Arief Prihantoro

Pada musim panas 1991, di pinggiran Medellín-Kolombia yang gersang, seorang pria berjanggut tebal dengan pengaturan hitam sederhana berjongkok di depan sebuah lubang galian. Tangannya memegang tumpukan uang kertas yang sudah usang. Ia mengangkat tangan kiri yang berisi uang tunai, lalu tanpa aba-aba melemparkan tas plastik hitam penuh uang tunai ke dalam lembah kering di hadapannya. Pria itu adalah Roberto Escobar, akuntan dan kakak kandung Pablo Escobar, raja kartel Medellín yang waktu itu menguasai sekitar 80% pasokan kokain ke Amerika Serikat dengan kekayaan ditaksir mencapai $3 miliar . Adegan ini, seperti yang diceritakan Roberto sendiri dalam wawancara panjang dengan The New Yorker , menggambarkan betapa berlimpahnya uang kartel sampai-sampai harus disimpan secara primitif: ditanam di ladang atau dititipkan ke petani agar aman. Gambaran ini gerbang pemahaman kita akan “uang tanpa bentuk” dalam ekonomi kriminal Kartel Medellín, sekaligus simbol betapa negaranya memancarkan kekuatan bayangan yang diciptakan oleh narkotrafik.
Continue reading Roberto Escobar, Sang Dark Accountant







