Laskar Minyak: Bara Api Kemerdekaan dan Kisah Lahirnya Pertamina

Sejarah kemerdekaan Indonesia sering kita dengar lewat kisah tembakan, pertempuran, dan pekik “Merdeka!” yang menggema di udara.
Namun di balik gemuruh senjata, ada api lain yang tak kalah dahsyat: api kilang minyak.

Dari Pangkalan Brandan hingga Plaju, dari Cepu hingga Jambi — ratusan buruh dan pegawai minyak menjelma menjadi Laskar Minyak:
barisan pekerja yang mempertahankan republik dengan kunci pas, bahan bakar, dan tekad yang menyala.

Mereka bukan tentara resmi, tapi tanpa mereka republik bisa lumpuh.
Sebab tanpa minyak, truk tak bergerak, kapal tak berlayar, pesawat tak terbang.
Inilah kisah bagaimana energi menjadi senjata, dan bagaimana dari bara perjuangan itu lahir sebuah perusahaan nasional bernama Pertamina.

✍️
*Awal Jejak: Minyak dan Penjajahan*

Minyak bumi pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1885 di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara — jauh sebelum republik lahir.
Tak lama kemudian, perusahaan Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), anak dari Royal Dutch/Shell, menguasai ladang-ladang itu.

Di Sumatera Selatan berdiri kilang Plaju dan Sungai Gerong, sementara di Jawa berdenyut sumur-sumur Cepu dan Wonokromo.
Para pekerja pribumi — mandor, teknisi, tukang las, juru pompa — menjadi tulang punggung industri,
namun tetap buruh kelas dua di negeri sendiri.

Ketika Jepang datang pada 1942, perusahaan itu diambil alih militer Jepang. Tapi mesin tetap berputar oleh tangan orang Indonesia.
Di sinilah mereka belajar tentang teknologi industri, kedisiplinan, dan solidaritas sesama pekerja — benih kesadaran yang kelak tumbuh menjadi semangat perlawanan.

Api kecil itu menyala perlahan. Dan begitu republik lahir, bara itu berubah menjadi nyala.

🔥⚔️
*Palembang: Nyala Revolusi di Sungai Gerong*

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, ribuan pekerja minyak di Palembang menolak menyerahkan fasilitas kepada Sekutu atau Belanda.
Di bawah pimpinan J.M. Pattiasina, mereka membentuk Perusahaan Minyak Republik Indonesia (PERMIRI) — organisasi nasionalisasi spontan industri minyak di Sumatera Selatan.

PERMIRI bukan hanya perusahaan darurat; ia adalah markas pertahanan energi republik.
Para pemuda pekerja, tergabung dalam Angkatan Pemuda Indonesia Minyak (API Minyak), ikut berperang dalam pertempuran Palembang 1946–1947.

> “Kami bertempur dengan minyak yang kami hasilkan sendiri. Setiap tetes yang tumpah, kami anggap darah republik.”

Kilang Plaju dan Sungai Gerong diserang Belanda pada 1947. Banyak yang gugur tanpa nama di monumen manapun.
Namun tanpa minyak mereka, logistik Republik di Sumatera bisa terhenti.
Di sinilah, kilang menjadi benteng, dan api tungku menjadi bara perjuangan.

Sementara langit Palembang memerah, di utara, bara lain sedang disulut — di tempat pertama minyak Nusantara ditemukan.

🔥🇮🇩
*Pangkalan Brandan: Api yang Membakar Penjajahan*

Di Pangkalan Brandan, ladang minyak tertua di Nusantara, para pekerja yang dulunya karyawan BPM memilih jalan ekstrem: membumihanguskan aset sendiri.
Ketika pasukan Belanda datang pada Agustus 1947, para buruh dan pejuang rakyat bersepakat:
ladang minyak tidak boleh kembali ke tangan penjajah.

Dalam rapat singkat di tengah malam, keputusan itu diambil.
Lebih baik terbakar daripada direbut.

Pada 13 Agustus 1947, mereka menyalakan api ke tangki-tangki minyak raksasa,
membiarkan langit Brandan memerah seperti senja yang tak kunjung padam.

Peristiwa itu dikenal sebagai Brandan Bumi Hangus — simbol tekad bahwa kemerdekaan lebih berharga daripada harta benda.
Dari abu itulah lahir semboyan legendaris:

> “Brandan hangus, tapi semangat tetap menyala.”

Dan nyala itu, seperti rantai api, menjalar ke Jawa dan Sumatera lainnya.

🇮🇩
*Cepu dan Jambi: Buruh, Serikat, dan Solidaritas*

Di Pulau Jawa, para pekerja minyak di Cepu dan Wonocolo membentuk Serikat Buruh Minyak (SBM) pada 1946.
Serikat ini bukan sekadar wadah perjuangan upah, tapi benteng penjaga energi republik.
Mereka mengawal tangki minyak, memperbaiki pipa bocor, dan memastikan bahan bakar mengalir ke markas-markas pejuang di Jawa Tengah dan Timur.

Di Jambi, lahir kelompok Laskar Minjak dari para buruh ladang kecil seperti Bajubang dan Kenali Asam.
Dipimpin R. Soedarsono, mereka memperbaiki sumur rusak akibat perang dan menyalurkan minyak ke pasukan republik di Sumatera Tengah.

Bayangkan: di tengah dentuman meriam dan kelangkaan logistik, mereka bekerja tanpa senjata, hanya dengan obeng, pipa, dan semangat republik.
Bagi mereka, bekerja di kilang bukan sekadar profesi — melainkan bentuk pengabdian.

Sebab mereka tahu, di tangan siapa energi berada, di sanalah kekuasaan menentukan nasib bangsa.

🇮🇩⚔️
*Minyak Sebagai Amunisi Republik*

Seluruh kisah ini menyingkap makna strategis minyak dalam perang kemerdekaan.
Bahan bakar adalah urat nadi republik muda.

Laskar Minyak bertempur bukan dengan peluru, tetapi dengan pompa dan pipa.
Mereka memindahkan stok bahan bakar ke lokasi rahasia, memperbaiki mesin di tengah serangan udara, menjaga agar logistik tak pernah berhenti.

Tanpa mereka, kendaraan tempur republik akan macet, kapal tak bisa berlayar, komunikasi terputus.
Energi menjadi senjata ideologis — tanda kedaulatan, lambang kemampuan berdikari.

Di medan perang, peluru menembus tubuh.
Tapi di kilang dan sumur, minyak menghidupkan republik.

🔥🇮🇩
*Dari Bara ke Bendera: Lahirnya Pertamina*

Ketika perang usai dan republik menata diri, bara perjuangan itu tidak padam.
Sisa-sisa organisasi Laskar Minyak berkembang menjadi struktur formal perusahaan negara.

PERMIRI di Sumatera Selatan menjadi cikal bakal PERMINA, lalu bergabung dengan PERTAMIN, hingga akhirnya melebur menjadi PERTAMINA pada 1968.

Banyak tokoh Laskar Minyak seperti J.M. Pattiasina kemudian menjadi pejabat teknis dan direksi awal di tubuh perusahaan nasional itu.
Mereka membawa semangat yang sama — minyak untuk bangsa — yang lahir bukan di ruang rapat, tapi di medan api revolusi.

Pertamina hari ini berdiri di atas fondasi ideologis itu:
bahwa penguasaan sumber energi adalah bentuk tertinggi dari kemerdekaan ekonomi.

🔥✍️
*Epilog: Bara yang Tak Pernah Padam*

Kini, setiap kali kita mengisi bahan bakar di SPBU berlogo merah-biru, mungkin tak banyak yang ingat:
simbol itu lahir dari darah dan keringat para pekerja yang membakar ladang sendiri agar republik tetap berdaulat.

Laskar Minyak mengajarkan satu hal yang tak lekang waktu:
kemerdekaan tidak hanya dipertahankan dengan senjata,
tetapi juga dengan tangan-tangan yang menguasai teknologi dan produksi.

Mereka menjadikan industri sebagai medan juang,
dan minyak sebagai senjata perlawanan.

Dari bara perjuangan itu, Pertamina lahir — bukan sekadar perusahaan,
melainkan monumen hidup dari api kemerdekaan yang tak pernah padam.

Dan kini, ketika harga minyak ditentukan bursa global,
mungkin yang perlu kita hidupkan kembali bukan sekadar kilang,
melainkan jiwa Laskar Minyak —
jiwa mereka yang percaya bahwa energi bukan sekadar komoditas,
melainkan kemerdekaan itu sendiri.

📖
*Catatan Kaki*

1. Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) adalah anak perusahaan Royal Dutch/Shell yang menguasai ladang minyak di Hindia Belanda hingga 1942 (Eprints UNDIP, 2018).
2. Pattiasina, J. M., mendirikan PERMIRI pasca-Proklamasi di Palembang untuk mengelola kilang Plaju dan Sungai Gerong (Independensi.com, 2021).
3. “J.M. Pattiasina, PERMIRI, dan Perang Kemerdekaan di Palembang,” OG Indonesia, 2021.
4. “Peristiwa Bumi Hangus Pangkalan Brandan,” Repositori Kemendikbud, 2020.
5. “Tak Rela Ladang Minyak Dikuasai Belanda Kembali, Brandan Bumi Hangus Pun Terjadi,” Sindonews Daerah, 2020.
6. “Sejarah Serikat Buruh Minyak di Cepu,” Syekhnurjati Journal of Edu-Eksos, 2019.
7. “Laskar Minjak dan Perjuangan Rakyat Jambi,” Harian Sentana, 2021.
8. Wawancara arsip J.M. Pattiasina dalam OG Indonesia, 2021.
9. “Sejarah Industri Minyak Indonesia: Dari BPM ke Pertamina,” Eprints UNDIP, 2018.

📚
*Daftar Pustaka*

Eprints UNDIP. (2018). Sejarah Industri Minyak Indonesia: Dari BPM ke Pertamina. Universitas Diponegoro Repository.

Harian Sentana. (2021). Laskar Minjak dan Perjuangan Rakyat Jambi.

Independensi.com. (2021, Maret 15). J.M. Pattiasina, PERMIRI, dan Perang Kemerdekaan di Palembang.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Peristiwa Bumi Hangus Pangkalan Brandan. Repositori Kemendikbud.

OG Indonesia. (2021). J.M. Pattiasina, PERMIRI, dan Perang Kemerdekaan di Palembang.

Sindonews Daerah. (2020). Tak Rela Ladang Minyak Dikuasai Belanda Kembali, Brandan Bumi Hangus Pun Terjadi.

Syekhnurjati Journal of Edu-Eksos. (2019). Sejarah Serikat Buruh Minyak (SBM) di Cepu.


🚧
soerabaja, 06-11-2025

Published by

cakHP

Teknik Elektro ITB 1983-1989 Magister Ilmu Hukum Universitas Surabaya 2003-2005 Wirausaha di Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *