Neo-Kolonialisme Fashion: Saat Kita Lupa Swadeshi dan Dijajah Lagi Lewat Baju Bekas

🧵🧥👕
“Kalau kita terus senang impor baju bekas, ya jangan heran kalau pabrik tekstil tutup satu-satu.”
Purbaya Yudhi Sadewa bilang begitu di satu forum ekonomi bulan lalu. Kalimatnya ringan, tapi nadanya seperti cambuk di telinga bangsa yang doyan diskon.

Pernahkah kamu sadar, baju yang kamu beli cuma karena “flash sale 11.11” itu mungkin punya umur lebih pendek dari status cintamu di bio WhatsApp?
Ironinya, setiap kali kita tergoda “check out sekarang”, di sisi lain dunia ada jutaan buruh yang “check out” dari pabrik karena dirumahkan.
Yang lebih ironis lagi: baju bekas yang kita sumbangkan dengan rasa derma — sedang berlayar ke Afrika, menimbun pasar lokal, dan menjajah ekonomi tekstil negeri orang.

Dunia berputar, tapi benang penjajahan ternyata tidak pernah benar-benar putus.
Kita hanya mengganti bentuknya — dari rempah dan kapas menjadi brand dan bundle baju bekas.

🧵
*Dari Swadeshi ke Swag-Deshi*

Dulu Gandhi memutar roda pemintal charkha sebagai simbol perlawanan: Swadeshi — berdikari lewat tenunan lokal.
Sekarang, kita memutar jari di layar ponsel, memilih baju impor dengan bangga, merasa “global citizen”.
Sementara di negeri sendiri, pejabat seperti Purbaya mencoba menegakkan kedaulatan ekonomi, tapi pasar kita malah memanjakan produk buangan negara lain.
“Deindustrialisasi itu penyakit senyap,” katanya di sebuah wawancara. “Begitu rantai pasok tekstil hancur, susah membangunnya lagi.”

Dan benar saja: kita bangga mengenakan baju merek luar, tapi menangis ketika pabrik konveksi di Majalaya berhenti berputar.

🧥👘
*Fast Fashion: Cepat Untung, Cepat Mati*

Istilah fast fashion seharusnya membahagiakan para buruh tekstil di negara berkembang: produksi cepat, permintaan tinggi, gaji stabil.
Tapi kenyataannya seperti drama sinetron: yang kaya makin kaya, yang menjahit makin terjepit.

Menurut laporan Clean Clothes Campaign (2023), lebih dari 90% buruh tekstil di Asia Tenggara dibayar di bawah upah layak.
Saat permintaan menurun karena tren cepat berganti, gelombang PHK massal terjadi — di Bangladesh lebih dari 400.000 buruh kehilangan pekerjaan,
sementara di Indonesia, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat 50 ribu pekerja dirumahkan pada 2023 karena pesanan ekspor menurun dan pasar lokal dibanjiri impor murah serta thrift bekas dari luar negeri.

Di Afrika, fenomena ini bahkan disebut “Secondhand Tsunami”.
Pasar-pasar di Ghana, Kenya, dan Uganda dipenuhi baju bekas dari Eropa dan AS.
Menurut laporan OR Foundation (2022), sekitar 40% pakaian bekas yang diimpor ke Ghana berakhir di tempat sampah dalam waktu seminggu karena kualitas rendah.
Sampah tekstil menumpuk, mencemari sungai dan tanah — dan ironisnya, menyingkirkan para penjahit lokal yang dulu hidup dari kain buatan dalam negeri.

🌆
*Deindustrialisasi yang Tak Disadari*

Mari kita jujur: Indonesia pernah berjaya di tekstil.
Pada 1990-an, Bandung dijuluki “Paris van Java” bukan hanya karena butik, tapi karena pabrik tekstilnya yang sibuk siang-malam.
Namun dua dekade terakhir, rantai pasok ini luluh lantak.
Dari produsen kapas hingga konveksi, semua tergilas oleh impor murah, fast fashion, dan baju bekas yang dijual kiloan.

Ketika thrift shop menjamur di Instagram, pabrik benang di Majalaya justru berhenti berputar.
Kita kehilangan tenaga kerja, keterampilan, dan kemandirian industri.
Dan parahnya, kita bahkan menganggapnya gaya hidup keren — padahal itu gejala deindustrialisasi diam-diam.

Purbaya berkali-kali memperingatkan hal ini dalam rapat koordinasi ekonomi:

> “Kalau industri tekstil kita kolaps, jangan harap pertumbuhan lapangan kerja bisa pulih cepat.
> Negara tanpa industri itu seperti tubuh tanpa otot — bisa berdiri, tapi tidak kuat berjalan.”

Dan memang begitulah Indonesia hari ini — tampak modis di luar, tapi keropos di dalam.

🚢
*Penjajahan Baru yang Datang dari Lemari*

Neo-kolonialisme tidak lagi datang dengan bedil dan kapal dagang.
Ia datang dengan kemasan fashionable, lewat algoritma TikTok dan haul videos YouTube.
Kita menonton influencer membuka karung baju bekas impor, bersorak karena “dapat Zara cuma 20 ribu”,
tanpa sadar bahwa tiap karung itu berarti mata pencaharian ribuan buruh lokal yang terkubur.

Gaya hidup global ini menciptakan loop kolonialisme digital:
negara maju memproduksi berlebih, lalu membuangnya ke negara berkembang, yang menampung dengan rasa bangga,
sementara industri lokal lumpuh karena tidak bisa bersaing.

Inilah neo-kolonialisme fashion: penjajahan yang wangi, bergaya, tapi tetap menindas.

✍️
*Penutup: Dari “Trendy” ke “Tanggung Jawab”*

Purbaya menutup pernyataannya dengan kalimat sederhana tapi dalam:

> “Kalau kita mau mandiri, ya mulai dari hal sekecil benang.”

Kita perlu kembali berpikir seperti Gandhi di era digital — bukan menenun kain, tapi menenun kesadaran.
Kita tidak bisa terus memakai baju dari sistem yang menelanjangi manusia lain.
Swadeshi masa kini bukan berarti menolak dunia, tapi membangun rantai pasok yang adil, berdaulat, dan berkelanjutan.

Karena kemerdekaan sejati tidak hanya di bendera dan pidato,
tapi juga di label baju yang kita pilih untuk dikenakan.

📖
*Jelajah Konsep (Glosarium)*

Swadeshi: Gerakan ekonomi mandiri yang dipelopori Mahatma Gandhi untuk menolak produk kolonial dan menghidupkan industri lokal.

Fast Fashion: Sistem produksi dan konsumsi pakaian dengan rotasi tren sangat cepat, biasanya murah dan eksploitatif.

Neo-Kolonialisme: Bentuk penjajahan modern melalui ekonomi, budaya, atau teknologi tanpa pendudukan fisik.

Deindustrialisasi: Penurunan kemampuan suatu negara untuk memproduksi barang karena tekanan impor, globalisasi, atau kebijakan salah arah.

Secondhand Tsunami: Istilah populer untuk membanjirnya impor pakaian bekas dari negara maju ke negara berkembang, yang menghancurkan industri lokal.

Thrift Culture: Gaya hidup membeli barang bekas, terutama pakaian, yang semula bermakna hemat dan ekologis, tapi kini sering bergeser menjadi tren konsumtif baru.

📚
*Daftar Pustaka*

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). (2023). Laporan Tahunan Industri Tekstil dan Produk Tekstil 2023. Jakarta: API.

Clean Clothes Campaign. (2023). Wage violations in Asia’s garment industry: A regional overview. Retrieved from https://cleanclothes.org

Gandhi, M. (1921). The Doctrine of Swadeshi. In Young India (Vol. 3).

OR Foundation. (2022). Dead White Man’s Clothes: The secondhand clothing economy in Ghana. Accra: The OR Foundation.

United Nations Environment Programme. (2023). Sustainability and circularity in the textile value chain: Global perspectives. Nairobi: UNEP.

World Bank. (2022). Textiles and Apparel: Global Value Chain Analysis. Washington, D.C.: World Bank Group.

.
🚧
soerabaja, 04-11-2025

Published by

cakHP

Teknik Elektro ITB 1983-1989 Magister Ilmu Hukum Universitas Surabaya 2003-2005 Wirausaha di Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *