Déjà Vu ALGORITMIK

-Arief Prihantoro-

Trauma Kolektif, Sinkronisitas, Quaternio dan Dunia yang Terus Mengulang Sejarah

Kita hidup dalam perasaan ganjil bahwa sejarah terus berulang, tetapi bukan sebagai pengulangan yang sama persis—melainkan sebagai gema. Krisis datang, reda, lalu kembali dengan wajah baru. Peristiwa 1965, Malari 1974, Reformasi 1998, pandemi Flu Spanyol 1919, pandemi COVID-19 2019, hingga polarisasi politik hari ini menghadirkan sensasi yang akrab: seolah kita pernah berada di sini sebelumnya. Inilah déjà vu kolektif, tetapi kini ia tidak lagi lahir semata dari ingatan manusia. Ia diproduksi, dipercepat, dan dikelola oleh algoritma.

Saat ini kita hidup di zaman ketika hampir semua hal diukur, dihitung, dan diprediksi. Dari rekomendasi film, skor kredit, peluang diterima kerja, hingga siapa yang dianggap berisiko oleh negara—semuanya kini bergantung pada data dan algoritma. Di permukaan, dunia ini tampak semakin rasional dan efisien. Namun di balik ketertiban digital itu, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan: mengapa hidup terasa semakin terfragmentasi dan kehilangan arah?

Pertanyaan ini sebenarnya sudah lama diajukan, jauh sebelum AI dan big data menjadi arus utama. Carl Gustav Jung, seorang psikolog, dan Wolfgang Pauli, fisikawan pemenang Nobel, pernah berdialog intens tentang krisis cara manusia memahami dunia, sebuah kegelisahan yang sulit dijelaskan. Dari percakapan merekalah lahir gagasan tentang quaternio dan sinkronisitas—dua konsep yang hari ini terasa justru semakin relevan.

Jung percaya bahwa manusia hanya bisa memahami dunia secara utuh jika empat unsur hadir bersama: kesadaran, ketidaksadaran, materi, dan makna. Ia menyebut struktur ini sebagai quaternio—empat serangkai yang membentuk keutuhan.

Masalahnya, peradaban modern terlalu lama hidup dengan struktur yang timpang. Kita memuja rasio, data, dan objektivitas, sambil menyingkirkan intuisi, simbol, dan makna. Akibatnya, pengetahuan memang menjadi presisi, tetapi jiwa manusia justru tercerabut.

Pauli menemukan keganjilan serupa di fisika modern. Fisika kuantum menunjukkan bahwa pengamat tidak pernah benar-benar netral. Namun sains tetap bersikeras berpura-pura objektif sepenuhnya. Bagi Pauli, ini tanda bahwa ada sesuatu yang salah bukan pada data, melainkan pada cara kita memaknainya.

Inkoisidensi, Ketika Kebetulan Tidak Lagi Sekadar Kebetulan

Dari dialog Jung–Pauli lahir konsep sinkronisitas: peristiwa yang terjadi bersamaan atau ada kemiripan dan bermakna, meski tidak saling menyebabkan. Bukan sihir, bukan takhayul, tetapi pengalaman manusiawi yang nyata.

Berikut beberapa peristiwa sejarah yang sering disebut “terlalu mirip untuk kebetulan”—terjadi berulang di tahun berbeda, melibatkan tokoh besar, dan kerap dibaca sebagai pola sejarah alih-alih sebagai fenomena sebab–akibat sederhana:

Sejarah Amerika kerap dijadikan ladang contoh karena dokumentasinya rapi. Dua presiden paling sering dibandingkan adalah Abraham Lincoln dan John F. Kennedy. Lincoln terpilih menjadi presiden pada tahun 1860, Kennedy menjadi presiden tepat seabad kemudian pada tahun 1960. Keduanya dibunuh saat menjabat, ditembak di kepala pada hari Jumat, dan digantikan oleh wakil presiden bermarga Johnson—Andrew Johnson lahir 1808, Lyndon B. Johnson lahir 1908. Sekretaris Lincoln bernama Kennedy, sekretaris Kennedy bernama Lincoln. Bahkan pembunuh mereka, Booth dan Oswald, sama-sama dikenal dengan tiga nama dan jumlah huruf yang sama. Sebagian detail ini dibesar-besarkan oleh budaya populer, tetapi kerangka besarnya nyata: pola tragedi yang berulang dalam jarak satu abad.

Di Eropa, Napoleon Bonaparte dan Adolf Hitler sering dibaca sebagai bayangan satu sama lain. Keduanya muncul dari krisis nasional, menjanjikan pemulihan harga diri bangsa, dan akhirnya membawa Eropa ke perang besar. Napoleon menyerbu Rusia pada 1812; Hitler melakukan hal yang hampir identik pada 1941, beda jarak 120 tahun. Keduanya gagal menaklukkan Rusia. Keduanya naik ke puncak kekuasaan Eropa pada usia awal 40-an. Keduanya kalah perang besar setelah invasi Timur. Keduanya gagal karena hal yang sama, musim dingin, logistik, dan over-ekspansi. Yang menarik bukan sekadar kesalahan strategisnya, melainkan narasi mesianistik: pemimpin yang diyakini mampu “mengembalikan kejayaan”, lalu runtuh oleh keyakinannya sendiri. Sejarah keduanya sering dibaca sebagai déjà vu geopolitik.

Kasus Raja Umberto I (Italia) – Presiden William McKinley (AS) juga menarik karena pola pembunuhan politiknya nyaris identik, namun jarang dibahas bersamaan. Umberto I dibunuh tahun 1900 oleh kelompok anarkis. Motif: kemarahan terhadap represi negara dan ketimpangan sosial. William McKinley dibunuh tahun 1901 oleh kelompok anarkis. Motif: perlawanan terhadap kapitalisme dan kekuasaan negara. Keduanya: dibunuh di ruang publik, oleh pelaku dengan ideologi anarkisme, dalam konteks ketegangan sosial-industrial akhir abad ke-19. Ini sering dibaca sebagai sinkronisitas politik lintas negara: sistem berbeda, tetapi luka sosial serupa.

Musibah Titanic (1912) – Costa Concordia (2012), terjadi pengulangan simbolik yang mencolok. Titanic tenggelam 1912 → Concordia 2012 (selisih tepat 100 tahun). Keduanya kapal mewah, simbol keangkuhan teknologi zamannya. Keduanya mengabaikan peringatan (es, navigasi). Keduanya memicu diskursus global tentang “arogansi modernitas”. Dalam pembacaan Jungian, ini sering dipahami sebagai pengulangan mitos hubris: teknologi melampaui kebijaksanaan.

Di Asia, Tiongkok mengenal siklus dinasti yang hampir ritualistik. Dinasti berdiri setelah kekacauan, mencapai puncak stabilitas, lalu runtuh oleh korupsi, ketimpangan, dan pemberontakan—Han, Tang, Song, Ming, Qing. Nama tokoh berbeda, teknologi berubah, tetapi alur moralnya sama. Bagi sejarawan Tiongkok klasik, ini bukan kebetulan, melainkan “Mandat Langit” yang berpindah ketika kekuasaan kehilangan legitimasi.

Indonesia pun tidak imun terhadap pengulangan semacam ini. 1965 dan 1998 terjadi dalam konteks berbeda, tetapi memiliki gema yang mirip: krisis ekonomi, ketegangan elite, mobilisasi massa, dan perubahan rezim yang dibingkai sebagai “penyelamatan negara”. Nama tokoh berubah, ideologi bergeser, tetapi struktur krisisnya terasa akrab. Itulah sebabnya setiap gejolak politik besar hari ini sering memicu rasa déjà vu nasional—seolah memori sosial kita menyimpan template krisis yang siap aktif kembali.

Dalam sejarah global modern, krisis kesehatan juga menunjukkan pola serupa. Flu Spanyol 1918, SARS 2003, dan COVID-19 memperlihatkan respons yang berulang: penyangkalan awal, kepanikan, disiplin sosial, lalu kelelahan kolektif. Tokoh, negara, dan virus berbeda, tetapi psikologi massanya hampir identik. Bedanya kini, algoritma media sosial mempercepat dan memperkeras pola tersebut.

Semua contoh ini tidak membuktikan adanya hukum mistik sejarah. Namun ia menunjukkan sesuatu yang lebih subtil: manusia, kekuasaan, dan institusi cenderung mengulang bentuk yang sama ketika berada dalam tekanan yang serupa. Nama tokoh besar berganti, tahun berubah, teknologi maju, tetapi struktur emosi, ambisi, dan ketakutan sering tetap sama.

Di titik inilah sejarah terasa bukan sekadar kronologi, melainkan mesin pengulangan makna—dan di era algoritma, mesin itu kini bekerja lebih cepat, lebih presisi, dan lebih sulit kita sadari.

Pauli sendiri mengalaminya secara berulang, hingga sulit dipahami sebagai kebetulan tunggal. Di kalangan fisikawan Eropa pada 1920–1930-an, namanya bahkan diasosiasikan dengan apa yang setengah bercanda disebut Pauli Effect. Setiap kali Pauli hadir—atau bahkan hanya berada di sekitaran—peralatan laboratorium seolah kehilangan kepatuhan pada hukum fisika. Instrumen jatuh tanpa sebab jelas, tabung pecah, eksperimen gagal pada detik-detik terakhir. Dan kejadiannya sering berulang.

  • Kisah Pauli Effect sendiri dikenal lewat anekdot historis dari komunitas fisikawan abad ke-20 tentang reputasi Pauli yang “membawa malapetaka” pada eksperimen— sering disebut dalam literatur sejarah sains sebagai ilustrasi humor khas fisikawan dan sebagai “fenomena” yang terus dibicarakan, meskipun bukan bukti ilmiah.
  • Ini bukan fenomena ilmiah resmi, tetapi cerita turun-temurun yang menunjukkan hubungan unik antara teori dan eksperimen di fisika klasik.
  • Bahkan Otto Stern pernah melarang Pauli masuk lab karena kekhawatiran terhadap kecelakaan alat. Namun ini bukan sekedar anekdot, tetapi ada catatan sejarahnya.

Salah satu kisah yang paling sering diceritakan berasal dari akhir 1920-an, ketika Pauli dijadwalkan mengunjungi sebuah institut fisika di Jerman—dalam banyak kesaksian disebut Hamburg. Pada hari kedatangannya, saat Pauli masih berada dalam perjalanan dengan kereta dan bahkan belum memasuki gedung laboratorium, sebuah instalasi eksperimen mengalami kerusakan mendadak. Dalam beberapa versi, sebuah perangkat runtuh atau sistem eksperimen gagal secara tiba-tiba tanpa sebab teknis yang segera dapat dijelaskan.

Peristiwa semacam ini tidak pernah dicatat dalam laporan eksperimen resmi, tetapi beredar luas sebagai kisah lisan di kalangan fisikawan Eropa pada masa itu. Yang membuatnya berkesan bukan satu kejadian tunggal, melainkan pola yang berulang. Kerusakan alat sering terjadi tepat ketika Pauli akan datang atau baru saja tiba, meskipun ia tidak menyentuh apa pun. Karena pengalaman semacam ini terulang berkali-kali, rekan-rekannya mulai dengan setengah serius meminta Pauli untuk tidak memasuki ruang eksperimen tertentu, bukan sebagai bentuk takhayul murni, melainkan sebagai respons pragmatis terhadap rangkaian kejadian yang terasa terlalu konsisten untuk diabaikan. Kisah ini kemudian bertahan bukan sebagai bukti kausal, melainkan sebagai semacam catatan pinggir dalam sejarah fisika modern, diceritakan ulang justru karena ia menandai batas di mana penjelasan teknis berhenti, sementara pertanyaan tentang makna mulai muncul.

Fenomena yang konsisten dalam peristiwa yang dialami oleh Pauli di semua versi cerita dalam penuturan lisan para fisikawan adalah:

  1. Pauli tidak menyentuh alat
  2. Pauli bahkan belum berada di ruang eksperimen
  3. Kerusakan terjadi tepat menjelang atau bersamaan dengan kedatangannya

Mengapa kisah ini dianggap “empiris”, bukan takhayul?

Menariknya, para fisikawan tidak menertawakannya sebagai omong kosong, karena:

  • Pauli dikenal sangat anti-mistis
  • Ia tidak pernah mengklaim punya kekuatan apa pun
  • Rekan-rekannya tetap melarang Pauli masuk lab secara pragmatis

Larangan itu sering diungkapkan setengah serius:

“Wolfgang, kamu tunggu di kantor saja.”

Ini penting:
bukan karena percaya sihir, tetapi karena pola kegagalan, pola gangguan atau pola kerusakannya terjadi berulang.

Jung dan Pauli sama-sama menolak menjelaskan fenomena ini secara mistis. Tidak ada klaim bahwa Pauli ‘memancarkan energi’ yang merusak mesin. Penjelasan mereka justru lebih halus: kondisi psikis Pauli pada masa-masa itu berada dalam ketegangan ekstrem. Ia adalah rasionalis tulen yang hidup tepat di ambang runtuhnya rasionalitas klasik. Ketegangan batin itu—konflik antara kebutuhan akan keteraturan matematis dan kekacauan realitas kuantum—berjalan paralel dengan ketidakstabilan sistem fisik yang rapuh.

Di saat yang sama, Pauli mengalami mimpi-mimpi simbolik yang sangat kuat. Ia bermimpi tentang jam kosmik raksasa, roda-roda yang berputar dalam simetri empat arah, sumbu vertikal dan horizontal yang saling berpotongan. Jung menafsirkan mimpi-mimpi ini sebagai mandala—simbol keutuhan psikis—yang muncul justru ketika kesadaran rasional Pauli mencapai batasnya. Yang mencengangkan, mimpi-mimpi tersebut sering hadir bersamaan dengan fase krisis intelektual atau menjelang terobosan besar dalam pemikirannya tentang simetri dan hukum alam.

Di sinilah sinkronisitas menjadi lebih dari cerita anekdot. Pola yang sama—ketidakstabilan, transisi, dan pencarian keseimbangan—muncul serentak di dua ranah yang berbeda: jiwa Pauli dan dunia fisika di sekitarnya. Tidak ada hubungan sebab-akibat langsung, tetapi ada kesamaan bentuk. Dunia batin dan dunia luar seolah sedang ‘berbicara’ dalam bahasa simbol yang sama.

Fenomena ini dapat dipahami melalui apa yang oleh Jung disebut sebagai meaningful coincidence, atau inkoinsidensi bermakna. Berbeda dari kebetulan biasa, inkoinsidensi tidak dinilai dari seberapa jarang suatu peristiwa terjadi, melainkan dari kesesuaian strukturnya dengan kondisi psikis yang sedang berlangsung. Dua peristiwa dapat sepenuhnya independen secara kausal, namun tetap terhubung oleh pola makna yang identik.

Dalam kerangka ini, yang ‘bertemu’ bukanlah peristiwanya, melainkan bentuknya. Ketika Pauli berada dalam fase liminal—masa peralihan antara keteraturan lama dan pemahaman baru—baik jiwanya maupun dunia fisik yang ia hadapi sama-sama menampilkan gejala instabilitas. Alat laboratorium yang gagal dan mimpi simbolik tentang simetri kosmik bukan saling menyebabkan, tetapi sama-sama mengekspresikan satu kondisi dasar: sistem yang sedang berada di ambang reorganisasi.

Teori inkoinsidensi memandang momen-momen seperti ini sebagai titik ketika batas antara subjek dan objek menjadi menipis. Realitas tidak lagi tampil sebagai sesuatu yang sepenuhnya ‘di luar’, melainkan sebagai medan bersama tempat struktur psikis dan struktur material muncul serempak. Karena itu, sinkronisitas tidak bisa direduksi menjadi sugesti psikologis atau kebetulan statistik. Ia adalah pengalaman ketika makna hadir seolah sudah ‘tersedia’ di dunia, menunggu untuk disadari.

Dalam kasus Pauli, inkoinsidensi semacam ini berfungsi sebagai sinyal. Ia menandai bahwa cara lama memahami dunia telah mencapai batasnya, dan bahwa sebuah pola baru—baik dalam jiwa maupun dalam teori fisika—sedang mencari bentuk. Sinkronisitas, dengan demikian, bukan gangguan terhadap rasionalitas, melainkan penanda bahwa rasionalitas sedang bertransformasi.

Déjà Vu

Pengalaman tersebut memiliki kemiripan halus dengan apa yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal sebagai déjà vu. Déjà vu adalah momen ketika sesuatu peristiwa sepenuhnya baru terasa saat ini namun seolah pernah dialami sebelumnya. Bukan karena peristiwa itu benar-benar terulang, melainkan karena bentuk pengalaman tersebut langsung dikenali oleh lapisan makna yang lebih dalam. Dalam bahasa Jungian, yang aktif bukan ingatan personal, melainkan pola simbolik yang sudah lama ada dalam ketidaksadaran.

Jika sinkronisitas mempertemukan peristiwa batin dan kejadian eksternal, maka déjà vu dapat dipahami sebagai bentuk sinkronisitas internal. Persepsi saat ini dan struktur makna lama yang sudah pernah tersimpan di memori bertemu tanpa jalur sebab-akibat yang biasa. Karena itu déjà vu sering muncul pada momen transisi: saat seseorang berada di persimpangan hidup, menghadapi keputusan besar, atau memasuki peran yang secara psikologis ‘tua’, meskipun secara biografis baru.

Dalam kerangka inkoinsidensi, déjà vu terjadi ketika makna mendahului pengalaman. Situasi terasa akrab bukan karena pernah terjadi, tetapi karena ia selaras dengan pola yang telah lama hidup dalam jiwa manusia. Seperti sinkronisitas ala Pauli, déjà vu menandai titik di mana waktu linear melemah dan waktu simbolik menguat. Ia adalah bisikan halus bahwa kita sedang berada di ambang perubahan, ketika pengalaman baru sedang mencoba menyesuaikan diri dengan struktur makna yang lebih dalam.

Secara sederhana Déjà vu adalah pengalaman subjektif ketika:

sesuatu yang baru terasa seolah sudah pernah dialami sebelumnya.

Secara umum, sains arus utama menjelaskannya sebagai:

  • gangguan temporal memori,
  • ketidaksinkronan antara persepsi dan pengenalan,
  • atau error neurologis ringan.

Déjà vu tidak selalu sinkronistik, tetapi setiap sinkronisitas sering disertai nuansa déjà vu. Namun ketiganya memiliki satu kesamaan mendasar yang menjadi titik temu:

gangguan pada pengalaman waktu linear

  • Déjà vu → “aku pernah di sini” padahal belum
  • Sinkronisitas → dua peristiwa tak terkait terjadi “tepat pada waktunya”
  • Inkoinsidensi → makna muncul tanpa proses sebab-akibat

Dalam istilah Jung:

waktu kausal melemah, waktu simbolik menguat

Dalam skala yang lebih luas, mekanisme yang sama juga bekerja pada tingkat sosial. Masyarakat, seperti halnya individu, menyimpan ingatan, bukan hanya dalam arsip dan buku sejarah, tetapi dalam kebiasaan, ketakutan, refleks moral, dan cara merespons krisis. Di sinilah sinkronisitas dan déjà vu bertemu dengan apa yang bisa disebut sebagai trauma kolektif dan memori sosial.

Trauma kolektif tidak selalu hadir sebagai ingatan eksplisit. Ia hidup sebagai pola: rasa cemas yang muncul berlebihan, kecenderungan mengulang kebijakan lama, atau respons emosional yang terasa tidak proporsional terhadap peristiwa baru. Ketika sebuah masyarakat mengalami déjà vu—merasa “ini pernah terjadi sebelumnya”—sering kali yang aktif bukan ingatan faktual, melainkan jejak trauma yang belum sepenuhnya diproses.

Dalam kerangka ini, sinkronisitas sosial muncul ketika peristiwa kontemporer tiba-tiba terasa sangat bermakna karena ia beresonansi dengan luka lama. Krisis ekonomi, wabah, atau gejolak politik tertentu memicu respons yang seolah otomatis, seakan masyarakat sedang mengulang naskah yang sudah ditulis sebelumnya. Tidak ada hubungan sebab-akibat langsung antara masa lalu dan peristiwa kini, tetapi ada kesamaan bentuk—inkoinsidensi dalam skala kolektif.

  • Déjà vu ≠ sinkronisitas
  • Déjà vu ≠ inkoinsidensi
  • Tetapi déjà vu adalah fenomena perbatasan di antara keduanya

Dalam satu kalimat Jungian:

Déjà vu adalah saat makna mendahului pengalaman.


Dalam konteks arketipe dan ketidaksadaran kolektif Jungian:

  • déjà vu muncul ketika situasi sekarang mengaktifkan pola arketipal
  • pengalaman terasa “dikenal” karena strukturnya universal
  • Déjà vu bukan bukti kehidupan lampau
  • Bukan gangguan spiritual
  • Dan bukan wahyu

Ia adalah:

retakan kecil dalam pengalaman waktu linear, yang membuka jendela ke struktur makna yang lebih dalam

Fenomena ini semakin terasa di era digital dan algoritmik. Media sosial dan sistem rekomendasi tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga mengaktifkan kembali memori sosial yang traumatik. Algoritma, yang bekerja dengan memperkuat pola lama, sering kali membuat masyarakat terjebak dalam lingkaran pengulangan: ketakutan yang sama, kemarahan yang sama, narasi krisis yang terus berulang. Kita hidup dalam semacam déjà vu kolektif, di mana masa lalu terus dipanggil kembali tanpa pernah benar-benar disembuhkan.

Di titik ini, gagasan Jung–Pauli menjadi relevan sebagai kritik kultural. Sinkronisitas mengingatkan kita bahwa tidak semua pengulangan adalah kebetulan, dan tidak semua krisis bisa dijelaskan semata-mata oleh data dan sebab teknis. Ada dimensi makna yang sedang menuntut perhatian. Jika tidak disadari, trauma kolektif akan terus kembali sebagai inkoinsidensi yang tak dipahami—sebagai rasa bahwa sejarah selalu mengulang dirinya sendiri.

Sebagai opini publik, pertanyaannya menjadi politis sekaligus etis: apakah kita akan terus memperlakukan déjà vu sosial ini sebagai gangguan yang harus ditekan, atau sebagai sinyal bahwa ada sesuatu dalam memori kolektif kita yang belum selesai? Dalam dunia yang semakin diatur oleh algoritma dan technopower, kemampuan membaca makna—bukan sekadar menghitung sebab—mungkin justru menjadi bentuk kecerdasan yang paling mendesak.

Pengalaman Indonesia memberi contoh yang sangat konkret. Trauma 1998, misalnya, tidak hanya hidup dalam buku sejarah atau ingatan generasi yang mengalaminya secara langsung. Ia bertahan sebagai pola afektif: ketakutan akan kerusuhan, kecurigaan terhadap negara, dan sensitivitas ekstrem terhadap isu ekonomi, harga pangan, dan legitimasi kekuasaan. Setiap kali terjadi guncangan ekonomi atau ketegangan politik, respons publik sering terasa berlebihan—seolah bangsa ini sedang mengalami déjà vu. Bukan karena situasinya identik, melainkan karena struktur traumanya sama.

Hal serupa terlihat selama pandemi COVID-19. Di tengah krisis kesehatan yang nyata, kepanikan kolektif, rumor, dan teori konspirasi menyebar lebih cepat daripada virus itu sendiri. Media sosial dan algoritma memperkuat pola lama: ketidakpercayaan pada otoritas, pencarian kambing hitam, dan narasi darurat yang terus diulang. Pandemi bukan hanya krisis medis, melainkan aktivasi memori sosial yang belum sembuh—inkoinsidensi antara peristiwa baru dan luka lama.

Polarisasi politik pasca-pemilu memperdalam pola tersebut. Setiap kontestasi elektoral terasa seperti pengulangan konflik sebelumnya. Retorika perpecahan, kecurigaan antarwarga, dan ketakutan akan kehancuran nasional muncul dengan intensitas yang hampir ritualistik. Di sini, algoritma dalam komunikasi media sosial tidak netral: ia bekerja sebagai mesin pengingat traumatik, menghidupkan kembali emosi lama karena emosi itulah yang paling mudah dimonetisasi.

Dalam konteks ini, déjà vu kolektif Indonesia bukan sekadar nostalgia atau paranoia. Ia adalah sinkronisitas sosial—tanda bahwa masa lalu belum benar-benar selesai dibicarakan. Jika kita terus menyerahkan pengelolaan memori kolektif kepada logika algoritmik dan technopower, sejarah akan hadir bukan sebagai pelajaran, melainkan sebagai bayang-bayang yang akan terus berulang.

Maka pertanyaan akhirnya sederhana namun mendesak: apakah kita ingin hidup dalam pengulangan pola politik tanpa kesadaran, atau berani membaca déjà vu kolektif ini sebagai undangan untuk menyelesaikan trauma yang tertunda dan mengobatinya? Di tengah dominasi data, AI, dan tata kelola algoritmik, kemampuan memahami makna—bukan sekadar mengelola informasi—mungkin justru menjadi fondasi paling penting bagi masa depan demokrasi sehingga kedepannya bangsa kita bisa menemukan obat sosialnya secara algoritmik.

Dari Laboratorium ke Algoritma

Hari ini, pola itu muncul kembali—dalam bentuk yang berbeda. AI dan big data bekerja bukan dengan memahami sebab, tetapi dengan menemukan pola. Algoritma tidak peduli mengapa seseorang gagal bayar utang; cukup bahwa polanya mirip dengan ribuan kasus sebelumnya.

Menariknya, ini mirip sinkronisitas: hubungan tanpa sebab langsung. Bedanya, algoritma membuang makna. Ia hanya mengenali korelasi, lalu mengambil keputusan.

Akibatnya, kita hidup dalam dunia yang tampak cerdas, tetapi tidak bijak. Keputusan dibuat cepat, presisi, dan sering kali tak bisa dijelaskan secara manusiawi.

Ketika algoritma dipakai untuk mengatur masyarakat—dari bantuan sosial hingga keamanan—lahirlah apa yang disebut algoritmik governance. Negara dan korporasi tidak lagi mengatur lewat perintah keras, tetapi lewat skor, peringkat, dan prediksi.

Filsuf Michel Foucault membantu kita memahami sisi gelap dari tata kelola algoritmik ini. Bagi Foucault, pengetahuan tidak pernah netral: setiap rezim, pengetahuan selalu terikat pada relasi kekuasaan yang menghasilkannya sekaligus menggunakannya. Apa yang dianggap sebagai “kebenaran” bukan semata hasil pencarian objektif, melainkan sesuatu yang diproduksi, diatur, dan disebarkan melalui institusi—rumah sakit, sekolah, penjara, statistik negara. Bagi Foucault: “Kebenaran” adalah hasil produksi dari rezim kebenaran (regime of truth). Kebenaran yang dijejalkan.

Dalam kerangka ini, data dan algoritma bukan sekadar alat teknis, melainkan bentuk mutakhir dari apa yang oleh Foucault disebut sebagai governmentality: seni mengelola manusia melalui pengukuran, klasifikasi, dan normalisasi. Jika pada abad ke-19 negara mengatur populasi lewat sensus, disiplin tubuh, dan norma kesehatan, maka hari ini pengelolaan itu berlangsung lewat skor risiko, pemodelan perilaku, dan prediksi algoritmik. Kekuasaan tidak lagi tampil sebagai larangan keras, tetapi sebagai logika teknis yang tampak rasional dan tak terelakkan—padahal justru di sanalah keputusan politis tentang siapa yang dianggap normal, berbahaya, layak dibantu, atau pantas diawasi sedang dibuat.

Gilles Deleuze melangkah lebih jauh dari Foucault dengan menyatakan bahwa kita telah memasuki apa yang ia sebut sebagai masyarakat kontrol. Jika dalam masyarakat disipliner ala Foucault kekuasaan bekerja lewat institusi tertutup—sekolah, pabrik, rumah sakit, penjara—maka dalam masyarakat kontrol, batas-batas itu mencair. Kekuasaan tidak lagi mengurung, melainkan mengalir terus-menerus melalui sistem terbuka: jaringan, database, kartu akses, platform digital.

Dalam rezim ini, manusia tidak lagi diperlakukan sebagai individu utuh dengan identitas stabil, melainkan sebagai dividual—fragmen data yang bisa dipecah, diukur, dan dikombinasikan ulang. Kita dinilai bukan sebagai “siapa”, tetapi sebagai “berapa”: skor kredit, rating kinerja, indeks risiko, jejak klik. Penilaian ini berlangsung secara kontinu dan real time, bukan pada momen tertentu saja.

Yang paling khas dari masyarakat kontrol adalah sifatnya yang halus dan imanen. Tidak ada paksaan kasar yang terasa, tidak ada larangan eksplisit. Kontrol bekerja melalui insentif, rekomendasi, notifikasi, dan prediksi. Kita diarahkan untuk memilih, berperilaku, dan bahkan menginginkan sesuatu—sambil tetap merasa bebas. Inilah paradoksnya: kekuasaan paling efektif justru bekerja ketika ia tidak lagi dikenali sebagai kekuasaan, melainkan sebagai kenyamanan, personalisasi, dan efisiensi teknis.

Namun kritik politik saja tidak cukup. Pertanyaannya, mengapa manusia begitu mudah menerima dunia yang diatur algoritma?

Di sinilah Jung–Pauli kembali relevan. Algoritma berhasil bukan hanya karena efisien, tetapi karena ia mengisi kekosongan makna. Ia menawarkan kepastian di tengah ketidakpastian. Skor menggantikan penilaian moral. Prediksi menggantikan refleksi.

AI menjadi semacam mitologi rasional modern—tak terlihat, tak dipertanyakan, tetapi ditaati.

Jung menyebut sisi yang kita tekan sebagai shadow. Dalam konteks ini, AI adalah bayangan rasionalitas manusia. Ia menjalankan secara ekstrem apa yang kita enggan akui: reduksi manusia menjadi angka, penghapusan tanggung jawab, dan kenyamanan menyerahkan keputusan sulit kepada mesin.

Ketika sesuatu terasa tidak adil, kita menyalahkan sistem. Padahal sistem hanyalah cermin dari cara kita memahami dunia.

Masalah utama zaman algoritmik bukanlah kecerdasan mesin yang berlebihan, melainkan kemiskinan makna manusia. Kita membangun sistem yang sangat pintar, tetapi lupa bertanya untuk apa.

Gagasan quaternio Jung–Pauli mengingatkan bahwa pengetahuan yang utuh selalu melibatkan makna, refleksi, dan kesadaran akan keterbatasan rasio. Tanpa itu, AI dan big data hanya akan mempercepat krisis yang sudah lama ada.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah algoritma bisa berpikir seperti manusia, melainkan apakah manusia masih berani berpikir—dan memaknai—tanpa menyerahkannya sepenuhnya kepada mesin.

Pada titik inilah rangkaian pengulangan sejarah, nama-nama besar, dan krisis yang terasa akrab dapat dibaca melalui tiga lensa sekaligus: sinkronisitas, déjà vu algoritmik, dan trauma kolektif. Seperti yang dibayangkan Jung dan Pauli, sinkronisitas bukan soal sebab-akibat, melainkan kesamaan pola makna yang muncul serentak di ranah batin dan dunia sosial; sejarah seolah ‘berima’ dengan dirinya sendiri.

Namun di zaman digital, rima itu tidak lagi datang perlahan. Algoritma mengarsipkan ingatan, mengulang narasi, memperkuat emosi, dan menyajikannya kembali sebagai masa kini—menciptakan déjà vu algoritmik, perasaan bahwa kita pernah berada di sini, bahkan sebelum kita sempat memahaminya.

Trauma kolektif—1965, 1998, pandemi, polarisasi—tidak pernah benar-benar disembuhkan, hanya ditidurkan, lalu dibangunkan kembali oleh krisis baru yang bentuknya mirip. Sejarah, jiwa kolektif, dan mesin data akhirnya saling mengunci dalam satu lingkaran: pengulangan tanpa refleksi. Dan mungkin pertanyaan terpentingnya bukan lagi mengapa sejarah berulang, melainkan siapa—atau apa—yang kini mengatur cara kita mengingatnya di era mesin digital sekarang ini.

AO
Tangerang Selatan, 25 Januari 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *