BAGAIMANA FAKTA MENJADI REALITAS?

Arief Prihantoro

INTERNAL MODEL: Mengapa Otak Lebih Sering Menebak daripada Melihat

Artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, “Roadshow Kampus: Perang Narasi dan Perebutan Ruang Kognitif”, yang membahas bagaimana ruang publik modern telah bergeser dari perebutan fakta menuju perebutan makna. Dalam tulisan tersebut saya menunjukkan bahwa pada era media sosial, pertarungan komunikasi tidak lagi semata-mata berkaitan dengan siapa yang memiliki data paling akurat, melainkan siapa yang lebih dahulu membentuk cara publik memaknai data tersebut. Namun, pembahasan itu menyisakan satu pertanyaan yang lebih mendasar. Jika makna memang dapat diperebutkan, di manakah sebenarnya makna itu dibentuk? Apakah di media, di bahasa, atau justru di dalam diri manusia ketika ia memahami dunia? Tulisan ini berangkat dari pertanyaan tersebut.

Pernahkah kita menyaksikan dua orang menghadiri peristiwa yang sama, mendengar pidato yang sama, membaca berita yang sama, tetapi pulang dengan keyakinan yang sama sekali berbeda?

Sebagian orang memandang sebuah kebijakan pemerintah sebagai langkah penyelamatan ekonomi. Sebagian yang lain melihatnya sebagai bukti kegagalan pemerintah. Ketika sebuah demonstrasi berlangsung, ada yang memaknainya sebagai wujud kepedulian terhadap demokrasi, sementara yang lain menganggapnya sebagai ancaman terhadap stabilitas negara. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, senyuman yang sama dapat dibaca sebagai keramahan oleh seseorang, tetapi ditafsirkan sebagai sindiran oleh orang lain.

Yang menarik, dalam banyak situasi mereka sesungguhnya menerima fakta yang sama. Mereka melihat gambar yang sama, mendengar kalimat yang sama, dan menyaksikan peristiwa yang sama. Namun, realitas yang terbentuk di dalam pikiran mereka dapat sangat berbeda.

Fenomena semacam ini hadir hampir di setiap ruang kehidupan. Ia muncul dalam percakapan keluarga, ruang kelas, forum akademik, media sosial, hingga arena politik. Kita sering menjelaskan perbedaan tersebut dengan mengatakan bahwa salah satu pihak kurang informasi, kurang rasional, atau terlalu dipengaruhi oleh emosi. Penjelasan seperti itu memang mengandung sebagian kebenaran, tetapi tampaknya belum cukup menjelaskan mengapa dua orang yang sama-sama cerdas, sama-sama berpendidikan, bahkan sama-sama menyaksikan suatu peristiwa secara langsung tetap dapat membangun kesimpulan yang bertolak belakang.

Fenomena ini justru semakin terasa pada era digital. Belum pernah dalam sejarah manusia informasi begitu mudah diakses seperti sekarang. Berita, data, laporan penelitian, bahkan siaran langsung dari lokasi kejadian dapat diterima oleh jutaan orang dalam waktu yang hampir bersamaan. Secara logis, kondisi seperti ini seharusnya membuat masyarakat semakin mudah mencapai kesepahaman.

Namun yang kita saksikan justru sering kali sebaliknya.

Kemudahan memperoleh informasi ternyata tidak selalu menghasilkan kesamaan cara memandang realitas. Polarisasi politik semakin tajam, perdebatan di media sosial semakin sulit menemukan titik temu, dan masyarakat semakin sering hidup dalam “dunia” yang berbeda meskipun mereka berbicara tentang fakta yang sama.

Di sinilah letak persoalannya.

Mungkin selama ini kita terlalu banyak bertanya tentang informasi apa yang diterima seseorang, tetapi terlalu sedikit bertanya tentang bagaimana seseorang memahami informasi tersebut.

Barangkali persoalannya bukan hanya terletak pada fakta yang kita lihat, melainkan pada proses yang mengubah fakta itu menjadi makna di dalam pikiran kita.

Jika dugaan itu benar, maka pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi sekadar bagaimana informasi berpindah dari satu orang ke orang lain, melainkan bagaimana manusia membangun persepsinya terhadap dunia.

Dan untuk menjawab pertanyaan itulah, kita perlu menelusuri perjalanan panjang perubahan cara pandang ilmu pengetahuan dalam memahami persepsi manusia.

Paradigma Lama: Dari Otak sebagai Kamera Menuju Otak sebagai Pencari Pola

Jika kita bertanya kepada seseorang bagaimana manusia melihat dunia, kemungkinan besar jawabannya akan terdengar sederhana. Mata melihat objek di hadapannya, telinga mendengar suara, kulit merasakan sentuhan, kemudian otak mengolah seluruh informasi tersebut menjadi pengalaman tentang realitas. Selama berabad-abad, cara inilah yang mendominasi pemahaman kita mengenai persepsi.

Dalam cara pandang tersebut, persepsi dipahami sebagai proses yang bergerak dari dunia menuju otak. Realitas hadir lebih dahulu, kemudian ditangkap oleh indera, dan akhirnya diproses menjadi pengetahuan. Otak berperan sebagai penerima sekaligus pengolah informasi. Semakin lengkap informasi yang diterima, semakin akurat pula gambaran tentang dunia yang dihasilkan.

Pandangan ini sering dianalogikan dengan sebuah kamera. Sebagaimana kamera merekam objek yang berada di depannya, otak pun dianggap merekam realitas sebagaimana adanya. Jika terjadi perbedaan pemahaman, penyebabnya dicari pada kualitas informasi yang diterima. Ada yang melihat lebih jelas, ada yang kurang teliti, atau ada yang kehilangan sebagian data.

Selama bertahun-tahun paradigma tersebut mampu menjelaskan banyak hal. Namun, sedikit demi sedikit mulai muncul berbagai fenomena yang sulit dipahami apabila otak hanya dipandang sebagai alat perekam realitas.

Mengapa kita tetap dapat mengenali wajah seorang teman meskipun hanya melihat sebagian wajahnya? Mengapa kita mampu membaca sebuah kata walaupun beberapa hurufnya hilang? Mengapa rangkaian titik, garis, dan warna yang sebenarnya terpisah dapat segera kita lihat sebagai satu objek yang utuh?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang kemudian melahirkan salah satu tonggak penting dalam psikologi modern, yaitu psikologi Gestalt.

Berbeda dengan paradigma sebelumnya, para psikolog Gestalt berpendapat bahwa manusia tidak pernah mempersepsi dunia sebagai kumpulan bagian-bagian yang berdiri sendiri. Ketika melihat sebuah wajah, misalnya, kita tidak terlebih dahulu mengenali mata, hidung, telinga, lalu menyimpulkan bahwa itu adalah wajah. Hampir seketika otak langsung menangkap keseluruhan pola sebagai satu kesatuan yang bermakna.

Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai Gestalt dan Pola Persepsi pada Manusia serta Akal Imitasi, saya menjelaskan bahwa otak memiliki kecenderungan alami untuk mengorganisasi potongan-potongan informasi menjadi suatu struktur yang utuh. Kita tidak sekadar melihat garis, titik, atau warna, tetapi segera mengenali sebuah rumah, sebuah pohon, sebuah wajah, atau sebuah huruf. Dengan kata lain, otak bukan hanya menerima informasi, melainkan secara aktif membangun keteraturan dari informasi yang diterimanya.

Temuan Gestalt membawa perubahan yang sangat penting. Untuk pertama kalinya, otak tidak lagi dipahami sebagai kamera yang sekadar merekam dunia, tetapi sebagai sistem yang secara aktif mencari pola (pattern-seeking system). Persepsi bukan lagi dipandang sebagai proses pasif menerima realitas, melainkan sebagai proses aktif mengorganisasi realitas sehingga menjadi bermakna.

Namun, sebagaimana sering terjadi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, setiap jawaban yang berhasil ditemukan justru melahirkan pertanyaan baru.

Psikologi Gestalt berhasil menjelaskan bagaimana otak membentuk pola. Akan tetapi, ia belum sepenuhnya menjelaskan mengapa pola yang dibentuk oleh setiap orang dapat berbeda.

Mengapa seorang dokter radiologi dapat segera melihat kelainan pada citra medis yang bagi orang awam tampak biasa saja? Mengapa seorang pemain catur langsung mengenali peluang dan ancaman yang tidak disadari pemain pemula? Mengapa seseorang yang pernah mengalami trauma lebih cepat menangkap isyarat bahaya dibandingkan orang lain? Dan mengapa dua orang dapat menemukan makna yang berbeda ketika menerima rangsangan yang sama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa membangun pola saja belum cukup untuk menjelaskan persepsi manusia. Tampaknya ada sesuatu yang telah dimiliki otak sebelum proses pengenalan pola itu berlangsung. Sesuatu yang memengaruhi pola mana yang lebih mudah dikenali, makna apa yang lebih cepat muncul, dan interpretasi mana yang akhirnya terbentuk.

Di sinilah psikologi Gestalt mencapai batas penjelasannya. Untuk melangkah lebih jauh, diperlukan sebuah paradigma baru yang tidak lagi hanya bertanya bagaimana otak mengenali pola, tetapi juga dari mana kecenderungan mengenali pola itu berasal.

Paradigma Baru: Otak sebagai Mesin Prediksi

Pertanyaan yang ditinggalkan oleh psikologi Gestalt ternyata jauh lebih sulit daripada yang semula dibayangkan. Jika otak memang secara aktif membangun pola, bagaimana proses itu sebenarnya berlangsung? Apakah otak menunggu seluruh informasi dari dunia terkumpul terlebih dahulu, baru kemudian mengenali pola yang terbentuk? Ataukah prosesnya justru berjalan dengan arah yang berkebalikan?

Dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak penelitian di bidang ilmu saraf kognitif mengarah pada jawaban yang cukup mengejutkan. Para ilmuwan mulai mengusulkan bahwa persepsi tidak dimulai ketika informasi dari dunia memasuki otak. Persepsi justru dimulai ketika otak membangun dugaan mengenai dunia yang akan dihadapinya.

Paradigma baru ini dikenal sebagai Predictive Processing.

Sekilas, gagasan tersebut terdengar bertentangan dengan pengalaman sehari-hari. Kita merasa melihat terlebih dahulu, kemudian memahami apa yang kita lihat. Namun Predictive Processing mengajukan pandangan yang hampir berkebalikan. Otak tidak menunggu dunia selesai “berbicara” sebelum mulai bekerja. Bahkan ketika cahaya baru saja mencapai retina atau suara baru mulai diterima telinga, otak telah lebih dahulu membangun hipotesis mengenai apa yang kemungkinan sedang terjadi.

Dengan demikian, persepsi bukan lagi dipahami sebagai proses menerima realitas secara pasif, melainkan sebagai proses membangun dugaan, kemudian menguji apakah dugaan tersebut sesuai dengan kenyataan.

Perubahan cara pandang ini bukan sekadar menambahkan teori baru dalam ilmu saraf. Ia mengubah secara mendasar cara kita memahami hubungan antara manusia dan dunia. Selama ini kita membayangkan bahwa dunia terlebih dahulu hadir, lalu otak menyusunnya menjadi pengetahuan. Predictive Processing justru memandang persepsi sebagai sebuah dialog yang terus berlangsung antara dugaan yang dibangun otak dan informasi yang datang dari lingkungan. Apa yang kita sebut “melihat” sesungguhnya merupakan hasil perjumpaan antara keduanya.

Bayangkan Anda sedang mengerjakan teka-teki silang. Baru beberapa huruf yang terisi, tetapi Anda sering kali sudah menebak kata yang dimaksud. Ketika huruf-huruf berikutnya muncul, dugaan itu dapat terbukti benar, dapat pula harus diperbaiki. Semakin banyak pengalaman Anda mengerjakan teka-teki silang, semakin cepat pula Anda mampu menebak jawabannya. Otak bekerja dengan cara yang tidak jauh berbeda. Ia tidak menunggu seluruh informasi tersedia sebelum mulai memahami dunia. Ia membangun dugaan terlebih dahulu, kemudian menggunakan informasi berikutnya untuk mengonfirmasi atau mengoreksi dugaan tersebut.

Fenomena yang sama sebenarnya kita alami hampir setiap hari. Ketika berjalan di rumah sendiri pada malam hari, kita tidak perlu memeriksa satu per satu letak pintu, posisi tangga, atau keberadaan meja. Saat membaca sebuah kalimat, kita tidak mengenali setiap huruf secara terpisah, tetapi sering kali sudah memperkirakan kata berikutnya sebelum selesai membacanya. Bahkan ketika berbincang dengan seseorang, kita kerap dapat mengantisipasi akhir sebuah kalimat sebelum lawan bicara selesai mengucapkannya.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa prediksi bukanlah sesuatu yang sesekali dilakukan oleh otak. Prediksi justru merupakan cara kerja dasar otak dalam memahami dunia.

Mengapa evolusi memilih mekanisme seperti itu?

Jawabannya berkaitan dengan efisiensi. Setiap detik, sistem sensorik manusia menerima arus informasi dalam jumlah yang sangat besar. Jika seluruh informasi tersebut harus diproses dari awal setiap saat, kebutuhan energi otak akan menjadi sangat tinggi. Jauh lebih efisien apabila otak terlebih dahulu membangun hipotesis mengenai apa yang kemungkinan sedang terjadi, kemudian hanya memusatkan perhatian pada bagian-bagian yang tidak sesuai dengan dugaan tersebut.

Dengan cara inilah manusia mampu memahami dunia dalam waktu yang sangat singkat. Kita tidak memulai persepsi dari keadaan kosong setiap kali membuka mata. Sebaliknya, otak terus-menerus membangun perkiraan mengenai apa yang kemungkinan akan ditemuinya, sementara dunia nyata berfungsi sebagai penguji terhadap berbagai dugaan tersebut.

Di sinilah kita akhirnya dapat memahami makna sebenarnya dari judul artikel ini.

Otak lebih sering menebak daripada melihat.

Tentu yang dimaksud bukanlah bahwa otak mengabaikan kenyataan atau sekadar berkhayal. Yang dimaksud adalah bahwa proses memahami dunia hampir selalu diawali oleh sebuah prediksi. Informasi yang datang melalui pancaindra tidak membangun persepsi dari nol, melainkan menguji apakah prediksi yang telah dibuat otak dapat dipertahankan, perlu disesuaikan, atau harus ditinggalkan sama sekali.

Namun, penjelasan ini masih menyisakan satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar.

Jika otak terus-menerus membangun prediksi, dari manakah prediksi tersebut berasal? Mengapa seorang dokter lebih cepat mengenali gejala penyakit dibandingkan orang awam? Mengapa seorang pemain catur segera melihat strategi yang tidak disadari pemain pemula? Mengapa seseorang yang pernah mengalami trauma lebih mudah menangkap tanda-tanda bahaya dibandingkan orang lain?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada konsep yang menjadi inti dari seluruh pembahasan ini, yaitu internal model.

Internal Model: Dunia yang Dibangun di Dalam Otak

Kini kita sampai pada pertanyaan yang menjadi inti dari seluruh pembahasan ini.

Jika otak terus-menerus membangun prediksi tentang dunia, dari manakah prediksi itu berasal?

Untuk menjawabnya, bayangkan seorang dokter spesialis paru sedang mengamati hasil CT Scan seorang pasien. Di sampingnya berdiri seorang mahasiswa kedokteran dan seorang awam. Ketiganya melihat gambar yang sama. Cahaya yang masuk ke mata mereka juga sama. Namun, hanya sang dokter yang segera menyadari adanya kelainan kecil yang hampir tidak disadari oleh dua orang lainnya.

Apakah dokter memiliki mata yang lebih tajam?

Tentu tidak.

Yang berbeda bukanlah apa yang masuk melalui mata mereka, melainkan apa yang telah lebih dahulu dibangun di dalam otak mereka.

Selama bertahun-tahun, dokter tersebut telah mempelajari anatomi paru-paru, mengenali ribuan variasi citra medis, menghubungkan gejala dengan diagnosis, dan berulang kali menguji pemahamannya melalui pengalaman klinis. Ketika melihat citra baru, otaknya tidak memulai proses memahami dari keadaan kosong. Otaknya segera membandingkan apa yang dilihatnya dengan sebuah model mengenai bagaimana paru-paru seharusnya tampak dan bagaimana berbagai penyakit biasanya muncul.

