SAINS, IDEOLOGI, DAN FANATISME EPISTEMIK: PELAJARAN DARI SEJARAH UNI SOVIET

– Arief Prihantoro –

Ketika Sains Disamakan dengan Ideologi

Salah satu ironi terbesar dalam komunikasi publik adalah bahwa semakin banyak informasi tersedia, semakin mudah pula manusia membangun keyakinan yang keliru. Penyebabnya bukan semata-mata karena informasi yang beredar tidak benar, melainkan karena fakta-fakta yang benar sering kali disusun ke dalam hubungan logis yang terlalu sederhana. Akibatnya, representasi yang terbentuk tampak masuk akal, padahal telah kehilangan sebagian konteks yang justru menentukan makna keseluruhan peristiwa. Dalam banyak kasus, misinformasi tidak lahir karena ketiadaan evidence, melainkan karena cara evidence tersebut dihubungkan menjadi suatu kesimpulan. Persoalan utama bukan terletak pada data historis yang digunakan, melainkan pada kualitas inferensi yang menghubungkan data-data tersebut menjadi suatu representasi.

Fenomena semacam ini semakin mudah dijumpai pada era komunikasi digital. Arus informasi yang sangat cepat mendorong berbagai persoalan yang kompleks untuk disederhanakan menjadi narasi yang ringkas, mudah dipahami, dan mudah dibagikan. Penyederhanaan semacam itu pada dasarnya merupakan konsekuensi yang hampir tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi. Tidak mungkin seluruh kompleksitas suatu peristiwa sejarah dipindahkan secara utuh ke dalam sebuah artikel, unggahan media sosial, ataupun percakapan sehari-hari. Persoalan mulai muncul ketika yang mengalami penyederhanaan bukan lagi cara penyampaiannya, melainkan struktur penalarannya. Hubungan antarperistiwa yang semula kaya nuansa dipersempit menjadi hubungan sebab-akibat yang linear, sementara konsep-konsep yang sesungguhnya memiliki ruang lingkup berbeda diperlakukan seolah-olah identik. Pada titik inilah sejarah perlahan kehilangan kompleksitasnya dan berubah menjadi narasi yang lebih mencerminkan preferensi pembacanya daripada keseluruhan fakta yang tersedia.

Continue reading SAINS, IDEOLOGI, DAN FANATISME EPISTEMIK: PELAJARAN DARI SEJARAH UNI SOVIET

Apa Sebenarnya Yang Berubah Selama Proses Komunikasi Berlangsung?

– Arief Prihantoro –

Tulisan melanjutkan tulisan sebelumnya

Setiap hari manusia berkomunikasi. Kita membaca berita, berdiskusi, mengikuti media sosial, mendengarkan pidato, atau sekadar berbincang dengan orang lain. Aktivitas tersebut tampak begitu biasa sehingga jarang dipertanyakan. Namun di balik kesederhanaannya, komunikasi menyimpan sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat mendasar.

Bayangkan dua orang membaca berita yang sama pada pagi hari. Pada sore harinya mereka berdiskusi. Setelah diskusi selesai, keduanya tidak lagi memahami berita tersebut dengan cara yang sama seperti sebelum percakapan dimulai. Masing-masing membawa perspektif baru, menerima sebagian argumen, menolak sebagian lainnya, serta membangun interpretasi yang berbeda. Bahkan apabila berita yang sama dibaca kembali keesokan harinya, keduanya sering kali menghasilkan pemahaman yang telah berubah.

Fenomena serupa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat mempertahankan suatu pendapat dengan penuh keyakinan pada awal diskusi, kemudian mengubah kesimpulannya setelah berdialog panjang atau membaca beberapa referensi tambahan. Yang menarik, perubahan tersebut tidak selalu terjadi karena muncul fakta baru. Sering kali perubahan justru lahir karena informasi yang telah dimiliki sebelumnya memperoleh makna baru ketika ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Dengan kata lain, komunikasi tidak hanya menambah informasi, tetapi juga mengubah cara seseorang menginterpretasikan informasi yang telah dimilikinya.

Continue reading Apa Sebenarnya Yang Berubah Selama Proses Komunikasi Berlangsung?

Mengapa Kekacauan Komunikasi Publik Tidak Pernah Benar-Benar Acak?

– Arief Prihantoro –

Memahami Arsitektur Sistem Komunikasi Publik melalui Analogi Dinamika Partikel dalam Perspektif Fisika Statistik

Pada tulisan sebelumnya saya mengajukan sebuah analogi bahwa komunikasi publik di era digital memiliki karakteristik yang menyerupai gerak Brown (Brownian Motion). Sebagaimana sebuah partikel kecil di dalam fluida bergerak secara acak akibat dihantam oleh jutaan molekul yang tidak tampak, demikian pula opini publik bergerak melalui jutaan interaksi mikro berupa percakapan, komentar, unggahan media sosial, meme, video pendek, hingga potongan informasi yang saling bertabrakan setiap detik.

Dari kejauhan, lintasan partikel tampak acak. Demikian pula lanskap komunikasi digital tampak penuh kekacauan.

Namun semakin lama analogi tersebut saya renungkan, semakin muncul pertanyaan yang justru lebih mendasar.

Apakah komunikasi publik benar-benar bergerak secara acak?

Ataukah “keacakan” yang kita lihat hanyalah fenomena permukaan dari suatu keteraturan statistik yang lebih dalam?

Pertanyaan inilah yang membawa kita melangkah lebih jauh, dari gerak Brown menuju teori sistem stokastik, bahkan hingga teori collision dalam mekanika kuantum yang dikembangkan Paul A. M. Dirac.

Continue reading Mengapa Kekacauan Komunikasi Publik Tidak Pernah Benar-Benar Acak?

Ketika Industri AI Mulai Menemukan Semiotika

– Arief Prihantoro –

AI Kini Membawa Kita Kembali kepada Pertanyaan Tertua: Apakah Bahasa Sekadar Mengekspresikan Logika?

Dalam sebuah percakapan di Grup WA Masyarakat Informatika Sosial Indonesia, muncul pernyataan dari saudara Wawan Setiawan:

“Language adalah express the logic and mathematic behind it.”

Kalimat itu muncul dalam sebuah diskusi yang awalnya membahas sejarah bahasa pemrograman, evolusi komputasi, hingga perkembangan Large Language Model (LLM). Sekilas, saya menganggapnya sebagai pernyataan yang lazim dalam tradisi ilmu komputer. Selama puluhan tahun, kita memang memahami bahwa bahasa pemrograman hanyalah media untuk menuliskan algoritma, sementara algoritma dibangun di atas logika dan matematika.

Namun semakin lama saya memikirkannya, saya menyadari bahwa kalimat tersebut sesungguhnya bukan sekadar pernyataan teknis tentang pemrograman.

Ia adalah sebuah klaim filosofis.

Sebab ketika seseorang mengatakan bahwa “bahasa mengekspresikan logika dan matematika,” ia sebenarnya sedang menyatakan sesuatu mengenai hubungan ontologis antara bahasa, logika, dan matematika.

Dan di sinilah diskusi menjadi jauh lebih menarik.

Continue reading Ketika Industri AI Mulai Menemukan Semiotika

MBG, Insentif Rp6 Juta per Hari, dan Pertanyaan tentang Keadilan Pajak

– Arief Prihantoro –

Program Sosial Bertemu Insentif Bernilai Puluhan Triliun Rupiah

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal dipromosikan sebagai program sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Namun sejak terbitnya Keputusan Kepala BGN Nomor 401.1 Tahun 2025, muncul sebuah komponen yang memicu perdebatan fiskal: insentif fasilitas SPPG sebesar Rp6 juta per hari.

Menurut ketentuan tersebut, insentif diberikan kepada yayasan atau mitra penyedia fasilitas SPPG berdasarkan prinsip availability-based payment, yaitu pembayaran atas kesiapan dan ketersediaan fasilitas, bukan berdasarkan jumlah porsi makanan yang disalurkan.

