
Arief Prihantoro
Ketika Memori Menjadi Misteri

Salah satu pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit dalam ilmu pengetahuan adalah pertanyaan yang hampir setiap orang pernah rasakan secara intuitif:
Di mana sebenarnya ingatan disimpan?
Kita dapat mengingat wajah seorang sahabat masa kecil yang sudah puluhan tahun tidak ditemui. Kita masih dapat mendengar kembali lagu yang pertama kali didengar saat remaja. Bahkan aroma tertentu kadang mampu memanggil kembali kenangan yang telah lama terkubur. Semua pengalaman itu tersimpan di suatu tempat di otak, namun tidak seorang pun dapat menunjukkannya secara langsung sebagaimana seseorang dapat menunjukkan lokasi sebuah file dalam komputer, dimana tepatnya lokasi ingatan itu disimpan.
Pada awal abad ke-20, banyak ilmuwan percaya bahwa jawaban atas misteri tersebut hanyalah soal waktu. Otak seringkali dianggap bekerja seperti lemari arsip biologis. Pengalaman yang masuk melalui panca indra diproses, diberi label, lalu disimpan di lokasi tertentu. Jika lokasi itu ditemukan, maka teka-teki memori pun selesai.
Cara berpikir semacam ini sangat dipengaruhi oleh kecenderungan manusia untuk memahami alam melalui teknologi yang paling maju pada zamannya. Pada era mesin uap, tubuh sering dianalogikan sebagai mesin. Pada era hidrolik, sistem saraf dipahami layaknya jaringan pipa. Ketika komputer mulai berkembang, otak pun dibayangkan sebagai komputer biologis yang menyimpan data di dalam berbagai “folder” dan “direktori” saraf.
Continue reading Dari Memori Otak ke Organisasi: Jejak Holonomic Brain Theory di Era Kecerdasan Buatan

