Rukyat, Hisab, Imkan Rukyat, Wujudul Hilal, dan Kalender Hijriah Global Tunggal

Jadi begini.
Pada mulanya, semua melihat bulan dengan mata telanjang untuk menentukan awal bulan berikutnya.

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (idul fitri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban 30 hari” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kemudian berkembang ilmu falak yang bisa memprediksi secara akurat kapan bulan mulai bisa terlihat di akhir penanggalan bulan. Dengan ilmu falak, kita tidak perlu melihat hilal (rukyatul hilal) secara langsung bahkan tidak perlu lagi memikirkan apakan hilal akan tertutup awan atau tidak. Perdebatan mulai muncul apakah kita boleh menetapkan awal bulan berdasarkan perhitungan akurat (hisab) dari posisi bulan saat magrib di akhir bulan sebelumnya?

Kemudian muncul teknologi teleskop. Perdebatan muncul apakah rukyat lebih afdhol dengan mata telanjang atau boleh pakai teleskop.

Dikalangan yang antusias berhisab, muncul perdebatan kriteria matematis dari hilal terlihat itu untuk posisi bulan yang pas-pasan saat konjungsi bulan-matahari (ijtimak) dalam arti ketinggian bulan sedikit di atas 0 derajat (wujudul hilal), atau yang biasanya sudah bisa terlihat dengan mata telanjang atau pakai teleskop (imkan rukyat)? Nilainya berapa? Ketinggian bulan di atas ufuk berapa derajat? Elongasinya (sudut dengan posisi matahari) berapa derajat?

Kemudian urusan politik masuk. Karena posisi bulan saat magrib di akhir bulan berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain, seberapa lebar wilayah yang ditentukan oleh “penampakan (langsung atau berdasar perhitungan) hilal” dari suatu posisi?

Tahun 1990-an, menteri-menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) bekerja sama secara informal untuk menyepakati referensi ketinggian hilal dan elongasi. Disepakati ketentuan referensi ketinggian hilal 2 derajat dan elongasi 3 derajat.

Menanggapi kritikan pada angka 2 dan 3 itu, bulan tidak akan bisa dirukyat, MABIMS menyepakati kriteria baru ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dalam pemahaman saya, ini berarti apabila ada titik lokasi di wilayah Brunai, Indonesia, Malaysia atau Singapura yang saat magribnya bertepatan dengan posisi ketinggian bulan minimal 3 derajat dengan elongasi terhadap matahari minimal 6,4 derajat, maka esok harinya dinyatakan masuk bulan baru di seluruh wilayah BIMS.

Selain memberlakukan kriteria wujudul Hilal (asal ada titik di dunia ini yang saat magribnya, ketinggian bulan sudah di atas 0 derajat), Muhammadiyah melabarkan wilayah penanggalan ke seluruh dunia. Batas tanggal internasional disamakan dengan penanggalan Gregorian, yakni garis imajiner geografi 180 derajat bujur Timur/Barat mulai dari Utara antara Rusia dan Alaska, ke selatan sekitar kepulauan Fiji sampai di selatan sedikit sisi Timur dari New Zealand).

Demikian yang saya pahami saat ini. Masalahnya tidak rukyat vs hisab. Saya bayangkan ilmu falak sudah menjadi salah satu materi pokok pengajaran di pesantren-pesantren. Masalahnya adalah referensi apa yang digunakan untuk melakukan hisab yang tentu akak terus diperdebatkan ke depan tentang sudut-sudut ketinggial hilal dan elongasi serta cakupan wilayah pengaruhnya.

Sementara itu Muhammadiyah telah membuat keputusan praktis untuk membuat pelanggalan tetap tanpa susah-payah lagi berdiskusi panjang setiap tahunnya.

Published by

Bambang N Prastowo

Bambang Nurcahyo Prastowo adalah dosen jelata di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika, Universitas Gadjah Mada yang pernah mengajar mata-mata kuliah Sistem Operasi, Basis Data, Jaringan Komputer, Keamanan Sistem dan Blockchain. Saat ini Prastowo menekuni pengelolaan website https://socioinformatics.id serta channel https://youtube/@infososindonesia yang fokus pada pembahasan dampat kehadiran teknologi informasi di masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *