Intuisi Manusia vs Intuisi Mesin

Arief Prihantoro

Kilatan Wawasan di Balik Kemudi

Bayangkan sebuah skenario yang mungkin familier: Anda sedang mengemudi di jalan yang biasa Anda lewati. Tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, Anda merasakan dorongan kuat untuk menginjak rem atau sedikit membanting setir. Sepersekian detik kemudian, sebuah mobil mendadak menyalip dari jalur lain atau seekor anjing melintas di depan Anda. Anda selamat. Dalam keheningan setelahnya, Anda mungkin bertanya-tanya, dari mana datangnya “firasat” yang baru saja menyelamatkan Anda?

Continue reading Intuisi Manusia vs Intuisi Mesin

Semantik Artificial Intelligence: Kemunculan Makna dari Komputasi Statistik dalam Kecerdasan Buatan Modern

Arief Prihantoro

Debat Semantik di Jantung Kognisi Digital

Kehadiran Model Bahasa Besar (LLM) seperti GPT atau Gemini telah mengubah lanskap teknologi dan komunikasi secara fundamental. Model-model ini menunjukkan kemampuan luar biasa untuk menghasilkan teks yang koheren, menyusun kode pemrograman, dan bahkan menulis puisi atau esai filosofis yang meyakinkan, sering kali menciptakan kesan bahwa mereka telah mencapai tingkat “pemahaman” bahasa yang mendalam. Kecepatan dan kualitas output mereka seolah-olah merupakan sihir digital yang telah memecahkan misteri bahasa manusia secara sibernetik.

Namun, di balik keajaiban ini, muncul sebuah perdebatan filosofis dan teknis yang krusial di kalangan para ahli: Apakah kecanggihan ini murni produk dari kalkulasi statistik belaka?

Continue reading Semantik Artificial Intelligence: Kemunculan Makna dari Komputasi Statistik dalam Kecerdasan Buatan Modern

Teknologi Bubble Tidak Sia-Sia

Gelembung finansial selalu datang bersama setiap gelombang teknologi besar. Kita pernah mengalaminya pada akhir 1990-an ketika internet baru dikenal luas, lalu menyaksikannya lagi pada masa keemasan kripto di dekade 2010–2020-an. Kini tanda-tanda serupa muncul di sekitar kecerdasan buatan dan komputer kuantum. Polanya mirip-mirip: euforia investasi yang tumbuh jauh lebih cepat daripada nilai guna riil teknologi yang bersangkutan.

Untuk LLM ai agak beda. Masyarakat pada umumnya tidak lagi sekadar baca beritanya saja tapi bisa coba langsung. AI llm sudah masuk ke ruang kerja, ke dapur, ke ruang kuliah, ke dunia tulis-menulis, dan ke pengembangan perangkat lunak. Saya pakai chatgpt untuk membuat contoh-contoh program di perkuliahan yang sesuai dengan materi yang sedang dibahas. Saya pernah coba masak dengan resep karangan chatgpt, not bad lah rasanya.

Rasanya kita perlu pisahkan pemahaman antara gelembung finansial dari fondasi operasional. Yang disebut bubble pada dasarnya adalah kondisi ketika nilai pasar sebuah teknologi membengkak karena ekspektasi dan ketakutan tertinggal, bukan karena kinerja atau kebutuhan nyata. Dot-com bubble dulu menjadi contoh klasik: perusahaan yang hanya menambahkan akhiran “.com” di namanya bisa memperoleh valuasi miliaran dolar tanpa produk, tanpa pelanggan, bahkan tanpa rencana bisnis yang masuk akal. Para investor tidak membeli perusahaan, mereka membeli mimpi. Ketika akhirnya mimpi itu runtuh pada tahun 2000, pasar saham teknologi jatuh hingga lebih dari tujuh puluh persen, dan hanya segelintir perusahaan seperti Amazon dan Google yang bertahan.

Continue reading Teknologi Bubble Tidak Sia-Sia

Semiotika Sebagai Teori Kognitif Tersembunyi di Balik Kemajuan AI

Arief Prihantoro

Artikel ini mencoba menjelaskan

dari perspektif semiotika,

bagaimana sebuah mesin AI

mampu “memahami” makna

dalam interaksinya

dengan manusia sebagai pengguna.

Pondasi teoretis Kecerdasan Buatan (AI) modern, dari era simbolik hingga model generatif transformatif, secara fundamental berakar pada tiga tradisi semiotika utama:
1. Diadik (Ferdinand de Saussure),
2. Triadik (Charles S. Peirce),
3. Kultural (Roland Barthes).

Tulisan ini mengajukan tesis bahwa ketiga model ini tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi, menyediakan kerangka kerja holistik untuk memahami bagaimana mesin memroses dan “memahami” makna.

Continue reading Semiotika Sebagai Teori Kognitif Tersembunyi di Balik Kemajuan AI

‘Otak Holografik’, Misteri Engram dan Revolusi Pandangan Terhadap Otak

Arief Prihantoro

Misteri Engram dan Revolusi Pandangan Terhadap Otak

Selama puluhan tahun, ilmu saraf berusaha menjawab salah satu pertanyaan terbesar mengenai fungsi kognitif manusia: Bagaimana tepatnya ingatan (memori) disimpan di dalam otak?

Pandangan tradisional dalam neurosains yang berpegang pada model lokalisasi, dimana memori spesifik, atau yang disebut “engram,” dianggap tersimpan dalam struktur tertentu, seperti sekelompok neuron atau sinaps yang diperkuat, di lokasi yang dilindungi.

Continue reading ‘Otak Holografik’, Misteri Engram dan Revolusi Pandangan Terhadap Otak

Inklusi Disabilitas pada Proses Pengembangan AI

Sebuah studi penting terhadap para praktisi AI di perusahaan teknologi besar baru saja dirilis awal bulan Oktober ini. Temuannya mengungkap sebuah kebenaran pahit: isu inklusi disabilitas sering kali diabaikan dan dipinggirkan dari proses inti pengembangan AI.

Iya. Ketika kita merayakan kemajuan AI Generatif (GenAI), ada kelompok pengguna yang secara diam-diam ditinggalkan. Mereka adalah kelompok Penyandang Disabilitas (People with Disability/PWD).

Credit Ideogram
Continue reading Inklusi Disabilitas pada Proses Pengembangan AI

Panduan Singkat Menulis di socioinformatics.id

Selamat datang di komunitas Masyarakat Informatika Sosial Indonesia (MISI).

Website ini dibangun sebagai ruang berbagi gagasan, pengetahuan, dan pengalaman di bidang informatika sosial. Kami percaya, tulisan adalah salah satu cara paling efektif untuk menyebarkan wawasan dan memperkuat jejaring intelektual di antara anggota komunitas.

Agar setiap anggota dapat berkontribusi dengan mudah, kami menyusun panduan sederhana ini. Panduan ini berisi langkah-langkah mulai dari pendaftaran akun, aktivasi peran sebagai penulis (Author), hingga proses menulis dan mempublikasikan artikel di website MISI.

Harapannya, panduan ini bisa menjadi pegangan praktis bagi anggota baru maupun lama yang ingin menyalurkan ide melalui tulisan. Dengan adanya standar teknis yang sama, kita dapat menjaga konsistensi kualitas dan kerapihan artikel yang tampil di website MISI.

Kami mengajak semua penulis dengan semangat berbagi, menggunakan bahasa yang jelas, sopan, dan mudah dipahami. Setiap artikel adalah kontribusi berharga untuk memperkaya wacana dan memperkuat misi kita bersama: membangun ekosistem pengetahuan yang inklusif, kritis, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Selamat menulis dan berkarya!

Administrator MISI

Continue reading Panduan Singkat Menulis di socioinformatics.id

Misteri Kebohongan Dummy Tokens di Model Bahasa Besar (LLM)

Seorang kawan pernah berseloroh, “Kita sekarang hidup di era AI. Urusan kantor tanya ChatGPT. Bahkan mau masak pun, tanya ChatGPT. Apa-apa ChatGPT”. Padahal ada juga model AI selain itu, semacam Gemini atau Perplexity. Tapi, ya, ChatGPT telah menjadi nama generik untuk kecerdasan buatan. Seperti orang yang beli minuman kemasan, lantas dia bilang ke penjaga warung, “Beli Aqua, bu!”, lalu disodorkanlah Le Minerale ataw Indomaret.

Fenomena ini menunjukkan seberapa dalam teknologi AI telah meresap ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Kita menggunakannya untuk tugas-tugas kantor, mencari resep, atau bahkan sekadar mengobrol. Namun, seiring dengan semakin banyaknya pengguna ChatGPT atau model serupa seperti Gemini, sebuah pertanyaan mendasar muncul: apakah kita bisa sepenuhnya memercayai apa yang mereka katakan?

credit ChatGPT
Continue reading Misteri Kebohongan Dummy Tokens di Model Bahasa Besar (LLM)

Kegelisahan Luddite di Era AI

Dari jalanan BSD City yang sibuk hingga sudut-sudut tenang ala-ala desa di Cisauk, bisikan-bisikan semakin santer menyelusup. Kita mendengarnya di berita, forum daring, bahkan di warung-warung kopi dan waktu lesehan di teras masjid: Kecerdasan Buatan (AI) menggila. Mengubah segalanya.

Sementara itu, disamping janji teknologi yang lebih cerdas dan hidup yang lebih mudah tampak cerah, ada kegelisahan yang tumbuh: perasaan bahwa kita telah membuka Kotak Pandora digital, mengagumi hadiah-hadiahnya yang gemerlap sekaligus khawatir akan potensi kekacauan di dalamnya.

credit ChatGPT
Continue reading Kegelisahan Luddite di Era AI

Membuang Stigma Pengangguran

Beberapa waktu lalu kita terima berita Sritex tutup dengan PHK 10.000 pegawai. Belakangan ini beredar video medsos yang memberitakan Gudang Garam PHK ribuan karyawan (belum terkonfirmasi). Kalau dari laporan keuangan memang ada penurunan pendapatan Gudang Garam tetapi belum tentu langsung berimbas pada pengurangan tenaga kerja. Apa pun yang terjadi, secara global para pegawai di lingkungan padat karya baik di lapangan pertanian dan berbagai perindustrian terlindas kemajuan teknologi. Trend ini terus merambah lingkungan kerja kantoran juga dan sepertinya kelanjutannya tidak baik-baik saja. Belakangan muncul berita tentang PHK yang membuahkan depresi yang mengarah ke perilaku bunuh diri.

Dengan tulisan ini saya akan mencoba membangun pemikiran bahwa aktivitas manusia tidak harus dalam konteks bekerja mencari nafkah karena banyak aktivitas yang mereka kerjakan saat bekerja tidak lagi diperlukan setelah teknologi terkait sudah siap untuk menggantikan mereka. Manusia yang dalam kehidupannya tidak dalam posisi mendapat tugas untuk bekerja seharusnya juga bisa mendapatkan harga diri sebagai manusia dengan berkarya di luar konteks bekerja dalam pengertian mengharap imbalan dari majikan.

Continue reading Membuang Stigma Pengangguran