TAUHID DAN BERPIKIR SISTEMIK: Menemukan Kembali Rasionalitas Ketuhanan dalam Dunia yang Terpecah

💫🌕
Ilmu pengetahuan modern membanggakan dirinya sebagai peta paling lengkap atas dunia — tapi setiap kali kita menambahkan detail, kita kehilangan makna keseluruhan.

Berabad-abad sebelum “system thinking” lahir di Barat, para teolog Islam telah mengingatkan bahwa yang memberi makna pada hubungan antar-hal bukanlah relasi itu sendiri, melainkan Sang Pencipta Relasi.

Berpikir sistemik tanpa kesadaran tauhid hanyalah jaring tanpa pusat; dan ketika pusat itu hilang, sistem berubah menjadi berhala baru yang menelan manusia di dalamnya.

📌
1️⃣ *Dunia yang Terpecah*

Kita hidup di zaman ketika semuanya terhubung — tetapi juga terpecah.
Jaringan digital mengikat miliaran manusia dalam satu ekosistem global, namun kesadaran kita semakin tercerai. Alam rusak, etika retak, dan manusia kehilangan arah di tengah sistem yang mereka ciptakan sendiri.

Ironisnya, semua kerusakan ini lahir dari cara berpikir yang memuja potongan, bukan keseluruhan. Kita terlatih untuk melihat “bagian”, bukan “hubungan”. Ilmu modern — sejak Descartes memisahkan pikiran dari benda — membangun dunia atas dasar reduksi. Alam diurai menjadi mekanisme; manusia dipersempit jadi fungsi ekonomi.

Namun abad ke-20 melahirkan sebuah kebangkitan baru:
🔹system thinking — cara berpikir yang menolak reduksionisme dan berusaha melihat dunia sebagai jaringan hubungan. Ludwig von Bertalanffy (1968) menyebutnya General Systems Theory; Fritjof Capra (1996) mengajarkannya lewat The Web of Life: bahwa kehidupan bukan kumpulan objek, melainkan pola keterhubungan.

Menariknya, jika kita mundur ke abad ke-10, dunia Islam sudah punya cara pandang serupa — tapi dengan dimensi transendensi yang jauh lebih dalam. Ia disebut: Tauhid.

📌
2️⃣ *Tauhid sebagai Fondasi Berpikir Sistemik*

Tauhid sering kita pahami secara teologis: mengesakan Allah.
Namun di balik formula itu tersembunyi sebuah logika eksistensial dan epistemologis — cara memandang realitas sebagai satu kesatuan di bawah Kehendak Tunggal.

Bagi para teolog Ahlusunnah, seperti al-Ash‘ari dan al-Māturīdī, dunia ini tidak berdiri sendiri. Ia bukan sistem yang otonom, tetapi sistem yang selalu bergantung pada Sang Pencipta.
Tidak ada sebab yang bekerja mandiri; yang ada hanyalah ‘ādah Ilahiyyah — kebiasaan Allah menampakkan keteraturan.

Kalimat kuncinya:

> “Tiap detik realitas diperbaharui oleh Kehendak-Nya.”

Artinya, alam semesta bukan mesin otomatis, tapi peristiwa berulang dari ciptaan dan kehendak. Dalam bahasa modern, kita bisa menyebutnya continuous creation.
Sebuah system yang berfungsi bukan karena determinisme internal, melainkan karena sustainability of Divine Will.

Dari sinilah muncul perbedaan mendasar antara berpikir sistemik modern dan tauhidik.
▪️System thinking modern menekankan interdependensi horizontal — hubungan antar unsur dalam jaringan.
▪️Tauhid menambahkan dimensi vertikal: bahwa jaringan itu sendiri bergantung pada Sumber Transenden.

Inilah yang bisa kita sebut sebagai
🔹berpikir sistemik transenden: melihat keterhubungan semesta tanpa kehilangan kesadaran akan poros ilahi di baliknya.

📌
3️⃣ *Dari Entitas ke Relasi: Perubahan Paradigma*

Filsafat Barat modern berpijak pada ontologi “entitas” — dunia dipahami sebagai kumpulan benda dan substansi.
Sementara dalam tradisi tauhidik, realitas dipahami sebagai relasi: antara Khaliq dan makhluq, antara sebab dan kehendak, antara yang tampak dan yang ghaib.

Al-Ash‘ari menolak ide bahwa api “membakar” kapas secara mandiri.
Yang membakar adalah Allah, dan api hanyalah perantara. Ini bukan penolakan terhadap hukum alam, tapi penegasan bahwa hukum itu sendiri adalah tanda hubungan yang terus diperbaharui.

Maka berpikir tauhidik sesungguhnya berpikir relasional, bukan atomistik.
Dan inilah inti berpikir sistemik modern — meski tanpa kesadaran ilahiah.
Keduanya sama-sama menolak fragmentasi, tapi berbeda dalam fondasi:

▪️System thinking modern: interdependensi natural (semesta sebagai sistem tertutup).

▪️Tauhidik: interdependensi teologis (semesta sebagai sistem terbuka terhadap kehendak Ilahi).

Dengan demikian, berpikir sistemik dalam perspektif tauhid bukan sekadar metode manajerial atau pola ilmiah. Ia adalah
🔹cara beriman yang rasional — cara memandang segala sesuatu sebagai bagian dari keteraturan Ilahi yang dinamis.

📌
4️⃣ *Dari Determinisme ke Kontingensi: Menghidupkan Rasionalitas Asy‘ariyah*

Banyak yang menuduh teologi Asy‘ariyah sebagai biang “fatalisme”.
Padahal, Asy‘ari tidak menolak hukum sebab-akibat, melainkan menegaskan bahwa sebab tidak punya daya mandiri.
Inilah konsep kasb: manusia “mengakuisisi” perbuatannya, tapi Allah yang menciptakan daya.

Dalam bahasa sistem, ini berarti: manusia berperan sebagai aktor dalam sistem yang selalu dikalibrasi oleh Tuhan. Tidak deterministik, tapi juga tidak chaos.
Setiap aksi kita menjadi bagian dari feedback loop spiritual: doa, niat, amal — semuanya beresonansi dalam jaringan kehendak ilahi.

Māturīdīyah bahkan melangkah lebih jauh: akal punya peran aktif untuk mengenali keteraturan ciptaan, karena sunnatullah bisa dibaca secara rasional. Maka sains bukanlah ancaman, melainkan sarana untuk membaca sistem Tuhan.

Paradoks menarik muncul di sini:

> Semakin kita memahami sistem, semakin kita sadar bahwa sistem itu tidak absolut.

📌
5️⃣ *Krisis Modernitas: Ketika Sistem Menjadi Tuhan*

Abad digital membawa system thinking ke tahap ekstrem.
Manusia kini menciptakan algoritma yang berpikir sendiri, sistem ekonomi yang otomatis mengatur perilaku pasar, bahkan AI yang mengatur preferensi moral kita tanpa kita sadari.

System thinking, yang dulu dimaksudkan untuk memulihkan keseimbangan, kini menjadi ideologi baru: sistem sebagai entitas yang menggantikan Tuhan.

Kita menyebutnya technocracy atau algorithmic governance — dunia di mana manusia tunduk pada “logika sistem”.
Inilah bentuk baru dari shirk epistemologis: ketika manusia menyembah keteraturan ciptaannya sendiri.

Tauhid memberi kritik tajam di sini.
Ia menegaskan bahwa tiap sistem hanyalah tanda, bukan penguasa.
Keteraturan bukan absolut, tetapi amanah.
Dan tugas manusia bukan menciptakan Tuhan baru dalam bentuk sistem, melainkan menjaga agar sistem tetap tunduk pada nilai-nilai ilahiah: keadilan, rahmah, dan amanah.

📌
6️⃣ *Dari Sains ke Etika: Sistem sebagai Amanah*

Ketika sains modern menemukan “keterhubungan segalanya” — dari ekologi hingga ekosistem digital — sebenarnya ia sedang mengetuk pintu lama yang telah dikenal Islam sejak awal: fasād fi al-arḍ terjadi ketika manusia merusak keseimbangan.

Zakat, misalnya, bukan hanya ritual ekonomi, tapi mekanisme homeostasis sosial: mengalirkan kelebihan dari pusat ke pinggiran, mencegah akumulasi energi sosial yang destruktif.
Shalat berjamaah adalah sinkronisasi spiritual — pelatihan kesadaran kolektif agar tidak kehilangan pusat.
Haji adalah sistem sirkulasi global yang mengingatkan manusia pada kesatuan umat.

Semua itu adalah bentuk system thinking ilahiah — tapi dengan kompas transendensi.
Tanpa kompas itu, keterhubungan berubah menjadi jebakan: konektivitas tanpa makna, efisiensi tanpa nilai.

📌
7️⃣ *Epistemologi Baru: Dualitas yang Tak Terpisahkan*

Untuk menghadapi dunia modern, kita membutuhkan cara berpikir ganda:

▪️Satu kaki di dunia empiris — memahami hukum sistem, sebab, dan interaksi.

▪️Satu kaki di dunia transenden — menyadari bahwa keteraturan hanyalah refleksi kehendak Ilahi.

Saya menyebutnya
🔹dual-register reasoning — berpikir dengan dua register sekaligus tanpa harus memilih salah satu.
Ini bukan kompromi, melainkan kesadaran dua dimensi realitas: yang terukur dan yang ghaib.

Asy‘ariyah dan Māturīdīyah sebenarnya sudah mengajarkan ini jauh sebelum sains modern muncul.
Bedanya, mereka tidak memisahkan rasio dan iman, melainkan menempatkannya dalam hierarki: akal sebagai pembaca, wahyu sebagai cahaya.

📌
8️⃣ *Menuju Etika Sistemik Tauhidik*

Maka, tugas intelektual Muslim hari ini bukan sekadar menjelaskan “Islam kompatibel dengan sains”, tapi menawarkan paradigma etis baru.
Berpikir sistemik tanpa kesadaran tauhid hanya menghasilkan efisiensi tanpa kebijaksanaan; tapi tauhid tanpa kemampuan berpikir sistemik mudah jatuh ke fatalisme.

Kita butuh etika sistemik tauhidik — kesadaran bahwa:

▪️Alam bukan objek, tapi amanah.

▪️Manusia bukan penguasa, tapi khalifah.

▪️Ilmu bukan kekuasaan, tapi jalan memahami kehendak-Nya.

Dengan cara pandang ini, bahkan kecerdasan buatan bisa menjadi ladang ibadah — sejauh ia diarahkan untuk menjaga keseimbangan ciptaan, bukan menggantikannya.

✍️
9️⃣ *Penutup: Menemukan Rasionalitas Ketuhanan*

Berpikir sistemik mengajarkan kita bahwa segala sesuatu saling terhubung.
Tauhid mengajarkan bahwa keterhubungan itu punya pusat: Allah.

Keduanya bertemu di kesadaran tertinggi: bahwa ilmu dan iman bukan dua jalan yang berlawanan, melainkan dua arus yang mengalir menuju satu lautan makna.

Mungkin inilah makna terdalam firman-Nya:

> “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sampai jelas bagi mereka bahwa Dia-lah Yang Benar.” (QS. Fushshilat: 53)

Di titik itu, berpikir sistemik bukan lagi soal teori — tapi zikir intelektual.
Sebuah cara baru untuk mengenal Tuhan di zaman mesin, dan mengenali diri di tengah sistem yang terus bergerak.

.
🧭
*Jelajah Makna*

‘Ādah Ilahiyyah – “Kebiasaan Ilahi”: pola keteraturan yang Allah tetapkan, namun tidak mengikat-Nya secara mutlak.

Kasb – “Akuisisi perbuatan”: manusia bertanggung jawab atas pilihan, meski daya penciptaan tetap milik Allah.

System Thinking – Cara berpikir yang menekankan hubungan antarbagian, bukan elemen terpisah.

Berpikir Sistemik Tauhidik – Pendekatan integratif yang membaca sistem alam sebagai cermin keteraturan Ilahi.

Dual-register reasoning – Kesadaran berpikir dengan dua dimensi: empiris dan transendental.

.
📚
*Teropong Pustaka*

al-Ash‘ari, A. (1993). Maqālāt al-Islāmiyyīn. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

al-Māturīdī, A. (2007). Kitāb al-Tawḥīd. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Bertalanffy, L. von. (1968). General System Theory: Foundations, Development, Applications. New York: George Braziller.

Capra, F. (1996). The Web of Life: A New Scientific Understanding of Living Systems. New York: Anchor Books.

Nasr, S. H. (1996). Religion and the Order of Nature. New York: Oxford University Press.

al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan. Herndon, VA: IIIT.

Sardar, Z. (1989). Exploring Islam and Science. London: Mansell.

.
🚧
soerabaja, 03-11-2025

Published by

cakHP

Teknik Elektro ITB 1983-1989 Magister Ilmu Hukum Universitas Surabaya 2003-2005 Wirausaha di Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *