Membaca AI melalui Umberto Eco (II)

– Arief Prihantoro –

Makna Tidak Pernah Tinggal di Dalam Tanda

Dari Definisi Menuju Dunia Interpretasi

Serial pertama berakhir pada sebuah kesimpulan yang sekaligus membuka arah pembahasan berikutnya. Perkembangan AI generatif memperlihatkan bahwa persoalan mendasar yang kini dihadapi bukan lagi sekadar bagaimana mesin melakukan komputasi, melainkan bagaimana hasil komputasi tersebut memasuki ruang komunikasi manusia sebagai sesuatu yang dapat dibaca, dipahami, diperdebatkan, bahkan diinterpretasikan. Pergeseran ini membawa diskusi mengenai kecerdasan buatan keluar dari batas-batas tradisional ilmu komputer dan memasukkannya ke dalam wilayah yang sejak lama menjadi perhatian ilmu komunikasi, linguistik, filsafat bahasa, dan semiotika.

Tulisan sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut:

Continue reading Membaca AI melalui Umberto Eco (II)

Membaca AI melalui Umberto Eco (I)

– Arief Prihantoro –

Ketika Kecerdasan Tiruan Memaksa Kita Membaca Ulang Hakikat Komunikasi

Dalam dua tulisan sebelumnya di socioinformatics.id, saya berusaha menunjukkan bahwa perkembangan kecerdasan tiruan modern tidak lagi memadai dipahami hanya sebagai keberhasilan matematika, statistika, atau ilmu komputer. Pada tulisan “Semiotika sebagai Teori Kognitif Tersembunyi di Balik Kemajuan AI”

argumentasinya bahwa AI modern sesungguhnya memperlihatkan karakteristik yang jauh lebih dekat dengan proses semiosis daripada sekadar manipulasi simbol sebagaimana dibayangkan dalam paradigma komputasi klasik. Argumentasi tersebut kemudian saya lanjutkan dalam tulisan “Semantik Artificial Intelligence: Kemunculan Makna dari Komputasi Statistik dalam Kecerdasan Buatan Modern”

yang berupaya menjelaskan bagaimana makna dapat muncul dari mekanisme komputasi statistik yang menjadi fondasi Large Language Models. Kedua tulisan tersebut merupakan langkah awal untuk memperlihatkan bahwa AI tidak lagi cukup dipahami sebagai persoalan algoritma, melainkan juga sebagai persoalan tanda, makna, dan interpretasi.

Akan tetapi, kedua tulisan tersebut sengaja berakhir pada satu pertanyaan yang belum dibahas secara mendalam. Jika semiotika memang menyediakan perspektif yang relevan untuk membaca perkembangan AI generatif, lalu tradisi semiotika manakah yang paling mampu menjelaskan fenomena tersebut secara sistematis?

Continue reading Membaca AI melalui Umberto Eco (I)

SAINS, IDEOLOGI, DAN FANATISME EPISTEMIK: PELAJARAN DARI SEJARAH UNI SOVIET

– Arief Prihantoro –

Ketika Sains Disamakan dengan Ideologi

Salah satu ironi terbesar dalam komunikasi publik adalah bahwa semakin banyak informasi tersedia, semakin mudah pula manusia membangun keyakinan yang keliru. Penyebabnya bukan semata-mata karena informasi yang beredar tidak benar, melainkan karena fakta-fakta yang benar sering kali disusun ke dalam hubungan logis yang terlalu sederhana. Akibatnya, representasi yang terbentuk tampak masuk akal, padahal telah kehilangan sebagian konteks yang justru menentukan makna keseluruhan peristiwa. Dalam banyak kasus, misinformasi tidak lahir karena ketiadaan evidence, melainkan karena cara evidence tersebut dihubungkan menjadi suatu kesimpulan. Persoalan utama bukan terletak pada data historis yang digunakan, melainkan pada kualitas inferensi yang menghubungkan data-data tersebut menjadi suatu representasi.

Fenomena semacam ini semakin mudah dijumpai pada era komunikasi digital. Arus informasi yang sangat cepat mendorong berbagai persoalan yang kompleks untuk disederhanakan menjadi narasi yang ringkas, mudah dipahami, dan mudah dibagikan. Penyederhanaan semacam itu pada dasarnya merupakan konsekuensi yang hampir tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi. Tidak mungkin seluruh kompleksitas suatu peristiwa sejarah dipindahkan secara utuh ke dalam sebuah artikel, unggahan media sosial, ataupun percakapan sehari-hari. Persoalan mulai muncul ketika yang mengalami penyederhanaan bukan lagi cara penyampaiannya, melainkan struktur penalarannya. Hubungan antarperistiwa yang semula kaya nuansa dipersempit menjadi hubungan sebab-akibat yang linear, sementara konsep-konsep yang sesungguhnya memiliki ruang lingkup berbeda diperlakukan seolah-olah identik. Pada titik inilah sejarah perlahan kehilangan kompleksitasnya dan berubah menjadi narasi yang lebih mencerminkan preferensi pembacanya daripada keseluruhan fakta yang tersedia.

Continue reading SAINS, IDEOLOGI, DAN FANATISME EPISTEMIK: PELAJARAN DARI SEJARAH UNI SOVIET

Apa Sebenarnya Yang Berubah Selama Proses Komunikasi Berlangsung?

– Arief Prihantoro –

Tulisan melanjutkan tulisan sebelumnya

Setiap hari manusia berkomunikasi. Kita membaca berita, berdiskusi, mengikuti media sosial, mendengarkan pidato, atau sekadar berbincang dengan orang lain. Aktivitas tersebut tampak begitu biasa sehingga jarang dipertanyakan. Namun di balik kesederhanaannya, komunikasi menyimpan sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat mendasar.

Bayangkan dua orang membaca berita yang sama pada pagi hari. Pada sore harinya mereka berdiskusi. Setelah diskusi selesai, keduanya tidak lagi memahami berita tersebut dengan cara yang sama seperti sebelum percakapan dimulai. Masing-masing membawa perspektif baru, menerima sebagian argumen, menolak sebagian lainnya, serta membangun interpretasi yang berbeda. Bahkan apabila berita yang sama dibaca kembali keesokan harinya, keduanya sering kali menghasilkan pemahaman yang telah berubah.

Fenomena serupa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat mempertahankan suatu pendapat dengan penuh keyakinan pada awal diskusi, kemudian mengubah kesimpulannya setelah berdialog panjang atau membaca beberapa referensi tambahan. Yang menarik, perubahan tersebut tidak selalu terjadi karena muncul fakta baru. Sering kali perubahan justru lahir karena informasi yang telah dimiliki sebelumnya memperoleh makna baru ketika ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Dengan kata lain, komunikasi tidak hanya menambah informasi, tetapi juga mengubah cara seseorang menginterpretasikan informasi yang telah dimilikinya.

Continue reading Apa Sebenarnya Yang Berubah Selama Proses Komunikasi Berlangsung?

Mengapa Kekacauan Komunikasi Publik Tidak Pernah Benar-Benar Acak?

– Arief Prihantoro –

Memahami Arsitektur Sistem Komunikasi Publik melalui Analogi Dinamika Partikel dalam Perspektif Fisika Statistik

Pada tulisan sebelumnya saya mengajukan sebuah analogi bahwa komunikasi publik di era digital memiliki karakteristik yang menyerupai gerak Brown (Brownian Motion). Sebagaimana sebuah partikel kecil di dalam fluida bergerak secara acak akibat dihantam oleh jutaan molekul yang tidak tampak, demikian pula opini publik bergerak melalui jutaan interaksi mikro berupa percakapan, komentar, unggahan media sosial, meme, video pendek, hingga potongan informasi yang saling bertabrakan setiap detik.

Dari kejauhan, lintasan partikel tampak acak. Demikian pula lanskap komunikasi digital tampak penuh kekacauan.

Namun semakin lama analogi tersebut saya renungkan, semakin muncul pertanyaan yang justru lebih mendasar.

Apakah komunikasi publik benar-benar bergerak secara acak?

Ataukah “keacakan” yang kita lihat hanyalah fenomena permukaan dari suatu keteraturan statistik yang lebih dalam?

Pertanyaan inilah yang membawa kita melangkah lebih jauh, dari gerak Brown menuju teori sistem stokastik, bahkan hingga teori collision dalam mekanika kuantum yang dikembangkan Paul A. M. Dirac.

Continue reading Mengapa Kekacauan Komunikasi Publik Tidak Pernah Benar-Benar Acak?

Ketika Industri AI Mulai Menemukan Semiotika

– Arief Prihantoro –

AI Kini Membawa Kita Kembali kepada Pertanyaan Tertua: Apakah Bahasa Sekadar Mengekspresikan Logika?

Dalam sebuah percakapan di Grup WA Masyarakat Informatika Sosial Indonesia, muncul pernyataan dari saudara Wawan Setiawan:

“Language adalah express the logic and mathematic behind it.”

Kalimat itu muncul dalam sebuah diskusi yang awalnya membahas sejarah bahasa pemrograman, evolusi komputasi, hingga perkembangan Large Language Model (LLM). Sekilas, saya menganggapnya sebagai pernyataan yang lazim dalam tradisi ilmu komputer. Selama puluhan tahun, kita memang memahami bahwa bahasa pemrograman hanyalah media untuk menuliskan algoritma, sementara algoritma dibangun di atas logika dan matematika.

Namun semakin lama saya memikirkannya, saya menyadari bahwa kalimat tersebut sesungguhnya bukan sekadar pernyataan teknis tentang pemrograman.

Ia adalah sebuah klaim filosofis.

Sebab ketika seseorang mengatakan bahwa “bahasa mengekspresikan logika dan matematika,” ia sebenarnya sedang menyatakan sesuatu mengenai hubungan ontologis antara bahasa, logika, dan matematika.

Dan di sinilah diskusi menjadi jauh lebih menarik.

Continue reading Ketika Industri AI Mulai Menemukan Semiotika

Kalkulasi Nilai Pilihan Pemilu

Tulisan ini lebih ditujukan ke para anggota Masyarakat Informatika Sosial Indonesia namun isinya barangkali bisa dipikirkan juga oleh siapa saja yang punya perhatian pada kasus-kasus korupsi di Indonesia

Friends, topik korupsi sepertinya akan terus mengisi group-group chat di Indonesia. Kita perlu rem sejenak kegiatan forward berita-berita dan ulasan korupsi ke group chat ini apa lagi yang disertai dengan bahasa kasar: “Hindari kecelakaan dengan rem, bukan klakson.” Sudah waktunya kita coba susun pemikiran apa yang bisa dilakukan MISI untuk mengurai permasalahan korupsi.

Sebagai pengantar, saya pikir hampir semua kasus korupsi besar di Indonesia (yang nilainya mencapai orde triliun rupiah) tidak terjadi melalui pencurian sederhana. Ia bekerja melalui mekanisme yang jauh lebih canggih: manipulasi sistem pemerintahan melalui rekayasa peraturan perundang-undangan. Mas @Arief Prihantoro sering menyebutnya dengan “state-sponsored corruption” atau state captured corruption kata KPK. Oligarki mensponsori lahirnya regulasi yang menguntungkan mereka, dan karena partai politik yang mengendalikan akses ke jabatan publik juga dikendalikan oleh kelompok yang sama, lingkaran ini menutup diri dengan rapi.

Continue reading Kalkulasi Nilai Pilihan Pemilu

MBG, Insentif Rp6 Juta per Hari, dan Pertanyaan tentang Keadilan Pajak

– Arief Prihantoro –

Program Sosial Bertemu Insentif Bernilai Puluhan Triliun Rupiah

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal dipromosikan sebagai program sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Namun sejak terbitnya Keputusan Kepala BGN Nomor 401.1 Tahun 2025, muncul sebuah komponen yang memicu perdebatan fiskal: insentif fasilitas SPPG sebesar Rp6 juta per hari.

Menurut ketentuan tersebut, insentif diberikan kepada yayasan atau mitra penyedia fasilitas SPPG berdasarkan prinsip availability-based payment, yaitu pembayaran atas kesiapan dan ketersediaan fasilitas, bukan berdasarkan jumlah porsi makanan yang disalurkan.

BGN pada masa kepemimpinan Dadan Hindayana secara terbuka menjelaskan bahwa Rp6 juta per hari bukan dana pembangunan, melainkan pembayaran layanan kepada mitra yang telah membangun dan menyediakan fasilitas secara mandiri. Risiko investasi, operasional, hingga kerusakan fasilitas ditanggung oleh mitra.

Justru penjelasan resmi tersebut menimbulkan pertanyaan yang lebih mendasar:

Jika ini adalah pembayaran layanan, mengapa diperlakukan sebagai hibah non-pajak?

Continue reading MBG, Insentif Rp6 Juta per Hari, dan Pertanyaan tentang Keadilan Pajak

Roadshow Kampus, Perang Narasi, dan Perebutan Ruang Kognitif

– Arief Prihantoro –

Membaca Strategi Komunikasi Politik Pemerintahan Prabowo di Era Cognitive Warfare

Dalam politik modern, kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui instrumen hukum, aparatus birokrasi, atau kekuatan sumber daya ekonomi, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengendalikan institusi negara, Kekuasaan juga ditentukan melalui kemampuan membentuk cara masyarakat memahami realitas. Karena itu, pertarungan politik kontemporer tidak lagi berlangsung semata-mata di parlemen, ruang rapat kabinet, atau arena pemilu, melainkan juga di dalam pikiran manusia.

Di era digital, siapa yang berhasil mendefinisikan realitas sering kali lebih berpengaruh daripada siapa yang sekadar menguasai fakta. Hal ini merupakan salah satu kajian dalam Sosioinformatika.

Karena itulah politik abad ke-21 semakin bergerak dari arena perebutan kekuasaan menuju arena perebutan makna.

Dalam konteks Indonesia, fenomena tersebut terlihat jelas dalam berbagai upaya komunikasi publik yang dilakukan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Continue reading Roadshow Kampus, Perang Narasi, dan Perebutan Ruang Kognitif

Narasi Popularitas Tokoh Masyarakat Berintegritas Tinggi

Ada dua pengamatan yang sering muncul ketika kita membicarakan tokoh publik Indonesia, tapi jarang dipertemukan dalam satu percakapan. Pertama, tokoh yang semula kritis terhadap pemerintah cenderung ikut berperilaku korup ketika mereka sendiri masuk ke lingkaran kekuasaan. Kedua, tokoh yang konsisten bersih dan kritis justru jarang mendapat sorotan, sehingga terkesan jumlahnya sedikit. Jika keduanya benar sekaligus, kita berhadapan dengan sesuatu yang cukup serius: gambaran publik tentang integritas di Indonesia bukan cerminan kenyataan yang sesungguhnya, melainkan hasil dari cara narasi diproduksi dan disebarkan.

Continue reading Narasi Popularitas Tokoh Masyarakat Berintegritas Tinggi