Calistung: Future Skill untuk Memasuki Lapangan Kerja Masa Depan


Setiap kali dunia pendidikan membicarakan keterampilan masa depan, perbincangan hampir selalu dipenuhi istilah yang terdengar mutakhir: kecerdasan buatan, literasi digital, kreativitas, kolaborasi, dan seterusnya. Daftar ini terus bertambah seiring perkembangan teknologi, seolah pendidikan selalu tertinggal dan harus berlari mengejar masa depan. Namun di balik euforia tersebut, ada persoalan mendasar yang jarang dibicarakan secara jujur: sebagian besar keterampilan yang disebut “masa depan” justru berdiri di atas fondasi yang semakin rapuh, yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dalam makna yang sesungguhnya.

Continue reading Calistung: Future Skill untuk Memasuki Lapangan Kerja Masa Depan

Membuang Stigma Pengangguran

Mari kita geser sedikit cara pandang kita soal pengangguran. Selama ini, kalau mendengar kata “penganggur”, yang terlintas di kepala sering kali adalah sosok yang malas atau tidak punya keahlian. Sepertinya masalahnya tidak sederhana. Kenyataannya, tidak ada orang yang benar-benar pengangguran; yang ada hanyalah orang-orang yang tidak kebagian jatah pekerjaan karena “kursi” yang tersedia memang makin sedikit. Kita harus jujur bahwa penyempitan lapangan kerja adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Dengan kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang makin gila-gilaan, posisi yang dulu diisi manusia kini diambil alih oleh mesin demi efisiensi. Ini bukan lagi soal kompetensi individu, melainkan soal panggung ekonomi yang memang secara alami sedang menciut karena manusia tidak lagi dibutuhkan untuk banyak pekerjaan rutin.

Continue reading Membuang Stigma Pengangguran

GENIUS: Sang Penanya Sejati

Arief Prihantoro

Genius Bukan Semata Soal Score IQ

Pengertian genius sering kali disalahpahami hanya sebagai angka IQ yang sangat tinggi. Prabowo IQ-nya tinggi. Apakah dia Genius? Per definisi: TIDAK. Walaupun para pemujanya sering mengklaim bahwa Prabowo sebagai orang yang genius, semata karena score IQnya tinggi.

Secara etimologi Genius berasal dari kata generare (Latin) yang bermakna melahirkan atau menghsilkan.

Continue reading GENIUS: Sang Penanya Sejati

Kemampuan Bertanya: Kunci Kecerdasan di Era AI

– Arief Prihantoro –

Pada suatu sore yang cerah, seorang ayah dan putrinya duduk berdampingan di ruang tamu. Sang putri, mahasiswa generasi Z yang akrab dengan teknologi, tiba-tiba bertanya, “Ayah, apakah kamu takut AI akan mengambil alih pekerjaan manusia?” Pertanyaan itu sederhana, namun mengandung kegelisahan yang kini banyak dirasakan masyarakat di era kecerdasan buatan (AI). Sang ayah, yang pernah menekuni dunia jurnalisme, tersenyum dan menjawab, “Tidak, Nak. Justru yang paling penting sekarang bukan siapa yang bisa menjawab paling cepat, tapi siapa yang bisa bertanya dengan tepat.”

Kisah ini bukan sekadar percakapan keluarga. Ia adalah cerminan zaman, dimana kemampuan bertanya menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi.

Continue reading Kemampuan Bertanya: Kunci Kecerdasan di Era AI

Chaos Komunikasi Publik di Era Digital Dalam Perspektif Gerak Brown, Termodinamika Partikel dan Teori Komunikasi Niklas Luhmann

Arief Prihantoro

Di era digital saat ini, komunikasi publik tidak lagi bergerak dalam alur yang linear dan sederhana. Informasi yang awalnya diluncurkan sebagai sebuah isu dapat menyebar, berubah bentuk, berinteraksi, bahkan memicu konflik sosial yang tidak terduga. Fenomena ini sering kali tampak chaotic, tidak teratur, sulit diprediksi, dan penuh gesekan antar kelompok. Untuk memahami kompleksitas ini, analogi dari fisika memberi lensa yang menarik dan sangat relevan, terutama melalui konsep gerak Brown dan termodinamika partikel.

Continue reading Chaos Komunikasi Publik di Era Digital Dalam Perspektif Gerak Brown, Termodinamika Partikel dan Teori Komunikasi Niklas Luhmann

Perilaku Sistem AI Mirip Ustadz di Sesi Tanya-Jawab Acara Ceramah

Ada bahasan menarik tentang resiko menggunakan AI untuk percepatan pengembangan layanan sistem informasi. Ini terkait dengan Biro transformasi digital UGM yang mengembangkan chatbot dengan nama Lisa sebagai interface terintegrasi yang dirancang untuk bisa menjawab seggala pertanyaan tentang UGM.

Alih-alih menyiapkan daftar Q&A (tanya jawab) secara khusus, Lisa dikembangkan menggunakan teknologi machine learning dari masukan web content di bawah domain ugm.ac.id dan mungkin juga berita-berita dari media massa tentang UGM.

Continue reading Perilaku Sistem AI Mirip Ustadz di Sesi Tanya-Jawab Acara Ceramah

TITAN+MIRAS MENGATASI KEPIKUNAN DIGITAL AKAL IMITASI

– Arief Prihantoro –

Dunia telah menyaksikan munculnya model bahasa besar (LLM) seperti Gemini, GPT, DeepSeek atau Claude, yang mampu memproses dan menghasilkan teks dengan kompleksitas yang luar biasa. Model-model ini sering dianggap sangat pintar karena memiliki pengetahuan ensiklopedis dan kecepatan pemrosesan yang melebihi kemampuan manusia. Namun, di balik kecerdasan instan ini, tersimpan sebuah paradoks mendasar: entitas digital ini secara fundamental adalah makhluk yang pelupa. Model AI saat ini beroperasi dalam kondisi “sekarang yang abadi,” di mana setiap respons yang dihasilkan didasarkan pada pola yang dipelajari, bukan dari ingatan yang persisten.

Continue reading TITAN+MIRAS MENGATASI KEPIKUNAN DIGITAL AKAL IMITASI

GENERAL-PURPOSE MODEL ≈ GENERAL-PURPOSE COGNITION

– Arief Prihantoro –

Ini bukan cerita tentang “mesin yang punya otak.” Ini cerita tentang bagaimana cara berpikir AI modern bisa dianalogikan dengan cara kerja otak manusia, tanpa jargon yang membuat dahi berkerut.

Bayangkan anda duduk di kedai kopi, memperhatikan kehidupan mengalir: barista meracik kopi, pelanggan mengobrol, musik pelan di latar. Di situ, otak anda bekerja seperti “model serba guna”, menggabungkan pancaindra, ingatan, perhatian, dan motivasi, untuk memahami momen dan mengambil keputusan kecil, halus, tetapi tepat.

Continue reading GENERAL-PURPOSE MODEL ≈ GENERAL-PURPOSE COGNITION

Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Harus bisa Berubah

Ya bagaimana lagi, kita memang sedang dipaksa berubah. Perkuliahan tidak seperti dulu. Perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada ritme sistem pendidikan itu sendiri. Dulu, sekolah dari SD hingga perguruan tinggi, merupakan ritual sosial yang sangat menentukan derajat seseorang. Gelar pendidikan bahkan pernah menjadi penentu langsung pangkat, jabatan, dan gaji pokok tanpa terlalu peduli kompetensi yang didapat dari institusi pendidikannya. Sekarang, gelar tetap dicari, tetapi maknanya bergeser menjadi sekadar tiket administratif. Sementara itu, dunia kerja menuntut keterampilan dan portofolio, bukan sekadar bukti pernah duduk di perguruan tinggi selama empat tahun.

Perubahan juga tampak jelas pada mekanisme kenaikan kelas dan kelulusan. Dahulu, ulangan umum dan ujian akhir berfungsi sebagai penyaring. Yang tidak memenuhi standar mengulang kelas. Saya ingat di SD, dari tahun ke tahun selalu mendapat teman baru sekitar 10% dari yang tinggal kelas, bahkan di kelas 6 SD masih dapat teman baru yang tidak lulus ujian. Kini hampir semua naik kelas dan lulus, karena evaluasi berubah menjadi formalitas birokrasi. Kalau nilai terlalu rendah di suatu sekolah, bisa pindah ke sekolah lain yang masih bisa menerima kenaikan kelasnya.

Continue reading Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Harus bisa Berubah

Bagaimana AI Mengenali Ekspresi Manusia dengan Meniru Cara Kerja Otak

– Arief Prihantoro –

Wajah adalah kanvas emosi yang paling jujur. Gerakan kecil di sudut bibir atau kerutan pada dahi sering berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Otak kita, sebagai hasil evolusi jutaan tahun, sudah sangat piawai membaca isyarat halus ini secara otomatis. Bahkan sebelum kita menyadarinya, otak sudah menebak: “Dia sedang senang,” atau “Ada yang membuatnya terkejut”. Artikel ini akan menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) mencoba meniru cara kerja otak itu—mulai dari mengamati gambar wajah hingga menghubungkan dengan “percakapan” tentang gambar tersebut.

Continue reading Bagaimana AI Mengenali Ekspresi Manusia dengan Meniru Cara Kerja Otak