Kualitas Percakapan Internet di Era Scroll Tiada Henti

April 2026


Abstrak

Internet hari ini beroperasi di bawah pola seragam: maksimalkan perhatian, kumpulkan data, produksi konten tanpa henti. Artikel ini memetakan dua respons yang muncul secara bersamaan terhadap pola tersebut. Pertama, respons dari ekosistem konten bermutu: kreator dan platform yang secara sengaja membangun mekanisme komitmen sebagai pengganti metrik viral, meliputi Veritasium, 3Blue1Brown, Kurzgesagt, Khan Academy, Nebula, dan Substack. Kedua, respons dari negara, berupa gelombang kebijakan yang melarang atau membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun ke platform media sosial, dipimpin Australia pada Desember 2025 dan diikuti oleh sejumlah negara Eropa serta belasan negara bagian Amerika Serikat. Artikel ini berargumen bahwa kedua respons ini, meski berbeda instrumen, sama-sama mengakui satu diagnosis: platform yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan dangkal tidak netral terhadap kualitas konten dan tidak aman bagi pengguna yang belum matang secara kognitif dan emosional.


1. Pendahuluan: Satu Sumber, Dua Korban

Ketika kita berbicara tentang dampak internet modern, dua masalah yang tampaknya berbeda sebenarnya berakar pada mesin yang sama. Masalah pertama adalah menurunnya kualitas wacana publik: melimpahnya konten tanpa makna, percakapan yang menghilang, dan kreator bermutu yang terpaksa bersaing dengan konten sensasional. Masalah kedua adalah krisis kesehatan mental remaja, yaitu meningkatnya kecemasan, depresi, dan gangguan citra diri pada anak-anak dan remaja yang menghabiskan berjam-jam di platform yang dirancang untuk membuat mereka tidak bisa berhenti scroll.

Mesin di balik keduanya adalah sama: sistem algoritma yang mengoptimalkan perhatian jangka pendek, bukan nilai jangka panjang.[1] Bagi kreator konten, mesin ini menciptakan tekanan untuk memperpendek, menyederhanakan, dan memprovokasi. Bagi remaja, mesin yang sama mengeksploitasi sistem reward otak yang masih berkembang, mendorong penggunaan kompulsif, dan menyajikan arus konten yang tidak pernah habis.[2]

Artikel ini memetakan dua arus respons yang sedang berlangsung secara bersamaan: respons dari komunitas kreator dan platform, serta respons legislatif dari pemerintah di berbagai kawasan dunia.


2. Respons Pertama: Ekosistem Konten Bermutu

YouTube Edukasi dan Dilema Format

Di YouTube, ketegangan antara kualitas dan distribusi paling terasa pada kreator sains dan pendidikan. Veritasium, kanal Derek Muller yang dikenal dengan video investigasi ilmiah berdurasi panjang, menghadapi tekanan untuk berpartisipasi dalam ekosistem YouTube Shorts, format yang secara struktural tidak kompatibel dengan cara sains yang baik perlu dijelaskan.

Grant Sanderson, kreator 3Blue1Brown, secara eksplisit menolak format pendek. Kanalnya memvisualisasikan matematika tingkat lanjut, dari kalkulus hingga transformasi Fourier, dan memilih konsistensi format atas jangkauan distribusi. Hasilnya adalah audiens yang lebih kecil secara absolut, namun dengan kedalaman keterlibatan yang jauh melampaui rata-rata platform.[3]

Kurzgesagt memilih strategi ketiga: investasi besar pada kualitas produksi animasi sehingga setiap video memiliki nilai tonton ulang tinggi dan menjadi referensi yang dicari, bukan sekadar konten yang dikonsumsi sekali lalu dilupakan.[4]

TED Talks: Institusi Berhadapan dengan Algoritma

Per April 2026, TED Talks telah menghasilkan lebih dari 7.400 video utama dan 257.000 video TEDx, dengan total lebih dari 3,1 miliar penayangan di YouTube.[5] Namun di balik angka tersebut tersimpan ironi: sebuah studi yang menganalisis hampir 2.500 TED Talks menemukan bahwa setiap tambahan topik yang dibahas dalam satu talk mengakibatkan penurunan penayangan rata-rata 3%, bahkan setelah mengontrol durasi, ketenaran pembicara, dan gaya narasi.[6] Tekanan algoritmik mendorong bahkan institusi bermutu untuk menyederhanakan dan menyempitkan.

