Arief Prihantoro

Buku Evil Money menjelaskan bagaimana uang haram kreasi kartel narkoba dan teroris menjadi “ekonomi bawah tanah” global yang menghancurkan demokrasi. Dr. Rachel Ehrenfeld menyebut pencucian uang sebagai “ekonomi bawah tanah se-dunia” yang menghubungkan kartel narkoba, teroris, bahkan pemerintah dan bisnis sah, dan mengancam merusak demokrasi hingga terbentuknya “narcocracy” – pemerintahan di bawah kekuasaan uang kotor. Melalui studi kasus di Bahama, Los Angeles, Swiss, lembaga perbankan dunia, hingga Amerika Serikat, buku ini memperlihatkan bagaimana korupsi uang narkotik menembus perbankan dan institusi kenegaraan.
Surga Pencucian Uang di Bahama
Kisah bermula pada era pascaperang, ketika Bahamas yang dulu tempat berlindung bajak laut dan penyelundup alkohol berubah menjadi pusat pencucian uang. Setelah Revolusi Kuba 1959 menutup kasino-kasino di Havana, gangster Meyer Lansky memindahkan bisnis ilegalnya ke Nassau, ibu kota Bahamas. Lansky membangun kerajaan kasino dan perbankan offshore di pulau tersebut sebagai kedok “mencuci” uang hasil kejahatan, dari narkotika hingga prostitusi. Menurut Ehrenfeld, Lansky adalah pelopor teknik yang kini jadi standar mafia dan kartel: menyaring hasil kejahatan melalui rekening di surga pajak seperti Bahamas, Swiss, dan Panama, lalu mengembalikan uangnya ke bank-bank AS sebagai uang “bersih”. Dengan memanfaatkan kemudahan judi dan kebijakan perbankan longgar, pulau kecil ini menjadi pintu masuk jutaan dolar uang kartel ke ekonomi Amerika.
Lansky juga memainkan politik lokal untuk menjaga keuntungannya. Dia menyadari bahwa pemerintahan lokal harus melibatkan mayoritas penduduk kulit hitam demi stabilitas politik. Lansky diam-diam mendukung partai oposisi Progressive Liberal Party (PLP) yang dipimpin Lynden Oscar Pindling, agar kepentingannya terlindungi. Setelah PLP menang pemilu 1967, pemerintahan Bahama yang baru ternyata sangat korup: pejabat diguyur suap dan pulau itu secara terbuka “disewakan” kepada mafia Kolombia. Uang besar kartel Medellin (Pablo Escobar, Jorge Ochoa dkk.) mengalir masuk ke Bahamas, dijadikan deposito di bank-bank lokal, lalu ditransfer lagi ke Panama dan Swiss. Misalnya, bank-bank di Nassau menerima jutaan dolar dari Lehder (Medellin) dan mentransfernya ke rekening kartel di Panama. Keterlibatan pejabat bahama seperti Dubes Pindling membuktikan betapa pencucian uang narkoba telah merusak pemerintahan dan ekonomi kecil itu: lembaga publik dikuasai kartel dan uang gelap.
Operasi “La Mina” di Los Angeles
Di Los Angeles, di mana operasi rahasia DEA dan Kepabeanan AS, Operation Polar Cap, mengungkap jaringan pencucian uang yang disebut “La Mina” (dari kata Spanyol “tambang emas”). Para agen penegak hukum menyamar di Distrik Perhiasan Hill Street, L.A., yang terkenal ketat keamanannya, untuk menelusuri jebakan emas palsu yang sebenarnya bisnis legit menjadi kedok transfer uang kartel. Melalui dokumen rahasia dan jejak truk pengangkut uang, penyelidikan ini berhasil menelusuri 1,2 miliar dolar AS uang narkoba, dengan 412 juta di antaranya mengalir melalui rekening perusahaan pemurnian emas Ronel Refining.
Modusnya: kartel Kolombia (Medellin dan Cali) membayar “pembelian emas” fiktif kepada pengepul emas di AS. Misalnya, laporan FBI menunjukkan adanya faktur “pembelian emas” senilai puluhan hingga ratusan ribu dolar, dibayar tunai oleh orang-orang tak dikenal di Kanada dan Meksiko. Padahal sesungguhnya emas itu tidak pernah dikirim; sebaliknya, uang tunai hasil penjualan kokain di AS dikirim ke bank melalui mekanisme korporat. Saksi kunci, mantan presiden Ronel Richard Ferris, mengungkap bahwa tubuh “perusahaan emas” ini akan menerima tawaran kartel untuk jadi tempat cuci-mencuci uang, seolah proses lelang bisnis biasa.
Bukti utama diperoleh dengan ekstraksi sampah: agen FBI mengerahkan penyamar penjaga gedung yang malam-malam mengumpulkan sampah perusahaan pencucian uang, menemukan slip pengiriman uang dan tag pengangkutan bank yang mengungkap transfer besar ke Federal Reserve. Misalnya, tag paket uang senilai $480.000 dicocokkan dengan catatan Loomis yang menunjukkan jumlah persis diantar ke Fed 18 hari sebelumnya. Data ini menguak rute kompleks: uang kartel dari Miami, Houston, dan New York disalurkan ke L.A., lalu dilimpahkan melalui perantara ke bank Panama, Uruguay, bahkan Eropa. Polisi berhasil menyita puluhan juta dolar dan mengungkap lebih dari seribu rekening bank di berbagai negara yang dipakai jaringan ini.
Swiss: Ujung Tombak Pencucian Uang
Operasi Polar Cap ternyata merambah hingga ke Swiss. Bab ketiga mengisahkan “Kasus Kopp”, skandal Pencucian Uang Swiss yang mempertemukan pejabat negarawan dengan mafia. Elizabeth Kopp, Menteri Kehakiman Swiss yang sedang naik daun, terpaksa mengundurkan diri karena memberi tahu suaminya, seorang eksekutif perusahaan perdagangan emas Zurich bernama Shakarchi Trading, bahwa perusahaannya dicurigai terlibat pencucian uang narkotika. Padahal kemudian sebuah pengadilan Swiss membebaskannya dari dugaan kriminal pada 1990, peristiwa itu sudah memicu disahkannya undang-undang anti-pencucian uang pertamanya di Swiss. Skandal yang dikenal sebagai “Lebanon Connection” ini menjadi titik akhir Operasi Polar Cap, menghubungkan kartel Medellin dengan perbankan Swiss, khususnya perusahaan Mohammed Shakarchi dan saudara Magharian di Zurich.
Penelusuran lebih jauh mengungkap praktek luas: dua kakak Magharian yang berkewarganegaraan Suriah-Armenia ternyata membantu mencuci puluhan juta dolar drug money melalui Credit Suisse dan Union Bank of Switzerland. Seorang mantan kurir narkoba mengaku mentransfer $60 juta pada 1988 ke rekening Swiss mereka. Pencucian juga melibatkan rute aneh: misalnya surat berisi duit hasil kokain ditemukan di bandara L.A. ditujukan ke alamat saudara Magharian di Lugano, Swiss. Kejadian-kejadian ini membuktikan bahwa swiss, negara netral dan tertutup, tak bebas dari kekuatan uang gelap. Walau pemerintah Swiss akhirnya mengusut kasus ini—D.A. lokal Dick Marty memimpin penuntutan atas Markus Shakarchi dan Magharian—Ehrenfeld mencatat bahwa aturan baru Swiss lebih sekadar “window dressing” tanpa efektivitas nyata. Swiss menyandang reputasi sebagai surga rahasia, namun buku ini memperingatkan bahwa rahasia itulah yang memungkinkan kriminal internasional merusak sistem perbankan dunia.
BCCI: Bank Global dan Sindikat Korup
Bab keempat melompat ke level lembaga perbankan terbesar: Bank of Credit and Commerce International (BCCI). BCCI, yang berdiri 1972 atas prakarsa bankir Pakistan Agha Hasan Abedi, beroperasi selama dua dekade sebagai lembaga “Islam” internasional sambil diam-diam jadi markas sindikat kejahatan dunia. Penegak hukum New York menggambarkan BCCI sebagai “organisasi kriminal korup sepanjang sejarahnya” yang memalsukan laporan, menampung uang haram penjahat, dan menyuap pejabat. Bank ini membuka ratusan cabang di puluhan negara tanpa kantor pusat nyata, bahkan punya “bank di dalam bank” rahasia untuk menggelapkan miliaran dolar. Ketika BCCI runtuh pada 1991 (dia “dinyatakan bangkrut” oleh Bank Inggris), terungkap bahwa bank ini telah memfasilitasi hampir semua kejahatan besar saat itu: dari pencucian keuntungan kartel narkoba Kolombia, pendanaan teroris Timur Tengah, penjualan senjata, hingga program nuklir Pakistan.
Pendiri BCCI, Abedi, mengklaim banknya adalah semacam “Robin Hood Dunia Ketiga” yang menyokong negara-negara miskin Muslim. Namun, kenyataannya ia mencuri dari yang miskin untuk menguntungkan diri dan elitnya sendiri. Catatan buku menyebut bahwa BCCI digunakan sebagai saluran rahasia para pemimpin dunia: dari diktator Panama Noriega, bos kriminal Pakistan, hingga pejabat Intel AS. Bahkan tokoh politik Amerika terseret, seperti Senator John Kerry yang akhirnya membuka tabir skandal BCCI saat kampanye presiden 1992. Setelah penggerebekan besar-besaran, jaksa Morgenthau menyebut kaset-kaset pembukuan BCCI sebagai “penipuan bank terbesar dalam sejarah keuangan dunia”. Kasus BCCI mengekspos bagaimana politik dan perbankan global sering kali tunduk pada kekuatan uang gelap; misalnya, bank-bank Barat menerima “petrodolar” bocoran pemerintah korup Timur Tengah tanpa pertanyaan, sementara BCCI memaksa sektor keuangan melewati pengawasan demi keuntungan.
“Kolombisasi” Amerika Serikat
Bab terakhir menegaskan bahwa semua pelajaran ini sudah menyusup ke jantung ekonomi dan politik AS. Ehrenfeld menilai bahwa Amerika perlahan-abah mengakomodasi status “narkokrasi”, di mana kekuatan narkoba dan uang kotor membentuk kebijakan negara. Pada awal 1990-an, perwakilan tinggi AS sendiri mengeluh bahwa mengusut pencucian uang narkotika terlalu sulit karena bisa mengguncang stabilitas ekonomi. Statistik menakutkan menghiasi narasi: korban narkoba terus meningkat dan kekerasan memuncak, sementara 294 bank asing beroperasi di AS tanpa pengawasan memadai. Misalnya, kantor cabang Banco Nazionale del Lavoro (BNL) di Atlanta lolos nakal, menyalurkan 2 milyar dolar ke Irak yang disamarkan sebagai pinjaman pertanian. Pernyataan Ketua Komite Perbankan Henry Gonzalez pada 1991 mengecam rendahnya pengawasan Federal Reserve: bahkan setelah skandal BCCI terungkap, lembaga pengawas terkesan ‘lambat bertindak’ karena pertimbangan “keamanan nasional” dan pengaruh politik.
Sejak 1970-an, Florida terutama berubah menjadi pusat pertukaran uang kotor kartel Kolombia. Di sana harga properti, bisnis, dan institusi lokal diwarnai narkokapital, seolah negara bagian itu tumbuh bersama konsolidasi kartel kokain. Daya beli kartel memengaruhi kehidupan sehari-hari: bahkan elit politik lokal mendapat aliran dana, sedangkan keberadaan kasino legal (bagian dari warisan Lansky) terus menjadi sarang penitipan uang haram. Ehrenfeld menyimpulkan bahwa Amerika sejatinya “telah terkolombisasi” secara ekonomi-politis, karena korupsi narkoba sudah tak bisa dipisahkan dari kebijakan dan pasar finansial negara adidaya ini.
Secara keseluruhan, Evil Money menggambarkan betapa pencucian uang narkoba telah mengikis prinsip demokrasi dan pasar bebas global. Skala ekonomi gelap yang dicapai kartel narkoba telah menyatu dengan ekonomi sah dunia, sehingga pemimpin dan institusi formal pun terjebak dalam “jaringan bayangan” finansial. Demokrasi tergoyahkan ketika pejabat negara terlibat sebagai penerima atau pelindung uang haram: contohnya Lynden Pindling di Bahama hingga operasi intelijen terselubung di Swiss. Dampak ekonominya tak kalah serius. Uang narkoba menciptakan ketidakseimbangan di pasar (terjadi deregulasi oleh tekanan gelap), mengganggu penetapan harga, dan mendorong investasi ilegal, yang pada gilirannya merusak kepercayaan publik pada sistem keuangan.
Pada level global, buku ini memperlihatkan bahwa di saat negara-negara Barat pasca-komunis bersemangat membangun demokrasi dan pasar bebas, kenyataannya kriminalitas transnasional sudah menyusup lebih dahulu. Mendirikan bank internasional tanpa jejak kepemilikan, memanfaatkan zona offshore, dan menyuap penguasa membentuk “ekonomi politik” tersendiri bagi jaringan kriminal, segala hal ini disajikan sebagai lawan dari Barat modern yang disebut-sebut mengusung kebebasan ekonomi. Evil Money menyimpulkan bahwa tanpa kehati-hatian dan kerja sama global yang sungguh-sungguh, ancaman narkokrasi akan semakin nyata: nilai-nilai demokrasi dan integritas ekonomi akan dikuasai oleh modal gelap yang tak memandang batas negara.
AO
