Calistung: Future Skill untuk Memasuki Lapangan Kerja Masa Depan


Setiap kali dunia pendidikan membicarakan keterampilan masa depan, perbincangan hampir selalu dipenuhi istilah yang terdengar mutakhir: kecerdasan buatan, literasi digital, kreativitas, kolaborasi, dan seterusnya. Daftar ini terus bertambah seiring perkembangan teknologi, seolah pendidikan selalu tertinggal dan harus berlari mengejar masa depan. Namun di balik euforia tersebut, ada persoalan mendasar yang jarang dibicarakan secara jujur: sebagian besar keterampilan yang disebut “masa depan” justru berdiri di atas fondasi yang semakin rapuh, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dalam makna yang sesungguhnya.

Membaca, dalam konteks ini, tidak bisa lagi dipahami sebagai sekadar kemampuan mengenali huruf dan memahami kalimat. Tantangan terbesar pendidikan hari ini bukanlah buta aksara, melainkan ketidakmampuan memahami realitas. Banyak peserta didik mampu membaca teks, tetapi gagal membaca konteks; mampu menyerap informasi, tetapi tidak mampu memilah makna; mampu mengakses data, tetapi tidak mampu menafsirkan implikasinya. Di tengah banjir informasi, membaca yang relevan adalah kemampuan sense-making, yakni membedakan mana pengetahuan, mana opini, mana manipulasi, dan mana kebisingan. Tanpa kemampuan ini, pendidikan justru melahirkan individu yang informatif tetapi mudah tersesat.

Menulis pun mengalami penyempitan makna yang serupa. Dalam praktik pendidikan, menulis sering direduksi menjadi tugas, ujian, atau kewajiban administratif. Akibatnya, menulis diperlakukan sebagai produk akhir, bukan sebagai proses berpikir. Padahal kemampuan menulis yang sesungguhnya adalah kemampuan merumuskan pikiran secara jernih, menyusun argumen secara koheren, dan menjelaskan realitas tanpa bersembunyi di balik jargon. Ketidakmampuan menulis hampir selalu sejalan dengan ketidakmampuan berpikir terstruktur. Di era teknologi, menulis juga berarti menyusun instruksi, aturan, dan desain—baik untuk manusia maupun untuk sistem otomatis. Tanpa kemampuan ini, peserta didik hanya menjadi pengguna, bukan perancang realitas.

Berhitung, yang sering dipersempit menjadi kemampuan aritmetika atau matematika formal, pada dasarnya adalah kemampuan menimbang dan memahami ukuran. Ini mencakup kemampuan berpikir probabilistik, memahami risiko, membaca skala, serta menyadari bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi. Banyak kegagalan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan kebijakan publik bukan disebabkan oleh niat buruk, melainkan oleh perhitungan yang keliru. Pendidikan yang gagal menanamkan penalaran kuantitatif justru melatih kepastian semu, seolah dunia selalu dapat diprediksi dan dikendalikan secara linear.

Ironisnya, sistem pendidikan modern sering kali bergerak ke arah yang berlawanan. Kurikulum dipenuhi konten, metode terus diperbarui, teknologi diadopsi dengan cepat, tetapi fondasi berpikir dibiarkan dianggap selesai terlalu dini. Pendidikan diasumsikan berjalan baik selama materi tersampaikan dan evaluasi terselenggara, tanpa memastikan apakah peserta didik benar-benar mampu memahami, merumuskan, dan menimbang realitas secara mandiri. Ketika teknologi semakin canggih, ketimpangan ini justru semakin terlihat: mereka yang memiliki fondasi membaca, menulis, dan berhitung dalam makna luas menjadi semakin adaptif, sementara yang tidak justru semakin bergantung pada sistem yang tidak mereka pahami.

Kembali ke membaca, menulis, dan berhitung bukanlah ajakan untuk mundur ke pendidikan dasar dalam arti sempit, melainkan upaya untuk menguatkan kembali fondasi pendidikan sebagai proses pembentukan cara berpikir. Ini adalah pengakuan bahwa meskipun alat, kurikulum, dan tuntutan zaman terus berubah, kemampuan memahami realitas, merumuskan makna, dan menimbang konsekuensi tetap menjadi inti dari pendidikan apa pun. Tanpa fondasi ini, pendidikan berisiko berubah menjadi sekadar proses teknis yang menghasilkan kepatuhan, bukan pemahaman, dan keterampilan semu yang rapuh menghadapi perubahan.

Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar bagi pendidikan bukanlah teknologi apa yang akan digunakan di masa depan, melainkan manusia seperti apa yang sedang dibentuk hari ini. Jika membaca direduksi menjadi konsumsi informasi, menulis menjadi formalitas, dan berhitung menjadi sekadar angka, maka pendidikan akan kehilangan daya kritisnya. Namun jika ketiganya dipahami sebagai fondasi berpikir yang hidup, pendidikan tetap relevan bahkan ketika masa depan berubah lebih cepat daripada kurikulum mana pun.

Membaca grafik yang dibuat World Economics Forum ini , banyak pengelola berbagai institusi bisnis menghendaki ketrampilan dengan berbagai macam istilah yang kesemuaan masuk dalam salah satu (atau semuanya) dari kategori ketrampilan membaca, menulis dan berhitung.

Published by

Bambang N Prastowo

Bambang Nurcahyo Prastowo adalah dosen jelata di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, Universitas Gadjah Mada yang pernah mengajar mata-mata kuliah Sistem Operasi, Basis Data, Jaringan Komputer, Keamanan Sistem dan Blockchain. Saat ini Prastowo menekuni pengelolaan website https://socioinformatics.id serta channel https://youtube/@infososindonesia yang fokus pada pembahasan dampat kehadiran teknologi informasi di masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *