– Arief Prihantoro –

Pada suatu sore yang cerah, seorang ayah dan putrinya duduk berdampingan di ruang tamu. Sang putri, mahasiswa generasi Z yang akrab dengan teknologi, tiba-tiba bertanya, “Ayah, apakah kamu takut AI akan mengambil alih pekerjaan manusia?” Pertanyaan itu sederhana, namun mengandung kegelisahan yang kini banyak dirasakan masyarakat di era kecerdasan buatan (AI). Sang ayah, yang pernah menekuni dunia jurnalisme, tersenyum dan menjawab, “Tidak, Nak. Justru yang paling penting sekarang bukan siapa yang bisa menjawab paling cepat, tapi siapa yang bisa bertanya dengan tepat.”
Kisah ini bukan sekadar percakapan keluarga. Ia adalah cerminan zaman, dimana kemampuan bertanya menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi.
Di sebuah sekolah di pinggiran kota, seorang guru bertanya kepada murid-muridnya, “Apa yang ingin kalian ketahui tentang dunia di luar sana?” Awalnya, kelas hening. Namun, setelah beberapa saat, satu tangan kecil terangkat, “Bu, kenapa langit berubah warna saat senja?” Pertanyaan sederhana ini membuka diskusi panjang tentang sains, seni, dan keindahan alam.
Di kantor, seorang karyawan baru bertanya kepada atasannya, “Bagaimana cara terbaik untuk belajar dari kegagalan?” Pertanyaan ini memicu obrolan hangat tentang pengalaman, pembelajaran, dan pentingnya tidak takut mencoba hal baru.
Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa bertanya adalah awal dari pembelajaran, inovasi, dan perubahan. Di setiap sudut Indonesia, dari desa hingga kota, dari sekolah hingga kantor, seni bertanya-tanya adalah jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
Di era AI, ketika jawaban bisa didapatkan dalam hitungan detik, justru pertanyaan yang baiklah yang menjadi pembeda. Seperti kata Sam Altman, CEO OpenAI, “Mencari tahu pertanyaan apa yang harus ditanyakan akan lebih penting daripada mencari tahu jawabannya.”
Albert Einstein pernah berkata, “Jika saya punya waktu satu jam untuk memecahkan masalah, saya akan menghabiskan 55 menit untuk memahami masalahnya dan hanya 5 menit untuk mencari solusinya.” Kutipan ini mengajarkan bahwa inti dari pemecahan masalah bukan pada kecepatan menemukan jawaban, tetapi pada kedalaman kita memahami pertanyaannya. Dalam dunia yang serba cepat, banyak orang terburu-buru mencari solusi tanpa benar-benar memahami akar permasalahan. Padahal, dengan sedikit waktu untuk merenung dan bertanya, solusi yang lebih tepat dan berkelanjutan bisa ditemukan.
Jeff Bezos, pendiri Amazon, juga menyoroti pentingnya bertanya. Ia berkata, “Saya sering mendapat pertanyaan: ‘Apa yang akan berubah dalam 10 tahun ke depan?’ Tapi hampir tidak pernah ada yang bertanya: ‘Apa yang tidak akan berubah dalam 10 tahun ke depan?’” Dengan fokus pada hal-hal yang tetap konstan, Bezos membangun strategi bisnis yang tahan lama dan relevan bagi pelanggan.
Bayangkan Anda sedang berada di sebuah perpustakaan raksasa, dimana setiap buku, artikel, dan data tersedia hanya dengan satu klik. Namun, tanpa pertanyaan yang jelas, Anda akan tersesat di lautan informasi itu. Inilah tantangan utama di era digital: bukan kekurangan jawaban, melainkan kelangkaan pertanyaan yang bermakna.
Dunia hari ini sedang menyaksikan sebuah fenomena unik di mana pengetahuan bukan lagi menjadi barang langka yang harus dikejar hingga ke ujung bumi. Dalam hitungan detik, mesin pencari dan model bahasa besar mampu menyajikan jawaban atas hampir semua pertanyaan faktual yang diajukan manusia. Fenomena ini menciptakan sebuah paradoks baru: ketika jawaban telah menjadi komoditas yang melimpah dan murah, kemampuan untuk bertanya justru muncul sebagai sebuah kekuatan super atau “superpower” yang jauh lebih krusial dibandingkan kemampuan menjawabnya sendiri. Jika dalam sebuah perjalanan panjang jawaban diibaratkan sebagai titik koordinat atau destinasi, maka pertanyaan adalah kompas yang menentukan apakah arah perjalanan tersebut sudah benar atau justru membawa kita menuju kegagalan.
Pergeseran nilai ini menuntut pemahaman mendalam tentang mengapa kualitas hidup dan efektivitas keputusan kita sering kali ditentukan oleh ketajaman pertanyaan yang disampaikan kepada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Jawaban yang hebat tidak akan pernah muncul dari pertanyaan yang mendalam. Dalam dunia medis, diagnosis tepat seorang dokter sangat bergantung pada kemampuannya dalam mengeksplorasi gejala pasien melalui pertanyaan yang kritis; tanpa itu, jawaban medis yang paling akurat sekalipun tidak akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kesembuhan pasien.
Dulu, kita mungkin sangat mengagumi orang-orang dengan “otak ensiklopedia” yang sanggup menjawab apa saja. Namun, di era transformasi digital ini, fokus strategis kita telah bergeser secara radikal. Jika menjawab sering kali menjadi titik akhir yang statis dan menutup diskusi, bertanya justru membuka pintu eksplorasi baru yang dinamis. Menjawab menunjukkan seberapa banyak pengetahuan yang kita kumpulkan, namun bertanya menunjukkan visi, imajinasi, dan kebijaksanaan kita dalam melihat kemungkinan-kemungkinan masa depan. Di tahun 2025 ini, efektivitas interaksi kita dengan mesin cerdas sangat bergantung pada seberapa tajam instruksi atau prompt yang kita berikan.
Bertanya juga membangun ikatan dan empati dalam interaksi. Orang yang terus-menerus memberi jawaban bisa terlihat menggurui, sedangkan yang piawai bertanya menunjukkan ketertarikan dan kerendahan hati. Pertanyaan yang tepat mencerminkan pendengar yang aktif mendengar. Dalam psikologi, bertanya membantu orang lain menemukan jawaban sendiri, jauh lebih memberdayakan ketimbang sekadar diberi tahu. Inilah sebabnya di banyak situasi sosial dan profesional, orang yang pandai bertanya sering kali lebih dihargai. Pertanyaan membuat diskusi berkelanjutan, sedangkan jawaban hanya menutupnya.
Filosofi Pestalozzi: Pendidikan Dimulai dari Pertanyaan
Dalam konteks pendidikan, pentingnya bertanya telah lama disadari. Johann Heinrich Pestalozzi, tokoh besar reformasi pendidikan Swiss abad ke-18–19, justru menekankan pendidikan berbasis pertanyaan. Pestalozzi mengganti sistem hafalan mekanis dengan metode Anschauung, pengamatan konkrit dan pemikiran mandiri. Bagi Pestalozzi, guru bukan mesin jawaban, melainkan pemandu yang menggali pikiran siswa dengan pertanyaan. Ia percaya pendidikan bukan soal menuangkan fakta, melainkan memancing rasa ingin tahu agar anak menemukan konsep sendiri.
Misalnya dalam kelas pengamatan sederhana, guru Pestalozzi membawa sebuah batu ke depan murid. Alih-alih langsung menjelaskan “Ini batu yang keras”, sang guru mulai mengajukan pertanyaan eksploratif: “Bagaimana rasanya saat kamu menyentuhnya? Apakah warnanya sama di semua sisi? Apa yang terjadi jika batu itu dijatuhkan?”. Murid diajak berpikir dan menyimpulkan karakter benda tersebut. Dengan bertanya, guru mendorong anak belajar dari pengalaman konkret, bukan dari definisi abstrak. Pendekatan serupa diterapkan Pestalozzi di aspek Head, Heart, Hands: pendidikan menyentuh pikiran, moral, dan tangan (keterampilan) murid. Pestalozzi menegaskan bahwa murid yang sekadar bisa menjawab soal ujian namun tak paham prosesnya belum benar-benar belajar. Kemampuan bertanya adalah cara siswa “mengaktifkan mesin intelektual” mereka, menghubungkan penglihatan dengan pemahaman.
