
Arief Prihantoro
Tulisan ini merupakan catatan kritis penulis sebagai bagian dari diskursus akademik atas kuliah umum yang disampaikan oleh Marsekal Pertama TNI Dr. Ir. Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, S.T., M.T., Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Udara, dalam kegiatan kuliah tamu bertajuk Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial: Terapan Kecerdasan Artifisial di Bidang Pertahanan dan Keamanan.

Dalam pemaparan yang berlangsung kurang lebih selama tiga jam tersebut, sejarah AI dijelaskan dengan menempatkan Alan Turing sebagai figur sentral dan fondasi utama perkembangan kecerdasan buatan modern. Narasi seperti ini sebenarnya sangat umum ditemukan dalam banyak diskursus AI kontemporer, baik di lingkungan akademik, media teknologi, maupun industri.
Namun menariknya, sebagian besar materi yang dipaparkan justru secara substantif sedang membahas konsep-konsep yang sangat dekat dengan tradisi cybernetics:
- sistem kontrol,
- feedback,
- autonomous system,
- adaptasi,
- sensor,
- pengambilan keputusan,
- hingga implementasi AI dalam teknologi pertahanan dan mesin perang.
Dengan kata lain, pembahasan selama 3 jam tersebut sesungguhnya bergerak di wilayah sibernetika, bukan komputasi Turing. Namun demikian justru istilah cybernetics sendiri tidak pernah disebutkan selama paparan.
Di sinilah letak persoalan historis yang ingin dibahas dalam tulisan ini.
Continue reading Cybernetics: Akar yang Terlupakan dari Kecerdasan Buatan Modern




