WNA di Pucuk BUMN Strategis: Antara Profesionalisme Global, Kedaulatan Ekonomi, dan Risiko Tata Kelola Negara

– Arief Prihantoro –

Sekilas, pertanyaan tersebut tampak sederhana dan hanya memerlukan jawaban hukum. Namun ketika pertanyaan itu dikaitkan dengan pengelolaan sumber daya alam, ekspor komoditas strategis, dan lembaga-lembaga yang mengendalikan aset negara bernilai ratusan bahkan ribuan triliun rupiah, diskusinya menjadi jauh lebih kompleks.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia semakin aktif membangun berbagai instrumen ekonomi untuk memperkuat posisi nasional dalam rantai nilai global. Hilirisasi mineral, penguatan industri strategis, pembentukan Danantara, hingga gagasan pengelolaan komoditas secara lebih terintegrasi merupakan bagian dari upaya tersebut.

Continue reading WNA di Pucuk BUMN Strategis: Antara Profesionalisme Global, Kedaulatan Ekonomi, dan Risiko Tata Kelola Negara

Embedded System: Medan Perang Baru di Balik Kecerdasan Mesin

Arief Prihantoro

Kita hidup di era ketika komputer tidak lagi hanya berada di meja kerja atau pusat data. Komputasi kini tertanam di hampir seluruh aspek kehidupan: mobil, drone, kamera pengawas, alat kesehatan, smart city, satelit, hingga sistem pertahanan militer. Dunia memasuki fase baru ketika perangkat tidak sekadar “alat”, tetapi telah menjadi sistem cerdas yang mampu mengambil keputusan secara mandiri. Di titik inilah embedded system menjadi sangat strategis.

Embedded system pada dasarnya adalah sistem komputer yang ditanamkan di dalam perangkat tertentu untuk menjalankan fungsi khusus. Berbeda dengan komputer umum, embedded system dirancang untuk bekerja secara spesifik, efisien, dan sering kali real-time. Mikroprosesor, mikrokontroler, FPGA, sensor, firmware, dan kini AI model menjadi bagian integral di dalamnya. Ketika AI mulai tertanam langsung di perangkat (edge AI), maka perangkat bukan lagi sekadar mesin pasif, tetapi entitas yang mampu “merasakan”, “menganalisis”, dan “memutuskan”.

Continue reading Embedded System: Medan Perang Baru di Balik Kecerdasan Mesin

Cybernetics: Akar yang Terlupakan dari Kecerdasan Tiruan Modern

Arief Prihantoro

Tulisan ini merupakan catatan kritis penulis sebagai bagian dari diskursus akademik atas kuliah umum yang disampaikan oleh Marsekal Pertama TNI Dr. Ir. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, S.T., M.T., Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Udara, dalam kegiatan kuliah tamu bertajuk Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial: Terapan Kecerdasan Artifisial di Bidang Pertahanan dan Keamanan.

Dalam pemaparan yang berlangsung kurang lebih selama tiga jam tersebut, sejarah AI dijelaskan dengan menempatkan Alan Turing sebagai figur sentral dan fondasi utama perkembangan kecerdasan tiruan modern. Narasi seperti ini sebenarnya sangat umum ditemukan dalam banyak diskursus AI kontemporer, baik di lingkungan akademik, media teknologi, maupun industri.

Namun menariknya, sebagian besar materi yang dipaparkan justru secara substantif sedang membahas konsep-konsep yang sangat dekat dengan tradisi cybernetics:

  • sistem kontrol,
  • feedback,
  • autonomous system,
  • adaptasi,
  • sensor,
  • pengambilan keputusan,
  • hingga implementasi AI dalam teknologi pertahanan dan mesin perang.

Dengan kata lain, pembahasan selama 3 jam tersebut sesungguhnya bergerak di wilayah sibernetika, bukan komputasi Turing. Namun demikian justru istilah cybernetics sendiri tidak pernah disebutkan selama paparan.

Di sinilah letak persoalan historis yang ingin dibahas dalam tulisan ini.

Continue reading Cybernetics: Akar yang Terlupakan dari Kecerdasan Tiruan Modern

Era Teknologi Penyimpanan 5 Dimensi

Arief Prihantoro



Perkembangan teknologi penyimpanan data menghadapi tekanan dari pertumbuhan eksponensial data global, khususnya akibat kemajuan kecerdasan buatan dan komputasi skala besar. Teknologi 5D data storage berbasis nanostructured glass menawarkan kapasitas tinggi, ketahanan ekstrem, dan sifat immutable yang unik. Teknologi ini dikembangkan oleh peneliti seperti Prof. Peter Kazansky dari University of Southampton dan juga dikembangkan lebih lanjut oleh perusahaan-perusahaan baru seperti SPhotonix yang membuat 5D memory crystals siap untuk penggunaan data center.

Pertanyaan kritis: apakah teknologi tersebut realistis menjadi standar global atau lebih tepat dikategorikan sebagai teknologi arsip khusus (niche archival)?

Continue reading Era Teknologi Penyimpanan 5 Dimensi

Mengeksploitasi AI Visual Melalui Kerentanan Ilusi Optik AI

– Arief Prihantoro –

“Jika dulu malware menyerang sistem, hari ini ia bisa tertanam di dalam ‘cara sistem melihat’ dunia. Termasuk melihat kita”

Bayangkan sebuah prosesor modern—seperti pada kasus Spectre dan Meltdown—yang begitu cepat hingga tidak lagi menunggu kepastian. Ia tidak hanya mengeksekusi instruksi secara berurutan, tetapi juga menggunakan teknik seperti speculative execution dan out-of-order execution. Artinya, prosesor akan menebak jalur eksekusi yang kemungkinan besar akan terjadi, lalu menjalankannya terlebih dahulu sebelum hasilnya benar-benar dikonfirmasi.

Secara teknis, proses ini melibatkan komponen seperti branch predictor yang terus dilatih berdasarkan pola eksekusi sebelumnya.

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan branch predictor seperti satpam yang belajar dari kebiasaan tamu. Jika selama berhari-hari ia melihat orang dengan kartu tertentu selalu boleh masuk ke sebuah ruangan, ia akan mulai membuka pintu lebih cepat—bahkan sebelum memeriksa kartu secara menyeluruh.

Di sinilah penyerang “melatih” CPU.

Continue reading Mengeksploitasi AI Visual Melalui Kerentanan Ilusi Optik AI

Sajen, Ingkung, dan Martabat Pemberian MBG

Refleksi Etis atas Kontras Budaya dan Kebijakan Publik

-Arief Prihantoro-

Gambar yang beredar itu sederhana namun menghentak kesadaran. Di bagian atas, tersaji hidangan lengkap: nasi tumpeng, ingkung ayam utuh, aneka lauk, buah-buahan, jajanan pasar, dan air putih yang ditata rapi di atas daun pisang. Teksnya berbunyi: “Untuk Roh Leluhur.” Di bagian bawah, tampak satu paket makanan sederhana: sebutir telur, sebatang pisang, sebungkus kecil sereal instan, dan sedikit kurma dalam plastik. Teksnya berbunyi: “Untuk generasi penerus bangsa.”

Kontras visual itu bukan sekadar perbandingan menu. Ia adalah kritik sosial. Ia mempertanyakan: mengapa untuk yang tak lagi hidup kita bisa menyajikan yang terbaik, sementara untuk anak-anak—yang akan menentukan masa depan bangsa—kita cukupkan dengan yang minimal? Pertanyaan ini menyentuh wilayah budaya, moralitas, ekonomi politik, bahkan cara kita memaknai kata “pemberian”.

Continue reading Sajen, Ingkung, dan Martabat Pemberian MBG

PERUSAHAAN PREDATOR ANAK: Jeffrey Epstein, Donatur Politik, Riset dan Akademik

– Arief Prihantoro –

Arsitektur Gelap Kekuasaan: Jeffrey Epstein dan Perusahaan Kriminal Transnasional Deep State

Kasus Jeffrey Epstein sering kali direduksi oleh narasi media arus utama menjadi sekadar kisah tentang seorang predator seksual tunggal yang memiliki kekayaan melimpah dengan selera bejat. Namun, jika kita menggali lebih dalam melampaui permukaan sensasionalitas tersebut, akan muncul sebuah struktur yang jauh lebih mengerikan: tentang bagaimana sistem kekuasaan global dapat dimanipulasi, dibeli, dan dikompromikan oleh satu individu yang memahami retakan di dalam institusi elit kita. Sebuah arsitektur kekuasaan gelap yang menggabungkan elemen keuangan global, sains tingkat tinggi, jaringan intelijen internasional, praktik okultisme sistemik dan perdagangan anak transnasional. Jeffrey Epstein bukan sekadar individu kriminal; ia adalah sebuah “simpul” atau nexus dalam infrastruktur kontrol politik yang menggunakan eksploitasi manusia sebagai mata uang utamanya.

Continue reading PERUSAHAAN PREDATOR ANAK: Jeffrey Epstein, Donatur Politik, Riset dan Akademik

Déjà Vu ALGORITMIK

-Arief Prihantoro-

Trauma Kolektif, Sinkronisitas, Quaternio dan Dunia yang Terus Mengulang Sejarah

Kita hidup dalam perasaan ganjil bahwa sejarah terus berulang, tetapi bukan sebagai pengulangan yang sama persis—melainkan sebagai gema. Krisis datang, reda, lalu kembali dengan wajah baru. Peristiwa 1965, Malari 1974, Reformasi 1998, pandemi Flu Spanyol 1919, pandemi COVID-19 2019, hingga polarisasi politik hari ini menghadirkan sensasi yang akrab: seolah kita pernah berada di sini sebelumnya. Inilah déjà vu kolektif, tetapi kini ia tidak lagi lahir semata dari ingatan manusia. Ia diproduksi, dipercepat, dan dikelola oleh algoritma.

Saat ini kita hidup di zaman ketika hampir semua hal diukur, dihitung, dan diprediksi. Dari rekomendasi film, skor kredit, peluang diterima kerja, hingga siapa yang dianggap berisiko oleh negara—semuanya kini bergantung pada data dan algoritma. Di permukaan, dunia ini tampak semakin rasional dan efisien. Namun di balik ketertiban digital itu, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan: mengapa hidup terasa semakin terfragmentasi dan kehilangan arah?

Continue reading Déjà Vu ALGORITMIK

Roberto Escobar, Sang Dark Accountant

Arief Prihantoro

Pada musim panas 1991, di pinggiran Medellín-Kolombia yang gersang, seorang pria berjanggut tebal dengan pengaturan hitam sederhana berjongkok di depan sebuah lubang galian. Tangannya memegang tumpukan uang kertas yang sudah usang. Ia mengangkat tangan kiri yang berisi uang tunai, lalu tanpa aba-aba melemparkan tas plastik hitam penuh uang tunai ke dalam lembah kering di hadapannya. Pria itu adalah Roberto Escobar, akuntan dan kakak kandung Pablo Escobar, raja kartel Medellín yang waktu itu menguasai sekitar 80% pasokan kokain ke Amerika Serikat dengan kekayaan ditaksir mencapai $3 miliar . Adegan ini, seperti yang diceritakan Roberto sendiri dalam wawancara panjang dengan The New Yorker , menggambarkan betapa berlimpahnya uang kartel sampai-sampai harus disimpan secara primitif: ditanam di ladang atau dititipkan ke petani agar aman. Gambaran ini gerbang pemahaman kita akan “uang tanpa bentuk” dalam ekonomi kriminal Kartel Medellín, sekaligus simbol betapa negaranya memancarkan kekuatan bayangan yang diciptakan oleh narkotrafik.

Continue reading Roberto Escobar, Sang Dark Accountant

THE INSIDE STORY OF MONEY LAUNDERING

Arief Prihantoro

Buku Evil Money menjelaskan bagaimana uang haram kreasi kartel narkoba dan teroris menjadi “ekonomi bawah tanah” global yang menghancurkan demokrasi. Dr. Rachel Ehrenfeld menyebut pencucian uang sebagai “ekonomi bawah tanah se-dunia” yang menghubungkan kartel narkoba, teroris, bahkan pemerintah dan bisnis sah, dan mengancam merusak demokrasi hingga terbentuknya “narcocracy” – pemerintahan di bawah kekuasaan uang kotor. Melalui studi kasus di Bahama, Los Angeles, Swiss, lembaga perbankan dunia, hingga Amerika Serikat, buku ini memperlihatkan bagaimana korupsi uang narkotik menembus perbankan dan institusi kenegaraan.

Continue reading THE INSIDE STORY OF MONEY LAUNDERING