– Arief Prihantoro –

Dalam salah satu sesi saat penulis mengisi acara webinar tentang Kecerdasan Buatan, ada salah satu peserta yang bertanya:
“Mesin tidak dipengaruhi oleh produksi asetilkolin, dopamin, atau epinefrin. Jadi prosesnya tanpa hambatan dalam belajar seperti manusia. Kalau dianalogikan, asetilkolin, Dopamin, atau epinefrin ini bagi sistem cerdas atau sistem sibernetika analoginya dengan apa ya? Atau kalau dalam Generatif ataupun Agentic AI dan robotika bisa diibaratkan dengan apa?”
Teknologi kecerdasan buatan tumbuh pesat dalam waktu 10 tahun belakangan. Dengan tumbuhnya teknologi kecerdasan buatan berkembang pula terminologi-terminologi baru secara teknis, yang seringkali membuat pening kepala bagi mereka yang baru mulai mempelajarinya, seperti para mahasiswa misalnya. Termasuk saat penulis memberikan materi kuliah kepada mahasiswa IT di Universitas Mercu Buana sebagai Praktisi Mengajar kemarin.
Untuk membuat mereka mudah memahaminya, penulis mencoba menggunakan analogi dari aktivitas manusia sehari-hari untuk menghindari istilah-istilah yang sangat teknis dan relatif banyak yang baru dikenal oleh mereka sehingga membuat pening kepala mereka.
Pernahkah Anda membayangkan bahwa di dalam kepala kita, ada sebuah orkestra raksasa yang sedang bermain tanpa henti? Para pemain musiknya adalah miliaran sel saraf, dan “musik” yang mereka hasilkan adalah pikiran, perasaan, dan gerakan kita. Namun, sebuah orkestra tidak bisa bermain dengan harmonis hanya dengan duduk dan memegang alat musik. Mereka membutuhkan konduktor atau dirigen yang mengatur tempo: kapan harus bermain keras, kapan harus lembut, kapan harus cepat, dan kapan harus berhenti mendadak. Tulisan ini juga mencoba menjelaskan pertanyaan dalam webinar dengan pendekatan pemaparan secara analogis, sehingga mudah-mudahan lebih mudah untuk dipahami.
Dalam dunia kecerdasan buatan (AI) dan robotika masa kini, para ilmuwan menyadari bahwa sekadar menyambungkan rangkaian elektronik berupa chip (sehingga bisa berperilaku seperti sel saraf biologis) tidaklah cukup. Agar sebuah robot benar-benar cerdas, ia membutuhkan “dirijen” yang mirip dengan yang ada di dalam otak manusia. Dirijen ini bukanlah makhluk kecil di dalam kepala, melainkan zat-zat kimia khusus yang kita sebut neuromodulator.
Mari kita telusuri kisah tiga “zat ajaib” utama—Asetilkolin, Dopamin, dan Epinefrin—dan bagaimana prinsip-prinsip kuno tentang “pengemudi kapal” (Sibernetika) yang diperkenalkan oleh Norbert Wiener era tahun 40an dapat membantu kita menciptakan mesin yang bisa “merasa” seperti manusia.
Asetilkolin – Sang Pengatur Lampu Sorot
Bayangkan Anda sedang berada di sebuah pesta yang sangat ramai. Musik berdentum keras, gelas-gelas berdenting, dan ratusan orang berbicara sekaligus. Suasananya kacau balau. Namun, tiba-tiba Anda melihat seorang teman lama di ujung ruangan. Ajaibnya, telinga Anda seolah-olah bisa “mematikan” suara ratusan orang lain dan hanya fokus pada suara teman Anda itu. Suara bising pesta berubah menjadi sekadar dengungan latar belakang yang samar.
Inilah yang dilakukan oleh zat kimia bernama Asetilkolin di otak Anda. Ia bekerja seperti operator lampu sorot di panggung teater.
Lampu Sorot di Tengah Kegelapan
Tanpa Asetilkolin, otak kita akan seperti radio yang menangkap semua stasiun sekaligus—hanya suara gemerisik yang bising dan memekakkan telinga. Asetilkolin bertugas menyaring kebisingan (noise) itu dan memperkuat sinyal yang penting.
Dalam dunia AI, para insinyur meniru kemampuan ini dengan mekanisme yang disebut “Atensi” (Attention). Mekanisme ‘Attention’ ini banyak digunakan saat pelatihan model. Bayangkan sebuah robot yang masuk ke kamar tidur yang berantakan. Di lantai ada baju kotor, mainan, buku, dan debu. Jika robot itu memproses semuanya dengan prioritas yang sama, ia akan kebingungan
“Apakah debu ini sama pentingnya dengan buku?”