Model inilah yang dalam ilmu saraf disebut sebagai internal model.

Internal model bukanlah memori, meskipun ia dibangun dari memori. Ia juga bukan sekadar kumpulan pengalaman, meskipun pengalaman menjadi bahan bakunya. Internal model lebih tepat dipahami sebagai representasi mengenai bagaimana dunia bekerja—sebuah model generatif yang memungkinkan otak memperkirakan apa yang kemungkinan akan terjadi sebelum seluruh informasi benar-benar tersedia.

Bayangkan seorang pilot yang sedang berlatih menggunakan simulator penerbangan.

Simulator tersebut bukanlah pesawat yang sesungguhnya. Ia juga bukan langit yang sebenarnya. Namun simulator memiliki sebuah model mengenai bagaimana pesawat akan bereaksi ketika tuas ditarik, ketika kecepatan berubah, atau ketika mesin mengalami gangguan. Berdasarkan model itulah simulator dapat menghasilkan berbagai kemungkinan keadaan yang akan dihadapi pilot.

Otak bekerja dengan prinsip yang serupa.

Ia tidak menyimpan dunia sebagaimana kamera menyimpan foto. Sebaliknya, otak membangun sebuah “simulator” mengenai dunia. Simulator inilah yang digunakan untuk memperkirakan apa yang kemungkinan akan kita lihat, dengar, rasakan, dan alami beberapa saat kemudian. Dengan bantuan simulator tersebut, manusia tidak perlu mempelajari dunia dari awal setiap kali membuka mata. Otak telah memiliki sebuah model yang dapat digunakan untuk mengantisipasi apa yang kemungkinan sedang dan akan terjadi.

Inilah hubungan yang sangat erat antara Predictive Processing dan Internal Model.

Predictive Processing menjelaskan bahwa otak terus-menerus membuat prediksi. Namun prediksi tersebut tidak muncul begitu saja. Prediksi selalu dibangun berdasarkan internal model yang telah berkembang sepanjang kehidupan seseorang. Dengan kata lain, predictive processing menjelaskan mekanisme bagaimana otak bekerja, sedangkan internal model menjelaskan landasan yang digunakan otak untuk membuat prediksi tersebut.

Karena setiap manusia menjalani pengalaman hidup yang berbeda, membaca buku yang berbeda, dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, mempelajari nilai-nilai yang berbeda, serta mengalami berbagai peristiwa emosional yang berbeda, maka internal model yang mereka bangun pun tidak pernah benar-benar sama.

Di sinilah kita mulai menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan pada awal artikel.

Mengapa dua orang dapat melihat fakta yang sama tetapi membangun realitas yang berbeda?

Karena fakta yang sama tidak pernah dipertemukan dengan internal model yang sama.

Setiap informasi baru selalu ditafsirkan melalui model dunia yang telah lebih dahulu dibangun di dalam otak. Sebelum kita menyadari apa yang sedang kita lihat, otak telah lebih dahulu bertanya: Apakah informasi ini sesuai dengan cara saya memahami dunia selama ini? Jawaban atas pertanyaan itulah yang kemudian membentuk makna.

Dalam pengertian ini, manusia sesungguhnya tidak hidup dengan bereaksi secara langsung terhadap dunia sebagaimana adanya. Manusia hidup dengan bereaksi terhadap model dunia yang dibangun oleh otaknya sendiri. Selama model tersebut cukup mampu menjelaskan kenyataan, kita merasa seolah-olah sedang melihat dunia secara apa adanya. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah proses yang jauh lebih kompleks: dunia di luar diri kita terus-menerus berdialog dengan dunia yang telah dibangun di dalam otak kita.

Namun, simulator terbaik sekalipun tidak selalu benar.

Kadang-kadang dunia menghadirkan sesuatu yang sama sekali tidak diperkirakan oleh internal model kita. Ketika kenyataan tidak lagi sesuai dengan prediksi, otak memperoleh sebuah sinyal bahwa model yang selama ini digunakannya mungkin perlu diperbarui.

Sinyal inilah yang menjadi kunci kemampuan manusia untuk belajar, beradaptasi, dan mengubah keyakinannya. Dalam Predictive Processing, mekanisme tersebut dikenal sebagai predictive error.

Predictive Error: Ketika Dunia Membantah Prediksi Kita

Bayangkan seorang anak kecil yang baru pertama kali mencoba mengangkat sebuah cangkir keramik.

Ia mengulurkan tangan, menggenggam cangkir itu, lalu berusaha mengangkatnya. Namun cangkir tersebut ternyata jauh lebih berat daripada yang diperkirakannya. Tangannya sedikit tersentak. Genggamannya berubah. Beberapa detik kemudian ia mencoba lagi, dan kali ini gerakannya menjadi lebih tepat.

Sekilas, kita mungkin mengatakan bahwa anak itu sedang belajar mengangkat cangkir.

Namun, dari sudut pandang Predictive Processing, yang sesungguhnya terjadi lebih menarik daripada itu.

Anak tersebut sedang belajar bahwa prediksi yang dibuat oleh otaknya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Peristiwa sederhana itu menggambarkan salah satu mekanisme paling mendasar dalam cara kerja otak manusia. Setiap saat otak membangun prediksi mengenai apa yang akan dilihat, didengar, dirasakan, atau dialami. Selama dunia berjalan sesuai dengan prediksi tersebut, internal model tidak memiliki alasan untuk berubah. Namun ketika kenyataan berbeda dari yang diperkirakan, otak menerima sebuah sinyal bahwa model yang selama ini digunakannya mungkin perlu diperbaiki.

Sinyal inilah yang dalam Predictive Processing disebut predictive error, yaitu selisih antara apa yang diprediksi oleh otak dan apa yang benar-benar terjadi.

Istilah error sering kali dipahami sebagai kegagalan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung menghindari kesalahan karena menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dihilangkan. Akan tetapi, bagi otak, predictive error justru merupakan salah satu informasi yang paling berharga. Tanpa adanya kesalahan prediksi, tidak ada alasan bagi internal model untuk berubah.

Bayangkan kembali analogi simulator penerbangan yang kita gunakan pada bagian sebelumnya. Simulator dibangun berdasarkan sebuah model mengenai bagaimana pesawat seharusnya bereaksi dalam berbagai situasi. Selama hasil simulasi sesuai dengan perilaku pesawat yang sebenarnya, model tersebut dapat terus digunakan. Namun ketika pesawat bereaksi dengan cara yang tidak diperkirakan oleh simulator, masalahnya bukan terletak pada dunia nyata, melainkan pada model yang digunakan simulator. Agar simulasi berikutnya menjadi lebih akurat, model tersebut harus diperbarui.

Otak bekerja dengan prinsip yang sama.

Yang perlu diperbaiki bukanlah dunia, melainkan model kita tentang dunia.

Inilah salah satu gagasan paling mendasar dalam Predictive Processing. Dunia tidak selalu menyesuaikan diri dengan harapan kita. Justru sebaliknya, setiap kali kenyataan membantah prediksi yang kita buat, otak memperoleh kesempatan untuk menyempurnakan cara memahami dunia.

Dalam pengertian ini, belajar bukan terutama proses menambahkan informasi baru ke dalam pikiran. Belajar adalah proses memperbaiki internal model agar mampu menghasilkan prediksi yang semakin mendekati kenyataan.

Karena itulah pembelajaran sejati hampir selalu diawali oleh kejutan.

Seorang ilmuwan mengubah teorinya setelah eksperimen menghasilkan data yang tidak sesuai dengan hipotesis. Seorang dokter merevisi diagnosis setelah hasil laboratorium menunjukkan sesuatu yang tidak diperkirakan. Seorang investor mengubah strategi setelah pasar bergerak berlawanan dengan prediksinya. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mengubah penilaian terhadap seseorang ketika perilakunya berulang kali tidak sesuai dengan kesan pertama yang kita miliki.

Semua contoh tersebut memperlihatkan pola yang sama. Perubahan tidak terjadi karena informasi baru semata, tetapi karena informasi baru bertentangan dengan model yang telah ada sebelumnya.

Namun, proses ini tidak selalu berjalan mulus.

Ketika predictive error muncul, otak tidak otomatis memperbarui internal modelnya. Dalam banyak situasi, otak justru berusaha mempertahankan model lama. Informasi baru dapat diabaikan, ditafsirkan ulang, atau dianggap sebagai pengecualian agar keyakinan yang sudah ada tetap terasa konsisten. Dari sudut pandang biologis, kecenderungan ini dapat dipahami karena mempertahankan model yang stabil sering kali lebih hemat energi dibandingkan terus-menerus membangun model baru.

Di sinilah kita mulai memahami mengapa perubahan keyakinan sering kali jauh lebih sulit daripada sekadar memperoleh informasi baru. Masalahnya bukan karena manusia tidak memiliki akses terhadap fakta, melainkan karena setiap fakta harus terlebih dahulu berhadapan dengan internal model yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Dengan demikian, predictive error bukan sekadar konsep dalam ilmu saraf. Ia merupakan mekanisme yang memungkinkan manusia belajar, beradaptasi, mengubah keyakinan, sekaligus menjelaskan mengapa perubahan cara berpikir sering kali berlangsung lambat dan penuh resistensi.

Pemahaman ini membawa kita pada konsekuensi yang lebih luas. Jika persepsi dibentuk oleh internal model, dan internal model diperbarui melalui predictive error, maka banyak fenomena yang selama ini kita anggap berbeda—seperti bias kognitif, ilusi persepsi, trauma psikologis, proses pembelajaran, hingga pengambilan keputusan—sebenarnya dapat dipahami sebagai manifestasi dari mekanisme yang sama.

Pada titik inilah Predictive Processing tidak lagi menjadi sekadar teori tentang cara kerja otak. Ia mulai menjadi kerangka untuk memahami bagaimana manusia membangun realitasnya.

Konsekuensi: Ketika Internal Model Membentuk Cara Kita Melihat Dunia

Setelah memahami bagaimana otak membangun prediksi melalui internal model dan bagaimana predictive error memperbarui model tersebut, kita dapat melihat berbagai fenomena yang selama ini tampak tidak saling berhubungan dari sudut pandang yang sama.

Bias kognitif, ilusi persepsi, trauma psikologis, proses pembelajaran, bahkan pengambilan keputusan ternyata bukanlah mekanisme yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan konsekuensi dari cara otak membangun, mempertahankan, dan memperbarui model dunianya.

Ilusi: Ketika Prediksi Lebih Cepat daripada Penglihatan

Salah satu bukti paling menarik bahwa persepsi merupakan hasil prediksi dapat ditemukan pada berbagai ilusi optik.

Ketika melihat gambar yang sengaja dirancang untuk mengecoh persepsi, kita sering kali tetap melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, bahkan setelah mengetahui bahwa persepsi kita keliru. Pengetahuan bahwa kita sedang mengalami ilusi tidak serta-merta menghilangkan ilusi tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persepsi bukan sekadar hasil kerja mata. Sebelum informasi visual selesai diproses, otak telah lebih dahulu membangun dugaan mengenai apa yang kemungkinan sedang dilihatnya. Dalam sebagian besar situasi sehari-hari, mekanisme ini sangat membantu karena memungkinkan kita mengenali objek dengan cepat. Namun pada kondisi tertentu, prediksi tersebut justru lebih dominan daripada informasi sensorik yang sebenarnya.

Dengan kata lain, ilusi bukanlah kegagalan penglihatan. Ilusi merupakan konsekuensi dari sistem prediksi yang, hampir sepanjang waktu, bekerja dengan sangat efisien.

Bias: Ketika Internal Model Menyaring Informasi

Prinsip yang sama juga menjelaskan mengapa manusia memiliki berbagai bias kognitif.

Sering kali kita mengira bahwa bias muncul karena seseorang kurang objektif atau kurang rasional. Padahal, dari perspektif predictive processing, bias dapat dipahami sebagai kecenderungan internal model untuk lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan dirinya dibandingkan informasi yang bertentangan.

Ketika dua orang membaca berita yang sama, perhatian mereka sering kali tertuju pada bagian yang berbeda. Mereka memilih fakta yang dianggap paling penting, menghubungkannya dengan pengalaman masing-masing, lalu sampai pada kesimpulan yang berbeda pula. Yang berbeda bukan semata-mata informasi yang diterima, melainkan cara internal model memberi bobot dan makna terhadap informasi tersebut.

Inilah sebabnya mengapa perdebatan sering kali tidak selesai hanya dengan menambahkan data baru. Informasi baru harus terlebih dahulu melewati “penyaring” yang telah dibangun oleh internal model.

Trauma: Ketika Masa Lalu Mengubah Prediksi Masa Depan

Trauma memberikan contoh yang lebih kuat lagi mengenai bagaimana internal model berubah.

Seseorang yang pernah mengalami kecelakaan serius mungkin menjadi jauh lebih sensitif terhadap suara rem mendadak. Orang yang pernah dikhianati dapat lebih mudah mencurigai orang lain, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda yang jelas. Pengalaman traumatis bukan hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga mengubah cara otak memprediksi dunia.

Dari sudut pandang predictive processing, perubahan tersebut dapat dipahami sebagai upaya otak meningkatkan kewaspadaan terhadap situasi yang pernah dianggap berbahaya. Internal model diperbarui sedemikian rupa agar ancaman serupa dapat dikenali lebih cepat pada masa mendatang.

Mekanisme ini membantu manusia bertahan hidup. Namun dalam beberapa keadaan, model yang terlalu sensitif juga dapat membuat seseorang terus-menerus memprediksi bahaya, meskipun lingkungan yang dihadapinya telah berubah.

Pembelajaran: Memperbaiki Model Dunia

Jika trauma menunjukkan bagaimana pengalaman dapat mempersempit cara kita memandang dunia, maka pendidikan dan pembelajaran menunjukkan sisi sebaliknya.

Belajar bukan sekadar menghafal fakta baru. Belajar adalah proses memperbaiki internal model agar semakin mampu menjelaskan kenyataan.

Karena itu, pendidikan yang baik tidak hanya memberikan jawaban. Pendidikan juga menghadapkan seseorang pada pertanyaan, pengalaman, atau bukti yang mengguncang model lama, sehingga muncul predictive error yang mendorong lahirnya pemahaman baru.

Dalam pengertian ini, guru tidak sekadar menyampaikan pengetahuan. Guru membantu peserta didik membangun model dunia yang lebih kaya, lebih akurat, dan lebih lentur ketika berhadapan dengan kenyataan.

Pengambilan Keputusan: Memilih Masa Depan Berdasarkan Simulasi

Setiap keputusan pada dasarnya merupakan prediksi mengenai masa depan.

Ketika memilih jurusan kuliah, menerima tawaran pekerjaan, membeli rumah, atau menentukan pilihan politik, kita tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi. Yang kita lakukan adalah menggunakan internal model untuk mensimulasikan berbagai kemungkinan, memperkirakan konsekuensinya, lalu memilih tindakan yang dianggap paling menguntungkan atau paling aman.

Karena keputusan selalu didasarkan pada simulasi, kualitas keputusan sangat bergantung pada kualitas internal model yang digunakan. Model yang kaya, terbuka terhadap koreksi, dan terus diperbarui cenderung menghasilkan prediksi yang lebih baik daripada model yang kaku dan menolak setiap informasi yang bertentangan.


Kelima contoh tersebut memperlihatkan bahwa ilusi, bias, trauma, pembelajaran, dan pengambilan keputusan bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan wajah yang berbeda dari mekanisme yang sama: otak membangun model tentang dunia, menggunakan model tersebut untuk memprediksi kenyataan, lalu secara terus-menerus memperbaruinya ketika berhadapan dengan pengalaman baru.

Pemahaman ini membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih besar. Jika setiap manusia membangun internal model yang berbeda, apa yang terjadi ketika jutaan orang dengan model dunia yang berbeda saling bertemu melalui media massa, media sosial, dan kini juga sistem kecerdasan tiruan?

Pertanyaan itulah yang akan membawa kita keluar dari ranah psikologi individual menuju dinamika komunikasi dan masyarakat digital.

Ketika Internal Model Saling Bertemu: Mengapa Sosioinformatika Menjadi Penting?

Pada bagian sebelumnya kita melihat bahwa ilusi, bias, trauma, pembelajaran, hingga pengambilan keputusan merupakan manifestasi dari mekanisme yang sama. Otak membangun internal model, menggunakan model tersebut untuk memprediksi dunia, lalu memperbaruinya melalui predictive error. Selama pembahasan itu, unit analisis kita masih berada pada satu individu.

Namun manusia tidak pernah hidup sendirian.

Sejak lahir, kita tumbuh di tengah keluarga, bersekolah, bekerja, bergabung dalam komunitas, mengonsumsi media, berdiskusi di media sosial, dan kini bahkan berinteraksi dengan sistem kecerdasan tiruan. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman hidup, pengetahuan, nilai, dan keyakinan yang berbeda. Artinya, kehidupan sosial sesungguhnya merupakan ruang tempat jutaan internal model saling berinteraksi.

Begitu perspektif ini digunakan, pertanyaan yang kita ajukan pun berubah.

Jika ilmu saraf berusaha menjelaskan bagaimana seorang individu membangun persepsi tentang dunia, maka kita perlu bertanya: apa yang terjadi ketika jutaan individu yang masing-masing memiliki internal model berbeda saling bertemu, saling bertukar informasi, dan saling memengaruhi?

Di sinilah komunikasi memperoleh makna yang lebih dalam.

Selama ini komunikasi sering dipahami sebagai proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima. Cara pandang tersebut mengandaikan bahwa pesan memiliki makna yang relatif tetap dan tugas komunikasi hanyalah memastikan makna itu sampai kepada orang lain.

Namun pembahasan mengenai predictive processing menunjukkan bahwa makna tidak pernah berpindah begitu saja.

Setiap pesan selalu memasuki sebuah otak yang telah memiliki sejarahnya sendiri. Ia bertemu dengan internal model yang dibangun selama bertahun-tahun melalui pendidikan, pengalaman, budaya, lingkungan sosial, bahkan pengalaman emosional yang membentuk cara seseorang memahami dunia. Karena itu, makna sebuah pesan tidak hanya ditentukan oleh isi pesan tersebut, tetapi juga oleh internal model yang menafsirkannya.

Inilah sebabnya mengapa dua orang dapat membaca berita yang sama, menyaksikan pidato yang sama, atau melihat peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan kesimpulan yang sama sekali berbeda. Yang berbeda bukan semata-mata informasi yang mereka terima, melainkan model dunia yang digunakan untuk memberi makna terhadap informasi tersebut.

Pandangan ini sekaligus membantu menjelaskan gagasan yang saya kemukakan dalam tulisan sebelumnya mengenai Roadshow Kampus: Perang Narasi dan Perebutan Ruang Kognitif. Pada era digital, pertarungan tidak lagi hanya terjadi pada tingkat informasi, melainkan pada tingkat pembentukan makna. Narasi menjadi penting bukan karena ia memindahkan fakta, tetapi karena ia berusaha memengaruhi internal model yang digunakan masyarakat untuk memahami fakta tersebut.

Ketika jutaan manusia saling terhubung melalui internet, media sosial, dan berbagai platform digital, interaksi antarinternal model berlangsung dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap unggahan, komentar, video pendek, atau meme tidak hanya menyampaikan informasi. Semuanya berpotensi memperkuat keyakinan yang telah ada, memunculkan predictive error yang mengubah cara pandang, atau justru memperdalam perbedaan persepsi di antara kelompok masyarakat.

Dalam proses tersebut, algoritma memainkan peran yang semakin menentukan. Dengan mempelajari riwayat perilaku pengguna, algoritma memilih informasi yang diperkirakan paling relevan bagi setiap individu. Pilihan ini memang meningkatkan kenyamanan pengguna, tetapi pada saat yang sama juga memperbesar kemungkinan seseorang terus-menerus berinteraksi dengan informasi yang sejalan dengan internal model yang telah dimilikinya. Akibatnya, peluang bertemu dengan informasi yang benar-benar menantang cara pandangnya menjadi semakin kecil, sementara keyakinan yang sudah ada semakin diperkuat.

Fenomena seperti echo chamber, polarisasi, penyebaran disinformasi, maupun perang narasi dapat dipahami dari perspektif ini. Semuanya merupakan konsekuensi dari interaksi jutaan internal model yang berlangsung di dalam jaringan informasi digital.

Perkembangan kecerdasan tiruan menambahkan dimensi baru yang semakin kompleks. Sistem AI generatif kini tidak hanya menjadi alat untuk mencari informasi, tetapi juga mulai menjadi mitra berdialog, menulis, belajar, bahkan mengambil keputusan. Dengan demikian, lingkungan informasi yang membentuk internal model manusia tidak lagi hanya terdiri atas manusia dan media, tetapi juga mencakup sistem kecerdasan tiruan yang mampu menghasilkan simbol dan narasi dalam skala yang sangat besar.

Pada titik inilah, menurut saya, kita memerlukan cara pandang yang mampu menjembatani ilmu saraf dengan ilmu komunikasi.

Ilmu saraf membantu kita memahami bagaimana persepsi dibangun di dalam otak seorang individu. Akan tetapi, ia belum menjelaskan bagaimana jutaan persepsi individual tersebut saling berinteraksi hingga membentuk opini publik, polarisasi sosial, perubahan budaya, atau dinamika politik. Sebaliknya, ilmu komunikasi telah lama mempelajari proses interaksi sosial, tetapi kini menghadapi tantangan baru berupa ledakan data, algoritma, dan kecerdasan tiruan yang mengubah cara manusia bertukar informasi.

