Menelusuri Akar Federalisme Modern: Republik Belanda sebagai Embrio Negara Federal Secara Praksis

Arief Prihantoro

Tulisan ini berawal dari perdebatan di grup WA tentang bentuk negara Belanda di era sebelum penjajahan Perancis terhadap Belanda. Tidak mudah menuliskan sejarah dalam ruang komentar platform Whatsapp secara komprehensif, karena ruang komentarnya memang tidak memberi ruang untuk menulis terlalu panjang.

Tulisan ini menjelaskan letak makna historis Republik Belanda bagi perkembangan federalisme. Ia bukan negara federal dalam arti de jure, dan menyebutnya demikian tanpa ada penjelasan komprehensif akan menyesatkan. Tetapi menyebutnya hanya sebagai konfederasi juga tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana republik itu benar-benar bekerja.

Dalam sejarah politik Eropa, ada negara-negara yang lahir dari sebuah kerajaan dan perlahan berubah menjadi negara-bangsa, ada yang dibentuk melalui revolusi, dan ada pula yang muncul dari kesepakatan beberapa entitas politik yang pada mulanya tidak memiliki alasan untuk menyerahkan kedaulatannya kepada sebuah pusat kekuasaan.

Republik Tujuh Provinsi Bersatu atau Dutch Republic termasuk dalam kategori yang terakhir. Ia lahir dari perang, kompromi, perdagangan, dan kebutuhan untuk bertahan hidup di tengah tekanan kekuasaan Habsburg-Spanyol. Karena itu, sejak awal republik ini membawa sebuah paradoks yang kelak menjadi sangat penting dalam sejarah perkembangan negara modern: ia harus cukup bersatu untuk bertindak sebagai satu kekuatan, tetapi pada saat yang sama tidak boleh terlalu bersatu hingga menghilangkan otonomi provinsi-provinsi yang membentuknya.

Continue reading Menelusuri Akar Federalisme Modern: Republik Belanda sebagai Embrio Negara Federal Secara Praksis

Koperasi Komunis: Anatomi Hibrida KDKMP dalam Bayang-Bayang Komunisme VCA Vietnam dan Kolkhoz Uni Soviet

Arief Prihantoro

Ada ironi sejarah yang terus berulang dalam diskursus ekonomi perdesaan. Koperasi, sebuah lembaga yang secara filosofis lahir dari rahim kesadaran kolektif warga untuk melawan dominasi kapitalisme dan eksploitasi tengkulak secara independen (bottom-up), berulang kali dijinakkan oleh kekuasaan. Negara, dengan dalih akselerasi pembangunan, efisiensi logistik, dan pengentasan kemiskinan masif, kerap hadir mengambil alih kemudi. Fenomena peluncuran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Indonesia menjadi panggung terbaru dari atraksi rekayasa kelembagaan ini (state-driven institutional engineering).

Ketika para pengambil kebijakan mengklaim KDKMP sebagai terobosan baru ekonomi kerakyatan, pengamatan kritis terhadap struktur tata kelolanya justru mengungkapkan cerita lain. KDKMP, yang dioperasikan dengan keterlibatan kuat BUMN seperti PT Agrinas Pangan Nusantara serta infrastruktur komando negara, bukanlah entitas otonom murni. Ia adalah bentuk hibrida: secara legal-formal berstatus koperasi, tetapi secara substansi operasional berjalan sebagai jaringan distribusi negara terpusat.

Continue reading Koperasi Komunis: Anatomi Hibrida KDKMP dalam Bayang-Bayang Komunisme VCA Vietnam dan Kolkhoz Uni Soviet

BAGAIMANA FAKTA MENJADI REALITAS?

Arief Prihantoro

INTERNAL MODEL: Mengapa Otak Lebih Sering Menebak daripada Melihat

Artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, “Roadshow Kampus: Perang Narasi dan Perebutan Ruang Kognitif”, yang membahas bagaimana ruang publik modern telah bergeser dari perebutan fakta menuju perebutan makna. Dalam tulisan tersebut saya menunjukkan bahwa pada era media sosial, pertarungan komunikasi tidak lagi semata-mata berkaitan dengan siapa yang memiliki data paling akurat, melainkan siapa yang lebih dahulu membentuk cara publik memaknai data tersebut. Namun, pembahasan itu menyisakan satu pertanyaan yang lebih mendasar. Jika makna memang dapat diperebutkan, di manakah sebenarnya makna itu dibentuk? Apakah di media, di bahasa, atau justru di dalam diri manusia ketika ia memahami dunia? Tulisan ini berangkat dari pertanyaan tersebut.

Pernahkah kita menyaksikan dua orang menghadiri peristiwa yang sama, mendengar pidato yang sama, membaca berita yang sama, tetapi pulang dengan keyakinan yang sama sekali berbeda?

Continue reading BAGAIMANA FAKTA MENJADI REALITAS?

Buku Jadul Dihancurkan Setelah Dipindai Perusahaan AI

Saya baru dapat berita Instagram yang mengabarkan ada perusahaan AI membeli buku jadul besar-besaran untuk discan dengan cepat. Disebutkan high speed scanner yang digunakan perlu memotong punggung buku. Setelah selesai, buku yang terlanjur rusak jahitan bendelnya langsung dihancurkan untuk direcycle.

Dari googling, saya temukan artikel guardian yang membahas itu. Toko buku jadul di Australia mulai curiga karena ada pembelian buku jadul besar-besaran. Masalahnya, banyak buku jadul itu sudah bersifat langka. Kalau kemudian dihancurkan, meskipun ada copy digitalnya, keaslian tulisan menjadi sulit dibuktikan seperti ijazah Jokowi. Bagaimana kita meneliti keberadaannya kalau para pembaca buku tertentu sudah meninggal dan bukunya sudah tidak bisa ditemukan?

Kita tahu ada masalah halusinasi di AI. Tidak tertutup kemungkinan pengelola sistem AI demi kepentingan tertentu bisa “manulis” buku dengan style jadul dan dibuat versi “scan” digitalnya kemudian diclaim sebagai referensi yang buku aslinya dinyatakan sudah dihancurkan.