– Arief Prihantoro –

Pada suatu sore yang cerah, seorang ayah dan putrinya duduk berdampingan di ruang tamu. Sang putri, mahasiswa generasi Z yang akrab dengan teknologi, tiba-tiba bertanya, “Ayah, apakah kamu takut AI akan mengambil alih pekerjaan manusia?” Pertanyaan itu sederhana, namun mengandung kegelisahan yang kini banyak dirasakan masyarakat di era kecerdasan buatan (AI). Sang ayah, yang pernah menekuni dunia jurnalisme, tersenyum dan menjawab, “Tidak, Nak. Justru yang paling penting sekarang bukan siapa yang bisa menjawab paling cepat, tapi siapa yang bisa bertanya dengan tepat.”
Kisah ini bukan sekadar percakapan keluarga. Ia adalah cerminan zaman, dimana kemampuan bertanya menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi.






