Arief Prihantoro

Di era digital saat ini, komunikasi publik tidak lagi bergerak dalam alur yang linear dan sederhana. Informasi yang awalnya diluncurkan sebagai sebuah isu dapat menyebar, berubah bentuk, berinteraksi, bahkan memicu konflik sosial yang tidak terduga. Fenomena ini sering kali tampak chaotic, tidak teratur, sulit diprediksi, dan penuh gesekan antar kelompok. Untuk memahami kompleksitas ini, analogi dari fisika memberi lensa yang menarik dan sangat relevan, terutama melalui konsep gerak Brown dan termodinamika partikel.
Informasi bergerak seperti partikel Brownian dalam fenomena fisika, menyebar liar, melompat antar-ruang sosial, dan berubah bentuk akibat tabrakan antar pengguna. Analoginya tampak sangat kuat, tetapi fisika saja tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana kekacauan informasi berubah menjadi struktur sosial yang memengaruhi opini publik. Pada titik ini, teori sistem sosial Niklas Luhmann menawarkan lensa radikal: masyarakat adalah komunikasi, dan chaos terjadi bukan karena orang salah paham, tetapi karena komunikasi sebagai sistem autopoietik memproduksi ketidakpastian dan diferensiasi secara internal.
Artikel ini mencoba mensintesiskan kedua pendekatan, fenomena fisika partikel dan teori sistem sosial, untuk memahami fenomena chaos komunikasi digital.
Fenomena Gerak Brown: Informasi sebagai Partikel yang Bergerak Acak
Dalam fisika, gerak Brown menggambarkan bagaimana partikel kecil bergerak secara acak akibat benturan dengan molekul-molekul di sekitarnya. Tidak ada pola pasti: arah dan kecepatan berubah terus-menerus.
Gerak Brown adalah bentuk noise atau derau karena merupakan gerakan acak, tidak teratur, dan tidak menentu yang disebabkan oleh tumbukan molekul di sekitarnya, sering disebut “derau brown” (brown noise) dalam konteks suara, dan merupakan salah satu fenomena fisika paling mendasar yang membuktikan keberadaan atom dan molekul. Gerakan zigzag partikel koloid ini seperti noise karena tidak memiliki pola yang bisa diprediksi, tetapi penting untuk menjaga koloid tetap stabil.
Dalam akustik, “brown noise” adalah istilah untuk suara yang dihasilkan oleh proses Gerak Brown, ditandai dengan frekuensi rendah yang kuat (seperti gemuruh air terjun), yang membuat namanya berasal dari fenomena ini, bukan warna.
Fenomena gerak Brown pertama kali diamati oleh ahli botani Robert Brown pada tahun 1827. Namun, fisikawan yang kemudian memperkenalkan penjelasan matematis dan ilmiah mendetail yang membuktikan keberadaan atom dan molekul melalui gerak ini adalah Albert Einstein pada tahun 1905.
Jika kita meminjam analogi ini untuk komunikasi publik di era digital:
-
Isu adalah partikel
Ia diluncurkan ke dalam “ruang sosial”. -
Warganet atau kelompok sosial adalah molekul penggerak
Mereka bereaksi, menafsirkan, menambahkan opini, atau memelintir informasi sesuai perspektif masing-masing. -
Platform digital = medium turbulen
- Reaksi spontan (komentar, like, share) = benturan acak yang mengubah arah pergerakan isu
-
Interaksi acak antar pengguna digital membuat isu bergerak liar
Dalam hitungan menit, isu bisa melompat dari satu komunitas ke komunitas lain, berpindah konteks, bahkan berubah makna.
Seperti partikel dalam gerak Brown, sebuah isu kehilangan kendali begitu dilepaskan ke ruang publik. Setiap sentuhan mempercepat atau memelencengkan pergerakannya.
Informasi tidak pernah bergerak lurus; ia bergerak acak, penuh tabrakan, dan tidak bisa dikendalikan sepenuhnya setelah dilepas.
Fenomena ini sejalan dengan gagasan Luhmann bahwa komunikasi selalu “improbable”, keberhasilan pemahaman bukan keadaan natural, tetapi hasil kebetulan struktural.
Termodinamika Sosial: Energi, Entropi, dan Ledakan Informasi
Termodinamika menjelaskan bagaimana energi bergerak dalam suatu sistem dan bagaimana entropi (tingkat ketidakteraturan sistem) cenderung meningkat seiring waktu.
Dalam komunikasi publik:
a. Energi sosial
-
Setiap opini, komentar, atau reaksi publik adalah bentuk “energi sosial”.
-
Energi ini dapat menambah panas pada isu sehingga mempercepat penyebaran.
Jika isu kontroversial energinya tinggi, bagaikan molekul dalam suhu panas yang bergerak makin cepat.
b. Entropi informasi
-
Semakin banyak aktor terlibat, semakin tinggi entropi:
informasi semakin tidak teratur, bias, dan sulit dikendalikan. -
Distorsi pesan, misinformasi, framing ulang, dan konteks yang hilang, merupakan manifestasi entropi dalam domain sosial
c. Titik kritis (critical point)
Seperti cairan yang berubah menjadi gas ketika mencapai titik didih, masyarakat juga memiliki titik kritis, sehingga terjadi:
-
ketegangan sosial memuncak,
-
polarisasi mengeras,
-
konflik verbal meluas.
Ketika “suhu” energi sosial melewati ambang kritis, terjadi fase transisi: konflik, polarisasi, dan disinformasi merebak, chaos menjadi tak terhindarkan.
Luhmann menyebut hal ini sebagai seleksi dan restabilisasi dalam evolusi sistem sosial: sistem sosial berkembang bukan menuju keteraturan, tetapi menuju kompleksitas yang lebih tinggi, bahkan “over-integrated” hingga mudah saling mengganggu.
Luhmann mengkritik pandangan bahwa komunikasi adalah tindakan individu. Luhmann: Komunikasi Bukan Tindakan Manusia, tetapi Sistem Autopoietik.
Menurutnya:
“Hanya komunikasi yang dapat berkomunikasi.” —Luhmann
Komunikasi terdiri dari tiga seleksi:
- Informasi (apa yang dikatakan)
- Pengutaraan (bagaimana ia diungkapkan)
- Pemahaman / ketidakpahaman
Ketiganya hanya muncul di dalam sistem komunikasi, bukan di kepala individu.
Dalam konteks gerak Brown:
Partikel (informasi) muncul bukan dari “pengirim”, tetapi dari sistem yang memungkinkan tabrakan antar partikel sosial, sehingga menimbulkan noise atau kebisingan.
Perubahan arah informasi terjadi karena sistem terus-menerus memperbarui dirinya (autopoiesis).
Digitalisasi membuat sistem ini super-chaotic karena:
- Kecepatan komunikasi meningkat.
- Rantai seleksi semakin padat.
- Noise dari lingkungan (emosi, misinformasi, konteks hilang) meningkat.
Double Contingency dan Chaos Digital
Luhmann menggambarkan situasi dasar komunikasi sebagai double contingency:
- Ego tidak tahu apa yang akan dilakukan Alter.
- Alter juga tidak tahu apa yang akan dilakukan Ego.
Dalam ruang digital:
- Ego = pengguna yang membaca komentar
- Alter = pengguna lain yang menulis komentar
Double contingency berubah menjadi multi-contingency, karena jutaan Ego dan Alter saling mengamati. Ini seperti partikel yang tidak lagi hanya bertabrakan dua-dua, tetapi tabrakan dalam kolisi massal, menghasilkan turbulensi.
Hasilnya: komunikasi digital menjadi sistem dengan entropi tinggi dan kepastian rendah.
Trickle-Down Effect: Difusi Partikel ke Lapisan Sosial Bawah
Dalam dunia fisika, partikel bergerak dari area dengan konsentrasi tinggi menuju area dengan konsentrasi rendah. Dalam komunikasi publik, fenomena serupa terjadi.
Isu yang awalnya muncul di kalangan elite, politisi, atau media nasional:
-
mengalami difusi ke kelompok-kelompok sosial lebih kecil,
-
masuk ke ruang obrolan keluarga, komunitas lokal, dan grup chat,
-
mengalami transformasi makna saat berpindah lapisan.
Proses difusi ini sering memunculkan interpretasi liar karena setiap lapisan memiliki konteks, emosi, dan kepentingan berbeda, persis seperti gradien konsentrasi partikel dalam sistem termodinamika.
Difusi Sosial sebagai pergerakan partikel dalam fisika, partikel menyebar dari konsentrasi tinggi ke rendah. Dalam sosial:
- Isu dari elite → publik luas
- Viralitas mempercepat difusi
- Interpretasi berbeda membentuk “gradien sosial”
Menurut Luhmann, tiap lapisan masyarakat bekerja dengan kode komunikasi berbeda (ekonomi: untung-rugi; politik: menang-kalah; media: menarik-tidak menarik).
Ini mirip partikel yang memasuki ruang dengan tekanan berbeda: maknanya akan berubah.
Entropi sebagai Misunderstanding Luas: Normal Menurut Luhmann
Luhmann menegaskan bahwa:
- komunikasi tidak pernah menyampaikan makna secara utuh,
- misunderstanding adalah kondisi normal,
- sistem membangun dirinya melalui misunderstanding yang terstruktur (membentuk pola).
Dalam kacamata partikel: tabrakan acak menghasilkan pola dari sebuah sistem, bukan ketertiban. Ini normal dan sangat natural.
Dalam kacamata komunikasi publik: Chaos bukan kegagalan komunikasi, namun chaos adalah cara sistem mempertahankan autopoiesis.
Luhmann menyebut masyarakat modern sebagai “over-integrated society”: sistem-sistem sosial terlalu saling iritasi sehingga krisis satu sistem memicu krisis lain
Dalam analogi termodinamika:
- Setiap sistem (media, politik, ekonomi, agama) adalah “ruang energi”.
- Ketika satu ruang meningkatkan suhunya (isu panas), panas menyebar.
- Titik kritis sosial tercapai ketika seluruh sistem ikut bergetar.
Contohnya:
isu kriminal → digoreng media → dipolitisasi → diperdebatkan warganet → memicu polarisasi → memengaruhi kebijakan.
Ini adalah efek domino termodinamika.
Chaos: Ketika Sistem Sosial Tembus Batas Kestabilan
Chaos dalam sistem fisika muncul ketika perubahan kecil pada kondisi awal menghasilkan dampak besar (efek kupu-kupu). Titik Kritis dan Polarisasi terjadi: ketika sistem saling mengganggu. Dalam komunikasi digital, kondisi ini bahkan lebih ekstrem.
-
Satu tweet bisa memicu kemarahan massal.
-
Sebuah potongan video 5 detik dapat menyebabkan stigmatisasi kelompok.
-
Satu interpretasi yang keliru dapat berkembang menjadi narasi yang menguasai ruang publik.
Dalam analogi partikel:
sistem telah masuk ke fase turbulen, di mana prediksi menjadi mustahil. Energi sosial begitu tinggi sehingga setiap tabrakan antar “partikel sosial” menghasilkan ledakan mini yang memperluas chaos.
Mengelola Chaos: Menurunkan Suhu dan Mengurangi Entropi
Jika kita menggabungkan fisika dan Luhmann:
a. Menurunkan suhu (reduksi energi sosial)
- Kurangi intensifikasi emosional (clickbait, framing konflik).
- Gunakan kejelasan dalam utterance untuk menurunkan noise.
- komunikasi yang menenangkan,
- klarifikasi cepat,
- penyediaan konteks yang lengkap,
- pemilihan diksi yang tidak provokatif.
Ini mirip menurunkan temperatur sistem sehingga partikel tidak lagi bergerak terlalu cepat.
b. Mengurangi/mengendalikan entropi informasi
- Moderasi konten
- Kurasi informasi oleh institusi yang dipercaya
- Literasi digital
- Verifikasi informasi
- Moderasi konten
- Mengurangi ketidakteraturan dalam arus informasi.
Ini seperti memaksa sistem agar tidak mencapai kekacauan maksimum.
c. Membangun struktur stabil
Dalam teori Luhmann, sistem sosial membangun redundansi untuk mengelola kompleksitas. Dalam fisika, redundansi mengurangi entropi.
Strategi komunikasi publik modern seharusnya membuat batas, ritme, dan saringan agar sistem tidak mengalami runaway reaction. Runaway reaction (reaksi tak terkendali) adalah suatu kondisi di mana laju reaksi kimia/fisika meningkat secara eksponensial dan tak terkendali, menyebabkan peningkatan suhu dan tekanan yang cepat dalam sistem. Hal ini terjadi ketika panas yang dihasilkan oleh reaksi eksotermik lebih cepat daripada panas yang dapat dikeluarkan atau dihilangkan dari sistem pendingin.
Dari Fisika ke Sosial, Memahami Komunikasi yang Semakin Tidak Pasti
Menggunakan analogi gerak Brown dan termodinamika membantu kita melihat komunikasi publik bukan sekadar aliran pesan, tetapi sebagai sistem kompleks yang penuh variabel bebas.
-
Setiap isu = partikel
-
Setiap reaksi publik = energi
-
Setiap pergeseran makna = entropi
-
Setiap virus informasi = difusi partikel
-
Setiap chaos = fase transisi ketika sistem melewati titik kritis
Era digital menjadikan seluruh proses ini lebih cepat, lebih bising, dan lebih sulit dikendalikan.
Dengan memahami dinamika ini, pemerintah, jurnalis, akademisi, dan masyarakat dapat merancang strategi komunikasi publik yang lebih stabil: tidak menambah panas dalam sistem, tetapi mengembalikan keteraturan di tengah turbulensi informasi.
Dengan menyatukan analogi partikel dan pandangan Luhmann, kita mendapatkan gambaran lebih utuh:
- Informasi bergerak seperti partikel Brownian—acak, cepat, saling bertabrakan.
- Entropi sosial meningkat ketika energi emosional meningkat.
- Sistem komunikasi digital adalah autopoietik: ia memproduksi ketidakpastian, mengolahnya, lalu menghasilkan struktur baru.
- Chaos bukan gangguan, tetapi cara sistem sosial modern beroperasi.
Luhmann membantu kita melihat bahwa kita tidak sedang hidup dalam krisis komunikasi; kita hidup dalam sistem komunikasi yang memang bekerja melalui krisis, seperti partikel yang bergerak bebas, tetapi membentuk pola ketika diamati secara keseluruhan dan chaos sebagai produksi sosialnya.
Perspektif Sibernetika: Komunikasi sebagai Sistem Umpan Balik yang Menghasilkan Chaos
- Perspektif sibernetika, baik sibernetika tingkat pertama (Wiener) maupun sibernetika tingkat kedua (von Foerster), memberikan kedalaman baru dalam melihat bagaimana chaos terbentuk dan dikelola dalam komunikasi publik di era digital. Ketika dianalogikan dengan gerak Brown dan termodinamika, sibernetika menjadi jembatan konseptual yang menjelaskan mengapa dan bagaimana sistem komunikasi bergerak menuju atau menjauhi chaos.
1. Komunikasi Publik sebagai Sistem Umpan Balik (Feedback System)
Dalam pandangan Norbert Wiener, sistem yang kompleks bekerja melalui:
- umpan balik positif (positive feedback) → memperkuat sinyal
- umpan balik negatif (negative feedback) → menstabilkan sistem
Di ruang digital:
- Viralitas, trending topic, dan retweet merupakan bentuk umpan balik positif. Semakin banyak interaksi, isu makin panas, mirip peningkatan energi termal yang mempercepat gerak acak partikel.
- Klarifikasi, debunking, atau intervensi otoritas adalah umpan balik negatif.
Ini bekerja seperti penurunan suhu yang memperlambat gerakan partikel Brown.
Ketika positive feedback mendominasi, sistem:
- kehilangan titik kontrol,
- melampaui batas stabilitas,
- memasuki keadaan turbulen,
-
dan mengalami chaos komunikatif.
Fenomena ini serupa dengan fase transisi termodinamika saat suhu sistem melewati titik kritis.
2. Sibernetika Tingkat Kedua: Pengamat sebagai Bagian dari Sistem
Heinz von Foerster mengembangkan sibernetika generasi kedua: pengamat bukan bagian dari eksternal sistem, tetapi bagian dari sistem yang sama.
Inilah titik temu kuat dengan Luhmann:
- Komunikasi tidak dapat diamati dari luar (karena social systems are operationally closed).
- Ketika kita mengamati komunikasi publik, kita adalah bagian dari operasi itu.
- Setiap observasi adalah intervensi yang mempengaruhi sistem (observing = perturbing).
Dalam konteks digital:
- Analis media, buzzer, jurnalis, bahkan komentator biasa bukan sekadar mengamati isu, mereka menambah energi, mengubah alur, dan memperbesar entropi.
Ini sejalan dengan karakter gerak Brown:
- Partikel pengamat (pengguna media sosial) mengganggu partikel informasi setiap kali ia menyentuh atau menafsirkannya.
Tidak ada observasi netral. Setiap jempol, komentar, dan repost adalah tumbukan sosial.
3. Komunikasi sebagai Sistem Autopoietik: Perspektif Sibernetika Luhmannian
Luhmann mengadopsi ide autopoiesis dari Maturana dan Varela, konsep inti dalam sibernetika biologis.
Dalam sibernetika, sistem autopoietik:
- menciptakan komponennya sendiri,
- mempertahankan batasnya sendiri,
- dan berputar melalui proses feedback internal.
Dalam komunikasi publik:
- Sistem komunikasi digital mereproduksi dirinya sendiri melalui pesan, respons, dan reaksi berantai.
- Chaos bukan “kerusakan” sistem, tetapi bagian dari mekanisme reproduksinya.
- Noise, misunderstanding, dan konflik adalah bahan bakar autopoiesis.
Ini sangat berbeda dari sistem teknis yang biasanya menghindari noise. Dalam komunikasi, noise adalah informasi.
4. Homeostasis Sosial dan Ketidakstabilan Terencana
Dalam sibernetika, homeostasis adalah kecenderungan sistem untuk mencari keseimbangan.
Namun dalam sistem sosial modern:
- keseimbangan justru tidak stabil,
- dan stabilitas justru bukan tujuan.
Luhmann menegaskan bahwa komunikasi tidak memiliki “tujuan akhir”; ia hanya terjadi atau tidak terjadi.
Sibernetika memberi kita pemahaman bahwa:
- sistem sosial modern bergerak di tepi ketidakteraturan (edge of chaos),
- di mana homeostasis terjadi melalui fluktuasi, bukan kesunyian,
- dan kestabilan dicapai melalui aliran informasi yang terus berubah, mirip turbulensi terjaga dalam fluida.
Komunikasi publik yang kacau bukan tanda kerusakan, melainkan indikasi sistem sedang:
- menyeimbangkan energi sosial,
- menyeleksi informasi,
- dan membangun struktur baru.
5. Loop Perpetual: Chaos → Struktur → Chaos Baru
Dalam sibernetika, sistem kompleks membentuk loop yang disebut circular causality:
- A memengaruhi B
- B memengaruhi C
- C kembali memengaruhi A
Dalam ruang digital:
- Isu memicu reaksi
- Reaksi memicu kontra-reaksi
- Kontra-reaksi memicu narasi baru
Ini menciptakan loop recursive yang selaras dengan autopoiesis Luhmann: komunikasi hanya dapat dilanjutkan oleh komunikasi lain.
Fisikanya:
- Tabrakan partikel → gerak tak terduga → pola makro
- Noise lokal → dinamika global → entropi terukur
Sibernetikanya:
- feedback → adaptasi → transformasi → feedback baru
Sosiologinya (Luhmann):
- informasi → utterance → understanding → komunikasi berikutnya
Ketiganya membentuk struktur chaos yang dapat dianalisis, bukan sekadar kekacauan. Chaos yang membentuk pola.
6. Sistem Cerdas tanpa Kesadaran: Cybernetic Intelligence dalam Ruang Publik
Sibernetika melihat sistem sebagai “cerdas” tanpa perlu kesadaran.
Demikian pula menurut Luhmann:
- masyarakat tidak berpikir; hanya berkomunikasi,
- namun hasilnya sering tampak “pintar”: trending, agenda setting, polarisasi, alur wacana.
Mirip dengan “kecerdasan emergen” pada swarm atau sistem agen, ruang publik digital:
- tidak punya pusat kendali tunggal,
- tetapi menghasilkan pola makro seperti tsunami opini, viralitas, echo chambers, crowd bias,
- yang tampak seperti keputusan kolektif, padahal tidak ada “induknya”.
Ini adalah inteligensi sibernetik: order from noise, structure from chaos.
Dengan melihat chaos dari perspektif produk Sibernetik dalam Sistem Komunikasi Modern, maka kita bisa memahami bahwa:
- Chaos bukan kecelakaan, tetapi konsekuensi alamiah dari sistem umpan balik yang berenergi tinggi.
- Komunikasi publik digital adalah sistem sibernetik autopoietik yang tidak memiliki pusat kendali.
- Pengamat adalah bagian dari sistem: setiap interaksi memperbesar turbulensi.
- Sistem beroperasi di batas antara keteraturan dan kekacauan, the edge of chaos.
- Struktur sosial muncul dari tabrakan, umpan balik, noise, dan ketidakpastian, mirip gerak Brown dalam medium panas.
Sibernetika dalam komunikasi publik melengkapi Luhmann dan fisika, dengan memberi kerangka bahwa fenomena ini dapat dipahami, diprediksi secara terbatas, dan dikelola, meski tidak bisa dikontrol sepenuhnya.
AO
Yogyakarta, Sabtu 13 Desember 2025
