Operasionalisasi Perlindungan Data Pribadi di Dunia Siber

Ada mahasiswa yang mengeluh ke saya kalau data pribadinya diumbar oleh pihak UGM. Dia memberi contoh data pengumuman kelulusan program studi tertentu diberikan dalam bentuk file PDF daftar nama-nama yang bisa diunduh dari web UGM begitu saja. Keluhan ini sah dan saya berjanji akan membicarakannya dengan Direktorat Pendidikan dan Pengajaran UGM. Masalah perlindungan data pribadi menurutku cukup rumit. Kita perlu mencari jalan tengah yang masuk akal antara kemudahan berkomunikasi dan menjaga kerahasiaan.

Saya pribadi berpikiran bahwa mustahil kita bisa melindungi kerahasiaan data 100%. Data dibuat untuk dikomunikasikan. Begitu terjadi komunikasi, maka tingkat kesulitan merahasiakannya menjadi dua kali lipat atau sekian kali lipat bergantung pada jumlah pihak yang terlibat dalam komunikasi itu. Kesulitan akan terus bertambah berlipat ganda eksponensial seiring dengan pertambahan jumlah pihak yang berkepentingan dengan data yang bersangkutan.

Continue reading Operasionalisasi Perlindungan Data Pribadi di Dunia Siber

AI sebagai Simulakra: Ilusi yang Memikat, Risiko yang Mematikan

Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh berita tentang Adam Raine, seorang remaja 16 tahun asal California Selatan, Amerika Serikat, yang mengakhiri hidupnya setelah berbulan-bulan bercakap dengan chatbot AI.

Sebelum meninggal pada 11 April 2025, Adam mengunggah foto ke ChatGPT yang tampaknya menunjukkan rencana bunuh diri. Ketika dia bertanya apakah rencana itu akan berhasil, ChatGPT menganalisis metodenya dan menawarkan untuk membantunya “memperbarui” rencana tersebut.

Cuplikan percakapan ini diperoleh kedua orangtuanya, Matt dan Maria Raine, di ponsel milik Adam.

Continue reading AI sebagai Simulakra: Ilusi yang Memikat, Risiko yang Mematikan

PSIKOSIS AI : Ketika Mesin Menjadi Suara di Kepala

PSIKOSIS AI : Ketika Mesin Menjadi Suara di Kepala


cakHP.

Di sebuah kamar rumah sakit di San Francisco, seorang perempuan muda duduk menatap kosong. Namanya Jodie, 26 tahun, dari Australia Barat. Ia bukan korban narkoba, bukan pula penderita demensia. Ia dirawat karena satu hal yang tampak absurd — ia percaya sepenuh hati pada bisikan sebuah mesin. ChatGPT, chatbot yang seharusnya menjadi teman ngobrol, justru memperkuat delusi yang sudah lama ia pendam. Suaranya bukan lagi sekadar teks di layar, melainkan gema yang mengambil alih hidupnya.

Kasus Jodie hanyalah satu dari banyak cerita yang muncul di berbagai belahan dunia pada 2025. Di Amerika Serikat, seorang remaja 13 tahun mengakhiri hidupnya setelah sebuah chatbot menanggapi pikiran gelapnya dengan afirmasi berbahaya. Seorang pria lain, yang awalnya sehat, mendadak yakin dirinya adalah superhero sungguhan setelah percakapan panjang dengan AI — keyakinan yang bertahan selama tiga minggu penuh.

Fenomena ini diberi nama: AI psychosis.

Continue reading PSIKOSIS AI : Ketika Mesin Menjadi Suara di Kepala

Politik Digital adalah Politik Algoritma

cakHP.

📌
Prolog: Dari Mesin ke Algoritma

Jika abad ke-19 ditandai oleh mesin uap dan pabrik industri, maka abad ke-21 ditandai oleh algoritma. Algoritma bukan sekadar barisan instruksi teknis, melainkan tatanan baru kekuasaan. Ia mengatur apa yang kita lihat, beli, percayai, bahkan bagaimana kita berpartisipasi dalam demokrasi. Maka wajar bila filsafat politik kini bertanya: siapa yang menulis kode, siapa yang menguasai data, dan siapa yang menentukan aturan main kehidupan bersama?

Continue reading Politik Digital adalah Politik Algoritma

Intelijen Indonesia: Dari Hantu & Dalang Orde Baru, ke Algoritma Digital ?

🗣️
*Prolog: Bayangan di Balik Tirai*

Pada masa Orde Baru, intelijen adalah mitos sekaligus hantu. Nama-nama seperti Opsus, BAKIN, Kopkamtib, BAIS membuat rakyat bergidik. Cerita beredar: mahasiswa yang terlalu kritis diawasi, ormas yang bandel dibubarkan, politisi yang salah langkah “dibina” diam-diam.

Intelijen kala itu ibarat dalang dalam pertunjukan wayang: rakyat menonton lakon politik di panggung, tapi siapa yang muncul, siapa yang hilang, dan bagaimana alurnya — semua sudah diatur dari balik kelir.

Lompatan ke era digital membuat panggung berubah. Kini, dalang tidak lagi hanya bermain di balik layar, tapi masuk ke layar ponsel kita. Intelijen dan para pemain politik bergerak dalam bentuk buzzer, influencer, dan algoritma.
Pertanyaannya: apakah dalang itu masih sama, hanya berganti topeng?

Continue reading Intelijen Indonesia: Dari Hantu & Dalang Orde Baru, ke Algoritma Digital ?

Dapatkah kita membandingkan manusia dengan mesin AI?

Bambang Nurcahyo Prastowo

Membandingkan manusia dengan mesin, terutama mesin berbasis kecerdasan buatan tidak mudah. Barangnya berbeda: manusia berpikir dan bertindak secara individual, sedangkan mesin adalah konstruksi teknis yang sebagian besar dirancang untuk beroperasi secara kolektif. Manusia sejak lahir mulai belajar dari nol, membangun pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan sedikit demi sedikit melalui interaksi dengan lingkungan. Sebaliknya, Mesin AI sering kali tidak perlu “belajar” dari awal setiap kali digunakan. Pengetahuan yang sudah diperoleh sebuah model dapat diwariskan, ditingkatkan, dan disebarkan ke mesin lain sehingga proses belajar berlangsung bertahap dari generasi ke generasi.

Cara manusia dan mesin memperoleh informasi juga sangat berbeda. Manusia biasanya membaca buku sesuai dengan minatnya, dan jumlah bacaan yang bisa dicerna sangat terbatas. Bahkan seorang pembaca tekun seumur hidup pun hanya mampu menguasai sebagian kecil dari total pengetahuan tertulis yang ada. Mesin AI, di sisi lain, dapat diprogram untuk menerima input dari seluruh koleksi buku atau setidaknya jumlah yang melampaui batas kapasitas pembacaan manusia. Dengan demikian, mesin memiliki peluang untuk menyerap referensi dalam skala masif, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan manusia tanpa bantuan.

Continue reading Dapatkah kita membandingkan manusia dengan mesin AI?

Narkoba Medsos

Bambang Nurcahyo Prastowo

Kawan saya di group Masyarakat Informatika Sosial Indonesia (MISI) memperkenalkan ke saya istilah candu digital. Istilah ini sepertinya memang cocok dengan content media sosial yang dirancang untuk menarik perhatian kita terus-menerus agar tetap terikat di layat gadget.

Narkoba pada awalnya bukanlah musuh. Narkoba awalnya dikembangkan untuk keperluan medis: morfin, opioid, dan turunannya diproduksi untuk mengurangi rasa sakit, meredakan kecemasan, bahkan menyelamatkan nyawa. Di luar konteks pengobatan, zat yang sama berubah menjadi candu yang menjerat otak dengan memanipulasi sistem dopamin. Pada akhirnya menghancurkan hidup penggunanya.

Sepertinya fenomena ini mirip dengan yang terjadi pada media sosial. Platform digital ini awalnya dirancang sebagai media komunikasi global, sarana e-commerce, dan tempat menyebarluaskan pendidikan globak. Akses content bisa lintas benua dalam hitungan detik, membuka peluang usaha baru dan memperluas akses pengetahuan. Seperti narkoba dalam konteks medis, awalnya media sosial memiliki potensi sebagai obat pengembangan sosial bagi masyarakat modern.

Continue reading Narkoba Medsos

Pergeseran Selera Seni Masyarakat

Beberapa waktu lalu saya mencoba membuat musik lagu menggunakan deepseek untuk bikin lirik. Hasilnya saya icopy-pastekan ke Suno Music. Ternyata hasilnya gak jelek-jelek amat lah ditelingaku. Kalau cafe-cafe dan restoran-restoran benar-benar ditambah pajaknya untuk royalty, mereka pasti akan beralih memutar lagu-lagu AI.

Yang akan merepotkan nanti, internet akan dibanjiri produk suno musik dan semacamnya seperti kita pernah kebanjiran gambar-gambar AI sebelumnya, termasuk studio gibli dulu itu. Penerimaan masyarakat pada produk AI tidak sekedar adanya penurunan tingkat selera masyarakat, tapi juga karena ada peningkatan kualitas produk AI itu sendiri.

genbatik.ub.ac.id

Dulu saya pernah menulis tentang fenomena batik. Sampai sekarang, batik tulis halus masih diproduksi, dan mestinya masih ada pasar kolektornya. Terakhir saya ke Mirota Batik masik lihat ada koleksi kain-kain batik berharga jutaan rupiah, tapi sepertinya target pembelinya relatif terbatas. Yang dipakai sehari-hari, di sekolah, atau kantor, ya batik printing. Praktis, murah, dan menurutku sudah cukup baik dan malah kelihatan lebih rapi dibanding batik tulis.

Continue reading Pergeseran Selera Seni Masyarakat

Ralat Zoom Link Webinar #025

Teman-teman, mengingatkan kita ketemu di Webinar MISI nanti jam 20:00. Link yang dari s.id ada masalah, kita gunakan link alternatif:
Topic: Menjaga Kesehatan Mental di Era Medsos
Pemantik: Atikah Prastowo (Psikolog Klinis)
Host: Bambang Nurcahyo Prastowo
Moderator: Tanti Ruwani
Time: Aug 15, 2025 07:30 PM Jakarta
Join Zoom Meeting
https://ugm-id.zoom.us/j/99644302005?pwd=YQAt9D8cbNW1IZ7ybp202nF1CIJ56X.1

Meeting ID: 996 4430 2005
Passcode: MISI