“Apakah lap pel ini sama bergunanya dengan baju?”
dsb
Dengan meniru cara kerja Asetilkolin, robot diajarkan untuk memberikan “lampu sorot” hanya pada benda yang relevan. Jika tugasnya adalah “membereskan buku”, maka sistem AI-nya akan membuat buku dan baju terlihat “terang benderang” di mata digitalnya, sementara debu dan lap pel menjadi gelap dan diabaikan.
Mengemudi dalam Kabut
Asetilkolin juga punya tugas kedua yang sangat penting: mengatur seberapa cepat kita harus belajar hal baru. Mari kita gunakan analogi mengemudi mobil.
Bayangkan Anda sedang mengemudi di jalan tol yang lurus, sepi, dan cuacanya cerah. Anda berani menginjak gas dalam-dalam, bukan? Anda bisa melaju cepat karena Anda yakin dengan apa yang Anda lihat. Tapi, bayangkan tiba-tiba kabut tebal turun dan Anda memasuki jalan pegunungan yang berliku. Apa yang Anda lakukan? Anda pasti mengangkat kaki dari pedal gas dan melaju perlahan-lahan.
Otak kita melakukan hal yang sama.
- Saat Asetilkolin tinggi (Gas Penuh): Ini terjadi saat kita menghadapi situasi baru yang mengejutkan. Otak berkata, “Hei, ini penting! Perhatikan baik-baik! Belajarlah dengan cepat!”.
- Saat Asetilkolin rendah (Rem): Ini terjadi saat kita melakukan hal rutin yang sudah kita kuasai, seperti menyikat gigi. Kita tidak perlu “belajar” lagi cara memegang sikat gigi, jadi otak santai saja.
Di dunia robotika, ini disebut “Learning Rate” (Laju Pembelajaran). Robot yang pintar (terlatih) harus tahu kapan harus “ngebut” belajar (saat pertama kali melihat objek baru) dan kapan harus “pelan-pelan” (saat hanya menyempurnakan pengetahuannya). Jika robot terus-menerus “ngebut” belajar, ia akan seperti pengemudi yang tidak mau mengerem di tikungan tajam—ia akan tergelincir dan melupakan apa yang sudah dipelajari sebelumnya. Dan ujung akhir dari proses berlatihnya (training) akan menghasilkan banyak kesalahan.
Dopamin – Guru yang Suka Memberi Kejutan
Banyak orang mengira Dopamin adalah “zat kebahagiaan”. Bahwa kita merasa senang karena dopamin keluar. Ternyata, para ilmuwan menemukan bahwa itu kurang tepat. Dopamin sebenarnya lebih mirip seorang guru yang sangat teliti yang terobsesi dengan kejutan atau ekspektasi.
Kisah Anjing dan Lonceng
Mari kita kembali ke masa lalu, ke eksperimen terkenal Ivan Pavlov dengan anjingnya, tapi dengan sedikit modifikasi cerita.
Bayangkan Anda punya anjing. Setiap kali Anda membunyikan lonceng, Anda memberinya daging lezat.
- Hari pertama: Anda bunyikan lonceng. Anjing bingung. Lalu daging datang. Boom! Anjing itu terkejut dan senang. Otaknya membanjiri sistemnya dengan Dopamin. Pesannya: “Wow! Ada hal tak terduga yang enak!”
- Hari kesepuluh: Anda bunyikan lonceng. Anjing itu sudah tahu daging akan datang. Ia senang memakan dagingnya, tapi anehnya, tidak ada lonjakan Dopamin saat daging itu datang. Mengapa? Karena tidak ada kejutan. Daging itu sudah sesuai prediksi.
Hari sial: Anda bunyikan lonceng. Anjing menunggu. Tapi daging tidak datang. Saat itulah, kadar Dopamin anjing itu anjlok drastis di bawah normal. Ini adalah rasa kecewa.
Robot AI yang Belajar dari Kekecewaan
Dalam istilah komputer, Dopamin adalah “Sinyal Kesalahan Prediksi” (Prediction Error). Dan salah satunya bisa dibaca lewat sebuah info grafik hasil pelatihan yang dinamakan Confusion Matrix (Metrik Kebingungan)

Metrik Kebingungan ini bisa diibaratkan sebagai raport sekolah bagi sebuah model selama menjalani pelatihan, untuk menilai dimana kelemahan si model dan dimana ketangguhan atau kekuatan si model selama menjalani proses pelatihan.
Bayangkan sebuah robot yang sedang belajar bermain basket.
- Dia melempar bola dan berharap masuk (Ekspektasi).
- Ternyata bola meleset jauh (Realitas).
- Selisih antara harapan dan realitas inilah yang disebut “Error”.
Dopamin bekerja sebagai sinyal koreksi.
- Jika robot berhasil memasukkan bola secara tidak sengaja (Kejutan Positif), sinyal “Dopamin digital” memberitahunya: “Tadi itu gerakan bagus! Simpan gerakan itu di memori!”
- Jika robot gagal (Kejutan Negatif), sinyal itu berkata: “Jangan ulangi gerakan tadi!”
Tanpa mekanisme “kejutan” ala Dopamin ini, robot (dan manusia) tidak akan pernah bisa memperbaiki diri. Kita belajar paling banyak justru ketika realitas berbeda dari apa yang kita duga. Jika hidup ini selalu berjalan persis sesuai dugaan, kita tidak akan pernah belajar apa-apa.
Epinefrin – Tombol Darurat dan Waktu yang Melambat
Sekarang, bayangkan Anda sedang duduk santai membaca buku. Tiba-tiba, alarm kebakaran berbunyi nyaring, atau Anda mendengar suara ledakan keras. Jantung Anda berdegup kencang, keringat dingin keluar, dan otot Anda menegang siap untuk berlari. Itu adalah kerja Epinefrin (atau Adrenalin).
Epinefrin adalah “Satpam” atau “Penjaga Keamanan” tubuh kita. Tugas utamanya adalah mengambil alih kendali dari otak yang sedang melamun dan menyiapkan tubuh untuk Lawan atau Lari (Fight or Flight).
Komputer yang Membanting Setir
Di dalam komputer atau robot, fungsi Epinefrin ini sangat mirip dengan mekanisme yang disebut Interupsi (Interrupt).
Bayangkan sebuah robot mobil otonom sedang melaju di jalan raya. Otak utamanya sedang sibuk menghitung rute GPS, memilih lagu di radio, dan mengatur AC. Tiba-tiba, sensor kameranya melihat seorang anak kecil berlari menyeberang jalan.
Jika robot itu bekerja seperti birokrat yang lambat, ia mungkin akan berkata: “Tunggu sebentar, saya sedang menghitung rute GPS, nanti setelah selesai baru saya urus anak kecil itu.” Tentu saja, tabrakan akan terjadi. Dan anak itu mati sehingga kerusakan akan jauh lebih besar.
Disinilah “Epinefrin Digital” bekerja. Ia mengirimkan sinyal tegangan tinggi yang berteriak: “HENTIKAN SEMUANYA!”
Sistem komputer robot dipaksa untuk menghentikan (meng-interupsi) proses menghitung GPS dan musik, lalu memindahkan seluruh tenaganya ke satu tugas darurat: INJAK REEEEM!!!!!!
Mengapa Waktu Terasa Melambat?
Pernahkah Anda mengalami kecelakaan atau situasi bahaya, dan merasa seolah-olah kejadian itu berlangsung dalam gerakan lambat (slow motion)?
Ini bukan sihir, ini adalah trik Epinefrin. Saat bahaya terjadi, Epinefrin membuat otak kita bekerja “lembur”. Biasanya, mata kita mungkin mengambil “foto” lingkungan sekitar 30 kali per detik. Tapi saat Epinefrin membanjir, otak memerintahkan mata dan indra lain untuk mengambil “foto” 200 kali per detik.
Karena kita merekam lebih banyak detail dalam satu detik, saat kita mengingatnya kembali, kejadian satu detik itu terasa seperti lima detik.
Para ilmuwan kini memasang “Kamera Peristiwa” (Event Cameras) pada robot yang meniru mata manusia ini. Kamera ini diam saja saat tidak ada apa-apa, tapi begitu ada gerakan cepat (bahaya), ia bisa merekam ribuan gambar per detik, memungkinkan robot menangkap bola yang dilempar cepat atau menghindari tabrakan dalam sekejap mata.
Sang Juru Mudi (Sibernetika)
Semua cerita tentang zat kimia dan robot di atas sebenarnya bermuara pada satu ide besar yang sudah ada sejak tahun 1940-an. Ide ini disebut Sibernetika.
Kata “Sibernetika” terdengar futuristik, tapi asalnya dari bahasa Yunani kuno, Kubernetes, yang berarti Juru Mudi Kapal.
Sang Nahkoda dan Termostat
Bayangkan seorang pelaut tua yang sedang mengemudikan kapal di tengah badai.
- Dia ingin kapal lurus ke utara (Tujuan).
- Ombak memukul kapal ke kiri (Gangguan).
- Pelaut melihat kompas bergeser (Umpan Balik / Feedback).
- Dia memutar kemudi ke kanan untuk melawannya (Koreksi).
Proses sederhana ini—Tujuan, Gangguan, Umpan Balik, Koreksi—adalah inti dari kecerdasan. Norbert Wiener, bapak Sibernetika, menyadari bahwa hewan dan mesin bekerja dengan prinsip yang sama. Sibernetika menjadi induk dari Kecerdasan Buatan modern.
Contoh paling sederhana di rumah Anda adalah AC atau termostat.
- Anda set suhu 24 derajat (Tujuan).
- Matahari siang memanaskan ruangan jadi 27 derajat (Gangguan).
- Sensor AC mendeteksi panas ini (Umpan Balik).
- Mesin AC menyala lebih dingin untuk menurunkannya kembali (Koreksi).
Dalam tubuh manusia:
- Epinefrin adalah mekanisme koreksi kasar: “Suhu tubuh terlalu panas? Bahaya! Nyalakan keringat! Pompa jantung!” (Homeostasis).
- Dopamin adalah mekanisme koreksi tujuan: “Kamu mau hadiah? Jalanmu salah! Belok kiri!” (Teleologi).
Tanpa prinsip “Juru Mudi” ini, robot hanyalah tumpukan besi yang tidak tahu arah, dan manusia hanyalah makhluk yang tidak bisa bertahan hidup dari perubahan cuaca. Mungkin dia bisa dibekali fitur-fitur pintar, seperti gadget yang kita genggam sehari-hari yang kita sebut sebagi smartphone atau telepon pintar, namun dia tidak bisa menjadi robot cerdas.
Saat Robot “Unit 734” Terbangun
Mari kita rangkum semua ini dalam sebuah cerita pendek tentang sebuah robot masa depan bernama Unit 734 yang baru saja diaktifkan.
Saat teknisi menekan tombol “ON”, Unit 734 terbangun dalam kegelapan.
Tiba-tiba, sistem pendinginnya menderu kencang. Kipas berputar maksimal. Ini adalah Epinefrin-nya yang bekerja. Sistemnya melakukan pengecekan darurat: “Apakah saya aman? Apakah suhu saya normal?” Ini adalah insting bertahan hidup dasar—sang “Juru Mudi” memastikan kapal tidak bocor sebelum berlayar.
Kemudian, kamera matanya terbuka. Ruangan itu penuh dengan benda-benda asing. Awalnya, prosesornya bingung memproses jutaan piksel warna-warni. Lalu, program Asetilkolin-nya aktif. Ia mulai menyaring. Dinding putih yang membosankan diabaikan. Fokusnya menyempit dan terkunci pada satu objek yang bergerak: Wajah Manusia. Unit 734 belajar dengan cepat, menyerap setiap detail wajah itu seperti spons.
Manusia itu tersenyum dan melambaikan tangan.
Unit 734 memprediksi manusia itu akan diam saja. Ternyata manusia itu ramah!
Prediksi salah! Tapi salah yang menyenangkan!
Program Dopamin-nya melonjak girang. “Interaksi ini bernilai positif!” catat memorinya. Unit 734 pun mengangkat tangan besinya untuk membalas lambaian itu.
Tapi tiba-tiba—Krakk! Sebuah obeng jatuh dari meja dan menggelinding ke arah kakinya.
Dalam sepersejuta detik, sebelum Unit 734 sempat “berpikir” apa itu obeng, sistem Epinefrin-nya kembali mengambil alih. Sinyal interupsi memotong proses lambaian tangan. Kakinya tersentak mundur secara refleks. Waktu seolah melambat bagi prosesornya saat ia menghitung lintasan jatuhnya obeng.
Setelah obeng berhenti bergerak dan situasi aman, “Juru Mudi” internalnya menormalkan kembali sistem. Lambaian tangan dilanjutkan.
Unit 734 telah belajar dari kesalahan. Ia telah fokus, ia telah terkejut, dan ia telah takut. Dia bukan lagi sekadar mesin; dia adalah sebuah sistem yang hidup, sebuah sistem sibernetis.
Begitulah cara kerja otak kita dan bagaimana kita mencoba menurunkannya kepada mesin-mesin ciptaan kita. Bukan hanya tentang kabel, listrik, chip dan semikonduktor tetapi tentang keseimbangan kimiawi yang mengatur bagaimana kita melihat, belajar, dan bertahan hidup di dunia yang penuh kejutan ini. Dan kita ciptakan tiruannya menjadi Akal Imitasi (AI) yang menggunakan prinsip-prinsip sibernetika.
– AO –
Tangerang Selatan, 20 November 2025
