Dari Informasi Menuju Epistemic State – Membaca Ulang Komunikasi Politik di Era Algoritma

– Arief Prihantoro –

Di Bawah Bayang-Bayang Algoritma

Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, tidak sedikit konsep yang pada mulanya lahir sebagai alat untuk menjelaskan suatu gejala, tetapi perlahan berubah menjadi cara berpikir yang hampir tidak pernah lagi dipertanyakan. Semakin sering konsep tersebut digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena, semakin kecil pula kecenderungan untuk meninjau kembali asumsi-asumsi yang melahirkannya. Pada titik tertentu, perhatian ilmiah tidak lagi diarahkan kepada fondasi konseptualnya, melainkan kepada berbagai persoalan baru yang tumbuh di atasnya. Ketika keadaan itu terjadi, sebuah paradigma sesungguhnya sedang bekerja dalam bentuknya yang paling kuat: bukan karena ia selalu benar, melainkan karena ia telah diterima sebagai titik berangkat yang nyaris tak lagi dipersoalkan.

Barangkali keadaan semacam itu sedang berlangsung dalam cara kita memahami komunikasi pada era digital. Dalam beberapa tahun terakhir, hampir setiap pembahasan mengenai komunikasi politik bersinggungan dengan algoritma. Polarisasi politik, disinformasi, deepfake, filter bubble, echo chamber, microtargeting, hingga menurunnya kualitas ruang publik, semakin sering dijelaskan melalui cara kerja algoritma. Istilah tersebut bukan lagi sekadar menunjuk pada prosedur komputasional, melainkan telah menjadi pusat penjelasan bagi beragam fenomena komunikasi kontemporer.

Kecenderungan tersebut tampak jelas dalam Webinar Nasional “Komunikasi Politik dalam Kendali Algoritma” yang diselenggarakan oleh Majelis Pengurus Pusat ICMI pada 15 Juli 2026. Forum yang menghadirkan pembicara dari kalangan pemerintah, akademisi, dan praktisi teknologi informasi tersebut memperlihatkan betapa luasnya persoalan yang kini dikaitkan dengan algoritma. Mulai dari penyebaran disinformasi, polarisasi politik, tata kelola platform digital, hingga perkembangan Kecerdasan Tiruan, seluruhnya dibahas sebagai bagian dari perubahan besar yang sedang terjadi pada ekosistem komunikasi.

Tulisan ini lahir dari salah satu diskusi yang berkembang setelah webinar tersebut, khususnya terkait paparan Dr. Sigit Puspito Wigati Jarot, M.Eng., Ph.D. Sejumlah catatan yang disampaikan kepada beliau memperoleh tanggapan yang sangat terbuka. Dalam klarifikasinya, beliau menjelaskan bahwa kerangka yang digunakan memang banyak bertumpu pada tradisi teori informasi, sedangkan penggunaan istilah gatekeeper dimaksudkan untuk menggambarkan cara berbagai literatur komunikasi digital membaca fenomena algoritma, bukan untuk mengajukan klaim teoretis baru. Sikap akademik semacam itu justru membuka ruang dialog yang lebih produktif, sebab persoalan yang muncul ternyata tidak berhenti pada isi presentasi, melainkan menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar mengenai kerangka konseptual yang selama ini digunakan untuk memahami komunikasi.

Pertanyaan tersebut tampaknya sederhana, tetapi konsekuensinya sangat luas. Selama ini berbagai teori komunikasi berkembang dengan perhatian yang sangat besar terhadap pesan, media, saluran, distribusi informasi, maupun efek komunikasi. Ketika algoritma hadir sebagai aktor baru dalam ruang publik digital, perhatian itu bergeser kepada bagaimana algoritma memilih, mengurutkan, memperkuat, atau mendistribusikan informasi. Dengan demikian, yang berubah terutama adalah mekanisme pengelolaan informasi, sedangkan objek utama yang diamati tetap sama. Hampir seluruh penjelasan masih berpusat pada informasi sebagai satuan dasar komunikasi.

Namun, apakah perubahan yang sedang berlangsung memang sesederhana itu? Apakah algoritma sesungguhnya hanya mengubah cara informasi didistribusikan? Ataukah pertanyaan yang lebih mendasar justru belum diajukan:

mungkinkah yang sedang berubah bukan sekadar arus informasi, melainkan keadaan internal manusia yang menerima, menafsirkan, mempercayai, lalu bertindak berdasarkan informasi tersebut?

Pertanyaan terakhir inilah yang menjadi titik berangkat tulisan ini. Tujuannya bukan untuk menolak teori-teori komunikasi yang telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, apalagi untuk mempertentangkan satu presentasi dengan presentasi yang lain. Sebaliknya, tulisan ini merupakan sebuah ikhtiar untuk melanjutkan dialog yang telah dimulai dalam webinar tersebut dengan menggeser perhatian dari fenomena yang tampak di permukaan menuju asumsi-asumsi yang selama ini bekerja di baliknya. Sebab mungkin saja, tantangan terbesar komunikasi pada era algoritma bukan pertama-tama terletak pada kecanggihan teknologinya, melainkan pada perlunya meninjau kembali objek yang selama ini dijadikan pusat perhatian ilmu komunikasi.

Karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kritik terhadap paparan Dr. Sigit Puspito Wigati Jarot sebagai individu. Sebaliknya, paparan beliau justru merepresentasikan dengan sangat baik paradigma dominan dalam kajian komunikasi digital kontemporer dan berhasil memetakan berbagai persoalan komunikasi politik digital—mulai dari filter bubble, echo chamber, microtargeting, hingga peran algoritma dalam distribusi informasi. Justru karena pemetaan tersebut demikian komprehensif, tulisan ini mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:

mungkinkah seluruh fenomena tersebut masih cukup dipahami melalui unit analisis yang sama, yakni informasi?

Dalam pengertian itulah artikel ini hendaknya dibaca sebagai kelanjutan dialog untuk meninjau kembali asumsi-asumsi epistemologis yang menopang kajian komunikasi kontemporer, bukan sebagai penyangkalan terhadap paparan yang telah disampaikan.

Ketika Informasi Menjadi Pusat Segala Penjelasan

Salah satu kekuatan presentasi Dr. Sigit adalah kemampuannya merangkum hampir seluruh istilah kunci yang saat ini mendominasi diskursus komunikasi digital. Filter bubble, echo chamber, microtargeting, algoritmic gatekeeping, hingga attention economy tampil sebagai konsep-konsep yang menjelaskan wajah baru komunikasi politik di era platform digital. Namun justru ketika seluruh konsep tersebut diletakkan berdampingan, tampak adanya satu pola yang menarik.