Sebagai contoh konkret, dalam pengajaran matematika Pestalozzi menolak cara tradisional menghafal tabel. Ia memberi anak kerikil atau kacang-kacangan, lalu mengajak murid bermain tanya jawab: “Jika ada dua kacang di sini dan dua di sana, berapa jumlahnya bila kita satukan?” Lalu bertanya lagi: “Bagaimana jika kita tambah satu lagi?”, “Apa yang terjadi jika kita membaginya menjadi dua kelompok sama besar?”. Siswa tidak hanya tahu 2+2=4, tetapi benar-benar memahami konsep penjumlahan dan pembagian. Bahkan ketika siswa balik bertanya, “Kenapa jika dibagi tiga ada satu yang tersisa?”, Pestalozzi melihatnya sebagai tanda sukses pendidikan.
Perbandingan filosofisnya jelas: sebelum Pestalozzi, pendidikan fokus pada jawaban dan hafalan (murid pasif). Setelahnya, yang ditekankan adalah proses bertanya, eksplorasi aktif, dan observasi nyata. Pertanyaan kritis dianggap kunci pemahaman, bukan sekadar jawaban benar. Pestalozzi ingin mencegah “pembunuhan potensi anak” dengan langsung memberi jawaban. Anak harus diajarkan bertanya agar kelak menjadi individu mandiri, yang mampu mencari pengetahuan sendiri.
Prinsip Pestalozzi juga diterapkan pada berbagai mata pelajaran. Misalnya dalam geografi, ia enggan memulai dengan menghafal definisi sungai. Ia mengajak siswa ke sungai atau parit di dekat sekolah (setelah hujan), kemudian bertanya: “Ke arah mana air itu mengalir? Mengapa tidak ke arah sebaliknya?” (mengenai kemiringan tanah), “Apa yang dibawa oleh air keruh itu? Ke mana tanah yang terbawa hilang?” (tentang erosi). Bisa jadi guru kemudian menyuruh siswa membangun bendungan kecil untuk melihat perubahan kecepatan aliran air. Dari jawaban tentang pengamatan nyata inilah murid membangun konsep geografi secara alami.
Begitu pula dalam pembelajaran bahasa: daripada langsung menjelaskan struktur kalimat, guru Pestalozzi membawa benda konkret, misalnya sebuah apel. Ia mulai dengan bertanya sifat-sifat fisik: “Apa warna buah ini? Bagaimana bentuknya? Bagaimana rasanya?”. Murid menjawab, “Merah, bulat, manis.” Lalu guru mengajukan pertanyaan lanjutan: “Apakah semua benda merah bisa dimakan? Apa persamaan apel dengan bola yang kalian mainkan tadi?”. Akhirnya ditanya: “Bagaimana kamu menjelaskan apel ini kepada temanmu yang matanya tertutup agar dia bisa membayangkannya?”. Lewat rangkaian pertanyaan ini, murid tak sekadar menghafal kata “apel”, melainkan memahami hubungan kata (simbol) dengan benda nyata. Bahasa tumbuh hidup karena lahir dari pertanyaan tentang dunia riil, bukan rumus abstrak.
Metode semacam ini berhasil karena mengikuti “hukum” perkembangan alami anak: dari yang konkret menuju abstrak, dari yang dekat menuju jauh, dari sederhana ke kompleks. Dengan terus bertanya, Pestalozzi memastikan pikiran anak selalu terjaga dan aktif, bukan jadi wadah kosong yang diisi informasi pasif. Guru yang hebat, menurutnya, adalah yang mampu merumuskan rangkaian pertanyaan mulai dari yang paling sederhana hingga yang kompleks.
Design Thinking: Inovasi Dimulai dari Pertanyaan
Di dunia bisnis dan teknologi, prinsip design thinking telah menjadi fondasi inovasi. Design thinking adalah pendekatan kreatif untuk memecahkan masalah dengan menempatkan kebutuhan manusia sebagai pusat perhatian. Prosesnya dimulai dengan empati, memahami kebutuhan dan tantangan pengguna, lalu mendefinisikan masalah, menghasilkan ide, membuat prototipe, dan menguji solusi.
Setiap tahap design thinking menuntut kemampuan bertanya yang tajam. Pada tahap empati, kita bertanya: “Apa yang sebenarnya dibutuhkan pengguna?” Saat mendefinisikan masalah, kita bertanya: “Masalah apa yang benar-benar ingin kita selesaikan?” Dalam proses ideasi, pertanyaan seperti “Bagaimana jika…?” atau “Apa alternatif lain?” menjadi pemicu lahirnya solusi inovatif.
Contoh nyata bisa dilihat pada kisah Airbnb. Ketika perusahaan ini hampir bangkrut, para pendirinya bertanya, “Mengapa orang enggan memesan kamar di platform kami?” Jawabannya ternyata sederhana: foto properti yang kurang menarik. Dengan menyediakan layanan fotografi profesional, pemesanan pun melonjak drastis.
Design thinking mengajarkan bahwa pertanyaan yang tepat adalah fondasi dari setiap inovasi. Tanpa pertanyaan yang mendalam, solusi yang dihasilkan cenderung dangkal dan tidak relevan dengan kebutuhan nyata pengguna.
Di era modern, kita bisa mengadaptasi teknik pertanyaan kuat (“Powerful Questions”) dari dunia kerja atau inovasi. Misalnya, pertanyaan terbuka (open-ended) menghindari jawaban “ya/tidak” dan justru mengundang diskusi. Daripada bertanya “Apakah rencana ini berhasil?” (kurang efektif), guru atau pemimpin bisa bertanya “Bagaimana cara kita memastikan rencana ini berhasil?” atau “Apa risiko terbesar yang belum kita antisipasi?”.
Teknik “Lima Mengapa” yang dipopulerkan Sakichi Toyoda (pendiri Toyota) juga berguna untuk menggali akar masalah. Caranya, tanyakan “Mengapa?” dan dari jawaban itu tanyakan lagi “Mengapa?” hingga lima kali. Pendekatan ini menelusuri berlapis-lapis asumsi dan memunculkan penyebab inti yang sering terabaikan.
Selain itu, cara bertanya berorientasi masa depan (solution-focused) dapat menggeser fokus dari kesalahan ke solusi. Misalnya alih-alih bertanya “Mengapa proyek ini gagal?” (cenderung mencari kambing hitam), kita alihkan menjadi “Apa yang bisa kita lakukan secara berbeda agar proyek berikutnya lebih berhasil?”.
Mengubah sudut pandang (reframing) juga bermanfaat: pertanyaan seperti “Jika kita adalah pesaing terkuat diri sendiri, bagian bisnis mana yang akan kita serang dulu?” atau “Bagaimana jika sumber daya kita tiba-tiba berkurang setengahnya, opsi apa yang harus jadi prioritas?” mendorong pemikiran kreatif. Dan tentu saja, teknik “How Might We” (HMW) dari design thinking menuntun kita merumuskan tantangan sebagai pertanyaan luas: “Bagaimana mungkin kita [tindakan] agar [tujuan] tetap tercapai meski ada [kendala]?”. Misalnya, “Bagaimana mungkin kita menyediakan layanan kelas pertama kepada pelanggan tanpa menambah staf?”.
Struktur kata tanya dalam pertanyaan juga menentukan dampaknya. Secara umum, pertanyaan yang dimulai dengan “Apa” atau “Bagaimana” memiliki kekuatan tinggi karena mendorong analisis dan pemecahan masalah. Kata “Mengapa” menengah-tinggi dampaknya karena mencari makna atau alasan, meski berpotensi terdengar menghakimi jika intonasinya salah. Sebaliknya, “Siapa/Kapan/Dimana” umumnya hanya menggali fakta dasar, dan kata tanya seperti “Apakah/Adakah” memberikan dampak sangat rendah karena mengarah pada jawaban ya/tidak yang menutup diskusi.
Dalam proses Design Thinking pun, bertanya menjadi fondasi perjalanan kreatif. Di tahap Empati, guru atau fasilitator menggunakan pertanyaan terbuka untuk menggali pengalaman, kebutuhan, dan emosi pengguna (atau siswa). Misalnya, “Bisakah ceritakan pengalaman Anda saat…?” atau “Mengapa bagian ini terasa sulit bagi Anda?” membantu menemukan kebutuhan tersembunyi. Setelah mengumpulkan insight, pada tahap Definisi pertanyaan berperan menyaring dan merumuskan masalah menjadi tantangan yang jernih. Di sinilah formula “How Might We” sering digunakan.
Selanjutnya, pada fase Ideasi pertanyaan kreatif seperti “Bagaimana jika…” berfungsi memecah batasan berpikir. Contohnya, “Bagaimana jika kita tidak memerlukan koneksi internet untuk layanan ini?” atau “Bagaimana jika prosesnya dibalik?”. Di tahap Prototipe, meski fokusnya membuat model nyata, pertanyaan teknis masih penting untuk menguji asumsi dan validasi konsep. Akhirnya, pada Uji Coba (Test), pertanyaan kritis kembali ke garis depan: guru atau tim ditantang untuk tidak membela solusi, melainkan belajar dari kegagalan. Pertanyaan seperti “Bagian mana yang masih membingungkan?” atau “Bagaimana hal ini mengubah cara Anda bekerja?” membantu mengumpulkan umpan balik jujur.
Singkat kata, dalam design thinking pertanyaan berfungsi sebagai navigasi iteratif. Tanpa pertanyaan yang tepat, kita mudah terjebak dalam asumsi pribadi. Dengan bertanya lebih lama, masuk ke dalam “ruang pertanyaan”, barulah solusi inovatif sering kali ditemukan. Sebagaimana Pestalozzi mengajarkan dari yang konkret ke abstrak, penggabungan prinsip itu dalam HMW memadukan kebutuhan modern: pola kalimat “Bagaimana mungkin kita [Tindakan] untuk [Pengguna] agar [Tujuan]?” mengarahkan pertanyaan menjadi tajam.
Contoh-contoh praktis menunjukkan betapa bertanya dapat mengubah konteks: Misal masalahnya siswa bosan belajar sejarah yang abstrak. Alih-alih menghafal tanggal, pertanyaan HMW bisa diutarakan, “Bagaimana mungkin kita menghadirkan artefak fisik ke dalam kelas agar siswa merasakan koneksi emosional dengan peristiwa masa lalu?”. Atau, “Bagaimana mungkin kita mengubah halaman sekolah menjadi laboratorium sejarah sehingga anak-anak menemukan sendiri bukti perubahan zaman?”. Dalam konteks profesional, misalnya tim yang takut bertanya, bisa dirumuskan “Bagaimana mungkin kita menciptakan sistem ‘pertanyaan anonim terbaik’ setiap minggu agar budaya ingin tahu menjadi nilai yang bisa diapresiasi?” atau “Bagaimana mungkin kita merancang rapat yang hanya memperbolehkan pertanyaan saja agar akar masalah terungkap?”. Bahkan untuk pengembangan diri, pertanyaan seperti “Bagaimana mungkin kita mengubah setiap bab buku menjadi satu pertanyaan kritis agar pemahaman materi lebih mendalam dan membekas?” bisa merombak kebiasaan belajar.
Bertanya di Era AI: Dari Prompt ke Kecakapan Hidup
Kini, AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari asisten virtual di ponsel, rekomendasi belanja online, hingga chatbot di layanan pelanggan, AI hadir untuk membantu manusia. Namun, banyak pengguna merasa jawaban AI kadang kurang sesuai harapan. Sering kali, masalahnya bukan pada AI-nya, melainkan pada cara kita memberikan pertanyaan atau instruksi, yang dikenal dengan istilah “prompt”.
Prompt engineering, atau seni merancang pertanyaan untuk AI, kini menjadi keahlian baru yang sangat berharga. Semakin jelas, spesifik, dan terstruktur pertanyaan yang kita ajukan, semakin relevan dan akurat jawaban yang diberikan AI. Misalnya, alih-alih hanya meminta “buatkan saya cerpen,” hasilnya akan lebih baik jika kita menambahkan detail seperti tema, gaya bahasa, dan panjang tulisan.
Di dunia kerja, kemampuan merancang prompt yang efektif bahkan menjadi profesi tersendiri, dengan gaji yang menggiurkan. Namun, lebih dari sekadar keahlian teknis, kemampuan bertanya yang baik adalah cerminan dari pola pikir kritis, empati, dan kreativitas. Seperti yang diungkapkan Sam Altman, “Kemampuan untuk menemukan dan mengajukan pertanyaan yang tepat akan menjadi keterampilan yang lebih dihargai daripada sekadar mengumpulkan informasi.”
Di era AI, jawaban mudah didapat. Namun, pertanyaan yang baik adalah kunci untuk membuka wawasan baru, menemukan solusi inovatif, dan membedakan diri di tengah persaingan. Voltaire pernah berkata, “Hakimilah seorang pria berdasarkan pertanyaannya daripada jawabannya.”
Bertanya bukan sekadar mencari informasi, tetapi juga menggali makna, menantang asumsi, dan membuka kemungkinan. Dalam dunia bisnis, pertanyaan yang tepat bisa menyelamatkan perusahaan dari krisis. Saat Johnson & Johnson menghadapi krisis Tylenol, mereka bertanya, “Apa tindakan paling etis yang bisa kita ambil?” Jawaban atas pertanyaan itu membuat mereka menarik produk bermasalah dan akhirnya meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Dalam pendidikan, pertanyaan yang baik mendorong siswa untuk berpikir kritis, reflektif, dan kreatif. Guru yang hebat bukan yang selalu punya jawaban, tetapi yang mampu memancing rasa ingin tahu dan membimbing siswa menemukan jawaban mereka sendiri.
Bertanya Ibarat Menyalakan Senter di Lorong Gelap
Bertanya bisa diibaratkan seperti menyalakan senter di lorong gelap. Tanpa senter, kita hanya bisa meraba-raba, takut tersandung atau tersesat. Namun, dengan satu pertanyaan yang tepat, jalan menjadi terang dan tujuan lebih mudah dicapai.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan analogi untuk memahami konsep yang rumit. Misalnya, “Belajar itu seperti mendaki gunung. Setiap pertanyaan adalah langkah kecil menuju puncak pengetahuan.” Atau, “Bertanya itu seperti membuka jendela di ruangan pengap, udara segar dan cahaya masuk, membuat kita bisa melihat dunia dengan lebih jelas.”
Seorang anak kecil yang terus bertanya “kenapa” adalah contoh nyata betapa bertanya adalah naluri alami manusia. Namun, seiring bertambahnya usia, sering kali kita kehilangan keberanian untuk bertanya, takut dianggap bodoh atau merepotkan. Padahal, seperti kata pepatah, “Tidak ada pertanyaan bodoh, yang bodoh adalah tidak mau bertanya.”
Di era media sosial, banyak mahasiswa yang aktif berdiskusi di dunia maya, namun pasif saat diminta bertanya di kelas. Rasa takut salah, malu dianggap bodoh, atau tidak terbiasa berbicara di depan umum menjadi penghalang utama. Padahal, keterampilan bertanya sangat penting, tidak hanya untuk memahami materi kuliah, tetapi juga untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi yang dibutuhkan di dunia kerja.
Tips sederhana untuk mengatasi rasa takut bertanya di kelas antara lain: mulai dari pertanyaan sederhana, latihan berbicara di depan teman, mengubah mindset bahwa bertanya bukan hal memalukan, dan tidak perlu takut berbuat salah. Public speaking bukan bakat, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Jika kita bisa aktif di media sosial, mengapa tidak mencoba keberanian itu di dunia nyata?
Di dunia profesional, kemampuan bertanya adalah aset berharga. Pemimpin yang hebat bukan yang selalu punya jawaban, tetapi yang mampu mengajukan pertanyaan yang menggugah, menantang status quo, dan membuka peluang baru. Dalam rapat, seorang manajer yang bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan lebih baik?” atau “Apa yang belum kita pikirkan?” sering kali memicu diskusi produktif dan inovasi.
Di era AI, perusahaan mencari karyawan yang tidak hanya mampu mengikuti instruksi, tetapi juga mampu merumuskan pertanyaan, menganalisis masalah, dan mencari solusi kreatif. Kemampuan ini disebut sebagai “prompt engineering” dalam konteks AI, namun pada dasarnya adalah seni bertanya yang telah menjadi kunci sukses sejak zaman dahulu.
