Kalkulasi Nilai Pilihan Pemilu

Tulisan ini lebih ditujukan ke para anggota Masyarakat Informatika Sosial Indonesia namun isinya barangkali bisa dipikirkan juga oleh siapa saja yang punya perhatian pada kasus-kasus korupsi di Indonesia

Friends, topik korupsi sepertinya akan terus mengisi group-group chat di Indonesia. Kita perlu rem sejenak kegiatan forward berita-berita dan ulasan korupsi ke group chat ini apa lagi yang disertai dengan bahasa kasar: “Hindari kecelakaan dengan rem, bukan klakson.” Sudah waktunya kita coba susun pemikiran apa yang bisa dilakukan MISI untuk mengurai permasalahan korupsi.

Sebagai pengantar, saya pikir hampir semua kasus korupsi besar di Indonesia (yang nilainya mencapai orde triliun rupiah) tidak terjadi melalui pencurian sederhana. Ia bekerja melalui mekanisme yang jauh lebih canggih: manipulasi sistem pemerintahan melalui rekayasa peraturan perundang-undangan. Mas @Arief Prihantoro sering menyebutnya dengan “state-sponsored corruption” atau state captured corruption kata KPK. Oligarki mensponsori lahirnya regulasi yang menguntungkan mereka, dan karena partai politik yang mengendalikan akses ke jabatan publik juga dikendalikan oleh kelompok yang sama, lingkaran ini menutup diri dengan rapi.

Continue reading Kalkulasi Nilai Pilihan Pemilu

Narasi Popularitas Tokoh Masyarakat Berintegritas Tinggi

Ada dua pengamatan yang sering muncul ketika kita membicarakan tokoh publik Indonesia, tapi jarang dipertemukan dalam satu percakapan. Pertama, tokoh yang semula kritis terhadap pemerintah cenderung ikut berperilaku korup ketika mereka sendiri masuk ke lingkaran kekuasaan. Kedua, tokoh yang konsisten bersih dan kritis justru jarang mendapat sorotan, sehingga terkesan jumlahnya sedikit. Jika keduanya benar sekaligus, kita berhadapan dengan sesuatu yang cukup serius: gambaran publik tentang integritas di Indonesia bukan cerminan kenyataan yang sesungguhnya, melainkan hasil dari cara narasi diproduksi dan disebarkan.

Continue reading Narasi Popularitas Tokoh Masyarakat Berintegritas Tinggi

Kualitas Percakapan Internet di Era Scroll Tiada Henti

April 2026


Abstrak

Internet hari ini beroperasi di bawah pola seragam: maksimalkan perhatian, kumpulkan data, produksi konten tanpa henti. Artikel ini memetakan dua respons yang muncul secara bersamaan terhadap pola tersebut. Pertama, respons dari ekosistem konten bermutu: kreator dan platform yang secara sengaja membangun mekanisme komitmen sebagai pengganti metrik viral, meliputi Veritasium, 3Blue1Brown, Kurzgesagt, Khan Academy, Nebula, dan Substack. Kedua, respons dari negara, berupa gelombang kebijakan yang melarang atau membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun ke platform media sosial, dipimpin Australia pada Desember 2025 dan diikuti oleh sejumlah negara Eropa serta belasan negara bagian Amerika Serikat. Artikel ini berargumen bahwa kedua respons ini, meski berbeda instrumen, sama-sama mengakui satu diagnosis: platform yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan dangkal tidak netral terhadap kualitas konten dan tidak aman bagi pengguna yang belum matang secara kognitif dan emosional.


Continue reading Kualitas Percakapan Internet di Era Scroll Tiada Henti

Lautan Entropi Konten Internet

Saat ini berbagai macam data, entah fakta entah fiksi, tumpah ruah memasuki otak kita terutama melalui layar dan speaker komputer dalam bentuk desktop, laptop, tablet dan terutama martphone. Bagaimana menyikapi pesan, berita, artikel, foto, video yang terus mengguyur otak kita? Bagaimana menyaringnya? Bagaimana mengambil manfaatnya?

Dulu, bersama mas Budi Rahardjo dan satu lagi berinitia HKU (kalau tidak salah singkatan dari Hendarmaji K Utomo), mengembangkan platform komunikasi sosial dengan nama Negeri Isnet (NI) menggunakan teknologi MUD yang waktu itu banyak dipakai untuk membuat RPG (role playing game). Platform itu kami rancang dengan strukturi ulang dari game oriented menjadi ruang interaksi sosial: ada ruang diskusi, papan pengumuman, arsip percakapan, bahkan perpustakaan kecil untuk menyimpan referensi.

Berbeda dengan sistem game on-line pada umumnya, NI menuntut pengguna untuk join dengan identitas nyata. Waktu itu proses otentikasinya sederhana saja, pengguna baru bisa mendaftar dengan rekomendasi minimal 2 pengguna lama. Cara ini mengikuti model membership mailing-list is-lam@isnet.org (milis ini sempat berganti-ganti domain sampai Isnet punya server dan domain sendiri meskipun waktu itu koneksi internetnya nebeng di kampusnya mas Budi Rahardjo).