Respons TED terhadap tekanan ini bersifat struktural: pada April 2026, TED, Khan Academy, dan ETS mengumumkan pendirian Khan TED Institute, sebuah program pendidikan tinggi berbasis AI yang bermitra dengan Google, Microsoft, dan Accenture.[7] Ini adalah pergeseran dari platform distribusi konten menuju institusi dengan kredensial formal dan ekosistem pembelajaran terstruktur.

Khan Academy dan Paradoks Khanmigo

Khan Academy merepresentasikan pivot paling ambisius: dari video edukasi gratis menuju AI tutor yang sengaja dirancang lambat. Khanmigo, yang diluncurkan 2023 berbasis GPT-4, dirancang untuk tidak memberikan jawaban langsung. Ia menggunakan pendekatan Socratik, memancing siswa berpikir melalui pertanyaan, bukan menyuapi solusi.[8]

Pertumbuhan penggunanya mengesankan: dari proyeksi 100.000 menjadi 1,4 juta pengguna pada pertengahan 2025, dengan jaringan mitra sekolah yang tumbuh dari 45 menjadi lebih dari 380 distrik dalam satu tahun.[9] Namun tantangannya juga nyata: dari jutaan percakapan yang terekam, pola yang muncul tidak selalu menunjukkan keterlibatan mendalam. Sebagian siswa merespons dengan “I don’t know” berulang-ulang, atau sekadar “Bro, IDK”. Platform bermutu tidak kebal dari kemalasan kognitif, dan temuan ini relevan untuk keseluruhan diskusi tentang efektivitas regulasi berbasis pembatasan akses.

Nebula dan Substack: Ruang Kecil yang Menolak Logika Arus Utama

Nebula, platform streaming yang diluncurkan 2019, adalah eksperimen paling langsung: tanpa iklan, berbasis langganan, keuntungan dibagi berdasarkan waktu tonton bukan klik.[10] Dengan lebih dari 680.000 pelanggan berbayar, Nebula membuktikan bahwa ekosistem kecil yang secara eksplisit menolak logika viral bisa viable secara ekonomi. Fondasi Nebula menyatakan tujuannya dengan jelas: membantu kreator tetap jujur pada visi mereka di tengah semakin banyaknya hambatan terhadap ekspresi bebas di internet.[11]

Substack, dengan 2 juta pelanggan berbayar dan 35 juta pembaca, mewakili ekosistem serupa untuk teks panjang. Tidak ada algoritma distribusi berbasis engagement; pembaca harus secara aktif memilih untuk berlangganan. Ini adalah mekanisme komitmen yang membedakan pembaca aktif dari konsumen pasif.[12]


3. Respons Kedua: Gelombang Kebijakan Perlindungan Anak

Australia: Legislasi Pertama di Dunia

Pada 29 November 2024, Parlemen Australia mengesahkan Online Safety Amendment (Social Media Minimum Age) Act 2024, undang-undang pertama di dunia yang secara eksplisit melarang pengguna di bawah 16 tahun memiliki akun di platform media sosial utama. Ketentuan ini berlaku efektif sejak 10 Desember 2025.[13]

Platform yang terdampak mencakup Facebook, Instagram, TikTok, Snapchat, X (Twitter), YouTube, Reddit, Twitch, Threads, dan Kick. Sanksi bagi platform yang gagal mematuhi bisa mencapai AUD 49,5 juta (sekitar USD 33 juta) per pelanggaran.[14] Penting dicatat bahwa hukuman dijatuhkan pada platform, bukan pada remaja atau orang tua.

Pada Maret 2026, Menteri Komunikasi Australia mengkonfirmasi bahwa pemerintah sedang menyelidiki Facebook, Instagram, Snapchat, TikTok, dan YouTube atas potensi pelanggaran, setelah eSafety Commissioner menemukan bahwa platform-platform tersebut masih membiarkan anak di bawah umur membuat akun berulang kali.[13]

Kebijakan ini tidak bebas kontroversi. Di satu sisi, jajak pendapat menunjukkan dukungan publik yang kuat, dengan 70% pemilih mendukung larangan per Desember 2025. Di sisi lain, kepercayaan pada efektivitasnya rendah: 58% responden tidak yakin kebijakan ini akan berhasil.[15] UNICEF Australia menyatakan bahwa larangan saja tidak cukup tanpa perbaikan mendasar pada keamanan desain platform.[16]

Eropa: Dari Resolusi menuju Regulasi

Pada 26 November 2025, Parlemen Eropa memungut suara dengan 483 berbanding 92 mendukung rekomendasi usia minimum 16 tahun untuk akses media sosial di seluruh Uni Eropa, dengan pengecualian bagi anak 13-15 tahun yang memiliki persetujuan orang tua.[17] Resolusi ini tidak mengikat secara hukum, namun membentuk arah politik di Brussels dan ibu kota anggota.

Di tingkat nasional, beberapa negara bergerak lebih cepat. Prancis telah mengesahkan larangan untuk pengguna di bawah 15 tahun dan mewajibkan verifikasi usia. Spanyol mengusulkan larangan untuk pengguna di bawah 16 tahun dengan liabilitas pidana bagi pemimpin platform atas konten berbahaya. Denmark dan Slovenia sedang membahas batas usia serupa, sementara Jerman mempertimbangkan minimum 16 tahun.[18]

Pada April 2026, tekanan ini menghasilkan langkah konkret dari Komisi Eropa: Presiden von der Leyen mengumumkan bahwa aplikasi verifikasi usia milik EU secara teknis sudah siap untuk diimplementasikan. Sistem ini menggunakan zero-knowledge proofs, memverifikasi usia tanpa mengekspos data pribadi, dan dirancang untuk terhubung dengan dompet digital nasional.[19]

Amerika Serikat: Fragmentasi Legislatif

Di Amerika Serikat, lanskap kebijakan jauh lebih terfragmentasi. Per April 2026, setidaknya 19 negara bagian telah mengesahkan undang-undang yang mengatur akses remaja ke media sosial, namun banyak yang terjebak dalam gugatan hukum.[20]

Beberapa contoh konkret: Virginia (berlaku 1 Januari 2026) mewajibkan platform membatasi pengguna di bawah 16 tahun pada satu jam per hari kecuali ada persetujuan orang tua.[21] Florida melarang pembuatan akun bagi pengguna di bawah 14 tahun dan mewajibkan verifikasi usia, meski terhalang gugatan First Amendment.[^20] Nebraska (berlaku Juli 2026) mewajibkan persetujuan orang tua untuk semua pengguna di bawah 18 tahun, menjadikannya salah satu yang paling ketat.[22] California (SB 976, berlaku bertahap hingga 2027) memilih pendekatan berbeda: bukan melarang akun, melainkan melarang addictive feeds bagi remaja, sehingga menargetkan mekanisme algoritmik, bukan kehadiran di platform.[20]

Tantangan konstitusional serius mewarnai proses ini. Pengadilan di Arkansas dan Ohio telah memblokir undang-undang serupa sebagai pelanggaran First Amendment: pembatasan akses remaja ke konten yang dilindungi secara hukum dipandang sebagai sensor berbasis konten.[23] Ini memunculkan ketegangan fundamental mengenai apakah perlindungan anak bisa mengesampingkan kebebasan berekspresi dalam hukum Amerika.

Indonesia: Regulasi Ambisius dengan Infrastruktur yang Belum Siap

Indonesia bergabung dalam gelombang kebijakan ini dengan langkah yang secara normatif sejajar dengan Australia, namun dihadapkan pada tantangan implementasi yang jauh lebih berat. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, yang dikenal sebagai PP TUNAS (Tunggu Anak Siap), pemerintah menetapkan kerangka hukum perlindungan anak di ruang digital. Aturan teknisnya dituangkan dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, yang mulai diberlakukan bertahap sejak 28 Maret 2026.[24]

Substansi kebijakannya cukup tegas: anak di bawah 16 tahun dilarang memiliki akun pada platform digital yang dikategorikan berisiko tinggi, mencakup YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox. Platform yang tidak patuh dapat dikenai sanksi. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan tidak ada ruang kompromi: “Tidak ada kompromi dalam hal kepatuhan. Setiap platform digital yang beroperasi di Indonesia wajib mematuhi aturan yang berlaku.”[25] Urgensi kebijakan ini diperkuat oleh data yang mengkhawatirkan: hampir 48 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak di bawah 18 tahun, dengan 80 persen di antaranya mengakses internet hingga tujuh jam per hari.[26]

Namun ambisi regulasi ini berhadapan langsung dengan keterbatasan infrastruktur pengawasan. Berbeda dari Australia yang memiliki eSafety Commissioner, yakni lembaga independen dengan kapasitas teknis, anggaran, dan otoritas penuh, Indonesia belum memiliki setara institusional yang memadai. Para akademisi dari Monash University Indonesia menilai kondisi ini secara gamblang: “Meniru batas usia dari Australia tanpa meniru infrastruktur eSafety mereka ibarat memasang kunci canggih pada pintu tanpa dinding.”[27]

Setidaknya tiga pilar penegakan masih lemah atau absen. Pertama, tidak ada lembaga pengawas independen; pengawasan digital masih menjadi tugas tambahan bagi kementerian yang sudah memiliki beban kerja lain. Kedua, infrastruktur pelaporan masih terfragmentasi, tanpa mekanisme terpusat yang memungkinkan orang tua melaporkan pelanggaran secara efektif. Ketiga, kapasitas audit teknis terhadap sistem verifikasi usia yang digunakan platform belum tersedia, sehingga platform berpotensi menggunakan solusi formalitas yang tidak benar-benar melindungi anak.[27]

Di tingkat implementasi, tingkat kepatuhan platform menjelang hari berlakunya aturan sangat bervariasi. Hanya X dan Bigo Live yang dinilai paling kooperatif pada evaluasi malam sebelum kebijakan berlaku. TikTok baru menyampaikan komitmen bertahap, sementara sebagian platform lain masih menunggu.[25] Anggota Komisi I DPR RI menyimpulkan situasi ini dengan tepat: “PP Tunas itu mendesak diberlakukan. Namun, regulasi ini belum cukup kalau pengawasan, audit kepatuhan, dan penegakan sanksinya tidak berjalan tegas di lapangan.”[28]

Tantangan struktural lainnya tak kalah berat. Kesenjangan literasi digital orang tua yang lebar, terutama di luar kota besar, membuat pengawasan berbasis keluarga sulit diandalkan. Anak masih dapat mengakses platform melalui akun milik anggota keluarga lain atau perangkat bersama.[^29] Sistem verifikasi usia berbasis AI yang diwajibkan pun diakui masih memiliki tingkat kesalahan estimasi dan rentan disiasati.[29]

Kondisi Indonesia dengan demikian merepresentasikan kasus yang berbeda dari Australia, Eropa, maupun Amerika Serikat: sebuah negara dengan populasi anak yang sangat besar, sekitar 70 juta anak yang aktif di ruang digital, yang berambisi mengadopsi standar perlindungan global namun tanpa ekosistem penegakan yang sebanding. Kebijakan yang secara niat sudah tepat arah ini berisiko menjadi regulasi simbolik jika tidak disertai investasi serius pada infrastruktur pengawasan, kapasitas audit independen, dan literasi digital yang merata.


4. Titik Temu: Diagnosis yang Sama, Instrumen Berbeda

Di permukaan, dua respons ini tampak tidak berhubungan. Nebula dan Substack adalah inisiatif pasar, yaitu kreator yang memilih model bisnis berbeda. Legislasi Australia dan Virginia adalah intervensi negara, di mana pemerintah memaksa perubahan perilaku platform.

Namun keduanya bertumpu pada diagnosis yang sama: platform yang mengoptimalkan perhatian jangka pendek menghasilkan eksternalitas negatif yang tidak ditanggung oleh platform itu sendiri.[30] Bagi kreator, eksternalitasnya adalah terkikisnya ruang untuk konten yang membutuhkan waktu dan perhatian penuh. Bagi remaja, eksternalitasnya adalah eksploitasi sistem reward otak yang belum matang.

Persamaan diagnostik ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas masing-masing instrumen. Regulasi usia, sebagaimana ditunjukkan riset, tidak memiliki bukti yang kuat bahwa ia secara kausal mengurangi dampak negatif pada kesehatan mental remaja. Sebagian karena remaja menemukan cara melewati verifikasi usia, sebagian karena masalah sesungguhnya bukan pada akses melainkan pada desain.[31] Sebaliknya, platform alternatif seperti Nebula dan Substack berhasil menciptakan kualitas interaksi yang lebih tinggi, namun dengan skala yang terlalu kecil untuk mengubah ekosistem secara keseluruhan.

Ini menunjukkan bahwa solusi yang paling langsung, yaitu menargetkan desain platform itu sendiri bukan usia pengguna atau pilihan kreator, justru yang paling sedikit dilakukan. California dengan SB 976 adalah pengecualian penting: dengan melarang addictive feeds bagi remaja, undang-undang ini menyasar mekanisme algoritmik yang menjadi akar masalah, bukan gejalanya.[20]


5. Implikasi: Apa yang Paling Dibutuhkan?

Dari peta dua respons ini, beberapa implikasi layak dipertimbangkan.

Pertama, regulasi berbasis usia adalah langkah yang secara politik mudah tetapi secara teknis lemah. Ia menjawab kekhawatiran publik dengan gestur yang tampak tegas, namun tidak menyentuh mekanisme yang menghasilkan konten berbahaya bagi semua kelompok usia.[31] Pendekatan yang lebih tepat sasaran adalah regulasi desain platform: melarang infinite scroll, membatasi notifikasi pada jam tertentu, dan mewajibkan transparansi algoritma.

Kedua, ekosistem konten bermutu yang bertahan, seperti Nebula, 3Blue1Brown, dan Substack, secara tidak langsung membuktikan bahwa ada permintaan nyata untuk interaksi yang bermakna. Mereka tumbuh bukan karena kebijakan negara, melainkan karena sebagian pengguna secara aktif mencari alternatif dari arus entropy.[32]

Ketiga, dan paling mendasar: selama model bisnis dominan internet, yaitu iklan berbasis perhatian, tidak berubah, kedua respons ini hanya akan beroperasi di tepi masalah yang lebih besar.[1] Platform bermutu akan tetap kecil. Regulasi usia akan terus disiasati oleh remaja, misalnya dengan menggunakan VPN.

Yang paling dibutuhkan bukanlah lebih banyak peraturan atau lebih banyak platform alternatif, melainkan pergeseran dalam cara masyarakat mendefinisikan nilai dalam ekosistem digital: apakah kita mengukur internet dengan berapa banyak perhatian yang berhasil dikumpulkannya, atau dengan seberapa bermakna percakapan yang terjadi di dalamnya?


6. Penutup

Pada saat yang sama ketika Australia mulai menegakkan larangan media sosial untuk remaja, Nebula diam-diam melampaui 680.000 pelanggan. Pada saat yang sama ketika Parlemen Eropa menyerukan batas usia 16 tahun, Khan Academy sedang merayakan 1,4 juta pengguna Khanmigo yang memilih untuk belajar dengan cara yang lambat dan Socratik.

Ini bukan kebetulan. Keduanya adalah ekspresi dari satu ketidakpuasan yang tumbuh: bahwa internet yang ada, yang dioptimalkan untuk klik, share, dan waktu layar tanpa batas, tidak menghasilkan apa yang paling kita butuhkan dari medium komunikasi, yaitu pemahaman, koneksi yang bermakna, dan ruang untuk berpikir panjang.

Pertanyaan yang tersisa bukan apakah regulasi atau inovasi pasar yang lebih efektif. Pertanyaannya adalah: apakah kita, sebagai pengguna, pembuat kebijakan, dan masyarakat, siap untuk mendefinisikan ulang apa yang kita inginkan dari internet sebelum lautan entropi itu menjadi satu-satunya yang tersisa?


Daftar Pustaka

[1] Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. PublicAffairs; Wu, T. (2016). The Attention Merchants. Knopf.
[2] Haidt, J. (2024). The Anxious Generation. Penguin Press.
[3] Gleick, J. (2011). The Information: A History, A Theory, A Flood. Pantheon Books.
[4] Lanier, J. (2018). Ten Arguments for Deleting Your Social Media Accounts Right Now. Henry Holt.
[5] Barayeva, M. (2026). How Many TED Talks Are There? marinabarayeva.com.
[6] Sepehri, A., Duclos, R., & Haghighi, N. (2025). Ideas Worth Spreading? Journal of Personality and Social Psychology. doi:10.1037/pspa0000430.
[7] TED, Khan Academy, & ETS. (2026). TED, Khan Academy and ETS Announce New Institute. TED Blog.
[8] Kids AI Tools. (2026). Khanmigo Review 2026. kidsaitools.com.
[9] Hess, F. M. (2025). Can an AI-Powered Tutor Produce Meaningful Results? Education Week.
[10] Wikipedia. (2026). Nebula (streaming service). en.wikipedia.org.
[11] Variety. (2026). Captain Disillusion YouTube Videos Stream on Nebula. variety.com.
[12] Doctorow, C. (2023). The Internet Con. Verso Books.
[13] eSafety Commissioner. (2026). Social Media Age Restrictions. esafety.gov.au.
[14] Kennedys Law. (2026). Australia’s Social Media Ban for Under 16s. kennedyslaw.com.
[15] Wikipedia. (2026). Online Safety Amendment (Social Media Minimum Age) Act 2024. en.wikipedia.org.
[16] UNICEF Australia. (2026). Social Media Ban in Australia: A Simple Guide. unicef.org.au.
[17] Soares, J. (2025). No Social Media for Minors: European Parliament Calls for EU-Wide 16+ Age Limit. EU Perspectives.
[18] The Next Web. (2026). Europe’s Social Media Age Shift. thenextweb.com.
[19] Kiorri, E. & Yilmaz, M. C. (2026, 22 April). EU Countries Push Under-15 Social Media Ban. Euronews.
[20] AVPA. (2026). State Laws for Social Media. avpassociation.com.
[21] Hunton Andrews Kurth. (2025). Breaking Down Novel Virginia Social Media Law for Minors. hunton.com.
[22] CEPA. (2026). Mapping the Spread of Child Safety Rules. cepa.org.
[23] MultiState. (2025). Eight States Enact Minor Social Media Bans Despite Court Fights. multistate.us.
[24] Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2026). Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. komdigi.go.id.
[25] Detik.com. (2026, 28 Maret). Pemerintah Resmi Kunci Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Mulai Hari Ini. detik.com.
[26] Jakartamu.com. (2026, 29 Maret). Aisyiyah Kritik Platform soal Lemahnya Verifikasi Usia. jakartamu.com.
[27] Aminanto, M. E. & Pitaloka, D. (2026, 17 Maret). Pembatasan Akses Media Sosial untuk Anak Butuh Lebih dari Sekadar Regulasi. GovInsider Asia.
[28] Media Indonesia. (2026, 26 Maret). DPR: PP Tunas Mendesak, Pengawasan Ketat Jadi Penentu. mediaindonesia.com.
[29] PAUDPEDIA / Kemendikdasmen. (2026, Maret). Jelang 28 Maret 2026, Melalui PP TUNAS Negara Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun. paudpedia.kemendikdasmen.go.id.
[30] Harris, T. (2016). How Technology Hijacks People’s Minds. Medium / Thrive Global.
[31] Champion, K. E. et al. (2025). Beyond the Ban. Child and Adolescent Mental Health. doi:10.1111/camh.70032; Brookings Institution. (2025). How Will Bans on Social Media Affect Children? brookings.edu.
[32] Odell, J. (2019). How to Do Nothing: Resisting the Attention Economy. Melville House.

Published by

Bambang N Prastowo

Bambang Nurcahyo Prastowo (BNP) adalah co-founder Masyarakat Informatika Sosial Indonesia (MISI) yang merupakan kelompok masyarakat pemerhati dampak sosial dari kehadiran teknologi informasi dan komunikasi termasuk kecerdasan artifisial. Purna tugas sebagai dosen di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, Universitas Gadjah Mada memberi pengalaman mengajar mata-mata kuliah Sistem Operasi, Basis Data, Jaringan Komputer, Keamanan Sistem dan Blockchain. Selain itu, BNP juga berpengalaman mengembangkan sistem-sistem informasi pemerintahan termasuk jaringan blockchain saat bekerja sebagai tenaga ahli di Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan Direktorat Jenderal Pendidikan TInggi, Kementerian Pendidikan TInggi, Sains dan Teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *