Arief Prihantoro

Artikel ini mencoba menjelaskan
dari perspektif semiotika,
bagaimana sebuah mesin AI
mampu “memahami” makna
dalam interaksinya
dengan manusia sebagai pengguna.
Pondasi teoretis Kecerdasan Buatan (AI) modern, dari era simbolik hingga model generatif transformatif, secara fundamental berakar pada tiga tradisi semiotika utama:
1. Diadik (Ferdinand de Saussure),
2. Triadik (Charles S. Peirce),
3. Kultural (Roland Barthes).
Tulisan ini mengajukan tesis bahwa ketiga model ini tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi, menyediakan kerangka kerja holistik untuk memahami bagaimana mesin memroses dan “memahami” makna.
