kekuasaan memengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, persoalan yang sesungguhnya bukanlah memilih peradaban mana yang lebih ilmiah, melainkan memahami bagaimana setiap peradaban membangun sekaligus mengoreksi pengetahuannya sendiri.

Dari perspektif sosioinformatika, seluruh proses tersebut berlangsung melalui mekanisme komunikasi. Setiap peristiwa empiris hanya dapat diakses masyarakat melalui evidence yang tersedia. Evidence tersebut kemudian dihubungkan melalui inferensi, disusun menjadi representasi simbolik, dikomunikasikan kepada publik, lalu mengubah epistemic state, yaitu keadaan pengetahuan, keyakinan, dan struktur representasi yang dimiliki setiap individu. Perubahan pada epistemic state selanjutnya akan memengaruhi komunikasi berikutnya, menghasilkan representasi baru, dan kembali mengubah epistemic state individu maupun masyarakat. Dengan demikian, pengetahuan publik sesungguhnya bukan sesuatu yang statis, melainkan suatu sistem dinamis yang terus berkembang melalui proses komunikasi.

Di dalam sistem seperti inilah kualitas komunikasi menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kuantitas informasi. Sebuah evidence yang benar tidak secara otomatis menghasilkan pengetahuan yang benar. Evidence yang sama dapat menghasilkan representasi yang berbeda apabila inferensi yang menghubungkannya berbeda. Sebaliknya, representasi yang tampak sangat meyakinkan belum tentu memiliki fondasi epistemologis yang kuat apabila dibangun melalui seleksi evidence yang tidak proporsional. Dengan kata lain, kualitas pengetahuan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diketahui, tetapi juga oleh bagaimana hubungan antara evidence, inferensi, representasi, dan epistemic state dibangun.

Di sinilah confirmation bias menjadi persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar bias psikologis individu. Confirmation bias membuat seseorang lebih mudah menerima evidence yang memperkuat keyakinannya dibandingkan evidence yang menantangnya. Ketika kecenderungan tersebut terus direproduksi melalui komunikasi publik, representasi tertentu akan semakin sering diulang, semakin luas diterima, dan secara perlahan membentuk epistemic state kolektif. Pada tahap ini, masyarakat dapat merasa semakin yakin bahwa dirinya memahami suatu realitas secara objektif, padahal yang sesungguhnya menguat hanyalah reproduksi representasi yang sama. Misinformasi, dengan demikian, tidak selalu lahir dari evidence yang salah. Ia juga dapat lahir dari evidence yang benar, tetapi dihubungkan melalui inferensi yang tidak lagi proporsional terhadap keseluruhan realitas.

Kondisi inilah yang dalam tulisan ini disebut sebagai fanatisme epistemik. Fanatisme epistemik bukanlah persoalan apakah seseorang menyukai Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, atau bahkan tokoh tertentu. Preferensi intelektual merupakan sesuatu yang wajar. Fanatisme epistemik muncul ketika preferensi tersebut mulai menentukan evidence mana yang boleh diterima, mana yang harus diabaikan, dan bagaimana inferensi harus dibangun. Pada titik itu, keyakinan tidak lagi mengikuti evidence. Sebaliknya, evidence dipilih agar sesuai dengan keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya. Yang berubah bukan lagi realitas yang dipahami, melainkan mekanisme pembentukan pengetahuan itu sendiri.

Karena itu, lawan dari fanatisme epistemik bukanlah skeptisisme yang menolak semua keyakinan. Ilmu pengetahuan justru berkembang karena manusia berani membangun teori, mengujinya melalui evidence, mempertahankannya selama masih didukung oleh evidence, lalu merevisinya ketika evidence baru menunjukkan penjelasan yang lebih baik. Siklus inilah yang menjaga sains tetap hidup. Dalam kerangka tersebut, diperlukan suatu prinsip yang dapat menjaga kualitas hubungan antara evidence, inferensi, representasi, dan epistemic state. Prinsip itulah yang dalam tulisan ini saya sebut sebagai integritas epistemik (epistemic integrity).

Integritas epistemik bukanlah keadaan ketika seseorang selalu benar. Dalam tradisi ilmiah, tidak ada keyakinan yang kebal terhadap koreksi. Integritas epistemik justru merupakan kesediaan untuk menjaga agar proses pembentukan pengetahuan tetap terbuka terhadap evidence baru, tetap jujur dalam membangun inferensi, serta tetap bersedia memperbaiki representasi ketika representasi tersebut tidak lagi mampu menjelaskan realitas secara memadai. Dengan demikian, integritas epistemik bukanlah sifat dari suatu kesimpulan, melainkan kualitas dari mekanisme yang menghasilkan kesimpulan tersebut.

Dalam perspektif ini, integritas epistemik tidak hanya menjadi kualitas individu, tetapi juga kualitas suatu masyarakat. Sebuah masyarakat yang memiliki integritas epistemik tinggi bukanlah masyarakat yang selalu mencapai konsensus, melainkan masyarakat yang memiliki mekanisme koreksi yang sehat terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Perbedaan pendapat tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan untuk menguji kualitas inferensi. Evidence yang bertentangan tidak segera ditolak karena dianggap mengganggu identitas kelompok, melainkan diperlakukan sebagai peluang untuk memperbaiki representasi yang telah ada. Di sinilah komunikasi menjalankan fungsi ilmiahnya, yaitu bukan sekadar menyebarkan informasi, tetapi memperbaiki kualitas epistemic state masyarakat secara berkelanjutan.

Sejarah tidak disusun untuk menyediakan objek yang harus dipuja ataupun dibenci. Fungsi sejarah adalah memperluas kemampuan kita memahami bagaimana manusia, institusi, dan peradaban membangun pengetahuan, melakukan kesalahan, mengembangkan mekanisme koreksi, lalu belajar dari pengalaman tersebut. Ketika sejarah diperlakukan sebagai instrumen pembenaran identitas, ia berhenti menjadi ruang pembelajaran. Pada saat itulah komunikasi tidak lagi memperkaya epistemic state masyarakat, melainkan hanya mereproduksi representasi yang telah dipercaya sebelumnya.

Karena itu, pertanyaan yang paling penting ketika membaca sejarah bukanlah siapa yang benar atau negara mana yang harus dibela. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah cara kita membangun pengetahuan telah memberikan ruang yang cukup bagi evidence untuk mengoreksi keyakinan kita sendiri? Pertanyaan tersebut berlaku ketika kita membaca sejarah Uni Soviet, tetapi juga berlaku ketika kita membaca sejarah Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, Indonesia, ataupun peradaban mana pun.

Barangkali, ukuran kemajuan suatu peradaban tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang berhasil diproduksinya, melainkan oleh seberapa besar integritas epistemiknya dalam mengoreksi pengetahuan yang pernah diyakininya. Sebab pada akhirnya, kemajuan bukanlah keberhasilan menemukan kebenaran yang dianggap final, melainkan keberanian untuk terus memperbarui representasi kita tentang realitas setiap kali evidence menunjukkan bahwa pemahaman kita sebelumnya belumlah lengkap.


Real Event → peristiwa empiris.
Evidence → jejak empiris yang dapat diamati.
Inferensi → hubungan logis antar-evidence.
Representasi → hasil konstruksi makna.
Komunikasi → mekanisme perubahan epistemic state.
Epistemic State → keadaan pengetahuan. Menjelaskan dinamika perubahan pengetahuan melalui komunikasi.
Epistemic Integrity → menjelaskan kualitas mekanisme yang menghubungkan evidence → inferensi → representasi → epistemic state.
Fanatisme epistemik muncul ketika preferensi mulai menentukan evidence apa yang boleh diterima, informasi apa yang layak dipercaya, dan fakta apa yang harus diabaikan.
Fanatisme epistemik >< Epistemic Integrity

Tangerang Selatan, 9 Juli 2026

Apa Sebenarnya Yang Berubah Selama Proses Komunikasi Berlangsung?

– Arief Prihantoro –

Tulisan melanjutkan tulisan sebelumnya

Setiap hari manusia berkomunikasi. Kita membaca berita, berdiskusi, mengikuti media sosial, mendengarkan pidato, atau sekadar berbincang dengan orang lain. Aktivitas tersebut tampak begitu biasa sehingga jarang dipertanyakan. Namun di balik kesederhanaannya, komunikasi menyimpan sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat mendasar.

Bayangkan dua orang membaca berita yang sama pada pagi hari. Pada sore harinya mereka berdiskusi. Setelah diskusi selesai, keduanya tidak lagi memahami berita tersebut dengan cara yang sama seperti sebelum percakapan dimulai. Masing-masing membawa perspektif baru, menerima sebagian argumen, menolak sebagian lainnya, serta membangun interpretasi yang berbeda. Bahkan apabila berita yang sama dibaca kembali keesokan harinya, keduanya sering kali menghasilkan pemahaman yang telah berubah.

Fenomena serupa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat mempertahankan suatu pendapat dengan penuh keyakinan pada awal diskusi, kemudian mengubah kesimpulannya setelah berdialog panjang atau membaca beberapa referensi tambahan. Yang menarik, perubahan tersebut tidak selalu terjadi karena muncul fakta baru. Sering kali perubahan justru lahir karena informasi yang telah dimiliki sebelumnya memperoleh makna baru ketika ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Dengan kata lain, komunikasi tidak hanya menambah informasi, tetapi juga mengubah cara seseorang menginterpretasikan informasi yang telah dimilikinya.

Fenomena yang sama kini dapat diamati dengan sangat jelas pada sistem kecerdasan buatan generatif. Misalkan pada hari pertama seorang pengguna mengajukan sebuah pertanyaan kepada suatu model AI mengenai suatu isu tertentu. Model tersebut memberikan sebuah jawaban. Pada hari berikutnya, pengguna berdiskusi panjang dengan model yang sama mengenai berbagai topik lain yang mungkin tidak pernah menyebut isu awal secara eksplisit, tetapi memiliki keterkaitan makna dengannya. Ketika pada hari ketiga pertanyaan yang sama persis diajukan kembali—tanpa mengubah satu huruf pun—model dapat menghasilkan jawaban yang berbeda secara signifikan. Dalam banyak kasus, model bahkan mengaitkan jawabannya dengan percakapan yang terjadi sebelumnya.

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik ketika diperluas pada sistem Agentic AI. Sekelompok agen kecerdasan buatan dapat saling bertukar representasi simbolik, mengevaluasi argumen, merevisi kesimpulan, menghasilkan dokumen baru, kemudian menggunakan dokumen tersebut sebagai masukan bagi agen lainnya. Setelah berlangsung beberapa putaran interaksi, keputusan kolektif yang muncul sering kali tidak lagi dapat dijelaskan hanya dari kondisi awal masing-masing agen. Seluruh sistem komunikasi tampak mengalami evolusi sebagai suatu kesatuan.

Apabila fenomena-fenomena tersebut diamati secara sepintas, kita cenderung mengatakan bahwa manusia atau AI “berubah pikiran”. Akan tetapi, ungkapan tersebut sesungguhnya hanya menjelaskan gejalanya, bukan mekanismenya. Pertanyaan ilmiah yang lebih mendasar adalah: apa sebenarnya yang berubah selama proses komunikasi berlangsung? Mengapa pertanyaan yang sama dapat menghasilkan jawaban yang berbeda, meskipun diajukan kepada agen yang sama? Mengapa komunikasi yang telah terjadi sebelumnya mampu memengaruhi cara suatu agen memahami komunikasi berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar proses perpindahan informasi dari satu pihak kepada pihak lain. Komunikasi juga merupakan proses yang secara terus-menerus mengubah kondisi para pelakunya. Setiap tindakan komunikasi menghasilkan perubahan yang kemudian menjadi titik awal bagi komunikasi berikutnya. Dengan demikian, komunikasi membentuk suatu sistem yang bersifat refleksif, yaitu sistem yang secara terus-menerus memengaruhi evolusinya sendiri melalui perubahan keadaan para agen yang terlibat di dalamnya.

Sampai pada titik ini, perhatian kita masih tertuju pada perubahan yang terjadi pada individu. Namun dalam kehidupan nyata, komunikasi tidak pernah berlangsung hanya pada satu atau dua orang. Jutaan individu melakukan proses serupa secara bersamaan, saling memengaruhi melalui jaringan komunikasi yang sangat kompleks. Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi bagaimana seorang individu mengubah keyakinannya, melainkan bagaimana keseluruhan distribusi keadaan epistemik suatu populasi berevolusi sebagai akibat dari proses komunikasi yang berlangsung secara terus-menerus.

Pergeseran sudut pandang inilah yang menjadi titik awal Statistical Mechanics of Epistemic States (SMES). Sebagaimana mekanika statistik tidak berupaya menjelaskan lintasan setiap molekul secara individual, melainkan menjelaskan evolusi distribusi keadaan seluruh sistem, SMES juga tidak bertujuan memodelkan mekanisme internal bagaimana setiap individu membentuk keyakinannya. Fokus utama SMES adalah menjelaskan bagaimana distribusi keadaan epistemik suatu populasi berevolusi sebagai konsekuensi kolektif dari proses komunikasi.

Tulisan ini dibangun dari pertanyaan sederhana yang muncul dari fenomena sehari-hari tersebut. Dimulai dengan menunjukkan mengapa komunikasi secara inheren bersifat refleksif, kemudian menjelaskan bagaimana refleksivitas tersebut dapat dipandang sebagai suatu proses evolusi keadaan epistemik, sebelum akhirnya dirumuskan ke dalam suatu kerangka matematis yang memungkinkan dinamika komunikasi dipelajari secara sistematis. Dengan cara ini, komunikasi tidak lagi dipahami semata-mata sebagai perpindahan informasi, melainkan sebagai proses evolusi distribusi keadaan epistemik dalam suatu sistem yang dinamis dan refleksif.

Komunikasi sebagai Proses Refleksif

Mengapa komunikasi tidak pernah benar-benar selesai ketika percakapan berakhir?

Pertanyaan tersebut tampak sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menganggap suatu komunikasi telah selesai ketika pembicaraan berakhir, rapat ditutup, atau sebuah pesan telah diterima oleh lawan bicara. Namun, apabila diamati lebih saksama, justru setelah komunikasi berakhir proses yang paling penting sering kali baru dimulai.

Bayangkan seorang dosen sedang mengajar di kelas. Pada akhir perkuliahan, seorang mahasiswa mengajukan pertanyaan yang belum pernah dipikirkan sebelumnya oleh dosen tersebut. Pertanyaan itu mendorong sang dosen membaca kembali berbagai referensi, mempertimbangkan kembali argumennya, bahkan mengubah cara ia menjelaskan materi pada pertemuan berikutnya. Seminggu kemudian, mahasiswa angkatan berikutnya menerima penjelasan yang berbeda sebagai akibat dari satu pertanyaan yang muncul pada perkuliahan sebelumnya.

Sekilas, contoh tersebut tampak sangat sederhana. Akan tetapi, sesungguhnya telah terjadi sesuatu yang jauh lebih mendasar. Pertanyaan mahasiswa tidak hanya menghasilkan jawaban baru, tetapi juga menghasilkan dosen yang baru—bukan dalam arti biologis, melainkan dalam arti epistemik. Dosen yang telah mengalami perubahan itu kemudian menghasilkan komunikasi yang berbeda, dan komunikasi yang berbeda tersebut kembali mengubah mahasiswa berikutnya. Dengan demikian, hasil komunikasi pada suatu waktu menjadi penyebab bagi komunikasi pada waktu berikutnya.

Fenomena serupa dapat ditemukan hampir di setiap ruang komunikasi. Dua orang yang berdiskusi mengenai suatu isu publik mungkin memulai percakapan dengan pandangan yang saling bertentangan. Setelah berdialog, keduanya tidak selalu mencapai kesepakatan, tetapi hampir selalu keluar dari percakapan dengan cara memahami persoalan yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Ketika mereka kembali berdiskusi beberapa hari kemudian, percakapan tersebut tidak pernah benar-benar dimulai dari titik awal yang sama, karena masing-masing telah membawa pengalaman komunikasi yang telah mengubah cara mereka menginterpretasikan simbol, argumen, maupun informasi baru.

Fenomena ini menjadi semakin jelas pada sistem kecerdasan buatan generatif. Seorang pengguna mengajukan suatu pertanyaan kepada model AI pada hari pertama dan memperoleh suatu jawaban. Pada hari berikutnya berlangsung serangkaian percakapan mengenai berbagai topik lain yang secara semantik saling berkaitan. Ketika pada hari ketiga pengguna kembali mengajukan pertanyaan yang sama persis—tanpa mengubah satu kata pun—model dapat menghasilkan jawaban yang berbeda secara signifikan. Yang berubah bukanlah representasi simboliknya, melainkan kondisi inferensi yang terbentuk melalui rangkaian komunikasi sebelumnya.

Pada sistem Agentic AI, fenomena tersebut bahkan berkembang menjadi proses kolektif. Sejumlah agen AI saling bertukar representasi simbolik, mengevaluasi hasil kerja satu sama lain, memperbaiki argumen, kemudian menghasilkan representasi baru yang kembali menjadi masukan bagi agen lainnya. Setelah beberapa putaran interaksi, keputusan kolektif yang dihasilkan tidak lagi dapat dijelaskan hanya dari kondisi awal masing-masing agen. Sistem komunikasi tersebut telah berkembang melalui hasil komunikasinya sendiri.

Apabila seluruh contoh tersebut dibandingkan, tampak suatu pola yang sama. Komunikasi tidak hanya menghasilkan representasi baru, tetapi juga menghasilkan kondisi baru bagi lahirnya representasi berikutnya. Setiap tindakan komunikasi mengubah keadaan para agen yang terlibat di dalamnya, sementara perubahan keadaan tersebut menjadi titik awal bagi komunikasi berikutnya. Akibatnya, komunikasi tidak pernah benar-benar kembali ke kondisi semula.

Dengan demikian, komunikasi bukanlah rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan suatu proses yang terus-menerus membentuk dirinya sendiri melalui mekanisme umpan balik (feedback). Keluaran dari satu putaran komunikasi menjadi bagian dari kondisi awal putaran berikutnya. Hubungan inilah yang membentuk suatu closed-loop system.

Diagram tersebut menunjukkan bahwa komunikasi tidak berkembang sebagai rangkaian sebab-akibat yang linier. Sebaliknya, komunikasi berkembang sebagai suatu proses sirkular yang secara terus-menerus memperbarui kondisi sistemnya sendiri.

Setiap putaran komunikasi mengubah keadaan epistemik para agen, sementara keadaan epistemik yang telah berubah tersebut menjadi dasar bagi proses komunikasi berikutnya. Dengan demikian, sejarah komunikasi tidak berada di luar sistem, melainkan terus terakumulasi melalui perubahan keadaan agen yang membentuk evolusi sistem secara keseluruhan.

Sampai pada titik ini, kita sebenarnya belum memerlukan teori apa pun untuk memahami fenomena tersebut. Refleksivitas muncul sebagai konsekuensi logis dari komunikasi itu sendiri. Selama komunikasi mampu mengubah keadaan agen, dan keadaan agen yang telah berubah memengaruhi komunikasi berikutnya, maka setiap sistem komunikasi yang berlangsung secara berulang akan secara alami membentuk mekanisme umpan balik terhadap dirinya sendiri. Dalam pengertian ini, refleksivitas bukanlah asumsi tambahan yang disisipkan ke dalam teori komunikasi, melainkan sifat inheren dari komunikasi sebagai suatu sistem dinamis.

Pertanyaan berikutnya kemudian menjadi sangat menarik. Jika refleksivitas merupakan konsekuensi logis dari komunikasi, mengapa berbagai disiplin ilmu menjelaskannya melalui istilah dan kerangka konseptual yang berbeda? Apakah semiotika, sibernetika orde kedua, teori sistem sosial, teori refleksivitas, maupun teori makna statistik sesungguhnya sedang mengamati fenomena yang sama dari sudut pandang yang berbeda?

Mengapa Refleksivitas Tidak Bertentangan dengan Asumsi Markovian?

Setelah memahami bahwa komunikasi merupakan suatu proses yang bersifat refleksif, muncul sebuah pertanyaan yang hampir tidak dapat dihindari. Jika setiap tindakan komunikasi dipengaruhi oleh komunikasi-komunikasi sebelumnya, bukankah komunikasi merupakan suatu proses yang bergantung pada sejarah (history-dependent process)? Apabila demikian, mengapa SMES masih menggunakan pendekatan Markovian yang sering dipahami sebagai proses “tanpa memori”?

Pertanyaan tersebut tampaknya berkaitan langsung dengan teori Markov. Namun sesungguhnya akar persoalannya terletak jauh lebih dalam. Sebelum bertanya apakah suatu sistem dapat dimodelkan secara Markovian, terlebih dahulu harus dijawab pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya objek yang hendak dimodelkan?

Persoalan semacam ini tidak hanya dihadapi oleh ilmu komunikasi. Hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan menghadapi dilema yang sama ketika berusaha membangun model terhadap sistem yang kompleks. Dunia nyata selalu jauh lebih kaya daripada model yang dapat kita bangun. Tidak ada model ilmiah yang mampu mempertahankan seluruh detail realitas secara utuh. Oleh karena itu, setiap proses pemodelan selalu diawali dengan abstraksi, yaitu memilih sejumlah variabel yang dianggap cukup untuk menjelaskan dinamika sistem tanpa harus membawa seluruh sejarah sistem tersebut ke dalam model.

Prinsip tersebut dapat ditemukan hampir di seluruh cabang fisika. Dalam mekanika klasik, gerak sebuah benda tidak dimodelkan dengan menyimpan seluruh lintasan yang pernah ditempuh sejak benda mulai bergerak. Yang digunakan adalah keadaan benda pada saat tertentu, misalnya posisi dan momentum. Demikian pula dalam termodinamika. Perilaku miliaran molekul gas tidak dijelaskan dengan melacak lintasan setiap molekul secara individual, melainkan melalui variabel keadaan seperti temperatur, tekanan, dan volume. Variabel-variabel tersebut tidak menghapus sejarah sistem, tetapi merepresentasikan keadaan sistem yang telah dibentuk oleh sejarah tersebut.

Pelajaran penting dari kedua contoh tersebut bukan terletak pada rumus-rumus fisikanya, melainkan pada cara ilmu pengetahuan membangun model. Model ilmiah tidak pernah berusaha mempertahankan seluruh sejarah sistem. Model ilmiah memilih variabel keadaan yang masih cukup untuk menjelaskan bagaimana sistem berevolusi. Dengan kata lain, pertanyaan yang relevan bukanlah apakah suatu model menyimpan seluruh detail masa lalu, melainkan apakah variabel keadaan yang dipilih masih mengandung informasi yang diperlukan untuk memprediksi evolusi sistem berikutnya.

Prinsip abstraksi inilah yang diadopsi oleh SMES. Tujuan SMES bukan merekonstruksi seluruh sejarah komunikasi setiap agen, melainkan menjelaskan bagaimana keadaan epistemik suatu populasi berubah akibat proses komunikasi. Oleh karena itu, yang dipilih sebagai objek pemodelan bukanlah keseluruhan sejarah komunikasi, melainkan keadaan epistemik (epistemic state) pada suatu waktu tertentu.

Pada titik ini, penting untuk membedakan dua konsep yang sering kali tercampur. Sejarah komunikasi adalah seluruh rangkaian interaksi yang pernah dialami suatu agen sepanjang hidupnya. Sebaliknya, keadaan epistemik adalah kondisi agen pada saat tertentu sebagai hasil dari sejarah komunikasi tersebut. Sejarah menjelaskan bagaimana keadaan itu terbentuk, sedangkan keadaan menjelaskan dari kondisi mana proses komunikasi berikutnya dimulai.

Perbedaan tersebut dapat dipahami melalui contoh sederhana. Bayangkan seseorang yang telah membaca ratusan buku selama hidupnya. Ketika ia membaca sebuah artikel baru hari ini, ia tidak membuka kembali seluruh buku yang pernah dibacanya. Namun demikian, seluruh pengalaman membaca tersebut tetap memengaruhi bagaimana ia memahami artikel yang sedang dibaca. Yang secara langsung bekerja bukanlah seluruh sejarah membaca, melainkan keadaan pengetahuannya pada saat itu. Sejarah tetap memiliki pengaruh, tetapi pengaruh tersebut hadir melalui keadaan yang telah dibentuk oleh sejarah itu sendiri.

Fenomena yang sama kini dapat diamati pada sistem kecerdasan buatan generatif. Seorang pengguna mengajukan suatu pertanyaan kepada model AI pada hari pertama dan memperoleh suatu jawaban. Selama dua hari berikutnya berlangsung berbagai percakapan lain yang mungkin hanya berkaitan secara tidak langsung dengan pertanyaan awal. Ketika pada hari ketiga pengguna kembali mengajukan pertanyaan yang sama persis, model dapat memberikan jawaban yang berbeda secara signifikan. Yang berubah bukanlah pertanyaannya, melainkan keadaan operasional model ketika melakukan inferensi. Riwayat komunikasi tetap berperan, tetapi pengaruhnya telah termanifestasi dalam keadaan sistem saat respons dihasilkan.

Dalam kerangka SMES, epistemic state didefinisikan pada dua tingkat yang saling melengkapi.

Secara fenomenologis, epistemic state adalah keadaan agen yang telah dibentuk oleh sejarah komunikasinya. Definisi ini membantu menjelaskan mengapa dua agen dapat menghasilkan interpretasi yang berbeda terhadap representasi simbolik yang sama.

Namun secara operasional, epistemic state adalah himpunan variabel keadaan yang cukup untuk menentukan bagaimana suatu agen menginterpretasikan representasi simbolik berikutnya. Definisi operasional ini menjadi dasar bagi pembangunan model matematis SMES, karena menjelaskan secara eksplisit apa yang berfungsi sebagai variabel keadaan di dalam model.

Baru setelah objek pemodelan tersebut ditetapkan, asumsi Markov memperoleh maknanya. Asumsi Markov tidak menyatakan bahwa komunikasi tidak memiliki sejarah. Yang diasumsikan adalah bahwa evolusi keadaan epistemik pada waktu berikutnya cukup ditentukan oleh keadaan epistemik saat ini, karena seluruh pengaruh sejarah yang masih relevan telah termanifestasi dalam keadaan tersebut. Dengan demikian, yang dimodelkan secara Markovian di dalam SMES bukanlah komunikasi sebagai rangkaian peristiwa, melainkan evolusi epistemic state.

Dari sudut pandang ini, refleksivitas dan asumsi Markov ternyata tidak saling bertentangan. Refleksivitas menjelaskan bagaimana komunikasi secara terus-menerus membentuk keadaan epistemik para agen melalui akumulasi pengalaman komunikasi. Sebaliknya, asumsi Markov menjelaskan bagaimana keadaan epistemik yang telah terbentuk tersebut berevolusi menuju keadaan berikutnya. Refleksivitas berbicara mengenai pembentukan keadaan (state formation), sedangkan Markov berbicara mengenai evolusi keadaan (state evolution). Keduanya bekerja pada tingkat konseptual yang berbeda, tetapi justru saling melengkapi dalam membangun kerangka matematis SMES.

Tangerang Selatan, 8 Juli 2026

Mengapa Kekacauan Komunikasi Publik Tidak Pernah Benar-Benar Acak?

– Arief Prihantoro –

Memahami Arsitektur Sistem Komunikasi Publik melalui Analogi Dinamika Partikel dalam Perspektif Fisika Statistik

Pada tulisan sebelumnya saya mengajukan sebuah analogi bahwa komunikasi publik di era digital memiliki karakteristik yang menyerupai gerak Brown (Brownian Motion). Sebagaimana sebuah partikel kecil di dalam fluida bergerak secara acak akibat dihantam oleh jutaan molekul yang tidak tampak, demikian pula opini publik bergerak melalui jutaan interaksi mikro berupa percakapan, komentar, unggahan media sosial, meme, video pendek, hingga potongan informasi yang saling bertabrakan setiap detik.

Dari kejauhan, lintasan partikel tampak acak. Demikian pula lanskap komunikasi digital tampak penuh kekacauan.

Namun semakin lama analogi tersebut saya renungkan, semakin muncul pertanyaan yang justru lebih mendasar.

Apakah komunikasi publik benar-benar bergerak secara acak?

Ataukah “keacakan” yang kita lihat hanyalah fenomena permukaan dari suatu keteraturan statistik yang lebih dalam?

Pertanyaan inilah yang membawa kita melangkah lebih jauh, dari gerak Brown menuju teori sistem stokastik, bahkan hingga teori collision dalam mekanika kuantum yang dikembangkan Paul A. M. Dirac.

Continue reading Mengapa Kekacauan Komunikasi Publik Tidak Pernah Benar-Benar Acak?

Ketika Industri AI Mulai Menemukan Semiotika

– Arief Prihantoro –

AI Kini Membawa Kita Kembali kepada Pertanyaan Tertua: Apakah Bahasa Sekadar Mengekspresikan Logika?

Dalam sebuah percakapan di Grup WA Masyarakat Informatika Sosial Indonesia, muncul pernyataan dari saudara Wawan Setiawan:

“Language adalah express the logic and mathematic behind it.”

Kalimat itu muncul dalam sebuah diskusi yang awalnya membahas sejarah bahasa pemrograman, evolusi komputasi, hingga perkembangan Large Language Model (LLM). Sekilas, saya menganggapnya sebagai pernyataan yang lazim dalam tradisi ilmu komputer. Selama puluhan tahun, kita memang memahami bahwa bahasa pemrograman hanyalah media untuk menuliskan algoritma, sementara algoritma dibangun di atas logika dan matematika.

Namun semakin lama saya memikirkannya, saya menyadari bahwa kalimat tersebut sesungguhnya bukan sekadar pernyataan teknis tentang pemrograman.

Ia adalah sebuah klaim filosofis.

Sebab ketika seseorang mengatakan bahwa “bahasa mengekspresikan logika dan matematika,” ia sebenarnya sedang menyatakan sesuatu mengenai hubungan ontologis antara bahasa, logika, dan matematika.

Dan di sinilah diskusi menjadi jauh lebih menarik.

Continue reading Ketika Industri AI Mulai Menemukan Semiotika

Kalkulasi Nilai Pilihan Pemilu

Tulisan ini lebih ditujukan ke para anggota Masyarakat Informatika Sosial Indonesia namun isinya barangkali bisa dipikirkan juga oleh siapa saja yang punya perhatian pada kasus-kasus korupsi di Indonesia

Friends, topik korupsi sepertinya akan terus mengisi group-group chat di Indonesia. Kita perlu rem sejenak kegiatan forward berita-berita dan ulasan korupsi ke group chat ini apa lagi yang disertai dengan bahasa kasar: “Hindari kecelakaan dengan rem, bukan klakson.” Sudah waktunya kita coba susun pemikiran apa yang bisa dilakukan MISI untuk mengurai permasalahan korupsi.

Sebagai pengantar, saya pikir hampir semua kasus korupsi besar di Indonesia (yang nilainya mencapai orde triliun rupiah) tidak terjadi melalui pencurian sederhana. Ia bekerja melalui mekanisme yang jauh lebih canggih: manipulasi sistem pemerintahan melalui rekayasa peraturan perundang-undangan. Mas @Arief Prihantoro sering menyebutnya dengan “state-sponsored corruption” atau state captured corruption kata KPK. Oligarki mensponsori lahirnya regulasi yang menguntungkan mereka, dan karena partai politik yang mengendalikan akses ke jabatan publik juga dikendalikan oleh kelompok yang sama, lingkaran ini menutup diri dengan rapi.

Continue reading Kalkulasi Nilai Pilihan Pemilu

MBG, Insentif Rp6 Juta per Hari, dan Pertanyaan tentang Keadilan Pajak

– Arief Prihantoro –

Program Sosial Bertemu Insentif Bernilai Puluhan Triliun Rupiah

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal dipromosikan sebagai program sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Namun sejak terbitnya Keputusan Kepala BGN Nomor 401.1 Tahun 2025, muncul sebuah komponen yang memicu perdebatan fiskal: insentif fasilitas SPPG sebesar Rp6 juta per hari.

Menurut ketentuan tersebut, insentif diberikan kepada yayasan atau mitra penyedia fasilitas SPPG berdasarkan prinsip availability-based payment, yaitu pembayaran atas kesiapan dan ketersediaan fasilitas, bukan berdasarkan jumlah porsi makanan yang disalurkan.

BGN pada masa kepemimpinan Dadan Hindayana secara terbuka menjelaskan bahwa Rp6 juta per hari bukan dana pembangunan, melainkan pembayaran layanan kepada mitra yang telah membangun dan menyediakan fasilitas secara mandiri. Risiko investasi, operasional, hingga kerusakan fasilitas ditanggung oleh mitra.

Justru penjelasan resmi tersebut menimbulkan pertanyaan yang lebih mendasar:

Jika ini adalah pembayaran layanan, mengapa diperlakukan sebagai hibah non-pajak?

