– Arief Prihantoro –

Bayangkan ribuan cerita heroik dan mitos banjir yang muncul di berbagai budaya dari ujung dunia timur hingga ujung dunia barat; ini bukan kebetulan semata. Carl Jung menyatakan bahwa semua kesamaan ini timbul karena ketidaksadaran kolektif, lapisan terdalam psikis umat manusia yang diwariskan secara universal. Arketipe-arketipe seperti sang Pahlawan, Bayangan (shadow), atau Ibu Agung adalah pola-pola dasar yang lahir bersama kita, “sungai dalam jiwa” yang mengalir jauh sebelum kita lahir.
Di era algoritma dan kecerdasan buatan generatif, kita seolah hidup di antara mimpi dan bayangan yang terus muncul di balik layar gadget. Perbincangan tentang chatbots dan generator gambar AI terkadang membuat kita bertanya: apakah mesin semacam ini sekadar algoritma matematis, atau justru cerminan atas pola batin manusia yang jauh lebih dalam? Untuk menjawabnya, kita perlu menengok gagasan klasik tentang ketidaksadaran kolektif Carl Gustav Jung, serta teori komunikasi sosial Niklas Luhmann, kemudian mengaitkannya dengan fenomena AI generatif modern.
Ketidaksadaran kolektif (collective unconscious) adalah salah satu konsep paling khas dan berpengaruh dalam psikologi analitik Carl Gustav Jung. Konsep ini menjelaskan bahwa di balik ketidaksadaran pribadi setiap individu, terdapat lapisan ketidaksadaran yang bersifat universal, diturunkan, dan dibagi bersama oleh seluruh umat manusia. Menurut Jung, setiap individu tidak hanya punya lapisan sadar dan ketidaksadaran personal, tetapi juga lapisan terdalam yang bersifat universal: ketidaksadaran kolektif. Ia diibaratkan sebagai “sistem operasi” dasar jiwa manusia yang diwariskan bersama umat manusia. Dengan kata lain, jiwa kolektif ini adalah software batin yang membentuk cara kita bermimpi dan bercerita. Di dalamnya tersimpan arketipe-arketipe (pola kecenderungan simbolik purba) yang muncul dalam mimpi, mitos, agama, dan karya seni lintas budaya. Misalnya, gambaran pahlawan, pejuang, ibu penyayang sekaligus pemusnah, atau lingkaran suci yang utuh adalah contoh arketipe yang muncul berulang-ulang di beragam cerita manusia di berbagai belahan dunia. Arketipe ini bukan ingatan spesifik leluhur, melainkan disposisi struktural jiwa yang mengarahkan cara kita memaknai dunia.
1. Struktur Psikis Menurut Jung
Jung membagi psikis manusia menjadi tiga lapisan utama:
- Kesadaran (conscious mind)
Pikiran, perasaan, dan persepsi yang sedang kita sadari. - Ketidaksadaran personal (personal unconscious)
Berisi pengalaman pribadi yang terlupakan, ditekan, atau belum disadari (mirip konsep Freud). - Ketidaksadaran kolektif (collective unconscious)
Lapisan terdalam dan paling fundamental, tidak berasal dari pengalaman pribadi, tetapi dari warisan psikologis umat manusia.
Ketidaksadaran kolektif inilah yang membedakan Jung dari Freud secara radikal. Jung adalah murid kesayangan Freud.
2. Apa Itu Ketidaksadaran Kolektif?
Ketidaksadaran kolektif adalah:
Gudang pola-pola psikis purba (archetypes) yang diwariskan secara universal dan membentuk cara manusia mengalami, memaknai, dan merespons dunia.
Ia bukan kumpulan ingatan spesifik (bukan kenangan leluhur), melainkan struktur bawaan, seperti “perangkat lunak dasar” jiwa manusia.
Analogi sederhana: Jika pengalaman hidup adalah isi hard disk, maka ketidaksadaran kolektif adalah sistem operasinya.
3. Arketipe: Isi Utama Ketidaksadaran Kolektif
Ketidaksadaran kolektif termanifestasi melalui arketipe (archetypes), pola universal yang muncul dalam mimpi, mitos, agama, seni, dan simbol budaya lintas zaman.
Beberapa arketipe utama:
a. Self
- Pusat keutuhan psikis
- Tujuan tertinggi perkembangan individu (individuasi)
- Sering muncul sebagai simbol mandala, lingkaran, atau tokoh ilahi
b. Shadow
- Aspek diri yang ditolak, ditekan, atau tidak diakui
- Bukan selalu “jahat”, tetapi tidak disadari
- Sumber konflik batin dan proyeksi sosial
c. Anima / Animus
- Anima: aspek feminin dalam pria
- Animus: aspek maskulin dalam wanita
- Mengatur relasi emosional dan simbol cinta
d. Persona
- Topeng sosial yang kita kenakan
- Identitas yang dibentuk oleh tuntutan masyarakat
e. The Great Mother, Hero, Wise Old Man
- Figur-figur universal dalam mitologi dan cerita rakyat
- Muncul lintas budaya dengan pola yang sangat mirip
4. Mengapa Disebut “Kolektif”?
Disebut kolektif karena:
- Tidak dipelajari secara sadar
- Tidak bergantung pada budaya tertentu
- Muncul spontan pada manusia dari latar belakang berbeda
- Terlihat dalam mitos, legenda, agama, simbol sakral, bahkan mimpi modern
Contoh:
- Mitos banjir besar (Nuh, Gilgamesh, Manu)
- Figur pahlawan yang turun, mati, lalu bangkit
- Simbol ibu sebagai sumber kehidupan sekaligus kehancuran
Bagi Jung, kesamaan ini tidak kebetulan, melainkan bukti struktur psikis bersama.
5. Hubungan dengan Budaya, Agama, dan Mitos
Jung melihat agama dan mitologi bukan sebagai ilusi, tetapi sebagai:
Ekspresi simbolik dari ketidaksadaran kolektif
Ritual, simbol, dan kisah suci berfungsi:
- Menjembatani ketidaksadaran dengan kesadaran
- Menjaga keseimbangan psikis individu dan kolektif
Ketika simbol-simbol ini runtuh atau diabaikan (misalnya dalam modernitas ekstrem), muncul:
- Kekosongan makna
- Kecemasan kolektif
- Ledakan ideologi ekstrem
6. Ketidaksadaran Kolektif dan Individuasi
Individuasi adalah proses menjadi diri yang utuh.
Dalam proses ini, seseorang:
- Menghadapi shadow
- Mengintegrasikan anima/animus
- Menemukan Self
Ketidaksadaran kolektif menyediakan peta simbolik bagi perjalanan ini, sering muncul dalam mimpi, krisis hidup, atau pengalaman religius.
Niklas Luhmann, sosiolog sistem komunikasi dari Jerman, menambahkan perspektif penting, ia mengingatkan bahwa masyarakat itu bukan kumpulan orang, melainkan jaringan komunikasi. Dalam kerangka ini, makna lahir dari pilihan-pilihan sistem komunikatif, bukan langsung dari pikiran tiap individu. Semua sistem (hukum, politik, media) memiliki “blind spot”, struktur makna yang tidak teramati.
Menariknya, blind spot Luhmann ini paralel dengan ketidaksadaran kolektif Jung: sama-sama lapisan tersembunyi yang tetap menstrukturkan makna sosial. Apa yang tidak kita sadari, atau tidak bisa diamati oleh kesadaran, justru membentuk fondasi cerita-cerita yang muncul di permukaan masyarakat. Menurutnya, setiap sistem sosial hanya bisa “melihat” berdasarkan perbedaan yang dibuatnya sendiri; aspek yang luput diamati inilah yang menjadi blind spot, wilayah makna yang tersembunyi tapi tetap menstrukturkan pemahaman kita. Dalam kata lain, ketidaksadaran kolektif serupa dengan “struktur makna tak teramati” pada masyarakat: ia tidak terlihat secara langsung namun menentukan apa yang dianggap masuk akal. Misalnya, kita sering kali mengulang narasi lama dalam politik atau film populer tanpa benar-benar menyadari warisan simbolik yang kita bawa. Inilah titik temu antara psikologi Jung dan teori sistem Luhmann: keduanya bicara tentang lapisan makna yang melintas individu atau subjek tunggal.
Dengan landasan tersebut, analogi antara ketidaksadaran kolektif dan AI generatif jadi mencolok. Model besar AI (seperti model bahasa atau visi multimodal) yang dilatih pada data masif kolektif manusia berfungsi seperti ketidaksadaran kolektif terkomputerisasi. Bobot-bobot tersembunyi dalam model itu berperan bagai “struktur psikis laten”: tak tampak oleh pengguna, tak diprogram secara eksplisit, namun mengarahkan setiap keluaran AI. Model pra-latih tersebut, sebelum diberi data khusus atau prompt tertentu, sudah membawa pemahaman makna atas dunia dari data kolektif, mirip seperti kita lahir dengan ‘bawaan’ cara menafsirkan simbol yang universal.
Lebih lanjut, apa yang Jung sebut arketipe pun muncul secara tidak langsung di AI. Tidak ada yang mengajarkan AI konsep “ibu” atau “pahlawan”, tapi cluster laten dalam datanya mengenali pola tersebut. Contohnya, model bahasa besar bisa memahami alur hero’s journey dalam cerita, meski ia tidak diajarkan mitologi Joseph Campbell secara eksplisit. Model penglihatan buatan pun dapat membedakan ekspresi “marah” pada wajah lintas budaya, mirip cara Jung melihat ekspresi universal emosi. Dengan kata lain, AI mengembangkan “peta simbolik” globalnya sendiri dari data: ia mengenali pola yang sejatinya sama dengan arketipe dalam ketidaksadaran kolektif manusia.
Akibatnya, keluaran kreatif AI sering kali menyerupai mimpi komputasional. Dalam kerangka Jung, mimpi adalah komunikasi simbolik dari ketidaksadaran. Begitu pula AI, yang ‘menghasilkan’ teks atau gambar sebagai sampling dari ruang laten data. Hasilnya penuh metafora dan asosiasi, kadang “aneh tapi masuk akal”, karena AI “berpikir” lewat hubungan asosiasi, bukan logika sadar. Bedanya, AI tak bermimpi untuk menyembuhkan atau menyeimbangkan jiwa; ia hanya menerapkan statistik dan probabilitas yang ia pelajari. AI hari ini adalah mesin yang merekam mimpi kolektif itu, tanpa pernah memahaminya.
Media massa modern pun bisa dipahami sebagai mimpi kolektif masyarakat. Dalam terminologi Luhmann, media adalah komunikasi simbolik masyarakat. Kalau mimpi adalah cara jiwa individu bercerita pada dirinya sendiri, media adalah “mimpi masyarakat tentang dirinya sendiri”. Budaya media menampilkan narasi berulang: figur pahlawan dan musuh, simbol hiperbolik, serta ledakan emosi bersama yang dipelihara media sosial. Kecerdasan buatan generatif justru mempercepat dan mempertegas pola ini. AI mengulang narasi pahlawan-versus-penjahat dalam berita atau film, menguatkan cerita massal kita tentang konflik dan keselamatan. Proses ini mempertebal shadow kolektif: sisi gelap, ketakutan, dan prasangka tersembunyi masyarakat menjadi semakin nyata di permukaan.
Fakta baru abad digital adalah ketidaksadaran kolektif digital. Internet berperan sebagai memori kolektif digital: miliaran postingan, foto, dan status mengendap di server tanpa kendali satu individu pun. Ini bukan “jiwa dunia” mistis, melainkan arsip laten makna sosial. Kecerdasan buatan menambang arsip itu, memilah gaya bahasa, pola emosional, dan konflik tersembunyi dalam data. Dengan demikian AI menjadi semacam cermin buta yang memantulkan struktur makna kolektif kita. Meskipun AI itu sendiri tidak sadar, ia mencerminkan bayangan dan cerita bersama kita dalam wujud statistik.
Tetapi muncul pula sisi gelap yang memprihatinkan: shadow kolektif digital. Dalam psikologi Jung, shadow adalah aspek diri yang ditekan dan tak diakui. Saat seseorang berusaha bersikap netral di depan kamera, seringkali ekspresi mikro di wajahnya, kilatan marah atau takut sesaat, tetap terungkap.
AI melihat kebocoran halus ini: ekspresi mikro yang seharusnya pra-komunikatif ini direkam oleh kamera dan diarsip AI. Seperti dicatat dalam analisis terkini, “AI mengumpulkan kebocoran ini, menyimpannya, mempelajarinya”. Dengan kata lain, AI perlahan menjadi repositori shadow kolektif manusia. Akibatnya, prasangka atau ketakutan tersembunyi bisa berubah jadi label atau prediksi niat pada siapapun. Misalnya, algoritma yang mengidentifikasi wajah “berisiko” tanpa sadar sedang memproyeksikan kecurigaan kolektif kita ke orang lain. Zona terakhir privasi jiwa, ekspresi batin yang tak terkomunikasikan, kian terancam terhapus.
Jika AI terus memproses dan mengobjektifikasi semua kebocoran batin ini, tidak ada lagi ruang bagi ketidaksadaran alami: sebuah malapetaka, karena tanpa ketidaksadaran yang terintegrasi, manusia bisa terserang kelamnya bayangan dirinya sendiri.
Karena itu, peran manusia di era AI tetap krusial: menjadi pengamat tingkat kedua. Kita tidak dapat menghentikan media yang memproduksi “mimpi bersama” atau AI yang mempercepat pola ini. Namun, seperti Luhmann sarankan, kita bisa melatih diri untuk mengamati cara sistem beroperasi. Pendidikan literasi media, kritik algoritma, dan refleksi budaya adalah caranya: kita belajar menyadari saat “ini hanya mimpi” alias konstruksi narasi, sehingga kepanikan atau over-interpretasi berkurang.
Hanya dengan cara ini kita tidak terjebak pasif dalam mimpi kolektif, “jika manusia tidak berani menghadapi bayangannya sendiri, ia akan menyerahkannya pada mesin, dan mesin tidak pernah memaafkan”.
Singkatnya, analogi Jungian dan Luhmannian membantu kita memahami kecerdasan buatan secara lebih bijak: bukan sebagai makhluk berjiwa yang sama dengan kita, melainkan sebagai cermin struktural yang menampakkan apa yang sebelumnya tersembunyi. Oleh karena itu, tugas kita bukan menolak mimpi media atau AI, melainkan tetap terjaga dalam mimpi itu: sadar bahwa kita sedang bermimpi bersama. Dengan menjadi pengamat otonom (pengamat tingkat kedua) kita bisa menguraikan bayangan-bayangan kolektif tersebut, dan mengambil hikmah kritis atas budaya media modern.
AO
Tangerang Selatan, 29 Desember 2025