Salah satu gejala yang menarik dalam perkembangan kajian komunikasi digital dewasa ini adalah semakin bertambahnya istilah yang digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena baru. Hampir setiap perubahan yang dibawa oleh platform digital melahirkan kosakata baru. Muncul filter bubble untuk menjelaskan mengapa seseorang semakin sering menerima informasi yang sesuai dengan preferensinya. Hadir echo chamber untuk menggambarkan lingkungan komunikasi yang semakin homogen. Berkembang konsep microtargeting untuk menjelaskan kemampuan platform menyampaikan pesan yang berbeda kepada kelompok yang berbeda. Ketika algoritma mulai menentukan konten yang tampil di hadapan pengguna, lahirlah pula analogi mengenai algoritma sebagai gatekeeper baru dalam ruang digital.

Paparan Dr. Sigit mengenai algoritma sebagai gatekeeper baru sangat tepat apabila dilihat dari perspektif distribusi informasi. Namun apabila unit analisis dipindahkan ke epistemic state, maka fungsi gatekeeper tersebut dapat dipahami secara berbeda. Algoritma tidak sekadar menyaring informasi, melainkan memengaruhi probabilitas transisi keadaan epistemik pengguna.

Sekilas, konsep-konsep tersebut tampak berdiri sendiri. Masing-masing lahir dari persoalan yang berbeda, dikembangkan oleh peneliti yang berbeda, dan digunakan untuk menjelaskan gejala yang berbeda pula. Akan tetapi, apabila diperhatikan lebih saksama, terdapat satu benang merah yang menghubungkan seluruhnya. Apa pun istilah yang digunakan, pusat perhatian analisisnya hampir selalu tetap sama, yakni bagaimana informasi bergerak di dalam sistem komunikasi.

Dalam kerangka semacam itu, komunikasi dipahami sebagai rangkaian proses yang berkaitan dengan produksi, distribusi, seleksi, penguatan, personalisasi, maupun penyebaran informasi. Perubahan teknologi kemudian dipahami sebagai perubahan terhadap mekanisme proses-proses tersebut. Ketika platform digital berkembang, perhatian bergeser kepada bagaimana algoritma mengatur distribusi informasi. Ketika media sosial mengubah pola interaksi masyarakat, perhatian diarahkan kepada bagaimana informasi beredar di dalam jejaring digital. Bahkan ketika polarisasi politik semakin menguat, pertanyaan yang diajukan pun tetap berkisar pada bagaimana informasi diproduksi, diperkuat, dan disebarkan.

Dengan demikian, istilah-istilah baru yang bermunculan sesungguhnya lebih banyak memperkaya cara mendeskripsikan berbagai fenomena komunikasi digital daripada mengubah titik berangkat analisisnya. Objek yang diamati tetap sama. Yang berubah adalah variasi gejala yang hendak dijelaskan.

Tidak ada yang keliru dalam kecenderungan tersebut. Justru sebaliknya, perkembangan seperti itu merupakan ciri yang lazim dijumpai dalam setiap disiplin ilmu. Ketika realitas berkembang menjadi semakin kompleks, sebuah paradigma biasanya tidak serta-merta ditinggalkan. Ia justru memperluas dirinya melalui konsep-konsep baru yang masih bergerak di dalam kerangka berpikir yang sama. Karena itulah berbagai istilah baru dapat terus bermunculan tanpa harus mengubah asumsi-asumsi yang telah lebih dahulu diterima.

Namun di balik perkembangan itu, terdapat sebuah pertanyaan yang perlahan mulai mengemuka. Apakah seluruh fenomena komunikasi digital memang cukup dipahami sebagai persoalan mengenai bagaimana informasi diproduksi, didistribusikan, dan diperkuat? Ataukah berbagai konsep baru tersebut sesungguhnya sedang memperlihatkan adanya sesuatu yang belum sepenuhnya terjelaskan?

Pertanyaan ini tidak bermaksud meragukan kegunaan konsep-konsep yang telah berkembang. Sebaliknya, justru karena konsep-konsep tersebut berhasil menggambarkan begitu banyak fenomena, muncul kebutuhan untuk menanyakan sesuatu yang lebih mendasar. Mengapa hampir seluruh penjelasan mengenai komunikasi digital selalu kembali kepada informasi? Mengapa informasi memperoleh kedudukan yang demikian sentral sehingga hampir setiap fenomena baru pada akhirnya dipahami sebagai variasi dari persoalan yang sama?

Barangkali jawaban atas pertanyaan tersebut tidak dapat ditemukan dengan mengamati algoritma semata. Ia justru menuntut penelusuran yang lebih jauh ke belakang, ketika konsep informasi pertama kali memperoleh kedudukan sebagai fondasi bagi cara modern memahami komunikasi. Sebab mungkin saja, apa yang hari ini tampak sebagai persoalan algoritma sesungguhnya berakar pada cara berpikir yang telah dibangun jauh sebelum algoritma itu sendiri lahir.

Genealogi Sebuah Paradigma

Tidak ada paradigma ilmiah yang lahir secara kebetulan. Setiap paradigma merupakan jawaban terhadap persoalan yang dianggap paling mendesak pada zamannya. Karena itu, untuk memahami mengapa informasi kemudian memperoleh kedudukan yang demikian sentral dalam ilmu komunikasi, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah siapa yang pertama kali berbicara tentang informasi, melainkan persoalan apa yang sebenarnya hendak dipecahkan ketika konsep tersebut mulai dirumuskan secara ilmiah.

Pertanyaan ini penting, sebab sebuah konsep sering kali mengalami perubahan fungsi ketika berpindah dari disiplin ilmu tempat ia dilahirkan menuju disiplin ilmu lain yang kemudian mengadopsinya. Apa yang semula dirancang untuk menjawab persoalan tertentu dapat berubah menjadi cara berpikir yang jauh melampaui konteks asalnya. Dalam proses itulah sebuah konsep perlahan berkembang menjadi paradigma.

Pada pertengahan abad ke-20, dunia menghadapi persoalan komunikasi yang sangat berbeda dengan persoalan komunikasi politik pada era algoritma sekarang. Perkembangan telekomunikasi, radar, sistem persinyalan, dan kebutuhan militer selama Perang Dunia II menempatkan efisiensi transmisi sebagai persoalan utama. Tantangan terbesar pada masa itu bukanlah bagaimana manusia memahami sebuah pesan, melainkan bagaimana sebuah sinyal dapat dikirimkan melintasi saluran komunikasi dengan tingkat gangguan (noise) serendah mungkin. Yang dipertanyakan bukan makna pesan, melainkan keandalan proses pengirimannya.

Dalam konteks kebutuhan itulah Claude Shannon menerbitkan A Mathematical Theory of Communication pada tahun 1948. Karya tersebut segera menjadi tonggak penting dalam sejarah ilmu pengetahuan karena untuk pertama kalinya informasi dirumuskan sebagai besaran matematis yang dapat diukur, dihitung, dan dianalisis secara formal. Melalui pendekatan probabilistik, Shannon menunjukkan bahwa persoalan komunikasi dapat dipahami tanpa terlebih dahulu mengetahui apa arti dari pesan yang dikirimkan. Yang menjadi perhatian bukan isi pesan, melainkan struktur statistiknya.

Sering kali teori informasi dipahami seolah-olah merupakan teori mengenai komunikasi antarmanusia. Padahal Shannon sendiri tidak pernah mengajukan klaim semacam itu. Fokus utamanya adalah rekayasa sistem komunikasi. Karena itu, ia secara eksplisit menempatkan aspek semantik di luar ruang lingkup teorinya. Apakah suatu pesan berupa puisi, propaganda politik, laporan cuaca, atau deretan simbol acak, semuanya diperlakukan sama sepanjang memenuhi karakteristik statistik yang diperlukan untuk dianalisis sebagai informasi. Dengan kata lain, teori informasi sejak awal memang tidak dimaksudkan untuk menjelaskan bagaimana manusia membangun pemahaman, melainkan bagaimana simbol dapat dipindahkan secara efisien dari satu titik ke titik lainnya.

Justru di sinilah letak keberhasilan teori tersebut. Dengan melepaskan diri dari persoalan makna, Shannon berhasil membangun sebuah teori yang memiliki daya generalisasi luar biasa. Rumusan matematisnya dapat diterapkan pada telepon, radio, televisi, satelit komunikasi, jaringan komputer, hingga internet modern. Dalam konteks rekayasa komunikasi, keputusan untuk mengabaikan makna bukanlah kelemahan, melainkan syarat agar teori tersebut dapat bekerja secara universal.

Namun sejarah ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa keberhasilan sebuah teori sering kali melahirkan konsekuensi yang tidak pernah dibayangkan oleh perumusnya. Ketika teori informasi mulai diadopsi oleh berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu komunikasi, fokus terhadap transmisi informasi perlahan ikut berpindah. Bersama Warren Weaver, gagasan Shannon diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas sehingga model komunikasi sebagai proses pengiriman informasi memperoleh pengaruh yang sangat besar. Pada periode yang hampir bersamaan, perkembangan sibernetika melalui Norbert Wiener semakin mengukuhkan cara pandang bahwa komunikasi dapat dipahami sebagai proses pertukaran informasi di dalam suatu sistem yang diatur melalui mekanisme umpan balik.

Sejak saat itulah informasi tidak lagi hanya menjadi konsep dalam teknik telekomunikasi. Ia perlahan berubah menjadi titik berangkat untuk memahami komunikasi itu sendiri. Berbagai teori komunikasi yang berkembang sesudahnya memang menawarkan penekanan yang berbeda-beda—ada yang menyoroti media, khalayak, kekuasaan, budaya, maupun efek komunikasi—namun hampir seluruhnya tetap memandang informasi sebagai unsur utama yang bergerak di dalam sistem komunikasi. Perbedaan antarteori lebih banyak terletak pada bagaimana informasi diproduksi, dikendalikan, didistribusikan, atau dimaknai, bukan pada apakah informasi masih merupakan objek analisis yang paling mendasar.

Selama komunikasi berlangsung terutama melalui media penyiaran, paradigma tersebut terbukti sangat produktif. Ia berhasil menjelaskan berbagai fenomena komunikasi massa dan menjadi fondasi bagi perkembangan ilmu komunikasi modern. Akan tetapi, muncul pertanyaan baru ketika komunikasi memasuki era platform digital. Algoritma tidak sekadar memindahkan informasi. Ia juga terus-menerus mempelajari pola interaksi manusia, memperbarui prediksi mengenai perilaku pengguna, lalu menggunakan prediksi tersebut untuk menentukan paparan berikutnya. Pada titik inilah mulai muncul kesan bahwa persoalan komunikasi tidak lagi sepenuhnya dapat dijelaskan hanya melalui perpindahan informasi.

Ironisnya, justru aspek yang sejak awal sengaja diletakkan di luar ruang lingkup teori informasi perlahan kembali menjadi persoalan utama. Bukan lagi persoalan bagaimana simbol dikirimkan, melainkan bagaimana simbol dipahami, ditafsirkan, dipercayai, dan akhirnya memengaruhi tindakan manusia.

Dengan demikian, apabila paragraf-paragraf sebelumnya memperlihatkan bahwa hampir seluruh konsep komunikasi digital masih menjadikan informasi sebagai pusat penjelasan, maka penelusuran historis ini menunjukkan bahwa keadaan tersebut bukanlah suatu kebetulan. Ia merupakan konsekuensi dari sebuah paradigma yang selama puluhan tahun terbukti sangat berhasil menjelaskan zamannya.

Akan tetapi, setiap paradigma memiliki batas historisnya sendiri. Dan ketika batas itu mulai tampak, perhatian ilmiah biasanya kembali kepada persoalan yang dahulu sengaja disisihkan.

Dalam sejarah ilmu komunikasi, persoalan itu bernama makna.

Sampai pada titik ini, kerangka yang digunakan dalam presentasi Dr. Sigit masih sepenuhnya memadai. Algoritma dipahami sebagai mekanisme yang mengubah cara informasi didistribusikan di ruang publik. Namun apabila persoalan komunikasi mulai bergeser dari distribusi simbol menuju pembentukan makna, maka pertanyaan berikutnya bukan lagi bagaimana algoritma mengatur informasi, melainkan bagaimana manusia membangun pemahamannya terhadap informasi tersebut.

Ketika Makna Kembali Menjadi Persoalan

Apabila teori informasi menempatkan perhatian utamanya pada bagaimana simbol ditransmisikan secara efisien, maka perkembangan berikutnya dalam ilmu komunikasi memperlihatkan bahwa persoalan komunikasi ternyata tidak berhenti ketika sebuah simbol berhasil diterima. Justru pada saat simbol itu sampai kepada penerimanya, persoalan yang sesungguhnya baru dimulai. Sebuah pesan tidak pernah hadir sebagai makna yang telah selesai. Ia selalu menunggu untuk ditafsirkan.

