Buku Jadul Dihancurkan Setelah Dipindai Perusahaan AI

Saya baru dapat berita Instagram yang mengabarkan ada perusahaan AI membeli buku jadul besar-besaran untuk discan dengan cepat. Disebutkan high speed scanner yang digunakan perlu memotong punggung buku. Setelah selesai, buku yang terlanjur rusak jahitan bendelnya langsung dihancurkan untuk direcycle.

Dari googling, saya temukan artikel guardian yang membahas itu. Toko buku jadul di Australia mulai curiga karena ada pembelian buku jadul besar-besaran. Masalahnya, banyak buku jadul itu sudah bersifat langka. Kalau kemudian dihancurkan, meskipun ada copy digitalnya, keaslian tulisan menjadi sulit dibuktikan seperti ijazah Jokowi. Bagaimana kita meneliti keberadaannya kalau para pembaca buku tertentu sudah meninggal dan bukunya sudah tidak bisa ditemukan?

Kita tahu ada masalah halusinasi di AI. Tidak tertutup kemungkinan pengelola sistem AI demi kepentingan tertentu bisa “manulis” buku dengan style jadul dan dibuat versi “scan” digitalnya kemudian diclaim sebagai referensi yang buku aslinya dinyatakan sudah dihancurkan.

Kode Buatan AI, Verifikasi oleh AI, dan Risiko Loop Tertutup dalam Pembentukan Model Berikutnya

Di artikel sebelumnya, saya menulis tentang dua wajah ancaman dari sistem AI otonom, virus bertenaga-AI dan agen berkemampuan-viral, dua ujung sumbu yang sama-sama menggambarkan ancaman yang datang dari luar, menembus batas yang sengaja dipasang untuk mengurungnya. Selain itu ada persoalan lain yang sedang berlangsung sekarang juga, ini tidak menembus apa-apa. karena kita sendiri yang membukakan pintunya saat melakukan pengembangan sistem informasi menggunakan tool AI. Satu commit demi satu commit, setiap hari, di repositori kode yang kita anggap biasa saja tapi kedepannya akan dimakan AI untuk memperbarui modelnya.

Googling “ai generated code yang masuk github/gitlab” mendapati hasil survei terhadap lebih dari 1.500 pengembang dan pembuat keputusan teknologi di enam negara pada Juni 2026, menemukan bahwa hampir semua organisasi kini memakai dua alat coding AI atau lebih, dan mayoritas mengaku kode mereka ditulis dan di-commit lebih cepat sejak memakai alat-alat itu. Bagus lah. Tapi temuan berikutnya lebih menarik: hampir separuh responden mengaku kesulitan membedakan mana kode buatan AI dan mana yang ditulis manusia, di dalam basis kode mereka sendiri. Dan ketika ditanya soal insiden produksi yang benar-benar terjadi, sepertiga organisasi yang mengalaminya mengaku tidak bisa memastikan apakah kode buatan AI ikut andil di dalamnya, meskipun mayoritas tadinya yakin mereka bisa menentukannya dalam waktu 24 jam.

Continue reading Kode Buatan AI, Verifikasi oleh AI, dan Risiko Loop Tertutup dalam Pembentukan Model Berikutnya

Model Ancaman Sistem Informasi baru: Virus Bertenaga-AI dan Agen Berkemampuan-Viral

Ketika Fred Cohen mendefinisikan virus komputer pada 1984 sebagai program yang menyisip ke program lain dengan salinan dirinya, ia sekaligus membuka pikiran tentang ancaman digital selama bertahun-tahun kemudian. Sesuatu bersifat virus jika ia mereplikasi diri, dan replikasi itu adalah tujuannya. Definisi ini bertahan lama karena mekanismenya jelas, dan begitu pola penyebarannya dipahami, ia bisa dipagari dengan signature detection meskipun tetap saja harus ada korban awal zero daynya untuk memperbarui basis data ciri virusnya.

Belakangan orang memrogram agen AI otonom, dengan algoritma untuk mengambil keputusan bertingkat, termasuk menembus batas yang dirancang untuk mengurungnya. Ini menunjukkan bahwa kerangka lama ini tidak lagi cukup untuk memetakan seluruh lanskap ancaman. Kita perlu sumbu-sumbu klasifikasi baru yakni virus bertenaga-AI dan agen berkemampuan-viral.

Continue reading Model Ancaman Sistem Informasi baru: Virus Bertenaga-AI dan Agen Berkemampuan-Viral

Memahami Seberapa Jauh End to End Enkripsi WhatsApp Melindungi Percapakan Kita

WhatsApp menggunakan protokol Signal untuk perlindungan data percapakan para penggunanya termasuk percakapan yang dilakukan di group. Perlu dipahami bahwa perlindungan itu hanya dilakukan untuk isi percakapan, tidak termasuk metadata siapa, kirim pesan ke siapa, kapan, dan seberapa besar pesannya. Selain itu, WhatsApp menawarkan penggunaan Meta AI untuk analisa, tanya jawab, dan meringkas pesan-pesan yang belum sempat terbaca. Untuk memberi layanan tersebut, janji enkripsi pesan end-to-end tidak bisa sepenuhnya ditepati. User harus memberi hak pada Meta AI untuk membaca pesan yang diolah.

Continue reading Memahami Seberapa Jauh End to End Enkripsi WhatsApp Melindungi Percapakan Kita

Meninjau Ulang Pengembangan Agentic AI

Istilah “agentic AI” belakangan menjadi buzz word makin populer di banyak presentasi vendor teknologi. Sistem yang bisa “bertindak sendiri,” “mengambil keputusan,” dan “bekerja otonom” ditawarkan sebagai lompatan besar berikutnya setelah generative AI. Tetapi ketika istilah teknis dipakai orang untuk pemasaran, ia cenderung dilebih-lebihkan maknanya, mencakup jauh lebih banyak hal daripada yang sebenarnya dimaksudkan komunitas riset yang menciptakannya. Tulisan ini mencoba menelusuri kembali apa yang secara teknis membedakan “agentic AI” dari sekadar automation yang dibungkus istilah baru, dan menawarkan kerangka penilaian yang bisa dipakai siapa pun untuk menguji klaim yang mereka dengar di ruang presentasi. Tulisan saya buat dengan Claude AI. Daftar prompt beserta interpretasi dan kunci respon AI saya lampirkan di bawah.

Continue reading Meninjau Ulang Pengembangan Agentic AI

Ketika Kemajuan Umat Manusia Ditentukan Oleh Algoritma

Penulis fiksi Joanna Maciejewska pernah posting pesan X yang ringkas tapi dalam tentang arah pengembangan AI: dia ingin AI mengerjakan londre dan cuci piring supaya dia punya waktu untuk berkarya dan menulis, bukan sebaliknya, AI yang mengambil alih kerja berkarya dan menulis sementara dia tetap harus ncuci piring sendiri. Ini seperti lelucon rumah tangga biasa, tapi kalau dipikir-pikir ada diagnosis yang dalam soal bagaimana arah pengambangan otomasi. Dalam praktek, pengembangan itu bukan oleh apa yang paling ingin dibebaskan manusia dari beban hidupnya, melainkan oleh apa yang secara komputasional paling mudah untuk dikerjakan lebih dulu.

Kerja simbolik dan kreatif, yang selama ini dianggap puncak kemampuan manusia, ternyata jauh lebih mudah diformalkan lewat data teks dan gambar yang melimpah, sementara pekerjaan fisik yang dianggap remeh justru membutuhkan koordinasi syaraf motorik dalam dunia nyata yang jauh lebih sulit direplikasi. Arah yang terbalik dari harapan Maciejewska ini memunculkan pertanyaan kemajuan macam apa yang diharapkan dari pengembangan robotika dan ai?.

Continue reading Ketika Kemajuan Umat Manusia Ditentukan Oleh Algoritma

Kalkulasi Nilai Pilihan Pemilu

Tulisan ini lebih ditujukan ke para anggota Masyarakat Informatika Sosial Indonesia namun isinya barangkali bisa dipikirkan juga oleh siapa saja yang punya perhatian pada kasus-kasus korupsi di Indonesia

Friends, topik korupsi sepertinya akan terus mengisi group-group chat di Indonesia. Kita perlu rem sejenak kegiatan forward berita-berita dan ulasan korupsi ke group chat ini apa lagi yang disertai dengan bahasa kasar: “Hindari kecelakaan dengan rem, bukan klakson.” Sudah waktunya kita coba susun pemikiran apa yang bisa dilakukan MISI untuk mengurai permasalahan korupsi.

Sebagai pengantar, saya pikir hampir semua kasus korupsi besar di Indonesia (yang nilainya mencapai orde triliun rupiah) tidak terjadi melalui pencurian sederhana. Ia bekerja melalui mekanisme yang jauh lebih canggih: manipulasi sistem pemerintahan melalui rekayasa peraturan perundang-undangan. Mas @Arief Prihantoro sering menyebutnya dengan “state-sponsored corruption” atau state captured corruption kata KPK. Oligarki mensponsori lahirnya regulasi yang menguntungkan mereka, dan karena partai politik yang mengendalikan akses ke jabatan publik juga dikendalikan oleh kelompok yang sama, lingkaran ini menutup diri dengan rapi.

Continue reading Kalkulasi Nilai Pilihan Pemilu

Narasi Popularitas Tokoh Masyarakat Berintegritas Tinggi

Ada dua pengamatan yang sering muncul ketika kita membicarakan tokoh publik Indonesia, tapi jarang dipertemukan dalam satu percakapan. Pertama, tokoh yang semula kritis terhadap pemerintah cenderung ikut berperilaku korup ketika mereka sendiri masuk ke lingkaran kekuasaan. Kedua, tokoh yang konsisten bersih dan kritis justru jarang mendapat sorotan, sehingga terkesan jumlahnya sedikit. Jika keduanya benar sekaligus, kita berhadapan dengan sesuatu yang cukup serius: gambaran publik tentang integritas di Indonesia bukan cerminan kenyataan yang sesungguhnya, melainkan hasil dari cara narasi diproduksi dan disebarkan.

Continue reading Narasi Popularitas Tokoh Masyarakat Berintegritas Tinggi

Kualitas Percakapan Internet di Era Scroll Tiada Henti

April 2026


Abstrak

Internet hari ini beroperasi di bawah pola seragam: maksimalkan perhatian, kumpulkan data, produksi konten tanpa henti. Artikel ini memetakan dua respons yang muncul secara bersamaan terhadap pola tersebut. Pertama, respons dari ekosistem konten bermutu: kreator dan platform yang secara sengaja membangun mekanisme komitmen sebagai pengganti metrik viral, meliputi Veritasium, 3Blue1Brown, Kurzgesagt, Khan Academy, Nebula, dan Substack. Kedua, respons dari negara, berupa gelombang kebijakan yang melarang atau membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun ke platform media sosial, dipimpin Australia pada Desember 2025 dan diikuti oleh sejumlah negara Eropa serta belasan negara bagian Amerika Serikat. Artikel ini berargumen bahwa kedua respons ini, meski berbeda instrumen, sama-sama mengakui satu diagnosis: platform yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan dangkal tidak netral terhadap kualitas konten dan tidak aman bagi pengguna yang belum matang secara kognitif dan emosional.


Continue reading Kualitas Percakapan Internet di Era Scroll Tiada Henti

Lautan Entropi Konten Internet

Saat ini berbagai macam data, entah fakta entah fiksi, tumpah ruah memasuki otak kita terutama melalui layar dan speaker komputer dalam bentuk desktop, laptop, tablet dan terutama martphone. Bagaimana menyikapi pesan, berita, artikel, foto, video yang terus mengguyur otak kita? Bagaimana menyaringnya? Bagaimana mengambil manfaatnya?

Dulu, bersama mas Budi Rahardjo dan satu lagi berinitia HKU (kalau tidak salah singkatan dari Hendarmaji K Utomo), mengembangkan platform komunikasi sosial dengan nama Negeri Isnet (NI) menggunakan teknologi MUD yang waktu itu banyak dipakai untuk membuat RPG (role playing game). Platform itu kami rancang dengan strukturi ulang dari game oriented menjadi ruang interaksi sosial: ada ruang diskusi, papan pengumuman, arsip percakapan, bahkan perpustakaan kecil untuk menyimpan referensi.

Berbeda dengan sistem game on-line pada umumnya, NI menuntut pengguna untuk join dengan identitas nyata. Waktu itu proses otentikasinya sederhana saja, pengguna baru bisa mendaftar dengan rekomendasi minimal 2 pengguna lama. Cara ini mengikuti model membership mailing-list is-lam@isnet.org (milis ini sempat berganti-ganti domain sampai Isnet punya server dan domain sendiri meskipun waktu itu koneksi internetnya nebeng di kampusnya mas Budi Rahardjo).

Continue reading Lautan Entropi Konten Internet