Kemampuan Bertanya: Kunci Kecerdasan di Era AI

– Arief Prihantoro –

Pada suatu sore yang cerah, seorang ayah dan putrinya duduk berdampingan di ruang tamu. Sang putri, mahasiswa generasi Z yang akrab dengan teknologi, tiba-tiba bertanya, “Ayah, apakah kamu takut AI akan mengambil alih pekerjaan manusia?” Pertanyaan itu sederhana, namun mengandung kegelisahan yang kini banyak dirasakan masyarakat di era kecerdasan buatan (AI). Sang ayah, yang pernah menekuni dunia jurnalisme, tersenyum dan menjawab, “Tidak, Nak. Justru yang paling penting sekarang bukan siapa yang bisa menjawab paling cepat, tapi siapa yang bisa bertanya dengan tepat.”

Kisah ini bukan sekadar percakapan keluarga. Ia adalah cerminan zaman, dimana kemampuan bertanya menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi.

Continue reading Kemampuan Bertanya: Kunci Kecerdasan di Era AI

Chaos Komunikasi Publik di Era Digital Dalam Perspektif Gerak Brown, Termodinamika Partikel dan Teori Komunikasi Niklas Luhmann

Arief Prihantoro

Di era digital saat ini, komunikasi publik tidak lagi bergerak dalam alur yang linear dan sederhana. Informasi yang awalnya diluncurkan sebagai sebuah isu dapat menyebar, berubah bentuk, berinteraksi, bahkan memicu konflik sosial yang tidak terduga. Fenomena ini sering kali tampak chaotic, tidak teratur, sulit diprediksi, dan penuh gesekan antar kelompok. Untuk memahami kompleksitas ini, analogi dari fisika memberi lensa yang menarik dan sangat relevan, terutama melalui konsep gerak Brown dan termodinamika partikel.

Continue reading Chaos Komunikasi Publik di Era Digital Dalam Perspektif Gerak Brown, Termodinamika Partikel dan Teori Komunikasi Niklas Luhmann

Perilaku Sistem AI Mirip Ustadz di Sesi Tanya-Jawab Acara Ceramah

Ada bahasan menarik tentang resiko menggunakan AI untuk percepatan pengembangan layanan sistem informasi. Ini terkait dengan Biro transformasi digital UGM yang mengembangkan chatbot dengan nama Lisa sebagai interface terintegrasi yang dirancang untuk bisa menjawab seggala pertanyaan tentang UGM.

Alih-alih menyiapkan daftar Q&A (tanya jawab) secara khusus, Lisa dikembangkan menggunakan teknologi machine learning dari masukan web content di bawah domain ugm.ac.id dan mungkin juga berita-berita dari media massa tentang UGM.

Continue reading Perilaku Sistem AI Mirip Ustadz di Sesi Tanya-Jawab Acara Ceramah

TITAN+MIRAS MENGATASI KEPIKUNAN DIGITAL AKAL IMITASI

– Arief Prihantoro –

Dunia telah menyaksikan munculnya model bahasa besar (LLM) seperti Gemini, GPT, DeepSeek atau Claude, yang mampu memproses dan menghasilkan teks dengan kompleksitas yang luar biasa. Model-model ini sering dianggap sangat pintar karena memiliki pengetahuan ensiklopedis dan kecepatan pemrosesan yang melebihi kemampuan manusia. Namun, di balik kecerdasan instan ini, tersimpan sebuah paradoks mendasar: entitas digital ini secara fundamental adalah makhluk yang pelupa. Model AI saat ini beroperasi dalam kondisi “sekarang yang abadi,” di mana setiap respons yang dihasilkan didasarkan pada pola yang dipelajari, bukan dari ingatan yang persisten.

Continue reading TITAN+MIRAS MENGATASI KEPIKUNAN DIGITAL AKAL IMITASI

GENERAL-PURPOSE MODEL ≈ GENERAL-PURPOSE COGNITION

– Arief Prihantoro –

Ini bukan cerita tentang “mesin yang punya otak.” Ini cerita tentang bagaimana cara berpikir AI modern bisa dianalogikan dengan cara kerja otak manusia, tanpa jargon yang membuat dahi berkerut.

Bayangkan anda duduk di kedai kopi, memperhatikan kehidupan mengalir: barista meracik kopi, pelanggan mengobrol, musik pelan di latar. Di situ, otak anda bekerja seperti “model serba guna”, menggabungkan pancaindra, ingatan, perhatian, dan motivasi, untuk memahami momen dan mengambil keputusan kecil, halus, tetapi tepat.

Continue reading GENERAL-PURPOSE MODEL ≈ GENERAL-PURPOSE COGNITION

Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Harus bisa Berubah

Ya bagaimana lagi, kita memang sedang dipaksa berubah. Perkuliahan tidak seperti dulu. Perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada ritme sistem pendidikan itu sendiri. Dulu, sekolah dari SD hingga perguruan tinggi, merupakan ritual sosial yang sangat menentukan derajat seseorang. Gelar pendidikan bahkan pernah menjadi penentu langsung pangkat, jabatan, dan gaji pokok tanpa terlalu peduli kompetensi yang didapat dari institusi pendidikannya. Sekarang, gelar tetap dicari, tetapi maknanya bergeser menjadi sekadar tiket administratif. Sementara itu, dunia kerja menuntut keterampilan dan portofolio, bukan sekadar bukti pernah duduk di perguruan tinggi selama empat tahun.

Perubahan juga tampak jelas pada mekanisme kenaikan kelas dan kelulusan. Dahulu, ulangan umum dan ujian akhir berfungsi sebagai penyaring. Yang tidak memenuhi standar mengulang kelas. Saya ingat di SD, dari tahun ke tahun selalu mendapat teman baru sekitar 10% dari yang tinggal kelas, bahkan di kelas 6 SD masih dapat teman baru yang tidak lulus ujian. Kini hampir semua naik kelas dan lulus, karena evaluasi berubah menjadi formalitas birokrasi. Kalau nilai terlalu rendah di suatu sekolah, bisa pindah ke sekolah lain yang masih bisa menerima kenaikan kelasnya.

Continue reading Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Harus bisa Berubah

Bagaimana AI Mengenali Ekspresi Manusia dengan Meniru Cara Kerja Otak

– Arief Prihantoro –

Wajah adalah kanvas emosi yang paling jujur. Gerakan kecil di sudut bibir atau kerutan pada dahi sering berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Otak kita, sebagai hasil evolusi jutaan tahun, sudah sangat piawai membaca isyarat halus ini secara otomatis. Bahkan sebelum kita menyadarinya, otak sudah menebak: “Dia sedang senang,” atau “Ada yang membuatnya terkejut”. Artikel ini akan menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) mencoba meniru cara kerja otak itu—mulai dari mengamati gambar wajah hingga menghubungkan dengan “percakapan” tentang gambar tersebut.

Continue reading Bagaimana AI Mengenali Ekspresi Manusia dengan Meniru Cara Kerja Otak

KECERDASAN AKAL IMITASI (AI) TIDAK MENJAMIN MEREKA PASTI PINTAR DAN PANDAI

– Arief Prihantoro –

Kecerdasan Buatan dan Otak Manusia: Mengurai Cara Kerja AI Lewat Analogi Otak Biologis

Pernyataan Dr. Ryu Hasan, seperti dalam video terlampir dan saat ini sedang viral, sangat menohok masyarakat Indonesia: kenapa kini rata-rata score kecerdasan Masyarakat Indonesia menurun drastis selama beberapa dekade, bahkan kini rata-rata mendekati score IQ Gorila. Tulisan ini mencoba menjelaskan dengan perspektif analogi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI).

Continue reading KECERDASAN AKAL IMITASI (AI) TIDAK MENJAMIN MEREKA PASTI PINTAR DAN PANDAI

Tiga Cairan Kimiawi Otak Biologis Ditiru Oleh Robot Untuk Belajar Berpikir

– Arief Prihantoro –

Dalam salah satu sesi saat penulis mengisi acara webinar tentang Kecerdasan Buatan, ada salah satu peserta yang bertanya:

“Mesin tidak dipengaruhi oleh produksi asetilkolin, dopamin, atau epinefrin. Jadi prosesnya tanpa hambatan dalam belajar seperti manusia. Kalau dianalogikan, asetilkolin, Dopamin, atau epinefrin ini bagi sistem cerdas atau sistem sibernetika analoginya dengan apa ya? Atau kalau dalam Generatif ataupun Agentic AI dan robotika bisa diibaratkan dengan apa?”

Continue reading Tiga Cairan Kimiawi Otak Biologis Ditiru Oleh Robot Untuk Belajar Berpikir

Robot Cerdas, Pembelajar Yang Berlatih di Negeri Transformer

– Arief Prihantoro –

Bagi para mahasiswa atau siapa pun yang baru menapaki dunia Artificial Intelligence, tumpukan istilah teknis sering kali terasa seperti badai kata-kata tanpa makna. Ketika seseorang ingin memahami bagaimana sebuah model belajar, istilah-istilah seperti precision, recall, loss, atau learning rate tiba-tiba meloncat dari layar dan membuat pening kepala.

Salah satu cara paling manusiawi untuk memahami sesuatu adalah melalui logika analogi — menghubungkan hal baru dengan pengalaman sehari-hari yang telah kita kenal. Sebagai cerita fiksi yang menjadi latar belakang analogi, tulisan ini menceritakan tokoh fiktif bernama Reno, sebuah robot yang sedang belajar dan berlatih di sebuah negeri teknologi Artifical Intelligence bernama negeri Transformer. Sebagai mesin Sibernetis, Reno tidak hanya Cerdas, tetapi dia juga pintar (berwawasan) dan pandai (terampil). Reno terampil atau pandai menyelesaikan soal-soal yang diberikan kepadanya.

Continue reading Robot Cerdas, Pembelajar Yang Berlatih di Negeri Transformer