Kesadaran inilah yang secara perlahan menggeser perhatian ilmu komunikasi dari persoalan transmisi menuju persoalan interpretasi. Yang semula dipandang sebagai proses pemindahan simbol mulai dipahami sebagai proses pembentukan makna. Pergeseran tersebut bukanlah penolakan terhadap teori informasi, melainkan perluasan terhadap wilayah yang sejak awal memang tidak menjadi objek pembahasannya. Shannon tidak pernah bermaksud menjelaskan bagaimana manusia memahami simbol. Oleh karena itu, ketika komunikasi mulai dipandang sebagai proses pemaknaan, yang berubah bukanlah validitas teori informasi, melainkan tingkat persoalan yang hendak dijelaskan.

Dalam konteks inilah semiotika memperoleh kembali relevansinya. Jika teori informasi bertanya bagaimana simbol berpindah, maka semiotika bertanya bagaimana simbol memperoleh arti. Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah seluruh arah pembahasan mengenai komunikasi. Sebab makna bukanlah sesuatu yang secara otomatis melekat pada simbol. Dua orang dapat membaca kalimat yang sama, menyaksikan pidato yang sama, atau menerima berita yang sama, namun membangun pemahaman yang sama sekali berbeda. Yang menentukan bukan simbol itu sendiri, melainkan proses interpretasi yang berlangsung di dalam diri masing-masing.

Pandangan inilah yang kemudian memperoleh pengembangannya secara sistematis melalui karya-karya Umberto Eco. Salah satu kontribusi terpenting Eco adalah menunjukkan bahwa makna tidak pernah berdiri sendiri di dalam sebuah tanda. Sebuah tanda hanya memperoleh arti karena berada di dalam jaringan relasi dengan tanda-tanda lain yang telah lebih dahulu hidup di dalam kebudayaan. Dengan demikian, komunikasi bukanlah proses memindahkan makna dari pikiran pengirim ke pikiran penerima. Komunikasi adalah proses yang memungkinkan lahirnya interpretasi.

Cara pandang tersebut memiliki konsekuensi yang sangat besar. Jika makna tidak berada di dalam simbol, maka keberhasilan komunikasi tidak lagi dapat diukur hanya dari ketepatan penyampaian pesan. Komunikasi menjadi peristiwa yang jauh lebih dinamis karena setiap penerima membawa pengetahuan, pengalaman, keyakinan, nilai, dan konteks sosialnya sendiri ketika menafsirkan suatu pesan. Simbol yang sama dapat melahirkan makna yang berbeda, bahkan ketika diterima pada waktu yang sama.

Dalam pengertian itu, semiotika telah mengembalikan manusia ke pusat teori komunikasi. Yang menjadi perhatian bukan lagi sekadar pesan yang bergerak di dalam media, melainkan proses kognitif dan kultural yang membuat sebuah simbol bermakna. Perubahan ini merupakan salah satu lompatan intelektual yang sangat penting dalam perkembangan ilmu komunikasi karena berhasil mengatasi reduksi komunikasi menjadi sekadar perpindahan informasi.

Namun perkembangan teknologi digital kembali memperlihatkan persoalan yang belum pernah dihadapi oleh teori komunikasi sebelumnya. Platform digital tidak hanya mempertemukan manusia dengan simbol-simbol baru, tetapi juga terus-menerus mengamati bagaimana hasil interpretasi tersebut memengaruhi tindakan penggunanya. Setiap klik, jeda perhatian, ekspresi emosi, pilihan untuk membagikan sebuah konten, hingga keputusan untuk mengabaikannya, seluruhnya direkam sebagai bagian dari proses komputasi. Yang dipelajari oleh algoritma bukan hanya apa yang diterima seseorang, melainkan bagaimana respons manusia berubah setelah proses pemaknaan berlangsung.

Di sinilah komunikasi memasuki situasi yang sama sekali baru. Persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar bagaimana simbol dipindahkan, sebagaimana dijelaskan oleh teori informasi, ataupun bagaimana simbol ditafsirkan, sebagaimana dijelaskan oleh semiotika. Algoritma justru bekerja pada lapisan berikutnya. Ia mempelajari pola perubahan yang berlangsung setelah interpretasi terjadi, kemudian menggunakan pengetahuan tersebut untuk memengaruhi paparan informasi berikutnya. Dengan kata lain, algoritma tidak hanya hadir di dalam ruang komunikasi, tetapi mulai berpartisipasi dalam dinamika perubahan manusia itu sendiri.

Perubahan ini membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Selama komunikasi dipahami sebagai perpindahan informasi, fokus analisis akan tertuju pada pesan. Ketika komunikasi dipahami sebagai proses pembentukan makna, perhatian bergeser kepada interpretasi. Akan tetapi, komunikasi politik di era algoritma memperlihatkan bahwa persoalan tidak berhenti pada terbentuknya makna. Yang justru semakin menentukan adalah bagaimana makna yang telah terbentuk itu secara perlahan mengubah keyakinan, perhatian, tingkat kepercayaan, preferensi, bahkan kecenderungan seseorang untuk bertindak.

Dengan demikian, perjalanan intelektual ilmu komunikasi memperlihatkan suatu evolusi yang menarik. Teori informasi mengajarkan bahwa komunikasi tidak dapat dipahami tanpa informasi. Semiotika kemudian menunjukkan bahwa informasi tidak pernah cukup tanpa makna. Namun komunikasi digital dewasa ini memperlihatkan bahwa makna pun tampaknya belum menjadi titik akhir penjelasan. Di hadapan algoritma yang terus mempelajari perilaku manusia, persoalan komunikasi bergeser sekali lagi. Yang perlu dipahami bukan hanya bagaimana makna dibangun, melainkan bagaimana manusia berubah setelah makna itu terbentuk.

Barangkali, di sinilah batas baru ilmu komunikasi mulai tampak. Bukan karena teori informasi ataupun semiotika kehilangan relevansinya, melainkan karena keduanya menjelaskan dua lapisan yang berbeda dari realitas komunikasi. Yang satu menjelaskan bagaimana simbol berpindah. Yang lain menjelaskan bagaimana simbol dipahami. Sementara komunikasi politik di era algoritma memperlihatkan adanya satu lapisan lagi yang selama ini belum memperoleh perhatian yang memadai: dinamika perubahan keadaan manusia sebagai konsekuensi dari proses komunikasi itu sendiri.

Dengan demikian, apabila paparan Dr. Sigit memperlihatkan bagaimana algoritma mengubah arsitektur komunikasi publik, maka pertanyaan berikutnya menjadi berbeda. Yang perlu dijelaskan bukan lagi semata-mata bagaimana informasi bergerak melalui algoritma, melainkan bagaimana algoritma ikut memengaruhi perubahan keadaan internal manusia setelah proses komunikasi berlangsung. Di sinilah, menurut hemat penulis, diperlukan perluasan unit analisis ilmu komunikasi.

Mengapa Makna Belum Cukup

Perjalanan ilmu komunikasi selama hampir satu abad terakhir memperlihatkan suatu perkembangan yang menarik. Teori informasi mengajarkan bahwa komunikasi tidak dapat direduksi menjadi sekadar bahasa atau pesan, melainkan harus dipahami melalui konsep informasi. Semiotika kemudian mengingatkan bahwa informasi tidak pernah identik dengan makna. Simbol hanya menjadi bermakna melalui proses interpretasi yang selalu dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, budaya, dan konteks sosial penafsirnya. Perkembangan tersebut merupakan kemajuan intelektual yang sangat besar karena berhasil mengembalikan manusia sebagai subjek aktif dalam proses komunikasi.

Namun justru setelah makna ditempatkan kembali di pusat pembahasan, muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah memahami bagaimana makna dibangun dengan sendirinya telah menjelaskan bagaimana komunikasi mengubah manusia?

Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang sangat fundamental. Sebab makna bukanlah tujuan akhir komunikasi. Makna hanyalah hasil dari suatu proses interpretasi. Sementara komunikasi sendiri hampir selalu dinilai berhasil bukan karena makna berhasil dibangun, melainkan karena setelah makna itu terbentuk terjadi sesuatu pada diri manusia. Seseorang menjadi percaya. Menjadi ragu. Menjadi marah. Menjadi takut. Menjadi optimistis. Menjadi apatis. Atau memutuskan untuk bertindak.

Dengan kata lain, yang sesungguhnya berubah bukanlah makna itu sendiri.

Bayangkan dua orang membaca berita yang sama mengenai suatu peristiwa politik. Keduanya memahami isi berita tersebut dengan cara yang relatif sama. Mereka mengetahui fakta-fakta yang disampaikan dan mampu menjelaskan kembali isi pemberitaan itu. Akan tetapi, respons yang muncul dapat sepenuhnya berbeda. Yang satu semakin percaya kepada pemerintah. Yang lain justru semakin tidak percaya. Yang satu terdorong untuk membagikan berita tersebut kepada orang lain. Yang lain memilih mengabaikannya. Dalam kasus seperti ini, makna yang dibangun tidak selalu berbeda, tetapi keadaan internal kedua orang tersebut jelas tidak lagi sama.

Contoh lain dapat ditemukan dalam komunikasi politik sehari-hari. Sebuah pidato yang sama dapat diterima sebagai inspirasi oleh kelompok pendukung, dianggap propaganda oleh kelompok oposisi, dan diperlakukan sebagai hiburan politik oleh mereka yang sama sekali tidak memiliki keterlibatan emosional. Simbol yang diterima identik, bahkan makna literalnya pun relatif sama. Namun akibat yang ditimbulkannya terhadap masing-masing individu dapat sangat berbeda.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi tidak berhenti pada pembentukan makna. Di antara makna dan perilaku masih terdapat satu lapisan yang selama ini relatif jarang menjadi objek analisis. Lapisan inilah yang menentukan apakah suatu makna akan diterima sebagai pengetahuan baru, ditolak sebagai kebohongan, dipercaya sebagai kebenaran, diabaikan sebagai informasi yang tidak relevan, atau justru diubah menjadi tindakan nyata.

Perkembangan algoritma digital justru memperlihatkan keberadaan lapisan tersebut secara semakin jelas. Platform digital pada dasarnya tidak pernah benar-benar mengetahui makna sebagaimana manusia memahaminya. Yang diamati oleh sistem adalah perubahan pola perilaku pengguna setelah mereka berinteraksi dengan suatu konten. Algoritma tidak mengoptimalkan kebenaran suatu informasi, tetapi mengoptimalkan kemungkinan munculnya respons berikutnya. Setiap klik, waktu membaca, ekspresi emosional, keputusan untuk memberi tanda suka, membagikan, mengomentari, atau bahkan mengabaikan suatu konten menjadi sinyal yang menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan tertentu pada diri pengguna.

Di sinilah muncul perbedaan mendasar antara cara manusia dan algoritma membaca komunikasi. Manusia cenderung bertanya, “Apa arti pesan ini?” Sebaliknya, algoritma lebih berkepentingan pada pertanyaan yang lain, “Apa yang berubah pada diri pengguna setelah menerima pesan ini?” Pertanyaan kedua inilah yang secara perlahan mulai mendominasi arsitektur komunikasi digital modern. Yang dioptimalkan bukan lagi isi pesan, melainkan probabilitas perubahan respons manusia.

Karena itu, menjelaskan komunikasi hanya melalui informasi menjadi tidak lagi memadai. Menjelaskannya hanya melalui makna pun belum sepenuhnya cukup. Informasi menjelaskan apa yang dikirimkan. Makna menjelaskan bagaimana simbol ditafsirkan. Akan tetapi, komunikasi politik di era algoritma memperlihatkan bahwa persoalan yang paling menentukan justru terletak pada perubahan yang berlangsung setelah proses interpretasi selesai. Yang berubah bukan hanya apa yang diketahui seseorang, melainkan juga tingkat kepercayaannya, arah perhatiannya, keyakinannya terhadap suatu narasi, intensitas emosinya, kesiapan untuk bertindak, bahkan cara ia memandang realitas sosial di sekelilingnya.

Apabila demikian, maka komunikasi sesungguhnya tidak secara langsung mengubah perilaku. Komunikasi terlebih dahulu mengubah konfigurasi keadaan internal manusia, dan dari perubahan konfigurasi itulah perilaku kemudian muncul sebagai konsekuensi. Dengan kata lain, perilaku bukanlah objek pertama yang berubah. Ia merupakan manifestasi dari perubahan yang lebih mendasar.

Apabila uraian sebelumnya dibaca kembali bersama presentasi Dr. Sigit, tampak bahwa hampir seluruh konsep yang dibahas—baik gatekeeping algoritmik, filter bubble, maupun microtargeting—sebenarnya dapat dipahami sebagai mekanisme yang meningkatkan probabilitas terjadinya perubahan tertentu pada diri manusia. Dengan kata lain, objek yang sesungguhnya mengalami dinamika bukanlah informasi itu sendiri, melainkan keadaan epistemik para penerimanya.

Di sinilah tampaknya diperlukan suatu unit analisis yang berbeda dari sekadar informasi ataupun makna. Yang perlu diamati bukan hanya simbol yang berpindah atau interpretasi yang terbentuk, melainkan keseluruhan keadaan internal yang menentukan bagaimana seseorang mengetahui, mempercayai, meragukan, memberi perhatian, menilai, dan akhirnya bertindak terhadap suatu realitas.

Keadaan internal itulah yang dalam tulisan ini disebut sebagai epistemic state. Istilah ini tidak dimaksudkan sebagai sinonim bagi pengetahuan, keyakinan, opini, ataupun emosi secara terpisah. Sebaliknya, ia merujuk pada konfigurasi menyeluruh dari berbagai unsur kognitif, afektif, dan evaluatif yang membentuk posisi seseorang ketika berhadapan dengan dunia. Informasi dapat mengubahnya. Makna dapat membentuknya. Tetapi yang sesungguhnya bergerak dari waktu ke waktu adalah keadaan epistemiknya.

Apabila unit analisis komunikasi dipindahkan dari informasi menuju epistemic state, maka komunikasi tidak lagi dipahami terutama sebagai proses distribusi pesan ataupun pembentukan makna. Komunikasi mulai tampak sebagai proses perubahan keadaan epistemik manusia yang berlangsung secara terus-menerus melalui interaksi sosial, media, dan algoritma. Perubahan cara pandang inilah yang kemudian membuka kemungkinan lahirnya kerangka teoretis baru untuk memahami komunikasi politik di era algoritma.

Dialog dengan presentasi Dr. Sigit memperlihatkan bahwa persoalan utama komunikasi politik digital mungkin tidak lagi cukup dijelaskan melalui distribusi informasi semata. Presentasi tersebut berhasil menunjukkan berbagai manifestasi empiris perubahan komunikasi akibat algoritma. Tulisan ini berusaha melangkah satu tingkat lebih mendasar dengan mempertanyakan unit analisis yang digunakan untuk menjelaskan seluruh manifestasi tersebut.

Namun apabila komunikasi dipahami sebagai dinamika perubahan epistemic state pada tingkat populasi, maka seluruh fenomena tersebut dapat dibaca sebagai manifestasi dari proses yang sama:

perubahan distribusi pengetahuan, keyakinan, kepercayaan, perhatian, dan orientasi emosional dalam ruang epistemik kolektif.

Dalam perspektif ini, algoritma bukan sekadar saluran distribusi pesan, melainkan medan dinamis yang memengaruhi probabilitas transisi suatu kelompok masyarakat dari satu keadaan epistemik menuju keadaan epistemik lainnya.

Dengan demikian, tantangan terbesar ilmu komunikasi di era kecerdasan artifisial bukan hanya memahami bagaimana manusia bertukar pesan, tetapi bagaimana sistem komunikasi membentuk lanskap epistemik tempat manusia mengambil keputusan. Pergeseran dari communication flow menuju epistemic state transition inilah yang menjadi titik awal bagi paradigma baru yang penulis tawarkan lewat Statistical Mechanics of Epistemic States (SMES).

Dari Ilmu Komunikasi Menuju Ilmu Dinamika Epistemik:

Membaca Masa Depan Komunikasi di Era Kecerdasan Artifisial

Perjalanan panjang memahami komunikasi membawa kita pada sebuah kesimpulan yang mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi yang sangat besar: persoalan utama komunikasi manusia bukan lagi sekadar bagaimana informasi berpindah dari satu titik ke titik lain, melainkan bagaimana manusia berubah setelah mengalami proses komunikasi tersebut.

Selama puluhan tahun, ilmu komunikasi banyak dibangun di atas metafora transmisi. Informasi dianggap sebagai sesuatu yang dapat dikirimkan melalui saluran tertentu, diterima oleh khalayak tertentu, kemudian menghasilkan efek tertentu. Model ini telah memberikan kontribusi besar dalam memahami propaganda, media massa, kampanye politik, hingga perilaku konsumen.

Namun dunia komunikasi digital hari ini memperlihatkan kompleksitas yang tidak lagi sepenuhnya dapat dijelaskan oleh metafora tersebut.

Dalam ekosistem algoritmik, manusia tidak hanya menerima informasi. Manusia hidup dalam lingkungan yang secara terus-menerus mengatur probabilitas apa yang mereka lihat, apa yang mereka percaya, apa yang mereka perhatikan, dan bahkan apa yang mereka anggap penting. Komunikasi tidak lagi hanya terjadi antar manusia melalui pesan, tetapi juga melalui interaksi manusia dengan sistem algoritmik yang secara aktif membentuk ruang pengalaman epistemiknya.

Pada titik inilah perubahan unit analisis menjadi penting.

Jika paradigma lama bertanya:

“Bagaimana sebuah pesan memengaruhi seseorang?”

maka paradigma baru harus bertanya:

“Bagaimana distribusi keadaan epistemik suatu populasi berubah akibat interaksi komunikasi?”

Perubahan pertanyaan ini membawa konsekuensi besar. Sebab objek yang diamati bukan lagi hanya pesan atau media, melainkan konfigurasi keadaan pengetahuan kolektif.

Dalam perspektif SMES, masyarakat bukan sekadar kumpulan individu yang memiliki opini berbeda. Masyarakat dapat dipandang sebagai suatu sistem dinamis yang terdiri atas banyak agen dengan posisi epistemik tertentu.

Setiap individu berada dalam suatu koordinat ruang epistemik yang dibentuk oleh berbagai dimensi:

  • apa yang diketahui (knowledge),
  • apa yang diyakini (belief),
  • seberapa yakin terhadap keyakinannya (confidence),
  • apa yang menjadi perhatian (attention),
  • bagaimana respons emosionalnya (emotion),
  • serta tingkat kepercayaannya terhadap sumber informasi (trust).

Komunikasi kemudian bukan sekadar perpindahan simbol dari satu individu ke individu lain, tetapi sebuah proses yang memungkinkan terjadinya perpindahan posisi dalam ruang epistemik tersebut.

Dengan cara pandang ini, sebuah pesan politik tidak lagi dinilai hanya berdasarkan isi atau kebenaran informasinya, tetapi berdasarkan kemampuannya menghasilkan transisi keadaan.

Sebuah narasi dapat meningkatkan kepercayaan kelompok tertentu.
Sebuah algoritma dapat memperkuat perhatian terhadap isu tertentu.
Sebuah komunitas dapat menciptakan kohesi keyakinan melalui pengulangan simbol yang sama.

Semua proses tersebut adalah bentuk perubahan distribusi epistemik.

Konsekuensi berikutnya adalah perubahan cara memahami fenomena sosial yang selama ini sering dipandang sebagai masalah terpisah.

Polarisasi politik, misalnya, tidak hanya terjadi karena dua kelompok menerima informasi yang berbeda. Dalam perspektif epistemik, polarisasi adalah fenomena ketika distribusi keadaan epistemik populasi mengalami pemisahan menuju dua atau lebih wilayah stabil dalam ruang keyakinan.

Demikian pula echo chamber bukan hanya ruang komunikasi tertutup, tetapi kondisi ketika mekanisme interaksi menyebabkan suatu kelompok semakin sering mengalami transisi menuju keadaan epistemik yang sama, sementara probabilitas berpindah menuju keadaan lain semakin kecil.

Algoritma platform digital kemudian tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme distribusi konten, tetapi sebagai faktor eksternal yang memengaruhi dinamika sistem.

Ia dapat meningkatkan difusi informasi, tetapi juga dapat menghasilkan drift menuju konfigurasi tertentu ketika mekanisme optimasi perhatian bekerja secara terus-menerus.

Dalam bahasa fisika statistik, sistem komunikasi manusia memiliki kecenderungan menuju keadaan tertentu berdasarkan interaksi antara dinamika internal agen dan medan eksternal yang bekerja terhadapnya.

Di sinilah kecerdasan artifisial menghadirkan tantangan terbesar bagi ilmu komunikasi.

AI tidak hanya mempercepat produksi informasi. Ia mengubah struktur dasar lingkungan epistemik manusia.

Ketika model generatif mampu menghasilkan teks, gambar, suara, dan video dalam skala besar, persoalan komunikasi tidak lagi berhenti pada pertanyaan:

“Apakah informasi ini benar atau salah?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

“Bagaimana keberlimpahan informasi tersebut mengubah distribusi keadaan epistemik manusia?”

Sebab dalam sistem kompleks, perubahan besar tidak selalu terjadi karena satu pesan yang sangat kuat. Perubahan dapat muncul dari akumulasi kecil yang berlangsung terus-menerus: pengulangan simbol, perubahan perhatian, modifikasi kepercayaan, dan pergeseran persepsi kolektif.

Dengan demikian, tantangan era AI bukan hanya krisis informasi, tetapi krisis dinamika epistemik.

Karena itu, masa depan ilmu komunikasi mungkin tidak cukup hanya membutuhkan teori tentang pesan, media, atau efek komunikasi. Ia membutuhkan pendekatan yang mampu memahami bagaimana sistem komunikasi menghasilkan perubahan keadaan pada tingkat individu sekaligus populasi.

SMES tidak dimaksudkan sebagai akhir dari ilmu komunikasi, melainkan sebagai sebuah undangan untuk melihat objek kajian komunikasi dari sudut yang berbeda.

Sama seperti fisika tidak meninggalkan mekanika klasik ketika menemukan fisika statistik, ilmu komunikasi tidak perlu meninggalkan teori-teori sebelumnya. Namun ia perlu menyadari bahwa fenomena kolektif membutuhkan cara pandang yang berbeda dari sekadar menjumlahkan perilaku individu.

Komunikasi manusia bukan hanya tentang bagaimana makna berpindah.

Komunikasi adalah proses bagaimana realitas bersama terbentuk.

Dan realitas bersama itu tidak pernah statis. Ia terus berubah melalui jutaan transisi epistemik kecil yang terjadi setiap saat di dalam jaringan sosial manusia.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terbesar ilmu komunikasi di masa depan bukan lagi:

“Apa pesan yang berhasil disampaikan?”

melainkan:

“Menjadi seperti apa manusia setelah terus-menerus berada dalam arus komunikasi?”

Karena di era algoritma dan kecerdasan artifisial, pertarungan terbesar bukan lagi sekadar perebutan informasi.

Ia adalah perebutan arah evolusi keadaan epistemik manusia.

Masa Depan Komunikasi dalam Era Kecerdasan Artifisial

Menjaga Makna di Tengah Mesin Prediksi

Jika perjalanan panjang ilmu komunikasi selama ini dapat dipahami sebagai usaha memahami bagaimana manusia membangun pemahaman bersama melalui pertukaran simbol, maka era kecerdasan artifisial menghadirkan pertanyaan baru yang lebih mendasar. Persoalannya bukan lagi hanya bagaimana manusia menyampaikan pesan secara lebih cepat, lebih luas, dan lebih efisien, tetapi bagaimana perubahan lingkungan komunikasi memengaruhi cara manusia membentuk pengetahuan, keyakinan, serta pemaknaan terhadap realitas yang mereka hadapi.

Perubahan ini menjadi penting karena komunikasi modern tidak lagi berlangsung dalam ruang yang netral. Setiap interaksi komunikasi kini berlangsung dalam lingkungan yang semakin dipengaruhi oleh sistem algoritmik yang melakukan seleksi, pengurutan, prediksi, dan optimasi terhadap arus informasi. Apa yang dilihat seseorang, apa yang menjadi perhatian seseorang, bahkan apa yang dianggap relevan oleh seseorang, semakin banyak dibentuk melalui mekanisme yang bekerja di balik layar.

Dalam kondisi seperti ini, komunikasi tidak dapat lagi dipahami hanya sebagai hubungan antara pengirim, pesan, saluran, dan penerima. Model tersebut tetap memiliki nilai analitis, tetapi tidak lagi cukup untuk menjelaskan bagaimana realitas sosial terbentuk dalam ekosistem digital. Sebab yang berubah bukan hanya jumlah pesan yang beredar, melainkan struktur probabilitas yang menentukan bagaimana manusia berpindah dari satu keadaan epistemik menuju keadaan epistemik lainnya.

Di sinilah perubahan paradigma yang ditawarkan oleh Statistical Mechanics of Epistemic States (SMES) menemukan relevansinya. Perubahan utama yang ditawarkan bukan sekadar menambahkan variabel baru ke dalam studi komunikasi, melainkan menggeser pertanyaan dasar mengenai apa sebenarnya objek yang sedang dipelajari oleh ilmu komunikasi.

