
Mari kita geser sedikit cara pandang kita soal pengangguran. Selama ini, kalau mendengar kata “penganggur”, yang terlintas di kepala sering kali adalah sosok yang malas atau tidak punya keahlian. Sepertinya masalahnya tidak sederhana. Kenyataannya, tidak ada orang yang benar-benar pengangguran; yang ada hanyalah orang-orang yang tidak kebagian jatah pekerjaan karena “kursi” yang tersedia memang makin sedikit. Kita harus jujur bahwa penyempitan lapangan kerja adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Dengan kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang makin gila-gilaan, posisi yang dulu diisi manusia kini diambil alih oleh mesin demi efisiensi. Ini bukan lagi soal kompetensi individu, melainkan soal panggung ekonomi yang memang secara alami sedang menciut karena manusia tidak lagi dibutuhkan untuk banyak pekerjaan rutin.
Kondisi ini memaksa kita untuk tidak lagi memandang bantuan sosial sebagai sekadar “sumbangan” untuk orang miskin, melainkan sebagai bentuk jaminan hidup dasar atau Universal Basic Income (UBI). Ketika lapangan kerja yang layak sudah menjadi barang langka akibat otomatisasi, negara harus hadir memberikan jaminan finansial tanpa syarat bagi setiap warga agar mereka tetap bisa bertahan hidup dan memiliki martabat. Di masa depan, di mana tenaga manusia makin terhimpit oleh algoritma, mendapatkan uang untuk kebutuhan dasar tidak boleh lagi hanya digantungkan pada status “punya pekerjaan formal”. Kita perlu mengubah pola pikir bahwa dukungan finansial dari negara adalah hak warga negara untuk tetap berdaya di tengah dunia yang kursinya sudah banyak diambil alih oleh teknologi.
Selain jaminan pendapatan dasar, solusi lain yang lebih adil adalah dengan mendistribusikan sisa pekerjaan yang ada melalui pengurangan hari kerja per minggu. Jika jumlah kursi memang terbatas, mengapa kita tidak membagi waktu duduknya saja? Daripada membiarkan satu orang bekerja mati-matian lima atau enam hari seminggu sementara yang lain menganggur total, akan lebih manusiawi jika beban kerja tersebut dipecah. Dengan mengurangi jumlah hari kerja, misalnya menjadi empat hari seminggu tanpa memotong upah, kita secara otomatis menciptakan celah bagi mereka yang selama ini tidak kebagian jatah untuk masuk ke dalam sistem. Ini adalah cara cerdas untuk melawan monopoli waktu kerja, sekaligus memberikan kesempatan bagi semua orang untuk berkontribusi dan menikmati hasil dari kemajuan teknologi tanpa harus merasa terbuang.
Dengan mengakui bahwa menciutnya lapangan kerja adalah takdir sejarah, kita berhenti menyalahkan individu yang tidak bekerja sebagai orang gagal. Mereka hanyalah orang-orang yang berada di garis depan transisi zaman di mana peran manusia dalam produksi sedang digeser besar-besaran. Kombinasi antara Universal Basic Income dan pembagian waktu kerja yang lebih ringkas menjadi solusi paling masuk akal agar roda ekonomi tetap berputar tanpa harus memaksa setiap orang bertarung memperebutkan sisa-sisa kursi yang makin hilang. Pada akhirnya, tujuannya bukan lagi sekadar mencari kerja, tapi memastikan setiap manusia bisa hidup layak terlepas dari apakah mesin sudah menggantikan peran mereka di kantor atau pabrik.
