Sajen, Ingkung, dan Martabat Pemberian MBG

Refleksi Etis atas Kontras Budaya dan Kebijakan Publik

-Arief Prihantoro-

Gambar yang beredar itu sederhana namun menghentak kesadaran. Di bagian atas, tersaji hidangan lengkap: nasi tumpeng, ingkung ayam utuh, aneka lauk, buah-buahan, jajanan pasar, dan air putih yang ditata rapi di atas daun pisang. Teksnya berbunyi: “Untuk Roh Leluhur.” Di bagian bawah, tampak satu paket makanan sederhana: sebutir telur, sebatang pisang, sebungkus kecil sereal instan, dan sedikit kurma dalam plastik. Teksnya berbunyi: “Untuk generasi penerus bangsa.”

Kontras visual itu bukan sekadar perbandingan menu. Ia adalah kritik sosial. Ia mempertanyakan: mengapa untuk yang tak lagi hidup kita bisa menyajikan yang terbaik, sementara untuk anak-anak—yang akan menentukan masa depan bangsa—kita cukupkan dengan yang minimal? Pertanyaan ini menyentuh wilayah budaya, moralitas, ekonomi politik, bahkan cara kita memaknai kata “pemberian”.

Continue reading Sajen, Ingkung, dan Martabat Pemberian MBG

Rukyat, Hisab, Imkan Rukyat, Wujudul Hilal, dan Kalender Hijriah Global Tunggal

Jadi begini.
Pada mulanya, semua melihat bulan dengan mata telanjang untuk menentukan awal bulan berikutnya.

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (idul fitri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban 30 hari” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian berkembang ilmu falak yang bisa memprediksi secara akurat kapan bulan mulai bisa terlihat di akhir penanggalan bulan. Dengan ilmu falak, kita tidak perlu melihat hilal (rukyatul hilal) secara langsung bahkan tidak perlu lagi memikirkan apakan hilal akan tertutup awan atau tidak. Perdebatan mulai muncul apakah kita boleh menetapkan awal bulan berdasarkan perhitungan akurat (hisab) dari posisi bulan saat magrib di akhir bulan sebelumnya?

Continue reading Rukyat, Hisab, Imkan Rukyat, Wujudul Hilal, dan Kalender Hijriah Global Tunggal

PERUSAHAAN PREDATOR ANAK: Jeffrey Epstein, Donatur Politik, Riset dan Akademik

– Arief Prihantoro –

Arsitektur Gelap Kekuasaan: Jeffrey Epstein dan Perusahaan Kriminal Transnasional Deep State

Kasus Jeffrey Epstein sering kali direduksi oleh narasi media arus utama menjadi sekadar kisah tentang seorang predator seksual tunggal yang memiliki kekayaan melimpah dengan selera bejat. Namun, jika kita menggali lebih dalam melampaui permukaan sensasionalitas tersebut, akan muncul sebuah struktur yang jauh lebih mengerikan: tentang bagaimana sistem kekuasaan global dapat dimanipulasi, dibeli, dan dikompromikan oleh satu individu yang memahami retakan di dalam institusi elit kita. Sebuah arsitektur kekuasaan gelap yang menggabungkan elemen keuangan global, sains tingkat tinggi, jaringan intelijen internasional, praktik okultisme sistemik dan perdagangan anak transnasional. Jeffrey Epstein bukan sekadar individu kriminal; ia adalah sebuah “simpul” atau nexus dalam infrastruktur kontrol politik yang menggunakan eksploitasi manusia sebagai mata uang utamanya.

Continue reading PERUSAHAAN PREDATOR ANAK: Jeffrey Epstein, Donatur Politik, Riset dan Akademik