
– Arief Prihantoro –

Ketika Sains Disamakan dengan Ideologi
Salah satu ironi terbesar dalam komunikasi publik adalah bahwa semakin banyak informasi tersedia, semakin mudah pula manusia membangun keyakinan yang keliru. Penyebabnya bukan semata-mata karena informasi yang beredar tidak benar, melainkan karena fakta-fakta yang benar sering kali disusun ke dalam hubungan logis yang terlalu sederhana. Akibatnya, representasi yang terbentuk tampak masuk akal, padahal telah kehilangan sebagian konteks yang justru menentukan makna keseluruhan peristiwa. Dalam banyak kasus, misinformasi tidak lahir karena ketiadaan evidence, melainkan karena cara evidence tersebut dihubungkan menjadi suatu kesimpulan. Persoalan utama bukan terletak pada data historis yang digunakan, melainkan pada kualitas inferensi yang menghubungkan data-data tersebut menjadi suatu representasi.
Fenomena semacam ini semakin mudah dijumpai pada era komunikasi digital. Arus informasi yang sangat cepat mendorong berbagai persoalan yang kompleks untuk disederhanakan menjadi narasi yang ringkas, mudah dipahami, dan mudah dibagikan. Penyederhanaan semacam itu pada dasarnya merupakan konsekuensi yang hampir tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi. Tidak mungkin seluruh kompleksitas suatu peristiwa sejarah dipindahkan secara utuh ke dalam sebuah artikel, unggahan media sosial, ataupun percakapan sehari-hari. Persoalan mulai muncul ketika yang mengalami penyederhanaan bukan lagi cara penyampaiannya, melainkan struktur penalarannya. Hubungan antarperistiwa yang semula kaya nuansa dipersempit menjadi hubungan sebab-akibat yang linear, sementara konsep-konsep yang sesungguhnya memiliki ruang lingkup berbeda diperlakukan seolah-olah identik. Pada titik inilah sejarah perlahan kehilangan kompleksitasnya dan berubah menjadi narasi yang lebih mencerminkan preferensi pembacanya daripada keseluruhan fakta yang tersedia.
Continue reading SAINS, IDEOLOGI, DAN FANATISME EPISTEMIK: PELAJARAN DARI SEJARAH UNI SOVIET