Sebagian orang khawatir AI akan menggantikan peran manusia. Namun, kenyataannya, AI adalah alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia, bukan pengganti. AI bisa memberikan jawaban, tetapi manusia yang menentukan pertanyaan. AI bisa menganalisis data, tetapi manusia yang menafsirkan makna dan mengambil keputusan.
Dalam pendidikan, AI membantu personalisasi pembelajaran, memberikan umpan balik instan, dan membuka akses ke sumber belajar yang luas. Namun, peran guru sebagai pembimbing, motivator, dan fasilitator tetap tak tergantikan. Guru yang mampu membimbing siswa untuk bertanya, berpikir kritis, dan berkolaborasi akan tetap relevan di era digital.
Di dunia kerja, AI mempercepat proses administratif, menganalisis data besar, dan mengotomatisasi tugas rutin. Namun, kreativitas, empati, dan kemampuan bertanya tetap menjadi keunggulan manusia yang tidak bisa digantikan mesin.
Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi, kemampuan bertanya adalah cahaya yang menuntun kita menembus lorong gelap ketidakpastian. Bertanya bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk mencari makna, menantang asumsi, dan membuka jalan menuju masa depan.
Di era AI, ketika jawaban mudah didapat, pertanyaan yang baik menjadi pembeda. Seperti senter di lorong gelap, pertanyaan menuntun kita menemukan jalan, menghindari jebakan, dan mencapai tujuan. Mari kita rawat dan kembangkan seni bertanya, karena di balik setiap jawaban hebat, selalu ada pertanyaan yang luar biasa.
Bertanya juga bisa menjadi fondasi berpikir kritis di era Post-Truth. Dalam lanskap media sosial saat ini, kemampuan bertanya juga berfungsi sebagai benteng pertahanan diri terhadap banjir informasi yang tidak akurat. Kita sering kali tergoda untuk langsung mempercayai hal-hal yang viral karena takut ketinggalan tren atau dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO). Namun, tanpa daya kritis, masyarakat mudah terjebak dalam pusaran hoaks dan komentar negatif yang merusak kesehatan mental.
Para pendidik dan pakar komunikasi menekankan pentingnya membiasakan diri untuk tidak “asal jeplak” atau memberikan respons emosional secara instan terhadap sebuah informasi. Berpikir kritis dimulai dengan mengajukan pertanyaan skeptis yang sehat: “Dari mana sumber informasi ini?”, “Apakah data yang disajikan valid?”, dan “Apa tujuan dari penyebaran berita ini?”. Dengan bertanya, pola pikir kita akan terasah untuk menempatkan akal sehat di atas perasaan yang sesaat sehingga kita tidak tersesat oleh kegelapan arus informasi di era post-truth, ibarat menyalakan senter di lorong gelap.
Inovasi dari Kegelisahan: Kisah Sukses Anak Bangsa
Sejarah inovasi di Indonesia memberikan bukti nyata bahwa perubahan besar selalu dimulai dari sebuah pertanyaan yang lahir dari pengamatan terhadap realitas sosial. Salah satu contoh paling ikonik adalah lahirnya Gojek. Nadiem Makarim tidak menciptakan Gojek dari ruang hampa; ide tersebut berakar dari pengalamannya sebagai pengguna setia ojek pangkalan yang sering kali melakukan obrolan mendalam dengan para pengemudi.
Nadiem melihat sebuah inefisiensi yang nyata: para pengemudi ojek menghabiskan sebagian besar waktu mereka hanya untuk menunggu penumpang di pangkalan secara tidak pasti, sementara di sisi lain, calon penumpang sering kali kesulitan mencari ojek saat sedang terburu-buru. Pertanyaan-pertanyaan kritis yang muncul dalam benaknya adalah: “Mengapa tukang ojek harus menunggu secara pasif di satu tempat?”, “Bagaimana jika ojek bisa dipesan secara instan melalui ponsel?”, dan “Bagaimana jika sistem harga dibuat transparan sehingga tidak perlu ada proses tawar-menawar yang melelahkan?”. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana inilah yang kemudian merevolusi sistem transportasi di Indonesia.
Perjalanan Gojek merupakan bukti nyata evolusi inovasi yang matang. Dimulai pada tahun 2010 sebagai sistem call center manual dengan hanya 20 pengemudi untuk memvalidasi kebutuhan pasar ojek pangkalan. Fase transisi kemudian berlanjut pada tahun 2014 dengan pemanfaatan SMS dan telepon untuk memperluas jangkauan layanan tanpa bergantung pada aplikasi canggih. Lonjakan besar terjadi di tahun 2015 saat aplikasi mobile resmi diluncurkan, yang membawa pertumbuhan eksponensial sekaligus standarisasi harga. Akhirnya, Gojek berevolusi menjadi sebuah Super App yang menyediakan ekosistem digital lengkap, mulai dari layanan pesan antar makanan hingga solusi pembayaran digital yang mendukung UMKM dan inklusi keuangan.
Kisah sukses ini mengajarkan bahwa menjadi wirausahawan bukan berarti harus menemukan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan tentang memperbaiki sistem tradisional yang tidak efisien melalui pemanfaatan teknologi. Keberhasilan Gojek bukan sekadar soal aplikasi, melainkan tentang keberanian untuk bertanya tentang cara hidup yang selama ini kita anggap normal namun sebenarnya bermasalah. Inovasi serupa juga muncul dari tangan para mahasiswa dan siswa di berbagai pelosok Indonesia, mulai dari sepeda motor listrik ITS hingga kulkas anti-freon karya murid SD yang semuanya berawal dari satu titik: pertanyaan tentang bagaimana membuat hidup menjadi lebih baik.
Menuju Masa Depan: Wisdom as the Final Frontier
Pada akhirnya, di zaman AI ini kemampuan bertanya adalah senjata yang sesungguhnya. Pertanyaan adalah seni menjelajah pengetahuan, lebih dalam dan luas daripada sekadar menghafal jawaban. Cerita imajinatif Einstein menunggang cahaya menjadi simbol: dengan keberanian bertanya “bagaimana jika”, ia melompat ke alam pikiran baru. Hingga kemudian imajinasinya menunggangi cahaya tersebut kelak di kemudian hari menjadi teori yang sangat terkenal di dunia fisika: “teori relativitas”. Begitu pula kita: dengan seni bertanya ala Pestalozzi, kita menavigasi kecerdasan buatan dan informasi melimpah, menemukan solusi dan pemahaman yang benar-benar baru. Bertanya bukan lagi akhir cerita, melainkan awal dari petualangan intelektual yang berkelanjutan.
Tidak hanya Einstein sebagai murid yang menjadi warisan dari konsep reformasi pendidikan Pestalozzi, warisan Pestalozzi juga mewarnai karya banyak pemikir dan inovator besar lainnya. Friedrich Fröbel, pendiri taman kanak-kanak, misalnya, mengembangkan metodenya berdasarkan ide-ide Pestalozzi. Begitu pula tokoh-tokoh seperti Maria Montessori dan Jean Piaget, namanya sering disebut dalam aliran pendidikan yang “berada dalam jalur” pemikiran Pestalozzi. Pendidikan kontemporer banyak terinspirasi oleh prinsip Pestalozzi tentang belajar dari pengalaman konkret, sebuah jejak yang masih kita ikuti hingga kini.
Sebagai penutup, penting untuk disadari bahwa di era Kecerdasan Buatan, jawaban telah menjadi sesuatu yang dapat diproduksi secara massal oleh mesin. Namun, kebijaksanaan yang terkandung dalam sebuah pertanyaan tetap menjadi hak prerogatif manusia. Kita tidak boleh menjadi wadah penampung informasi yang pasif; kita harus tetap menjadi pengamat dunia yang aktif, layaknya siswa-siswa Pestalozzi yang diajak mengamati sungai dan batu di depan mata mereka.
Seni bertanya adalah jembatan yang menghubungkan pengetahuan masa lalu dengan inovasi masa depan. Dari kegigihan Pestalozzi membela hak anak-anak miskin untuk berpikir mandiri, hingga langkah berani para pendiri startup Indonesia yang menantang kemacetan Jakarta, satu hal yang pasti: perubahan selalu dimulai dari seseorang yang berani bertanya “Mengapa?” dan “Bagaimana jika?”. Dengan terus bertanya, kita memastikan bahwa kemanusiaan tetap memiliki kedaulatan atas teknologi yang diciptakannya sendiri.
AO
Tangerang Selatan, 21 Desember 2025