Perkembangan kecerdasan tiruan menambahkan dimensi baru yang semakin kompleks. Sistem AI generatif kini tidak hanya menjadi alat untuk mencari informasi, tetapi juga mulai menjadi mitra berdialog, belajar, menulis, bahkan membantu manusia mengambil keputusan. Dengan demikian, lingkungan informasi yang membentuk internal model manusia tidak lagi hanya terdiri atas manusia dan media, tetapi juga mencakup sistem kecerdasan tiruan yang mampu menghasilkan simbol dan narasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa memahami komunikasi pada abad ke-21 tidak lagi cukup hanya dengan menjelaskan bagaimana pesan diproduksi atau disebarkan. Kita juga perlu memahami bagaimana pesan tersebut berinteraksi dengan internal model manusia, bagaimana ia memunculkan predictive error atau justru memperkuat keyakinan yang telah ada, dan bagaimana perubahan-perubahan kecil pada tingkat individu dapat berkembang menjadi perubahan besar pada tingkat masyarakat.

Di sinilah saya melihat pentingnya sosioinformatika.

Jika ilmu saraf membantu kita memahami bagaimana persepsi dibangun di dalam otak seorang individu, maka sosioinformatika berusaha memahami bagaimana jutaan persepsi individual saling berinteraksi melalui jaringan komunikasi, media, algoritma, dan kecerdasan tiruan hingga membentuk pola-pola kolektif dalam masyarakat. Fokusnya bukan lagi sekadar perpindahan informasi, melainkan dinamika pembentukan makna pada skala sosial.

Dengan cara pandang tersebut, masyarakat tidak lagi dipahami sebagai sekadar kumpulan individu yang saling bertukar pesan. Masyarakat adalah sebuah jaringan tempat jutaan internal model terus-menerus saling bertemu, saling memengaruhi, saling menyesuaikan, dan terkadang saling bertabrakan. Dari interaksi itulah lahir opini publik, identitas kelompok, polarisasi, konsensus, perubahan budaya, hingga berbagai bentuk realitas sosial yang kita alami setiap hari.

Perjalanan yang kita lakukan dalam artikel ini sesungguhnya bergerak dari mekanisme biologis menuju dinamika sosial. Kita memulai pembahasan dengan sebuah pertanyaan sederhana tentang cara kerja otak, tetapi berakhir pada pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana masyarakat membangun realitas bersama di tengah arus informasi yang semakin kompleks.

Barangkali, inilah tantangan terbesar komunikasi pada abad ke-21. Bukan lagi sekadar bagaimana menyampaikan informasi, melainkan bagaimana memahami proses terbentuknya makna ketika jutaan internal model saling berinteraksi. Karena pada akhirnya, masyarakat bukan sekadar kumpulan manusia yang saling bertukar informasi. Masyarakat adalah jaringan tempat jutaan internal model bersama-sama membentuk apa yang kita sebut sebagai realitas sosial.

Penutup: Kita Tidak Melihat Dunia Apa Adanya

Di awal tulisan ini kita memulai dengan sebuah pertanyaan sederhana: mengapa dua orang dapat menyaksikan peristiwa yang sama, tetapi membawa pulang pemahaman yang berbeda?

Selama ini kita cenderung menganggap jawabannya terletak pada kualitas informasi. Seolah-olah apabila semua orang memperoleh fakta yang sama, maka mereka juga akan sampai pada kesimpulan yang sama. Namun perjalanan yang telah kita lakukan menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks.

Otak bukanlah kamera yang sekadar merekam dunia. Ia adalah sebuah sistem yang terus-menerus membangun prediksi melalui internal model yang dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, emosi, nilai, dan berbagai interaksi yang telah kita alami sepanjang hidup. Apa yang kita sebut sebagai persepsi bukanlah salinan langsung dari realitas, melainkan hasil perjumpaan antara dunia di luar diri kita dan model dunia yang telah dibangun di dalam diri kita.

Karena itu, memahami manusia tidak cukup hanya dengan memahami fakta yang dihadapinya. Kita juga perlu memahami model yang digunakannya untuk menafsirkan fakta tersebut. Fakta yang sama dapat memperkuat keyakinan seseorang, menggoyahkan keyakinan orang lain, atau bahkan tidak mengubah apa pun, karena setiap orang melihat dunia melalui internal model yang berbeda.

Kesadaran inilah yang, menurut saya, menjadi semakin penting pada era ketika informasi mengalir tanpa henti, algoritma memilih apa yang kita lihat, dan kecerdasan tiruan mulai menjadi bagian dari lingkungan kognitif kita. Tantangan terbesar kita bukan semata-mata memperoleh lebih banyak informasi, melainkan membangun internal model yang cukup terbuka untuk terus belajar ketika berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai dengan dugaan kita.

Mungkin, inilah pelajaran paling penting dari predictive processing. Belajar bukan hanya menambah pengetahuan, melainkan keberanian untuk membiarkan kenyataan mengoreksi cara kita memahami dunia.

Dan mungkin pula, yang selama ini kita sebut sebagai perbedaan pendapat sering kali bukan sekadar perbedaan fakta. Ia adalah pertemuan antara dua internal model yang berbeda dalam memaknai fakta yang sama.

Pada akhirnya, kita tidak hidup di dalam dunia sebagaimana adanya. Kita hidup di dalam dunia sebagaimana berhasil dipahami oleh otak kita. Dan selama internal model itu terus berubah melalui pengalaman dan pembelajaran, selalu ada harapan bahwa cara kita melihat dunia pun dapat berubah menjadi lebih kaya, lebih akurat, dan lebih bijaksana.

AO
Tangerang Selatan, 6 Agustus 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *