Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Harus bisa Berubah

Ya bagaimana lagi, kita memang sedang dipaksa berubah. Perkuliahan tidak seperti dulu. Perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada ritme sistem pendidikan itu sendiri. Dulu, sekolah dari SD hingga perguruan tinggi, merupakan ritual sosial yang sangat menentukan derajat seseorang. Gelar pendidikan bahkan pernah menjadi penentu langsung pangkat, jabatan, dan gaji pokok tanpa terlalu peduli kompetensi yang didapat dari institusi pendidikannya. Sekarang, gelar tetap dicari, tetapi maknanya bergeser menjadi sekadar tiket administratif. Sementara itu, dunia kerja menuntut keterampilan dan portofolio, bukan sekadar bukti pernah duduk di perguruan tinggi selama empat tahun.

Perubahan juga tampak jelas pada mekanisme kenaikan kelas dan kelulusan. Dahulu, ulangan umum dan ujian akhir berfungsi sebagai penyaring. Yang tidak memenuhi standar mengulang kelas. Saya ingat di SD, dari tahun ke tahun selalu mendapat teman baru sekitar 10% dari yang tinggal kelas, bahkan di kelas 6 SD masih dapat teman baru yang tidak lulus ujian. Kini hampir semua naik kelas dan lulus, karena evaluasi berubah menjadi formalitas birokrasi. Kalau nilai terlalu rendah di suatu sekolah, bisa pindah ke sekolah lain yang masih bisa menerima kenaikan kelasnya.

Continue reading Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Harus bisa Berubah

Bagaimana AI Mengenali Ekspresi Manusia dengan Meniru Cara Kerja Otak

– Arief Prihantoro –

Wajah adalah kanvas emosi yang paling jujur. Gerakan kecil di sudut bibir atau kerutan pada dahi sering berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Otak kita, sebagai hasil evolusi jutaan tahun, sudah sangat piawai membaca isyarat halus ini secara otomatis. Bahkan sebelum kita menyadarinya, otak sudah menebak: “Dia sedang senang,” atau “Ada yang membuatnya terkejut”. Artikel ini akan menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) mencoba meniru cara kerja otak itu—mulai dari mengamati gambar wajah hingga menghubungkan dengan “percakapan” tentang gambar tersebut.

Continue reading Bagaimana AI Mengenali Ekspresi Manusia dengan Meniru Cara Kerja Otak

KECERDASAN AKAL IMITASI (AI) TIDAK MENJAMIN MEREKA PASTI PINTAR DAN PANDAI

– Arief Prihantoro –

Kecerdasan Buatan dan Otak Manusia: Mengurai Cara Kerja AI Lewat Analogi Otak Biologis

Pernyataan Dr. Ryu Hasan, seperti dalam video terlampir dan saat ini sedang viral, sangat menohok masyarakat Indonesia: kenapa kini rata-rata score kecerdasan Masyarakat Indonesia menurun drastis selama beberapa dekade, bahkan kini rata-rata mendekati score IQ Gorila. Tulisan ini mencoba menjelaskan dengan perspektif analogi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI).

Continue reading KECERDASAN AKAL IMITASI (AI) TIDAK MENJAMIN MEREKA PASTI PINTAR DAN PANDAI

Tiga Cairan Kimiawi Otak Biologis Ditiru Oleh Robot Untuk Belajar Berpikir

– Arief Prihantoro –

Dalam salah satu sesi saat penulis mengisi acara webinar tentang Kecerdasan Buatan, ada salah satu peserta yang bertanya:

“Mesin tidak dipengaruhi oleh produksi asetilkolin, dopamin, atau epinefrin. Jadi prosesnya tanpa hambatan dalam belajar seperti manusia. Kalau dianalogikan, asetilkolin, Dopamin, atau epinefrin ini bagi sistem cerdas atau sistem sibernetika analoginya dengan apa ya? Atau kalau dalam Generatif ataupun Agentic AI dan robotika bisa diibaratkan dengan apa?”

Continue reading Tiga Cairan Kimiawi Otak Biologis Ditiru Oleh Robot Untuk Belajar Berpikir

Robot Cerdas, Pembelajar Yang Berlatih di Negeri Transformer

– Arief Prihantoro –

Bagi para mahasiswa atau siapa pun yang baru menapaki dunia Artificial Intelligence, tumpukan istilah teknis sering kali terasa seperti badai kata-kata tanpa makna. Ketika seseorang ingin memahami bagaimana sebuah model belajar, istilah-istilah seperti precision, recall, loss, atau learning rate tiba-tiba meloncat dari layar dan membuat pening kepala.

Salah satu cara paling manusiawi untuk memahami sesuatu adalah melalui logika analogi — menghubungkan hal baru dengan pengalaman sehari-hari yang telah kita kenal. Sebagai cerita fiksi yang menjadi latar belakang analogi, tulisan ini menceritakan tokoh fiktif bernama Reno, sebuah robot yang sedang belajar dan berlatih di sebuah negeri teknologi Artifical Intelligence bernama negeri Transformer. Sebagai mesin Sibernetis, Reno tidak hanya Cerdas, tetapi dia juga pintar (berwawasan) dan pandai (terampil). Reno terampil atau pandai menyelesaikan soal-soal yang diberikan kepadanya.

Continue reading Robot Cerdas, Pembelajar Yang Berlatih di Negeri Transformer

AI SUDAH MENEMANI HIDUP KITA: 👉 Cerita dari 126 Juta Orang Indonesia yang Scroll, Chat, dan Hidup Bareng AI Setiap Hari

🤖👫

Pagi ini kamu buka HP, langsung disambut rekomendasi TikTok yang pas banget. Chatbot Shopee jawab pertanyaanmu secepat kilat. Foto kamu diubah jadi kartun lucu dalam hitungan detik. Tanpa disadari, semua itu kerjaannya AI — si “teman digital” yang pelan-pelan sudah jadi bagian dari hidup sehari-hari.

Tapi… apa sih kata orang Indonesia sendiri soal AI?

Continue reading AI SUDAH MENEMANI HIDUP KITA: 👉 Cerita dari 126 Juta Orang Indonesia yang Scroll, Chat, dan Hidup Bareng AI Setiap Hari

AWAS BAHAYA AI UNTUK ANAK ANDA! Pentingnya Literasi AI di Rumah dan di Sekolah

🤖👨🏻‍🦲
Pagi itu, Dika, murid kelas lima SD, menatap layar gawai dengan dahi berkerut. “ChatGPT, tolong buatkan karangan tentang pahlawanku,” tulisnya. Lima detik kemudian, paragraf demi paragraf mengalir rapi. Ia tersenyum puas — tapi ibunya hanya diam.

Di sisi lain kota, Bu Sari, guru bahasa Indonesia di sekolah semi-rural, memeriksa tugas-tugas muridnya yang semua tampak “terlalu sempurna”. Ia gelisah: “Apakah anak-anak ini masih belajar menulis, atau sekadar menyalin dari mesin?”

Continue reading AWAS BAHAYA AI UNTUK ANAK ANDA! Pentingnya Literasi AI di Rumah dan di Sekolah

Ketika Malaysia Selingkuh dengan Amerika: Indonesia Terancam Hilang Rp 100 Triliun Pajak Digital

Pada pertengahan Oktober 2025, dunia ekonomi digital Asia Tenggara mendadak riuh. Di tengah rutinitas berita politik dan gosip selebritas, Malaysia diam-diam menandatangani kesepakatan pajak digital dengan Amerika Serikat — perjanjian yang tampak teknis, tapi sesungguhnya bisa mengguncang fondasi kedaulatan fiskal di kawasan.

Penandatanganan itu dilakukan oleh Menteri Keuangan Malaysia, Datuk Seri Amir Hamzah Azizan, dan Perwakilan Khusus AS untuk Urusan Ekonomi Internasional, Jay Shambaugh, di sela Pertemuan Tahunan IMF–World Bank 2025 di Washington DC. Nilainya tak besar di atas kertas—sekadar “komitmen teknis” untuk menunda pungutan pajak digital terhadap perusahaan Amerika seperti Google, Meta, Amazon, dan Apple. Tapi dampaknya bisa menggerus potensi penerimaan negara hingga miliaran ringgit.

Continue reading Ketika Malaysia Selingkuh dengan Amerika: Indonesia Terancam Hilang Rp 100 Triliun Pajak Digital

Awas! Netizen Indonesia Mangsa Empuk Penipuan Online

🥷🏿💸
“Aku pikir sudah aman, karena akunnya pakai centang biru. Ternyata palsu.”

Rani, 26 tahun, kehilangan tabungan hasil jualan online. Ia tertipu oleh akun palsu yang meniru artis idamannya.
Kisah seperti ini bukan satu dua. Nyaris setiap hari muncul korban baru — dari ibu rumah tangga, pegawai, sampai mahasiswa.

Continue reading Awas! Netizen Indonesia Mangsa Empuk Penipuan Online

TAUHID DAN BERPIKIR SISTEMIK: Menemukan Kembali Rasionalitas Ketuhanan dalam Dunia yang Terpecah

💫🌕
Ilmu pengetahuan modern membanggakan dirinya sebagai peta paling lengkap atas dunia — tapi setiap kali kita menambahkan detail, kita kehilangan makna keseluruhan.

Berabad-abad sebelum “system thinking” lahir di Barat, para teolog Islam telah mengingatkan bahwa yang memberi makna pada hubungan antar-hal bukanlah relasi itu sendiri, melainkan Sang Pencipta Relasi.

Continue reading TAUHID DAN BERPIKIR SISTEMIK: Menemukan Kembali Rasionalitas Ketuhanan dalam Dunia yang Terpecah