Lautan Entropi Konten Internet

Dulu, bersama mas Budi Rahardjo dan satu lagi berinitia HKU (kalau tidak salah singkatan dari Hendarmaji K Utomo), mengembangkan platform komunikasi sosial dengan nama Negeri Isnet (NI) menggunakan teknologi MUD yang waktu itu banyak dipakai untuk membuat RPG (role playing game). Platform itu kami rancang dengan strukturi ulang dari game oriented menjadi ruang interaksi sosial: ada ruang diskusi, papan pengumuman, arsip percakapan, bahkan perpustakaan kecil untuk menyimpan referensi.

Berbeda dengan sistem game on-line pada umumnya, NI menuntut pengguna untuk join dengan identitas nyata. Waktu itu proses otentikasinya sederhana saja, pengguna baru bisa mendaftar dengan rekomendasi minimal 2 pengguna lama. Cara ini mengikuti model membership mailing-list is-lam@isnet.org (milis ini sempat berganti-ganti domain sampai Isnet punya server dan domain sendiri meskipun waktu itu koneksi internetnya nebeng di kampusnya mas Budi Rahardjo).

Berbeda dengan platform sosmed sekarang yang pada dasarnya bersifat asinkron (bisa menulis pesan kapan saja, baca kapan saja), Pengguna NI harus hadir di slot waktu yang sama untuk bisa berinteraksi dengan pengguna lain. Artinya pengguna berkomunikasi secara langsung dalam waktu nyata.

Waktu itu, NI cukup addictive. Sehingga para pengembangnya bersemangat untuk terus meningkatkan kualitas dan menambah fitur-fitur baru. Bahkan, porting versi bahasa Inggrisnya dengan nama IsnetWorld (IW) juga sangat ramai pengguna. Secara fungsi sosial NI seperti gabungan milis, FaceBook, Discord, Slack dan semacamnya mirip dengan platform modern hanya saja NI berjalan dengan interface murni teks saja, tanpa algoritma personalisasi, tanpa metrik ranking-rangkingan, dan tidak ada motivasi untuk viral. Namun demikian, saya tahu ada sejumlah pengguna yang mendapatkan jodohnya di NI dan IW.

NI bukan hanya proyek teknis. Ia adalah eksperimen sosial yang, tanpa kami sadari saat itu, mewakili sebuah filosofi tentang bagaimana internet seharusnya bekerja. Ketika internet kemudian berkembang ke arah yang berbeda, saya baru menyadari betapa uniknya apa yang pernah kami bangun.

Dari pengalaman dan menyimak sejumlah konten Internet, saya amati ada beberapa fase perkembangan internet: eksplorasi awal, komersialisasi, media sosial, ekstraksi data, dan sekarang AI generatif. Tapi sepertinya fase-fase itu tidak berjalan secara linear. Mereka tidak saling menggantikan secara berurutan, melainkan tumpang tindih dan saling memperkuat atau melemahkan.

Pada fase awal, berbagai eksperimen bermunculan. Aplikasi favorit saya adalah File Transfer Protocol untuk mengais-ngais program bajakan, sempat sebentar menggunakan Gopher dan WAIS untuk pencarian teks, tidak ramah pengguna untuk ukuran sekarang, tetapi cukup untuk komunitas kecil. Saya memperlakukan Internet saat itu lebih sebagai laboratorium daripada pasar.

Cepat sekali internet berubah menjadi ajang bisnis. Platform seperti Amazon dan Yahoo! mulai mengarahkan internet ke transaksi dan iklan. Lalu Google mendisrupsi model ini dengan pencarian yang efisien dan monetisasi yang teorinya memberi solusi win-win-win pada pemasang iklan, pengguna Internet dan penyedia konten. Saya tetap konsisten dengan mindset gratisan: tidak masalah dengan banyak iklan, asal masih bisa membaca/download content bermutu.

Perubahan berikutnya lebih drastis. Platform seperti Facebook dan TikTok mengubah cara orang berinteraksi. Saya melihat pergeseran dari percakapan menjadi pertunjukan/publikasi. Orang tidak bercakap-cakap dengan orang lain, tetapi berbicara untuk dilihat oleh banyak orang. Scroll-scroll tidak henti dan metrik publik (jumlah view, like, share, comment) membuat perhatian menjadi komoditas utama. Yang penting bisa membangun, menjaga dan mengembangkan kerumunan.

Kemudian muncul kesadaran data sebagai new oil. Banyak layanan “gratis” bermunculan sebagai sarana mengumpulkan data dari pengguna. Selain platform yang memang khusus disediakan bagi orang-orang berpublikasi, sharing artikel, foto, bahkan video, muncul layanan on-line gratis; konversi file, pengolahan gambar, hingga CAPTCHA, semuanya berkontribusi pada pengumpulan dan pelabelan data. Internet bukan hanya tempat berinteraksi, tetapi juga mesin menambang data. Bahkan tindakan mencetak dokumen, yang tampak sepele dan lokal, kini menjadi bagian dari mesin pengumpulan data yang lebih besar.

Yang menarik, industri printer yang sempat diprediksi akan mati, sekarang menemukan jalannya untuk berkembang. Hardware bisa dibuat sangat murah. Dengan harga di bawah 1 jt rupiah, kita bisa mendapatkan printer lengkap dengan scanner dan fasilitas remote printing. Dari kantor, saya print dokumen di rumah atau sebaliknya.

Tapi… nah ini ada tapinya, proses itu melibatkan upload data ke server entah di mana tempatnya. Minggu lalu saya ke balai kota Jogja, di sana ada fasilitas untuk printing dokumen lewat jaringan komputer. Memang agak aneh situasinya. Kita banyak mendapatkan dokumen dalam bentuk digital (pdf). Layanan urusan ini itu, banyak yang masih menuntut syarat mengumpulkan dokumen print-out. Kemudian muncul layanan printing on-line.

Sekarang kita masuk ke fase AI generatif. Organisasi seperti OpenAI dan Google menggunakan data yang terkumpul untuk menghasilkan konten baru. Saya melihat ini sebagai proses “reduce, reuse, recycle” dalam bentuk yang lebih kompleks: konten lama dipecah, dipelajari polanya, lalu dirangkai ulang menjadi konten baru. Produksi menjadi jauh lebih cepat, tetapi juga semakin seragam.

Ketika semua fase ini berjalan bersamaan, hasilnya adalah apa yang saya sebut sebagai lautan entropi konten. Jumlah konten terus meningkat, tetapi keteraturan dan maknanya menurun. Saya melihat semakin sulit menemukan percakapan yang benar-benar bernilai di tengah arus informasi yang tidak berhenti.

Belakangan teringat lagi tentang Negeri Isnet yang saya ceritakan di atas. Saya melihat ada beberapa hal yang berbeda dari internet saat ini. Komunitas NI kecil (dalam hitungan puluhan/ratusan pengguna aktif), identitasnya jelas, interaksinya langsung, dan tidak ada metrik publik. Konten tidak bersaing secara global, tetapi hidup dalam konteks komunitas tersimpan di “perpustakaan NI”.

Apa mungkin dihidupkan kembali model komunikasi Internet berbasis kehadiran di waktu nyata secara komprehensif seperti NI waktu itu (mestinya ya disesuaikan dengan teknologi modern)? Saat ini memang sudah ada komunikasi video conference seperti Zoom, Google Meet, dan semacamnya. Tapi pemanfaatannya sepertinya formal saja sebagai pengganti rapat/konferensi trandisional.

Saya tidak berpikir membangun kembali NI sebagai solusi masalah lautan entropi konten. Sistem seperti itu hampir pasti tidak bisa berkembang dalam skala besar. Ia tidak cocok dengan model bisnis berbasis iklan atau data. Ia juga menuntut komitmen yang lebih tinggi dari pengguna. Tapi mungkin ada peluang untuk bisa menjaga kualitas interaksi.

Internet junk bukan sekadar masalah perilaku pengguna, tetapi konsekuensi dari sistem yang memang dirancang untuk memaksimalkan perhatian, data, dan produksi konten. Selama mekanisme itu tidak berubah, lautan entropi akan terus meluas.

Yang mungkin bisa dilakukan bukan mengubah seluruh internet, tetapi menciptakan ruang-ruang kecil yang secara sengaja menolak logika tersebut. Ruang-ruang ini mungkin tidak perlu menjadi arus utama. Namun setidaknya, di dalamnya, percakapan masih bisa terjadi sebagai percakapan, bukan sebagai konten yang berebut perhatian orang sebanyak mungkin.

Pertanyaannya bukan lagi bagaimana membangun kembali NI, melainkan: apakah kita masih punya keinginan untuk benar-benar hadir dalam sebuah percakapan, bukan hanya meninggalkan jejak digital di dalamnya?

Published by

Bambang N Prastowo

Bambang Nurcahyo Prastowo (BNP) adalah co-founder Masyarakat Informatika Sosial Indonesia (MISI) yang merupakan kelompok masyarakat pemerhati dampak sosial dari kehadiran teknologi informasi dan komunikasi termasuk kecerdasan artifisial. Purna tugas sebagai dosen di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, Universitas Gadjah Mada memberi pengalaman mengajar mata-mata kuliah Sistem Operasi, Basis Data, Jaringan Komputer, Keamanan Sistem dan Blockchain. Selain itu, BNP juga berpengalaman mengembangkan sistem-sistem informasi pemerintahan termasuk jaringan blockchain saat bekerja sebagai tenaga ahli di Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan Direktorat Jenderal Pendidikan TInggi, Kementerian Pendidikan TInggi, Sains dan Teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *