💫
China sedang lelah.
Pabrik-pabriknya mulai sepi, generasi mudanya menyerah, dan para investornya menoleh ke selatan. Fenomena yang kini dikenal sebagai *involution* — kompetisi tanpa arah di dalam negeri — membuat mesin ekonomi terbesar Asia itu tersendat.
Di tengah kelelahan sang raksasa, Indonesia berdiri di persimpangan sejarah: menjadi “pabrik dunia” berikutnya, atau hanya menjadi buruhnya?
📌
*1. Ketika Kompetisi Menjadi Perang Dingin di Dalam Negeri*
Istilah *involution* (内卷, *neijuan*) awalnya digunakan antropolog Clifford Geertz untuk menggambarkan masyarakat agraris yang terus bekerja keras tanpa menghasilkan peningkatan produktivitas (Geertz, 1963). Kini istilah itu kembali populer di Tiongkok — bukan di sawah, melainkan di ruang kerja digital dan kampus elit.
Bagi generasi muda China, *neijuan* berarti hidup dalam spiral kompetisi yang tak berujung: jam kerja ekstrem (*996 culture* — 9 pagi–9 malam, 6 hari seminggu), tekanan akademik tinggi, dan upah yang stagnan (Fang & An, 2022). Mereka menyebutnya “perang tanpa pemenang.”
Secara makro, ekonomi China mulai kehilangan momentum. Pertumbuhan melambat di bawah 5%, pengangguran muda menembus 21% pada 2023, dan sektor properti mengalami kontraksi besar (Naughton, 2023).
> “China tidak kekurangan tenaga kerja, tapi kekurangan energi sosial baru,” tulis ekonom Yu Yongding dalam *China Daily* (2022). “Kita bekerja lebih keras dari sebelumnya, namun tumbuh lebih lambat dari siapa pun.”
Inilah bentuk involusi ekonomi: energi sosial yang besar, tapi tak menghasilkan inovasi atau kesejahteraan baru.
.
🇨🇳🌎
*2. Gelombang “China + 1”: Pabrik Dunia Mulai Berpindah*
Involusi sosial di China beriring dengan tekanan eksternal: ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat, kenaikan upah buruh, dan pengetatan regulasi. Akibatnya, banyak perusahaan multinasional kini menjalankan strategi *China + 1* — mempertahankan basis di China, tapi menambah pabrik di negara lain (UNCTAD, 2023).
Asia Tenggara menjadi sasaran utama. Vietnam, Thailand, dan Indonesia mulai berlomba menjadi rumah baru bagi industri manufaktur global.
Beberapa sinyalnya sudah terlihat:
▪️ *Relokasi industri elektronik* seperti perakitan smartphone dan komponen semikonduktor ke Batam dan Bekasi (BKPM, 2024).
▪️ *Masuknya investasi kendaraan listrik (EV)* dari Korea Selatan dan China ke Sulawesi dan Jawa Barat.
▪️ *Lonjakan FDI** di sektor smelter dan logistik pasca-pandemi (ASEAN Secretariat, 2023).
Namun, gelombang ini bukan jaminan kemajuan. Tanpa strategi hilirisasi yang matang, Indonesia hanya akan menjadi perpanjangan tangan dari industri global — bukan pemegang kendali nilai tambah.
.
🚩
*3. Peluang Emas di Tengah Krisis Produktivitas China*
a. _*Relokasi Industri Manufaktur*_
Ketika biaya tenaga kerja di China meningkat tiga kali lipat sejak 2010 (ILO, 2022), perusahaan global mencari lokasi baru yang lebih efisien. Indonesia menawarkan dua keunggulan: tenaga kerja muda dan pasar domestik 270 juta jiwa.
Kawasan industri seperti Batang, Subang, dan Kendal dirancang untuk menarik sektor otomotif, elektronik, dan tekstil.
b. _*Ekonomi Hijau dan Transisi Energi*_
Fokus baru China pada *decarbonization* membuka ruang bagi negara lain untuk mengambil alih sektor energi bersih. Indonesia punya cadangan nikel terbesar di dunia — bahan kunci baterai EV — dan berpotensi menjadi pemain utama rantai pasok kendaraan listrik global (IEA, 2023).
c. _*Digital Manufacturing dan Logistik*_
Posisi geografis Indonesia di jantung Indo-Pasifik sangat strategis. Bila infrastruktur logistik dan konektivitas digital diperkuat, Indonesia bisa menjadi *production and distribution hub* antara Asia Selatan, Timur Tengah, dan Oseania.
.
👿
*4. Ancaman Sunyi di Tengah Gelombang Investasi*
Namun, setiap peluang membawa risiko.
a. _*Dumping Produk Murah*_
Ketika daya beli domestik China melemah, industri mereka cenderung menyalurkan kelebihan produksi ke pasar luar negeri dengan harga rendah (*dumping*). Indonesia sudah merasakannya di sektor baja, tekstil, dan keramik (Kementerian Perdagangan RI, 2024).
b. _*Deindustrialisasi Dini*_
Jika relokasi industri berhenti pada tahap perakitan, bukan riset dan desain, Indonesia tetap berada di posisi bawah rantai nilai global. Pengalaman dua dekade terakhir menunjukkan banyak kawasan industri kita padat investasi, tapi tidak padat inovasi (Basri, 2022).
c. _*Persaingan ASEAN*_
Vietnam unggul dengan sistem insentif investasi yang lebih cepat dan birokrasi yang ramping. Indonesia masih harus berjuang menurunkan *logistics cost* (saat ini 23% dari PDB) dan memperbaiki konsistensi kebijakan (World Bank, 2023).
d. _*Risiko Sosial dan Ketenagakerjaan*_
Relokasi industri berisiko memperluas lapangan kerja berupah rendah jika tidak diimbangi peningkatan keahlian. Kita bisa menggantikan posisi China, tapi di tingkat pekerja — bukan inovator.
.
🇮🇩
*5. Strategi Indonesia: Dari Penerima ke Pemain*
Untuk mengubah peluang menjadi kekuatan struktural, Indonesia perlu menata ulang arah industrinya.
a. _*Naikkan Kualitas SDM Industri*_
Pendidikan vokasi dan *reskilling* tenaga kerja harus diprioritaskan. Vietnam menunjukkan bahwa reformasi pendidikan teknis dapat langsung meningkatkan daya saing investasi.
b. _*Bangun Ekosistem Teknologi Lokal*_
Kebijakan R&D nasional perlu diarahkan ke bidang industri strategis: baterai, bioteknologi, chip, dan *green materials*. Kolaborasi antara universitas, BUMN, dan sektor swasta penting agar tidak sekadar menjadi “tempat rakit” produk asing.
c. _*Perkuat Infrastruktur dan Logistik*_
Konektivitas antarwilayah — pelabuhan, kereta logistik, dan energi — akan menentukan kemampuan Indonesia menjadi pemain utama rantai pasok Indo-Pasifik.
d. _*Gunakan Diplomasi Ekonomi Cerdas*_
Indonesia perlu menjadi jembatan antara Amerika Serikat, China, India, dan Timur Tengah dalam rantai pasok global. Aliansi strategis dengan ASEAN dan BRICS bisa memperkuat posisi tawar kita.
e. _*Kebijakan Industri Berdaulat*_
Indonesia butuh *industrial policy* yang berani seperti Jepang dan Korea Selatan pada masa take-off:
▪️melindungi industri muda,
▪️menuntut ekspor bernilai tinggi, dan
▪️mengarahkan inovasi dalam negeri.
.
✍️
*6. Refleksi: Belajar dari Kelelahan China*
Fenomena involusi China mengingatkan bahwa pertumbuhan tanpa kesejahteraan adalah stagnasi yang disamarkan.
China membuktikan efisiensi bisa menciptakan kejayaan, tetapi tanpa inovasi sosial dan ruang bagi generasi muda, efisiensi itu berubah menjadi tekanan.
> “Kita menyebutnya kemajuan, padahal kita hanya berputar semakin cepat di tempat yang sama,” tulis sosiolog Tiongkok Li Peilin (2021).
Indonesia harus belajar: jangan sampai semangat membangun industri hanya menghasilkan pekerja lelah dan pertumbuhan tanpa makna.
.
✍️
*7. Momentum yang Tak Akan Datang Dua Kali*
Dalam dekade ini, dunia sedang menata ulang rantai pasoknya. Involusi China adalah alarm yang memberi ruang bagi negara berkembang untuk melompat.
Namun jendela sejarah ini hanya terbuka sebentar.
> “Peluang emas sering datang dengan wajah yang letih,” kata Joseph Schumpeter. “Yang melihat pola di balik krisis akan menciptakan gelombang baru.”
China sedang letih. Dunia sedang berubah.
Dan Indonesia—kalau berani menata struktur industrinya — bisa menulis babak baru sejarah ekonomi Asia.
Tapi kalau tidak, kita hanya akan menjadi buruh di pabrik orang lain yang kebetulan pindah ke sini.
.
📚
*Daftar Pustaka*
ASEAN Secretariat. (2023). *ASEAN Investment Report 2023: Investment Resilience amid Global Uncertainty.* Jakarta: ASEAN Secretariat.
Basri, M. C. (2022). *The Indonesian Economy in Transition: Policy Challenges in the Digital Era.* ISEAS Publishing.
BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). (2024). *Laporan Realisasi Investasi Kuartal I Tahun 2024.* Jakarta: BKPM.
Fang, K., & An, Y. (2022). “The Rise of Involution: Social Competition and Youth Disillusionment in China.” *Journal of Contemporary China, 31*(134), 876–891.
Geertz, C. (1963). *Agricultural Involution: The Processes of Ecological Change in Indonesia.* University of California Press.
IEA (International Energy Agency). (2023). *Global EV Outlook 2023: Catching up with Climate Ambitions.* Paris: IEA.
ILO (International Labour Organization). (2022). *Wages and Productivity in East Asia: Trends and Challenges.* Geneva: ILO.
Kementerian Perdagangan RI. (2024). *Laporan Anti-Dumping dan Safeguard Indonesia 2024.* Jakarta: Kementerian Perdagangan.
Li, P. (2021). *The Involution Society: A Study of Chinese Middle-Class Fatigue.* Beijing: Social Sciences Academic Press.
Naughton, B. (2023). *China’s Economic Slowdown and the Politics of Reform.* *Asian Economic Policy Review, 18*(2), 145–164.
UNCTAD. (2023). *World Investment Report 2023: Investing in Sustainable Energy for All.* Geneva: United Nations.
World Bank. (2023). *Indonesia Economic Prospects: Boosting Investment and Productivity.* Washington DC: The World Bank.
Yu, Y. (2022, November 5). “China Needs a New Growth Model for the Post-Industrial Era.” *China Daily.*
.
🚧
soerabaja, 12-11-2025