Continue reading Lautan Entropi Konten Internet

Kompleksitas Aliran dalam Psikologi: Antara Kekayaan Teori dan Fragmentasi Keilmuan

Saya sering berdiskusi dengan Atikah Prastowo (anak saya, Master Psikologi yang sekarang berprofesi sebagai psikolog). Bagi saya sangat menarik karena, Atikah bilang aliran-aliran psikologi itu belum mapan dan para psikolog cenderung mengikuti aliran tertentu dan enggan beralih ke aliran lain. Ini mengingatkan saya pada madzab-madzab agama Islam. Pengikut madzab tertentu cenderung bertahan di madzhabnya dan tidak tertarik untuk mempelajari madzab lain di bawah payung ujar-ujar “perbedaan adalah rahmat.” Butir-butir diskusi dengan Atikah tentang hal ini saya kumpulkan dan uploadkan ke ChatGPT untuk dirangkai sebagai artikel. Ini hasilnya.

Continue reading Kompleksitas Aliran dalam Psikologi: Antara Kekayaan Teori dan Fragmentasi Keilmuan

Membangun Keuntungan Bersama di Internet

[artikel ini saya tulis 10 tahun lalu di Facebook]
Jaringan komunikasi data Internet membuka peluang bisnis besar dengan harga eceran yang sangat kecil. Ciri bisnis sistem digital adalah melibatkan ongkos pengembangan yang besar namun ketika sudah siap dipasarkan ongkos produksinya (penggandaan materi) mendekati nol. Ini bisa terjadi karena sebagian besar biaya produksi diserap dalam bentuk pembiayaan infrastruktur (sarana/prasarana).

Kita tidak bayar satu sen pun untuk mengirimkan surat elektronik ke saudara yang berada nun jauh di negeri orang. Namun untuk bisa mengirimkan email itu kita harus memiliki perangkat komputer (atau smartphone), bayar kwh listrik dan biaya langgaran koneksi Internet.

Continue reading Membangun Keuntungan Bersama di Internet

Rukyat, Hisab, Imkan Rukyat, Wujudul Hilal, dan Kalender Hijriah Global Tunggal

Jadi begini.
Pada mulanya, semua melihat bulan dengan mata telanjang untuk menentukan awal bulan berikutnya.

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (idul fitri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban 30 hari” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian berkembang ilmu falak yang bisa memprediksi secara akurat kapan bulan mulai bisa terlihat di akhir penanggalan bulan. Dengan ilmu falak, kita tidak perlu melihat hilal (rukyatul hilal) secara langsung bahkan tidak perlu lagi memikirkan apakan hilal akan tertutup awan atau tidak. Perdebatan mulai muncul apakah kita boleh menetapkan awal bulan berdasarkan perhitungan akurat (hisab) dari posisi bulan saat magrib di akhir bulan sebelumnya?

Continue reading Rukyat, Hisab, Imkan Rukyat, Wujudul Hilal, dan Kalender Hijriah Global Tunggal

Apakah Jalan hidup Kita Berupa Rangkaian Kebetulan atau Terencana Sepenuhnya?

Belakangan ini sering berpikir, apa yang mempengaruhi perjalanan hidup saya sehingga menjadi Bambang Nurcahyo Prastowo seperti ini? Sudah tepat kah keputusan-keputusan yang saya ambil di masa lalu? Bagaimana mengukur level ketepatan itu? Dipikir-pikir lebih lanjut, ternyata tidak banyak keputusan yang saya ambil murni dari sejumlah pilihan bebas seolah-olah semua sudah ditetapkan.

Semua ditentukan dari faktor luar: harus mendaftar UGM karena waktu itu PT paling murah. Harus pilih MIPA karena waktu itu merupakan program studi dengan ratio pendaftar-diterima paling rendah. Harus berangkat sekolah ke luar negeri karena ada tawaran beasiswa. Harus menikah dengan wanita yang menjadi istri saya sekarang karena dia yang pertama kali menyatakan bersedia setelah sekian yang dilamar sebelumnya menolak.

Continue reading Apakah Jalan hidup Kita Berupa Rangkaian Kebetulan atau Terencana Sepenuhnya?

Calistung: Future Skill untuk Memasuki Lapangan Kerja Masa Depan


Setiap kali dunia pendidikan membicarakan keterampilan masa depan, perbincangan hampir selalu dipenuhi istilah yang terdengar mutakhir: kecerdasan buatan, literasi digital, kreativitas, kolaborasi, dan seterusnya. Daftar ini terus bertambah seiring perkembangan teknologi, seolah pendidikan selalu tertinggal dan harus berlari mengejar masa depan. Namun di balik euforia tersebut, ada persoalan mendasar yang jarang dibicarakan secara jujur: sebagian besar keterampilan yang disebut “masa depan” justru berdiri di atas fondasi yang semakin rapuh, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dalam makna yang sesungguhnya.

Continue reading Calistung: Future Skill untuk Memasuki Lapangan Kerja Masa Depan

Membuang Stigma Pengangguran

Mari kita geser sedikit cara pandang kita soal pengangguran. Selama ini, kalau mendengar kata “penganggur”, yang terlintas di kepala sering kali adalah sosok yang malas atau tidak punya keahlian. Sepertinya masalahnya tidak sederhana. Kenyataannya, tidak ada orang yang benar-benar pengangguran; yang ada hanyalah orang-orang yang tidak kebagian jatah pekerjaan karena “kursi” yang tersedia memang makin sedikit. Kita harus jujur bahwa penyempitan lapangan kerja adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Dengan kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang makin gila-gilaan, posisi yang dulu diisi manusia kini diambil alih oleh mesin demi efisiensi. Ini bukan lagi soal kompetensi individu, melainkan soal panggung ekonomi yang memang secara alami sedang menciut karena manusia tidak lagi dibutuhkan untuk banyak pekerjaan rutin.

Continue reading Membuang Stigma Pengangguran