Continue reading MBG, Insentif Rp6 Juta per Hari, dan Pertanyaan tentang Keadilan Pajak

Roadshow Kampus, Perang Narasi, dan Perebutan Ruang Kognitif

– Arief Prihantoro –

Membaca Strategi Komunikasi Politik Pemerintahan Prabowo di Era Cognitive Warfare

Dalam politik modern, kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui instrumen hukum, aparatus birokrasi, atau kekuatan sumber daya ekonomi, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengendalikan institusi negara, Kekuasaan juga ditentukan melalui kemampuan membentuk cara masyarakat memahami realitas. Karena itu, pertarungan politik kontemporer tidak lagi berlangsung semata-mata di parlemen, ruang rapat kabinet, atau arena pemilu, melainkan juga di dalam pikiran manusia.

Di era digital, siapa yang berhasil mendefinisikan realitas sering kali lebih berpengaruh daripada siapa yang sekadar menguasai fakta. Hal ini merupakan salah satu kajian dalam Sosioinformatika.

Karena itulah politik abad ke-21 semakin bergerak dari arena perebutan kekuasaan menuju arena perebutan makna.

Dalam konteks Indonesia, fenomena tersebut terlihat jelas dalam berbagai upaya komunikasi publik yang dilakukan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Continue reading Roadshow Kampus, Perang Narasi, dan Perebutan Ruang Kognitif

Narasi Popularitas Tokoh Masyarakat Berintegritas Tinggi

Ada dua pengamatan yang sering muncul ketika kita membicarakan tokoh publik Indonesia, tapi jarang dipertemukan dalam satu percakapan. Pertama, tokoh yang semula kritis terhadap pemerintah cenderung ikut berperilaku korup ketika mereka sendiri masuk ke lingkaran kekuasaan. Kedua, tokoh yang konsisten bersih dan kritis justru jarang mendapat sorotan, sehingga terkesan jumlahnya sedikit. Jika keduanya benar sekaligus, kita berhadapan dengan sesuatu yang cukup serius: gambaran publik tentang integritas di Indonesia bukan cerminan kenyataan yang sesungguhnya, melainkan hasil dari cara narasi diproduksi dan disebarkan.

Continue reading Narasi Popularitas Tokoh Masyarakat Berintegritas Tinggi

ANATOMI TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (TPPU) DALAM PROYEK MBG

– Arief Prihantoro –

MEMBONGKAR MODUS OPERANDI DI TINGKAT AGENT YAYASAN

PROLOG: DARI CELAH REGULASI KE KEJAHATAN TERSTRUKTUR

Tulisan ini mencoba mencermati bagaimana desain regulasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka ruang abu-abu yang berpotensi menjadi state-enabled crime. Penangkapan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana oleh Kejaksaan Agung pada pertengahan 2026, disusul terungkapnya skandal motor listrik senilai Rp 1 triliun dengan dugaan rebadge produk Tiongkok, membuktikan bahwa kekhawatiran itu bukan sekadar spekulasi akademik — ia adalah realitas.

Analisis ini mencoba menyentuh tidak hanya potensi fraud lapisan permukaan saja tetapi mengajak pembaca melihat sebuah arsitektur kejahatan yang jauh lebih kompleks terkait TPPU. Pertanyaan awal yang perlu dijawab secara tuntas adalah: bagaimana tepatnya mekanisme pencucian uang itu bekerja di tingkat agent Yayasan mitra MBG? Bukan sekadar “ada potensi,” tetapi bagaimana uang kotor itu bergerak, bersembunyi, dan akhirnya muncul sebagai kekayaan yang tampak bersih di tangan para pengendali?

Analisis ini bersifat preventif terhadap potensi risiko tindak pidana dalam pengelolaan program publik. Seluruh skenario yang disebutkan bersifat hipotetis dan bertujuan memperkuat wacana tata kelola, bukan menuduh individu atau lembaga tertentu tanpa dasar hukum yang telah berkekuatan tetap.

Itulah yang akan dibedah dalam tulisan ini.


Continue reading ANATOMI TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (TPPU) DALAM PROYEK MBG

Vladimir Putin: Dari Leningrad Menuju Kremlin

Anak Soviet, Agen KGB, dan Jalan Menuju Kekuasaan

Ketika Vladimir Putin muncul sebagai presiden Rusia pada pergantian milenium, banyak orang di dalam maupun luar negeri bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok ini. Ia tidak memiliki karisma revolusioner seperti Boris Yeltsin pada awal 1990-an.

Ia bukan jenderal perang yang dikenal publik. Ia juga bukan intelektual reformis yang sejak lama tampil di panggung politik nasional. Bahkan bagi sebagian besar warga Rusia, nama Putin nyaris tidak dikenal sampai beberapa bulan sebelum ia memasuki Kremlin.

Continue reading Vladimir Putin: Dari Leningrad Menuju Kremlin