Jika pendekatan klasik terutama bertanya bagaimana pesan menghasilkan efek pada individu atau kelompok tertentu, maka pendekatan epistemik mengajukan pertanyaan yang berbeda:

bagaimana interaksi komunikasi secara kolektif mengubah distribusi keadaan epistemik dalam suatu populasi?

Pertanyaan tersebut membawa konsekuensi bahwa manusia tidak lagi dipandang hanya sebagai penerima informasi, melainkan sebagai agen yang terus bergerak dalam ruang epistemik. Setiap pengalaman komunikasi dapat menghasilkan perubahan kecil pada koordinat epistemiknya:

seseorang dapat memperoleh pengetahuan baru, memperkuat keyakinan yang sudah ada, kehilangan kepercayaan terhadap suatu institusi, mengalihkan perhatian kepada isu tertentu, atau mengalami perubahan emosional terhadap sebuah objek sosial.

Pada tingkat individu, perubahan-perubahan tersebut mungkin tampak kecil dan tidak selalu dapat diamati secara langsung. Namun ketika berlangsung pada jutaan individu yang saling berinteraksi dalam jaringan komunikasi yang sama, perubahan mikro tersebut dapat menghasilkan pola makro yang memiliki konsekuensi sosial besar. Polarisasi politik, fragmentasi publik, pembentukan opini kolektif, hingga munculnya gerakan sosial dapat dipahami sebagai fenomena emergen yang muncul dari dinamika perubahan keadaan epistemik dalam populasi.

Cara pandang ini sekaligus menjelaskan mengapa persoalan komunikasi di era digital tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbanyak informasi atau meningkatkan kecepatan distribusi pesan. Dalam sebuah sistem kompleks, persoalan utama bukan hanya berapa banyak informasi yang tersedia, tetapi bagaimana informasi tersebut berinteraksi dengan struktur keyakinan, tingkat kepercayaan, perhatian, dan kondisi emosional para agen yang menerimanya.

Sebuah masyarakat dapat mengalami kelebihan informasi sekaligus kekurangan pemahaman. Ia dapat memiliki akses terhadap lebih banyak fakta dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi tetap mengalami kesulitan mencapai kesepakatan mengenai realitas bersama. Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis komunikasi modern bukan semata-mata krisis informasi, melainkan krisis pada mekanisme transisi epistemik yang menentukan bagaimana manusia mengubah informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi keputusan.

Dalam konteks inilah kecerdasan artifisial menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan teknologi komunikasi sebelumnya. Mesin komunikasi generasi sebelumnya terutama mempercepat proses penyimpanan dan distribusi informasi. Namun AI generatif mulai memasuki wilayah yang lebih kompleks:

ia ikut berpartisipasi dalam produksi representasi, interpretasi, dan konstruksi makna.

AI tidak hanya membantu manusia menemukan informasi, tetapi juga membantu menentukan bagaimana informasi tersebut disusun menjadi narasi yang dapat dipahami. Ia tidak hanya menjadi media perantara, tetapi mulai menjadi bagian dari lingkungan epistemik manusia.

Karena itu, pertanyaan mengenai AI tidak cukup berhenti pada apakah sebuah sistem mampu menghasilkan informasi yang benar atau salah. Pertanyaan yang lebih mendalam adalah bagaimana interaksi manusia dengan sistem AI mengubah struktur pengetahuan dan keyakinan manusia dalam jangka panjang.

Apakah AI memperluas kemampuan manusia untuk memahami kompleksitas dunia, atau justru mempersempit ruang epistemiknya melalui personalisasi berlebihan dan penguatan pola keyakinan yang sudah ada?

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa masa depan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi dalam menghasilkan informasi, tetapi juga dengan kemampuan manusia dalam mengelola konsekuensi epistemik dari teknologi tersebut.

Dalam perspektif ini, komunikasi memiliki dimensi etis yang tidak dapat dipisahkan dari dimensi teknisnya. Setiap sistem komunikasi selalu menghasilkan distribusi tertentu dari perhatian, kepercayaan, dan pemahaman dalam masyarakat. Oleh karena itu, desain teknologi komunikasi bukan sekadar persoalan rekayasa sistem, tetapi juga persoalan bagaimana sebuah masyarakat ingin membentuk kondisi epistemik warganya.

Kembali kepada titik awal tulisan ini, yaitu persoalan komunikasi politik di era algoritma sebagaimana muncul dalam webinar Prof. Sigit, terlihat bahwa tantangan utama komunikasi politik modern tidak hanya terletak pada bagaimana aktor politik menyampaikan pesan kepada publik. Tantangan yang lebih besar terletak pada bagaimana keseluruhan ekosistem komunikasi membentuk ruang epistemik tempat publik memahami realitas politik tersebut.

Polarisasi, microtargeting, echo chamber, dan manipulasi algoritmik tidak lagi terlihat sebagai fenomena yang berdiri sendiri. Dalam perspektif SMES, fenomena tersebut merupakan manifestasi dari proses yang sama: perubahan distribusi keadaan epistemik dalam suatu populasi akibat interaksi antara manusia, simbol, teknologi, dan lingkungan informasi.

Dengan demikian, catatan kritis terhadap paradigma komunikasi yang ada bukanlah sebuah penolakan terhadap teori-teori sebelumnya. Sebaliknya, ia merupakan upaya untuk memperluas cakupan ilmu komunikasi agar mampu menjelaskan fenomena yang muncul ketika komunikasi tidak lagi hanya berlangsung antar manusia, tetapi juga melalui sistem algoritmik yang secara aktif membentuk kondisi epistemik masyarakat.

Pada akhirnya, tantangan terbesar ilmu komunikasi abad ke-21 bukan hanya memahami bagaimana pesan bergerak dalam jaringan yang semakin kompleks, tetapi memahami bagaimana manusia berubah melalui jaringan tersebut.

Sebab komunikasi tidak pernah berhenti pada perpindahan simbol. Ia selalu menghasilkan transformasi keadaan manusia yang terlibat di dalamnya.

Dan ketika mesin mulai mampu menghasilkan, menyusun, serta mendistribusikan makna dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, pertanyaan paling penting bagi ilmu komunikasi bukan lagi sekadar bagaimana membuat informasi menjadi lebih cepat dan lebih banyak.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan bahwa seluruh dinamika komunikasi tersebut tetap membawa manusia menuju kemampuan yang lebih besar untuk memahami dunia yang mereka tinggali bersama.

AO
Tangerang Selatan, 16 Juli 2026


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *