– Arief Prihantoro –

Demo besar serentak di DPR pada 28 Agustus 2025 kerap dikenang bukan hanya karena jumlah massanya, luasnya kerusakannya serta besarnya kerugiannya semata, melainkan karena cara chaos nasional itu bermula. Ia tidak diawali oleh satu keputusan yang monumental, melainkan oleh serangkaian tanda-tanda kecil : potongan pernyataan tokoh masyarakat yang beredar tanpa konteks, pernyataan tanpa empati sosial yang dilakukan oleh beberapa orang anggota DPR, unggahan emosional yang dibaca sebagai ancaman, dan narasi yang saling menguatkan di ruang digital yang sudah panas.
Di titik itu, sistem komunikasi publik berada dalam kondisi sangat sensitif. Kepakan kecil sebuah video pendek, satu kalimat ambigu, satu unggahan yang viral, cukup untuk menggeser arah besar percakapan. Reaksi publik memicu liputan media, liputan media memicu respons elite, respons elite kembali memanaskan publik. Sebab dan akibat berputar, saling memperkuat mengikuti prinsip sibernetika.
Yang terjadi kemudian tampak seperti ledakan tiba-tiba. Padahal, badai itu adalah hasil akumulasi energi sosial yang sudah lama menumpuk. Demo menjadi katalis, bukan sumber tunggal. Dalam logika efek kupu-kupu, kekacauan nasional bukan lahir dari suatu tindakan besar, melainkan dari interaksi non-linier kepingan kecil yang, pada momen tertentu, bertemu di ruang yang tepat.
Peristiwa itu mengingatkan kita: dalam sistem komunikasi modern yang hidup di tepi kekacauan, hal kecil jarang benar-benar kecil. Kepakan sayap di satu sudut ruang digital dapat, melalui lingkaran umpan balik, menjelma menjadi badai sosial di tingkat nasional, hingga menghancurkan infrastruktur sosial di berbagai wilayah. Hanya bermula dari kata-kata yang dianggap sepele memicu chaos nasional.
Chaos bukan selalu lahir dari konflik besar. Sering kali, ia bermula dari kepakan sayap yang tidak kita sadari. Dan justru di situlah tantangan komunikasi modern berada: belajar berbicara, menanggapi, dan mengamati dengan kesadaran bahwa hal kecil jarang benar-benar kecil.
Tulisan ini mencoba membangun model matematika chaos komunikasi publik digital untuk menggambarkan tentang kausalitas komunikasi publik hingga menyebabkan terjadinya kemarahan massal di ruang publik bahkan dapat memicu konflik sosial yang sangat luas. Tulisan ini juga merupakan penjabaran dari tulisan sebelumnya:
– Efek Kupu-Kupu Dalam Komunikasi Publik Digital –
Model dalam penjabaran ini bukan matematika keras ala fisika murni, tetapi model formal yang cukup ketat untuk:
- analisis sosial,
- komunikasi publik digital,
- konsisten dengan Luhmann + sibernetika + termodinamika + gerak Brown.