BGN pada masa kepemimpinan Dadan Hindayana secara terbuka menjelaskan bahwa Rp6 juta per hari bukan dana pembangunan, melainkan pembayaran layanan kepada mitra yang telah membangun dan menyediakan fasilitas secara mandiri. Risiko investasi, operasional, hingga kerusakan fasilitas ditanggung oleh mitra.

Justru penjelasan resmi tersebut menimbulkan pertanyaan yang lebih mendasar:

Jika ini adalah pembayaran layanan, mengapa diperlakukan sebagai hibah non-pajak?

Continue reading MBG, Insentif Rp6 Juta per Hari, dan Pertanyaan tentang Keadilan Pajak

Roadshow Kampus, Perang Narasi, dan Perebutan Ruang Kognitif

– Arief Prihantoro –

Membaca Strategi Komunikasi Politik Pemerintahan Prabowo di Era Cognitive Warfare

Dalam politik modern, kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui instrumen hukum, aparatus birokrasi, atau kekuatan sumber daya ekonomi, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengendalikan institusi negara, Kekuasaan juga ditentukan melalui kemampuan membentuk cara masyarakat memahami realitas. Karena itu, pertarungan politik kontemporer tidak lagi berlangsung semata-mata di parlemen, ruang rapat kabinet, atau arena pemilu, melainkan juga di dalam pikiran manusia.

Di era digital, siapa yang berhasil mendefinisikan realitas sering kali lebih berpengaruh daripada siapa yang sekadar menguasai fakta. Hal ini merupakan salah satu kajian dalam Sosioinformatika.

Karena itulah politik abad ke-21 semakin bergerak dari arena perebutan kekuasaan menuju arena perebutan makna.

Dalam konteks Indonesia, fenomena tersebut terlihat jelas dalam berbagai upaya komunikasi publik yang dilakukan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Continue reading Roadshow Kampus, Perang Narasi, dan Perebutan Ruang Kognitif

ANATOMI TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (TPPU) DALAM PROYEK MBG

– Arief Prihantoro –

MEMBONGKAR MODUS OPERANDI DI TINGKAT AGENT YAYASAN

PROLOG: DARI CELAH REGULASI KE KEJAHATAN TERSTRUKTUR

Tulisan ini mencoba mencermati bagaimana desain regulasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka ruang abu-abu yang berpotensi menjadi state-enabled crime. Penangkapan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana oleh Kejaksaan Agung pada pertengahan 2026, disusul terungkapnya skandal motor listrik senilai Rp 1 triliun dengan dugaan rebadge produk Tiongkok, membuktikan bahwa kekhawatiran itu bukan sekadar spekulasi akademik — ia adalah realitas.

Analisis ini mencoba menyentuh tidak hanya potensi fraud lapisan permukaan saja tetapi mengajak pembaca melihat sebuah arsitektur kejahatan yang jauh lebih kompleks terkait TPPU. Pertanyaan awal yang perlu dijawab secara tuntas adalah: bagaimana tepatnya mekanisme pencucian uang itu bekerja di tingkat agent Yayasan mitra MBG? Bukan sekadar “ada potensi,” tetapi bagaimana uang kotor itu bergerak, bersembunyi, dan akhirnya muncul sebagai kekayaan yang tampak bersih di tangan para pengendali?

Analisis ini bersifat preventif terhadap potensi risiko tindak pidana dalam pengelolaan program publik. Seluruh skenario yang disebutkan bersifat hipotetis dan bertujuan memperkuat wacana tata kelola, bukan menuduh individu atau lembaga tertentu tanpa dasar hukum yang telah berkekuatan tetap.

Itulah yang akan dibedah dalam tulisan ini.


Continue reading ANATOMI TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (TPPU) DALAM PROYEK MBG

Vladimir Putin: Dari Leningrad Menuju Kremlin

Anak Soviet, Agen KGB, dan Jalan Menuju Kekuasaan

Ketika Vladimir Putin muncul sebagai presiden Rusia pada pergantian milenium, banyak orang di dalam maupun luar negeri bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok ini. Ia tidak memiliki karisma revolusioner seperti Boris Yeltsin pada awal 1990-an.

Ia bukan jenderal perang yang dikenal publik. Ia juga bukan intelektual reformis yang sejak lama tampil di panggung politik nasional. Bahkan bagi sebagian besar warga Rusia, nama Putin nyaris tidak dikenal sampai beberapa bulan sebelum ia memasuki Kremlin.

Continue reading Vladimir Putin: Dari Leningrad Menuju Kremlin

“Dari Holographic Memory ke Distributed Intelligence”

– Arief Prihantoro –

Bagaimana Brain Computer Interface (BCI) dan AI Mungkin Mengubah Makna Pikiran

Perangkat Electroencephalographic Biofeedback

Ketika Otak Tidak Lagi Menjadi Batas Pikiran

Selama berabad-abad manusia menganggap pikiran sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di dalam kepala. Otak dianggap sebagai pusat komando yang menerima informasi, mengolahnya, menyimpan memori, lalu menghasilkan keputusan.

Pandangan tersebut terasa begitu intuitif sehingga jarang dipertanyakan. Namun perkembangan teknologi dalam dua dekade terakhir mulai mengguncang asumsi dasar tersebut.

Kita hidup pada era ketika telepon genggam telah mengambil alih sebagian fungsi memori. Mesin pencari menggantikan kebutuhan menghafal fakta. Sistem navigasi digital mengurangi ketergantungan pada orientasi spasial biologis. Kecerdasan buatan mulai membantu manusia menulis, merangkum, menganalisis, bahkan menghasilkan ide.

Kini perkembangan Brain-Computer Interface (BCI) membawa perubahan yang lebih radikal lagi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aktivitas neural manusia mulai dapat terhubung langsung dengan sistem komputasi eksternal.

Perkembangan ini memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar kemajuan teknologi:

Apakah pikiran masih dapat dipahami sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di dalam otak?

Continue reading “Dari Holographic Memory ke Distributed Intelligence”

Dari Memori Otak ke Organisasi: Jejak Holonomic Brain Theory di Era Kecerdasan Tiruan

– Arief Prihantoro –

Ketika Memori Menjadi Misteri

Salah satu pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit dalam ilmu pengetahuan adalah pertanyaan yang hampir setiap orang pernah rasakan secara intuitif:

Di mana sebenarnya ingatan disimpan?

Kita dapat mengingat wajah seorang sahabat masa kecil yang sudah puluhan tahun tidak ditemui. Kita masih dapat mendengar kembali lagu yang pertama kali didengar saat remaja. Bahkan aroma tertentu kadang mampu memanggil kembali kenangan yang telah lama terkubur. Semua pengalaman itu tersimpan di suatu tempat di otak, namun tidak seorang pun dapat menunjukkannya secara langsung sebagaimana seseorang dapat menunjukkan lokasi sebuah file dalam komputer, dimana tepatnya lokasi ingatan itu disimpan.

Pada awal abad ke-20, banyak ilmuwan percaya bahwa jawaban atas misteri tersebut hanyalah soal waktu. Otak seringkali dianggap bekerja seperti lemari arsip biologis. Pengalaman yang masuk melalui panca indra diproses, diberi label, lalu disimpan di lokasi tertentu. Jika lokasi itu ditemukan, maka teka-teki memori pun selesai.

Cara berpikir semacam ini sangat dipengaruhi oleh kecenderungan manusia untuk memahami alam melalui teknologi yang paling maju pada zamannya. Pada era mesin uap, tubuh sering dianalogikan sebagai mesin. Pada era hidrolik, sistem saraf dipahami layaknya jaringan pipa. Ketika komputer mulai berkembang, otak pun dibayangkan sebagai komputer biologis yang menyimpan data di dalam berbagai “folder” dan “direktori” saraf.

Continue reading Dari Memori Otak ke Organisasi: Jejak Holonomic Brain Theory di Era Kecerdasan Tiruan